
pria itu terdiam dalam pikirannya sementara pandangannya lurus kedepan, melihat 2 motor metic yang tak berpenghuni jika dirinya pergi.
"kenapa belum jalan, mas?"
"Trus tu motor gimana?" Tanya nabil balik, ia sedikit menoleh dan melirik shifa yang ada di belakang.
"Udah, tinggalin aja mas. nyawa teman saya lebih penting."
"Huh!" Nabil terbelalak mendengar jawaban wanita itu yang begitu enteng nya mengatakan tinggalkan saja. ia celikungan memandang ke sekitar yang sudah tak asing baginya,"tapi Ini jalanan sepi, kalo ada maling gimana? gak ada warga yang liat."
"Klo motor saya hilang itu sudah takdirnya, mas. tapi teman saya ini harus di selematkan dulu. Tolong cepat bawa kami kerumah sakit, mas." Walau kesal, tapi shifa mencoba meminta dengan baik.
"Dih, Lo pikir motor semurah boneka doraemon lo itu," gumam nabil.
"Huh? " Shifa spontan menganga ketika mendengar gumanan itu, "maksudnya?" Tanyanya kemudian.
Pria itu merogoh sesuatu di bagian dalam jaketnya, mengabaikan pertanyaan wanita yang sedang resah menunggu motornya kapan bergerak.
"Halo, ky?.., lo dimana?..., oh udah dekat..., "
Sangat jelas percakapan pria itu di telinga Shifa. membuat wanita itu menggaruk keningnya yang tak gatal, sekedar meluapkan kekesalannya pada pria yang sedang berbicara di telpon dengan seorang bernama eky.
Bagaimana tidak, saat darurat seperti ini Pria itu masih memikirkan 2 benda di depan sana yang harganya tak sebanding dengan nyawa seseorang.
"Tau gini! udah dari tadi ku telpon Aska," batinnya Ia menunduk memandangi Lia yang wajahnya sudah pucat dengan butir butir cairan bening disana.
"Bentar lagi Temen gue bakal datang. lo gak perlu khawatiri motor lo," ujar nabil usai mengakhiri panggilannya.
Shifa mengeratkan giginya, rahangnya sedikit mengeras menahan marah, "Udaaaaah, cepat jalan! dari tadi emang saya gak khawatirin benda itu," batinnya.
"Jadi sekarang bisa jalan kan, mas?"
Nabil pun menjalankan kendaraaanya, hingga tibalah ia dirumah sakit tempatnya dulu di rawat inap. Sekali lagi ia mengangkat tubuh Lia dan berlari kecil memasuki rumah sakit.
"sus! tolong sus," Teriak shifa ketika jaraknya sudah tak jauh dari resepsionis.
dua perawat menghampiri mereka dengan tangan kosong.
"eh mana brankarnya?" tanya salah seorang perawat itu kepada temannya.
"Oiyah, saya Lupa, bentar yah mas,"
"gak usah! "
__ADS_1
perawat yang hendak pergi itu menoleh kembali, dan menatap pria yang sedang berkeringat dingin dengan kedua tangannya mengangkat gadis yang sudah tak sadarkan diri.
"biar saya yang bawa," ucap nabil seraya mengangkat tangannya yang berat, "tunjukan saja kami dimana ruangan yang kosong."
tanpa pikir panjang, kedua perawat itu pun mengantarkan mereka keruangan, sedang dokter yang akan menangani juga mengekor di belakang.
nabil segera meletakkan Lia di atas berangkar
kemudian menarik tangannya sendiri berharap rasa pegalnya segera hilang. ia bergeser mempersilahkan dokter menangani gadis yang sudah membuat tangannya pegal itu.
"Ini temannya kenapa dek?" Tanya dokter
"Habis kecelakaan dok." jawab shifa.
Dokter itu menyernyit, "Lukanya cuman di kening saja? kenapa bisa sampai pinsan?" tanya nya seraya membersikan luka Lia.
"Tadi penyakit asma nya kambu dok."
Dokter itu segera menghentikan aktifitasnya, dan bebalik karena terkejut mendengar jawaban itu. Sementara shifa masih memperlihatkan wajah panik dan khawatirnya. Pandangan dokter kemudian beralih ke pria yang berdiri di samping shifa dengan napas masih tersenggal-senggal ia juga menatap shifa terkejut.
"Suster?"panggil dokter itu pada perawatnya "tolong bawa mereka keluar," Pintanya kemudian ia disibukan dengan peralatan medis yang akan di pasangkan ke Lia, dan hal itu membuat Shifa semakin panik.
Tak ingin menggagu, akhirnya nabil dan shifa keluar membiarkan tenaga medis menjalankan tugasnya.
Saya akan menuntut anda!" Bentak shifa pada pria yang sedang bersandar di tembok dengan sedikit membungkuk dan masih menatur napasnya.
