Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Siapa yang harus mengerti?


__ADS_3

Sudah 2 pekan berlalu sejak pertemuan itu, semua berjalan seperti biasa. dan di saptu ini syifa mendapat kabar dari nabil jika pria itu akan memberinya hadiah besok ditempat wisata yang akan mereka kunjungi bersama anak anak. liburan itu mendapat bantuan biaya dari nabil yang katanya sudah resmi menjadi panitia putra di TPA.


Dan hari yang ditunggu untuk mengistrahatkan penat akhirnya tiba. mereka menggunakan bus mini dan hanya nabil yang menggunakan sepeda motor.


Tak sampai satu jam, akhirnya mereka sudah berada dalam tempat wisata yang bernuansa alam.


Setelah sebagian barang sudah tersusun diatas tikar, mereka semua menikmati pemandangan. nuansa hijau di lingkungan tersebut sungguh mengejukkan mata pemandangnya. Namun ada seorang gadis yang fokus pada satu titik.


Dia adalah Lia yang sedari kemarin ingin mengungkapkan perasaan pada pria yang kini duduk menyendiri ditepi danau. setelah memastikan rombongannya sibuk sendiri, ia menghampiri pria itu dan duduk berjarak semeter darinya.


“Tahu cerita Sayyidah Khadijah yang mengungkapkan rasa lebih dulu pada Rasulullah?”


Petanyaannya yang tiba tiba membuat pria itu menoleh cepat namun ia mendapat anggukan setelahnya.


"Bagaimana tanggapan Kakak mengenai wanita seperti dia?”


Nabil menatap danau untuk memikirkan jawaban, “hebat.”


“Hebat?”


Nabil menoleh, “iya, hebat.” ia kembali beralih ke danau, “jarang wanita mengugkapkan perasaannya lebih dulu, Li. itu langkah. dan hebatnya dia.... bisa kuat dan menahan sesak jika pemilik rasanya menyukai yang lain, dengan berkata pada dirinya...”


Ia menatap Lia usai mengkacau air tenang dengan lemparan kerikil. sementara gadis itu sudah mematung menunggu lanjutannya.


“Itu bukan salahnya, karena aku belum mengungkapkannya." kata nabil, "itu yang dia katakan untuk tidak menyalahkan orang lain atas perasaannya sendiri.”


Sebuah senyum lebar hadir dari wajah gadis itu. kalimat nabil sungguh membuat tekatnya menggebu untuk mengungkapkan.


Apa ini kode dari Allah untuk mengungkapkan perasaannya sebelum perasaan itu menyiksanya sendiri? iya, dia memang harus jujur. kalaupun cinta tidak terbalas setidaknya pria itu yang bisa menjaga perasaannya.


“Kenapa..? Kamu suka seseorang tapi gak berani ngungkapinnya?” namun tebakan yang dilontarkan Nabil membuat jantungnya berdenyut cepat dan gugup.


Lia menunduk malu dan memainkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya untuk menghalau detak jantungnya.


“Kak nabiil?” panggilnya.


“Hem?”


“Sebenarnya sudah lama aku menyimpan rasa ini. kupikir akan berakhir seperti kisah cinta Sayyidah Ali dan Fatimah, mencintai dalam diam.”


Ia mendongak sejenak, “ternyata sulit.” Lanjutnya dan kembali menunduk usai memastika pria itu memasang telinga.


“Rasaku tak sesabar Sayyidah Fatimah menunggu Ali. tak juga seberani Khadijah melamar Rasulullah. tapi aku sudah mencoba jalan kisah mereka, dan akan ku coba kalimat aksara untuk mengungkapkannya lebih dulu.”


Bersamaan dengan helaan napas yang sangat dalam, matanya terpejam sementara bibir ranum itu melengkung menikmati sekembang bunga yang mekar dihatinya.

__ADS_1


“Aku mengagumimu.”


Lia tahu suaranya kecil tapi setidaknya pria itu bisa mengerti maksudnya dan membalas dengan apapun itu tanpa harus menunggu hampir semenit.


Karena tak mendapat balasan apapun, ia membuka mata dan menoleh. alis tebalnya menyernyit mendapati pria itu gelisa dan pucat. bahkan bulir bulir keringat memenuhi wajah pasi pria tersebut.


"Kak nabil sakit?” pergerakan Lia yang ingin mendekat terjeda saat pria itu mengangkat telapak tangan.


Lia hanya menatap bingung pria yang sudah pergi dengan langkah tergopoh itu. sikap nabil sunggu membuatnya mematung teringat dengan Aska yang waktu itu pergi dari rumah dengan konsisi yang sama yaitu pucat, berkeringat, merasa kesakitan dan…


“Astagfirullah, itu gak mungkin," ia beristigfar dan menyangkal bahwa nabil tidak mungkin pengkomsumsi obat itu.


Disisi lain, saat Syifa ingin berbalik usai mengambil barang di kursi bus, ia mendapati Aska berada dipintu dengan perlahan mendekat padanya. terkejut, takut, dan khawatir. tapi ia harus kuat dan melawan.


“Aku mau lewat, ka.”


Pria yang menguasai sisi jalan itu hanya diam menatap dan membuat Syifa terpaksa mengalah dan berbalik ke pintu yang lain.


“Aku terima kamu ngejauhin aku, fa!”


Teriakan Pria itu berhasil membuat langkah syifa terhenti dan berbalik.


"Selama apapun kamu butuh jarak itu, aku siap! tapi beri aku hadiah atas rasa sabarku menunggumu.”


