Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Sikap yang tak menentu.


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini syifa merasa sangat tenang ketika janjinya pada nabil tak tersampaikan. sebab kata intan, pria itu tengah berada di Jakarta menghadiri sebuah pertemuan besar di perusahaan papanya.


Yah, meski masih setengah tengah menjalankan, nabil mencoba mengikuti kemauan papanya untuk mencari pengalaman dari sekarang. salah satunya adalah menghadiri tiap pertemuan besar teman teman perusahaan Haris sambil papanya memperkenalkan siapa yang akan meneruskan perusahaan kaca yang diberi nama Hars Grub.


Namun ditengah ketenangan Syifa justru wanita yang biasa lebih ceria darinya merasa down ketika mendengar nabil berada di Jakarta.


“Seharusnya kamu senang karena dia balikin sepatumu,” ucap Syifa setelah mengetahui kemurungan lia beberapa hari ini. “orangnya gak ada kenapa tanyain terus sama adeknya, kapan pulang?”


Lia hanya mendengus, ia menunduk memandangi langkah kakinya yang tak bersemangat menuju rumah syifa. ia juga tidak tahu kenapa ingin segera bertemu dengan pria itu.


“Atau jangan jangan, suka kamu yah sama dia?”


Lia menghentikan langkah, suka? pertanyaan syifa membuat jantungnya berpacu kuat sebab ia tidak pernah memikirkan hal tersebut tapi sekali pertanyaan itu terlontar, ia rasanya ingin mengiyakan saja. perlahan lia mengagguk membuat syifa terbelalak.


“Beneran!?”


Lia menyernyit, “kenapa kaget gitu? aku suka karena dia ternyata orangnya baik, kak.” ia melanjutkan langkah dan diikuti syifa.


“Jangan suka sama orang kek gitu, Li. kamu gak kenal dia,” balas syifa, “dibalik kebaikannya itu pasti dia ada maunya.”


"Katanya gak boleh Seudzon, gimanah sih kak syifa ini,“ lia mengingatkan kaliamat syifa "dia gak kayak gitu, kak. gak usah terlalu panic, aku cuman mau temenan aja.”


Belum ada tanggaan dari syifa.


“Kak Nabil ternyata tau banyak hal loh, mengenai agama. aku mau serep ilmunya."


“Kamu bisa belajar sama aku, klo sama yang bukan mahram selain kamu dapat ilmu kamu juga dapat dosa.”


Lia menggeleng cepat, “islam tidak melarang kita berteman dengan mereka, asal kita tahu batasannya, kak.”


Lia terus melanjutkan langka meninggalkan syifa yang jalan melambat karena memikirkan sesuatu. wanita itu memicing, alasan lia sungguh tidak masuk akal pasti ada niat lain gadis itu ingin belajar agama pada nabil.


Setelah mereka sampai dirumah, lia langsung mengambil barangnya di kamar syifa. sebab hari ini aska sudah pulang dari luar kota, nunggu oleh oleh.


**


Mentari sudah muncul dari cakrawala sejak tadi, namun syifa belum juga keluar rumah sebab kedatangan tamu yang membawa oleh oleh dari Jakarta.


“Aku beliin ini kusus buat Ibu,” nabil memberikan sebuah kantung belanjaan pada Ana, wanita itu menerimanya sungkan.

__ADS_1


“Gak enak ibu, kamu kasih barang padahal belum ada kejelasan sama anaknya.”


Nabil mengulas senyum, “doain aja, Bu.” balasnya kemudian meminta pamit.


“Loh, gak ketemu sama syifa dulu?” Ana ikut berdiri.


Nabil menggeleng, “nanti telat dia Bu, aku cuman anterin itu.”


Di balik dinding ruang tamu tersebut ada syifa yang menghela napas lega, ia buru buru keluar memakai sepatunya ketika mendengar suara motor nabil sudah menjauh. ia melirik ibunya yang kebingunan membuka kado.


“Ini oleh olehnya buat ibu semua, fa.” gumam Ana ketika membuka pemberian nabil, sebuah gamis dengan kerudung bermotof bunga.


“Aku pamit yah, bu. assalamu alaikum."


Syifa mengabaikan kalimat ibunya sebab ia kesal karena mungkin saja pria itu berniat mendekati ibunya terlebih dahulu. sementara klo ibunya sudah memaksanya syifa hanya bisa pasrah menerima.


Dua hari sudah berlalu, kadang syifa dibuat bingung oleh pria tersebut karena jika ada kesempatan pria itu pasti membuatnya kesal padahal sudah jelas ia berniat melamar, bukankah seharusnya Nabil membuat dirinya nyaman?