Tentu saja kalimat wanita itu membuatnya terkejut. Ia berdiri tegak kemudian menghampiri wanita yang menatapnya dengan penyesalan. Ingin memarahi dan membalas makian itu kembali. namun niat itu tiba-tiba saja bersembunyi di balik hati nuraninya, tak tega membalas ketika melihat wanita yang tengah duduk itu tiba-tiba saja tertunduk dan menangis karena rasa takut
"ayo nabil, jangan goyah."
pria itu sedang bertengkar dengan dirinya sendiri. sudah tak tahan ingin menenang kan teman kecilnya itu.
Shifa kembali mendongakkan kepala, menatap pria yang sudah berdiri tegak di depannya. "Apa bagimu harta dan benda itu lebih penting dari nyawa seseorang?!" Gertaknya, ia masih kesal dengan keputusan nabil tadi. yah, mungkin keadaan Lia tidak seburuk ini. jika saja pria itu segera melajukan motornya tadi. pikirnya.
Nabil bergeming.
sudah merasa dirinya bersalah, tapi ia tidak bermaksud mengulur waktu. Hanya saja ia tak ingin shifa bersedih jika sampai kehilangan motornya, karena ia tahu hanya itulah salah satu benda berharga yang dimiliki wanita itu sekarang.
"Kenapa diam?!" Shifa sudah tidak tahan lagi melihat pria itu membisu dengan kesalahannya.
"Lo juga gak bilang sih, klo dia penyakitan," kata nabil membela diri.
Keduanya hanya saling menatap, shifa masih menunjukkan kekesalannya lewat sorot mata yang membuat pria itu nanar menatapnya "iya, gue salah.maaf," itulah arti tatapan nabil.
__ADS_1
Triiit... triiit...
Shifa segera memalingkan pandangannya ketika merasakan getaran dari tas Lia. Di ambilnya ponsel itu dan terlihat nomor dengan kontak nama kak Alaska muncul di layar ponsel Lia.
Ragu dan canggung untuk mengangkat, itu pasti. tapi rasa takutnya lebih mendominan disana. Bagaimana jika pria itu tahu kalo adiknya sekarang ada dirumah sakit karena berusaha mengejar motornya tadi.
terlalu lama berfikir. akhirnya aska meyerah, ia menghentikan panggilannya di seberang sana. dan tentu itu membuat shifa lega. ia tidak harus berbicara atau pun berbohong dengan pria yang ingin ia hindari itu.
shifa kembali menatap kedepan, ingin memulai pertikain yang sempat terhenti. namun pria yang ingin dimakinya itu sudah tidak ada didepan mata. ia kemudian menoleh kesamping kanan karena merasakan sesuatu yang aneh disana. dan rupanya pria yang ia cari sudah duduk disampinya, dengan kedua siku ia topang ke kedua lututnya yang tak berkain sebab pria itu memang senang memakai celana yang agak sobek, nampak preman.
dengan keadaan tertunduk, pria itu menarik tengkuk leher nya membuat amarah shifa mereda. yah, mungkin pria ini sudah menyesali keputusannya.
tak ada alasannya lagi untuk membentak, lagi pula pria itu juga masih menjaga jarak disamping dengan menyisakan satu bangku kosong di tengah mereka. tapi matanya masih mematung menatap pria yang tertunduk itu. ia mengingat waktu dimana dirinya begitu nekat mendekati pria itu hingga menatapnya sangat lekat menghadirkan sebuah rasa yang seharusnya ia hindari agar tidak menjerumus pada zina mata.
triiit! triit!
sebuah nada dering dari ponsel Lia membuat nabil mendongakkan kepala, ia terkejut mendapati shifa yang sedang menatapnya dengan arti tidak bisa di tebak.
mereka saling memandang, hingga membuat shifa mulai goyah dengan mata indah di bawah alis tebal pria itu.
triiit..! triiit..!
entah keberanian apa yang membuat shifa mengangkat panggilan Aska, tapi yang jelas ia hanya ingin menghilangkan kecanggunan dan rasa malunya karena menatap pria disampinya.
"Assalamu Alaikum."
sebuah salam dari mulut Aska, membuat shifa sulit memejamkan mata. benar kata Lia, pria itu sudah berubah.
"halo? lo dimana sih dek? tadi teman kamu tanyain katanya kamu belum sampai ke sekolah."
pertanyaan Aska membuat shifa kembali panik. harus dari mana ia menjelaskannya.
"halo? Lia? kamu denger gak sih kakak ngomong!"
"Wa'alaikumussalam, ini shifa." jawabnya seraya melihat nabil yang juga menatapnya.
-Bersambung.
.
.
jangan Lupa tekan Like, ketik apapun kolom komentar dan Vote biar autornya semangat dan..., #jangan Lupa bersyukur.
__ADS_1