
Usai melaksanakan sholat isya berjamaah Syifa mengajak Lia ke kamarnya.
"Woaaaaa...," Lia mendahului Syifa masuk dalam kamar, Ia mengedarkan pandangan ke seluruh dinding kamar Syifa.
"Begini yah kamarnya wanita sholihah?" Lia terkagum melihat tulisan-tulisan dakwah yang menempel di dinding kamar tersebut.
"Kenapa sih?"
"Kak syifa ini benar-benar sudah menjadi wanita sholihah," kata Lia sambil mengacungkan jempolnya.
Syifa tersenyum, "Aku hanya wanita biasa Lia Wanita akhir zaman yang banyak kekurangan, Masih tahap memperbaiki. belum pantas rasanya mendapat gelar sholehah."
Lia menggeleng "menurut aku, kak syifa ini sudah pantas kok, mendapat gelar itu." lia berjalan mendekatkan diri ke dinding. "Coba aja kak syifa tahu, apa yang tertempel di dinding kamar ku."
"Emang apa yang kamu tempelin disana?"
Lia berbalik, "foto Kim Myung su ama Le Jong Suuk,"
Jawaban lia membuat syifa gemes, ia melayangkan jitakan kecil di kepala gadis itu, "Dasar otak K-pop."
"Sakit, tau!" Kelu lia seraya mengusap kepalanya.
"Pantas aja banyak setan dirumahmu," Syifa duduk ditepi tempat tidur memainkan ponselnya.
Meski terlihat kesal tapi Lia kembali menatap dinding-dinding itu, "Kebanyakan nasehat yah kak," katanya.
"Hemm?" Syifa menatap Lia sebentar, "ia, emang kebanyakan nasehat."
"Kenapa lebik banyak nasehat kak?"
Syifa mengentikan aktifitasnya kemudian menatap Lia, "karena manusia butuh nasehat Lia, untuk membuka kesadarannya."Jawabnya "Tapi terkadang, sulit sekali menerima nasehat orang lain karena merasa diri sudah pandai menasehati,"
"Maksudnya, kak?"
"Aku gak yakin bisa menerima nasehat orang lain, maka itu aku memasang ini semua untuk menasehati diriku sendiri."
Lia mengangguk-angguk, memang benar Syifa adalah sosok wanita yang sulit menerima nasehat orang. Ia kembali menatap ke dinding, menyedarkan pandangannya, hingga terheti pada kalimat yang tak asing baginya.
"Kak? Kalau kita mau berhijrah mana yang lebih utama, Merubah ahlaq atau merubah penampilan dulu?"
"Keduanya utama Lia." jawab syifa, "Prilaku baik, untuk melindungi kita dari perbuatan yang akan menyakiti orang lain, dan berpenampilan baik, untuk menjaga kita dari pandangan buruk orang lain." lanjutnya.
"Tapi berhijab gak harus jadi baik dulu kan, kak?" Tanya Lia lagi, entah kenapa ia ingin mengorek pembahasan pria itu.
__ADS_1
"Yapz," balas syifa, Mendengar itu Lia tersenyum menang, "Kenapa sih tumbenan nanya itu?" Tanya syifa heran.
Lia menghampiri syifa dan duduk di tepi tempat tidur, "Cuman kesel aja. masa kemarin ada yang nyinggung pakaianku, yang katanya gak cocok lah sama sikapku ini" kelu Lia, "Padahal, kita gak harus jadi baik dulu kan buat berpakaian syar'i?"
SYifa tersenyum, "mereka tidak berhak menyangkutkan ahlaq dan penampilan, karena Keduanya berbeda. Tapi kita juga harus menyesuaikan diri dengan apa yang kita kenakan. biarkan mereka sibuk dengan pemikiran mereka, kita tidak perlu membuktikan sudah sebaik apa kita."
"Kamu tidak salah berpenampilan lebih seperti ini, tapi alangkah baiknya jika kamu bisa beradaptasi dengan itu."
"Beradaptasi gimana kak?" tanya Lia.
"Selain memperbaiki penampilan, kamu juga perlu menyataran sikap dan ilmu agama mu." jawab syifa.
"Tapi Bukannya kak syifa sendiri yang bilang, Berpenampilan seperti ini nanti sifat baiknya juga bakal ngikut."
Kini syifa terkekeh kecil mendengar pernyataan Lia, "jadi selama ini, kamu mikirnya sifat baiknya itu bakal ngikut sendiri ke kamu?"
Lia mengangguk.
"Trus. menurut mu, gimana sikapmu sekarang?" Tanya shifa.
Lia meringis, "Makin menjadi-jadi sih,kak," katanya sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.