“Kita..., sudah berakhir,” kata Syifa pelan namun penuh penekanan. “sudah lama aku melupakan kisah itu. seharusnya kamu juga berhenti dan berharaplah pada yang lain!”


Syifa menggeleng, “aku sudah berada di kisah yang lain.”


Aska memicing, sesaat kemudian ia tersenyum Smirk, “Nabil?”


Iya, Syiifa terkejut Aska mengetahui ha itu tapi kebenaran tak bisa lagi disembunyikan. perlahan ia mengagguk.


"Dia adalah teman kecil yang menjauhkan aku pada gemerlap cinta manusia, untuk mengembalikan rasaku pada cinta sesungguhnya.”


“Dia buruk__"


“Tapi tidak seburuk dirimu,” pangkas Syifa. “sampai kapan pun kita tak akan pernah sedekat dulu, Ka. biarpun suatu hari nanti aku harus menolongmu. pastikan, anggap itu sebuah belas kasihan sesama manusia bukan simpati perasaaku. tolong, mengertilah..”


**


"Tolong, mengertilah."


Aska masih berada dalam bus, terdiam menatapi lantai tempat wanita itu berdiri. kalimat permohonan untuk mengerti dari wanita itu terus terngiang. apa seperti ini balasan atas perjuangannya melawan hasrat?


Dia sudah berjuang sejauh ini. agama sudah menjadi korban, begitupun dengan barang kesukaannya. untuk siapa segala pengorbanan itu jika bukan pemilik hatinya. dalam pikirnya, seharusnya syifa yang harus mengerti, bukan dirinya yang mesti di tuntut.

__ADS_1


Terbesit, jika memang dirinya tak bisa mendapati Syifa, pria itu juga tak boleh dengan Syifa. setelah meyakinkan diri, Aska pergi mencari seseorang.


Sementara di salah satu ruang toilet, Nabil tengah berjuang mengontrol diri. memang serius ingin berubah tapi belum pernah berkonsultasi dengan dokter. sebab dirinya takut jika dokter melaporkan kondisinya ke polisi, makalah itu ia berjuang sendiri.


Setelah dirasa mampu, ia keluar. namun udaranya justru membuat badannya seperti ditusuk jarum. dengan cepat ia berlari ke belakang ruang toilet.


Gemetaran, lemas, dan tak berdaya membuatnya rebah, duduk menyandari dinding tempok berlumut itu. disaat kesadarannya hampir hilang, ia mengerjapkan memastikan bayangan hitam apa yang berdiri di hadapan sana.


“Askaa.. tolong gue..”


Lirihnya menyebut nama pria yang sedang mengoyang goyangkan satu klip plastik yang berisi serbuk putih, ia menyeringai dan mencoba berdiri merebut barang itu namun aska menjauhkan sehingga dirinya kembali rebah.


“Tolooong gue, Ka..” bibirnya pucat, dan bergetar, matanya sayu meminta pertolongan


**


Matahari yang mulai meninggi membuat Syifa kalut mencari Nabil. sejak tadi pria itu tak terlihat tapi motornya masih ada, yang ditakutkan adalah jika Aska melukainya.


Dirasa ada yang tak beres, Ia meminta lia menjaga anak anak dan mulai menyusuri tepat wisata, namu tetap tak ada jejak dari Pria itu.


Disaat putus asa menerpa pandangannya bertemu dengan pria berwajah oriental yang sangat ia kenali keluar dari belakang toilet.


“Aska!” panggilannya berhasil menghentikan langkah yang beradu cepat, ia berlari menghampiri pria itu, “mana Nabil?”


“Aku gak tahu fa.”


“Kamu jangan bohong , Ska!” sentaknya, dari gerak gerik aska ia tahu pria itu pasti menyembunyikan sesuatu. terlihat cairan bening mulai memupuk mata, “tolong kasih tauu…” pintanya


Aska menghela, “di belakang sana,” jawab Aska karena tak tega.


Segera mungkin Syifa berlari ke belakang. tempatnya tak jauh tetapi ketika melihat seorang pria bersandar dengan melipat salah satu lutut. dimana diatas lutut itu ada tangan yang memegang sebatang rokok, membuatnya hampir terjatuh.


“Biiil.”


Dari tatapan Nabil yang tak menghiraukan kehadirannya ia tahu apa yang sedang dinikmati pria itu. setetes air mata kembali jatuh, hatinya tersayat melihat pria pilihan kembali dalam lingkaran haram.


Isakan, hanya isakan yang didegar Aska. ia berada tak jauh dibelakang Syifa menunggu wanita itu mengugkapkan kecewa pada Nabil. namun sepertinya terlalu dalam kecewa itu sehingga Syifa tak mampu memaki.


“Tolong bantu dia, Ka.”


Syifa tahu aska ada dibelakang, ia mengusap air matanya kemudian berbalik dan meninggalkan tempat tersebut. mata sembabnya sedikit menarik perhatian beberapa anak, beruntung tak ada yang kepo.


Tetapi Lia, salah satu manusia paling kepo itu terus mengorek penjelasan secara detail kronogis atas penjelasan yang ia berikan. beruntung ia mempunyai banyak alasan sehingga gadis itu tidak tahu jika dirinya sedang menagisi Pria yang dikagumi.


-Bersambung.

__ADS_1


Mohon bantuannnya untuk dukung Autor cerita ini, terimah kasih.


__ADS_2