Bahkan semakin hari Nabil hanya selalu membuatnya kesal, apalagi sejak pria itu tak ragu mengajaknya berbicara didepan anak anak TPA, Syifa paling tidak suka saat seperti itu, sebab dirinya tak mungkin membentak nabil didepan muridnya.


Semenjak Nabil sibuk membuat syifa kesal pria itu tak lagi menghiraukan Lia yang terlihat risih melihat kedekatan mereka, tapi gadis itu sadar diri bahwa ia tak memiliki hak melarang pergaulan nabil, tapi tetap saja ada perasaan sesak ketika melihat mereka saling bertukar kata.


Pertanyaan itu sudah lama ia pendam tapi hari ini ia ingin menperjelas, maka dari itu lia menitip motornya di rumah syifa agar ketika pulang dari TPA ia bisa membahas itu pada wanita disampinya.


“Nggak ada,” bantah syifa, “klo kamu suka sama dia jujur aja ke orangnya, biar dia gk gangguin aku.” lanjutnya yang terlihat kesal.


“Dia suka sama kak Syifa, bagaimana bisa aku kasih tahu disaat orang itu suka sama orang lain.”


Syifa menghentikan langkah dan menoleh ke Lia, sejak awal ia sudah tahu jika wanita itu menaruh hati pada nabil lewat gerak gerik cemburuannya.


“Ungkapin aja dulu. klo dia gak terima, setidaknya jika ia menyerah padaku dia tahu kemana harus berjuang. tapi klo dia juga nyimpen perasan kyak kamu.. klo dia ngajak pacaran, kamu gak usah nerima, haram kan hukumnya?”


Lia berdecak, “aku gak sampe mikirin itu juga, kak,” sela lia, sesaat ia tersenyum kemudian memeluk manja lengan syifa.


“Benerak kak syifa gak suka?"


“Gak akan pernah.”


“Janji, aku takut nanti saingan sama kak syifa.”

__ADS_1


Syifa terkekh kecil, “kamu tenang aja, soal itu…, aku punya harapan ke orang lain,” ungkapnya mengulas senyum.


“Kak Aska.”


Syifa menggeleng, “bukaaan.”


“itu..,” Lia menunjuk arah depan.


Aska sedang mengendari motor, ia melewati 2 wanita yang menatapnya namun pria itu hanya menyapa dengan klakson. sekali lagi syifa dibuat heran dengan sikap cuek aska, tapi ia malas membahasnya pada Lia.


“Orang lain itu siapa kak?” Lia mempertanyakan orang lain yang dimaksudkan syifa tadi.


“Ada dee..”


Lia berdecak, jiwa kekepoannya kembali muncul namun meskipun sudah mendesak tetap saja syifa merahasiakan sosok tersebut.


**


Siang ini setelah pulang dari sekolah lia mendapat kendala di jalan, sebab motor yang ia bawa tiba tiba saja rantainya putus. ia hendak menelpon Aska namun sebuah motor berhenti disampinya.


“Motormu kenapa itu?” tanya pemilik motor itu sembari melepas helm funiturenya.


“Rantainya putus, kak.” jawab Lia setelah mengetahui itu adalah Nabil.


Pria yang memakai kaos abu dengan jaket hitam itu turun dari motor sembari melepas jaketnya, ia berjongkok didepan rantai motor Lia.


“Punya kunci Tang, gak?"


“Nggak tau,” Lia membuka bekasi motornya kemudian memberikan tas kecil yang berisi perkakas yang masih kinclong “kak nabil cari sendiri aja, aku gak tahu yang mana tang."


Pria itu mengambilnya dan hanya menemukan dua perkakas disana yaitu obeng dan kunci ingris. ia menghela napas harus pintar pintar memanfaatkan 2 alat itu yang bukan fungsinya. Sedang ia sendiri juga jarang memawa perkakas sebab jika ada masalah dengan motornya akan ia perbaiki di bangkel.


Melihat Nabil yang bersusah payah lia berpamitan pada pria itu untuk membeli minuman namun tak ada jawaban dari nabil, pria itu kini fokus mengeratkan rantai menggunakan tangannya.


Tak butuh waktu lama akhirnya Lia kembali dengan membawa 2 botol minuman dingin. ia menghampiri Nabil yang terlihat menghempas tangnnya.


“Minum dulu kak,” Lia menyodor minuman tersebut, namun matanya tercekal melihat tangan Nabil berdarah.


Bersambung.

__ADS_1


Gak bosen bosen nih, autor minta bantuan buat support cerita ini😊 Like Komen dan Share yah, kaka. minta vote ama Bintang 5 juga, Jazakillah Khair😙


__ADS_2