Shifa geleng geleng kepala kemudian menatap serius gadis yg duduk didepannya itu, "Semua tidak berjalan begitu saja Lia, kita perlu menjemputnya."
"Gimana cara jemputnya, kak?
Lia berdiri, namun sebuah buku diatas meja samping shifa membuanya penasaran, "Buku apa nih kak?" Tanya lia seraya mengambil buku itu, "cara menjadi wanita sholeh." Ejanya pada sampulnya.
"Wiih.., bangus nih klo aku pelajarin," kata lia membuat shifa membuka matanya. Lia memasang senyum termanisnya, "kakak kan udah masya Allah.., banget. boleh dong klo buku ini buat aku.." pintanya sembari menaikkan kedua alis.
Shifa terlihat ragu, namun akhirnya ia mengangguk. "Ia, bawa pulang aja. Tapi kembaliin yah, klo udah selesai."
"Diiih, pelit amat, kak. buku setebal gini Kapan selesainya?" Lia terlihat manyun
"Kasih aja napa, udah tua juga bukunya."
"Nggak," sentak shifa, "kamu boleh ambil buku yang lain, tapi jangan itu. Yang itu aku pinjemin kamu."
"Iyah deh, iya. sensitif amat. Cuman buku doang," lia membaringkan badannya di sisi lain dan mulai membuka buku itu, "Nabil," gumamnya ketika membuka bagian sampul belakangnya.
Lia membalikkan badan dan melihat shifa yang belum terpejam, "Nabil siapa kak?" tanyanya, "bukan nabil yang dirumah sakit itu kan? Eh gak mungkin. orang kalian baru ketemu kemarin yah," Ralatnya kemudian.
Shifa hanya dia menatap, hingga ia memilih membelakangi saja.
__ADS_1
"Iiih.. Nabil siapa, kak?" Desak Lia yang benar-benar penasaran.
"Nabil, teman ku Waktu kecil.
gak usah mikir jauh jauh deh."
"Oallah... temen kecil," kata Lia dan kembali ia membuka buku itu, "Bagus yah kak, pembahasannya menarik pula,
Pantas aja kak shifa cepat berubah nya."
Tak ada tanggapan dari syifa.
"Teman kak shifa kasih ini pas kalian masih kanak-kanak?
"hemm," jawam Syifa.
"Kok bisa, dia kasih buku kayak gini?
Seharunya dia ngasih itu buku dongeng kah, bergambarkah. Gak sesesuai banget dah sama umurnya." cecaran Lia membuat syifa tersenyum mengingat teman kecilnya.
"Tapi bagus juga, sih. dia sudah tau apa yang bermanfaat dan tidak," Lanjut Lia.
Mendengar itu, syifa membalikkan badan dan menatap Lia, "iyah. dari kecil, dia memang sudah ahli agama, Li. dia yang selalu mengajarkan kakak tentang agama." syifa menjeda karena ingin meluapkan kekagumannya lewat senyuman.
"Cieee...," goda Lia yang melihat binar kekaguman di wajah syifa, "terus sekarang dimana orangnya, kak? kenalin doong."
Syifa mengangkat kedua bahunya, "entah, saat dia memberikan buku itu, itu adalah pertemuan terakhir kakak dengannya ternyata."
"kak syifa gak pengen cari tahu apa? gak penasaran gimana orangnya pas udah gede?"
Syifa tersenyum, "saangat penasaran," jawabnya, "tapi biarkan takdir yang mempertemukan," lanjutnya.
"klo penasaran, ya berusaha cari tahu, dong. pertemuan itu tidak datang begitu saja. perlu di jemput, kak," lia mengingatkan kalimat syifa sebelumnya.
Syifa tertawa kecil, " iyah, iyah. tapi aku tidak memaksakan pertemuan itu, takdir akan berakhir indah jika tidak terlalu di rencanakan."
Tak ada lagi sanggahan dari Lia sementara syifa menatap langit langit kamarnya, "dari kecil dia sudah taat, pasti sekarang dia sudah menjadi seorang ustad atau penghapal Al-Qu'an." ia sedang membayangkan teman kecilnya itu sedang berdiri menyampaikan sepenggal nasehat di atas mimbar.
"Tidak selamanya hati manusia teguh pada tujuannya, kak. mereka akan berubah mengikuti waktu. Lihat kak Aska, dulu juga dia pria yang baik, sangat baik. tapi karena pergaulan, membuatnya salah jalan."
Kalimat Lia membuat syifa menghamburkan segala khayalannya.
"Aku yakin, dia masih pria yang sama, Pria yang menomor satukan Allah," batinnya.
__ADS_1
-Bersambung-
Bantu dukungannya, yah. jangan lupa tinggalin Like juga Komen. bisa Share juga klo mau mengapresiasikan Novel ini😊 @airaannur_