
Mulai timbul keraguan di hatinya.
lagi Ia bergidik melihat penampilan pria itu. celana sobek-sobek, bertato, rambutnya pirang berantakan nampak seperti preman pasar.
Shifa menopang salah satu dagunya. mengarsir wajah pria itu dengan imajinasinya.
"Hemm.. Ganteng, sih! tapi..."
Deg!!
Pupil mata Shifa tiba tiba melebar, ia berdiri dan menyenggol kasar kursinya.
“Astagfirullah! apa yang barusan ku ucap?" ia membungkam mulutnya sendiri.
Kini ia sadar apa yang barusan ia lakukan adalah salah. tidak sepantasnya ia memandangi dan mendekat pada orang yang bukan mahramnya apalagi dengan rasa yang menjerumus pada zina. Tanpa menunggu Lia, Dengan rasa bersalah ia pun segera keluar ruangan untuk mengambil wuduh.
Belum genap dua langkah setelah Shifa keluar, kini wajah Lia sudah nampak di ujung koridor.
Mereka berjalan seperti hendak ingin bertemu. Melangkah dengan arah yang berlawanan namun salah satu dari wanita itu hanya fokus pada langkahnya.
"Kak?"
Panggilan Lia namun tidak mendapat respon dari wanita yang tunduk dan fokus dengan langkahnya itu. ia melewati Lia yang berdiri mematung sekedar menunggu respon darinya.
"Huh! Gue dicuekin?" Lia berbalik, ia mendapati langkah Shifa yang sudah beraduh cepat, "Kenapa tu anak? Buru buru amat." gumam Lia keheranan.
Malas berfikir, Lia segera keruangan nabil menggantikan Shifa menjaga pria itu.
"Masya Allah... gantengnya hambamu yang satu ini," batinnya setelah memasuki ruangan Nabil, Ia memicing mengingat sesuatu.
"Tapi pernah Liat dimana yaa.."
Lia mencoba mengingat ingat pria itu namun tak di temukan bayangannya. Melihat kondisi Pria itu masih memejam mata, ia memilih keluar dan duduk di luar ruangan.
Usai melaksanakan sholat 4 rakaat,
zikir serta do'a pula sudah ia panjatkan kepada sang pemilik takdir. Kini waktunya meminta ampun kepada penentu takdirnya atas mata yg sengaja menatap dengan rasa yang berbeda.
Sebuah rasa yang tak pantas ia dalami,
Mengagumi dari mata hanya akan berakhir kekecewaan serupa. fisik bukan lagi yang pantas ia banggakan, kini kriteria impiannya sempurna hanya ingin berbalut dengan ketakwaan.
**
“Tadi kenapa, Buru-buru amat? " tanya Lia ketika Shifa sudah duduk disampingnya usai melaksanakan Sholat. "Sampe aku panggil kakak, loh! Tapi aku malah dilewatin aja.”
Shifa menoleh ke Lia sejenak "Oh yah? Kakak gak denger tuh!" jawabnya kemudian merogoh ponselnya dalam tas.
"Yah ampun, kak!" protes Lia, "tadi tuu...."
Lia menarik napas berpikir sesuatu, Ia menghentikan penasaran yang satu ini
__ADS_1
Membawanya pada penasaran yang lain.
"Kak!? Yang didalam itu beneran temennya?" tanya Lia.
Shifa menaikkan kedua bahunya. Namun segera ia menarik napas setelah melihat tatapan tegas Dari mata penasaran Lia.
"Dia yang nolongin kakak, pas tadi kecelakaan." jawab Shifa setengah jujur.
"Hah! kakak Kecelakaan!?"
Shifa tak merespon pandangannya masih tertuju pada ponselnya.
Lia melirih pergelangan tangan kiri shifa, "Oooo.. jadi tangannya sakit itu karena kecelakaan," tebaknya sambil menganguk-angguk megerti.
Shifa mengangguk saja. ia tidak mau membahas kelakuan Aska tadi pagi pada Lia, yang sebenarnya kakaknya lah membuat tangannya memar.
"Pantas motornya gak keliatan tadi." gumam Lia. Setelah lama larut dalam pikirannya kini perlahan matanya menatap curiga shifa.
"Tapi, kok! lukanya cuman memar? Seharusnya kan..." Lia menahan ucapannya dan memutar pikirannya.
Sementara Shifa sudah menatapnya curiga.
Lia memicing menyedarkan pandangannya kedepan. "biasanya nih! yah. orang, klo kecelakaan yah ada lah sedikit bekas goresan atau bekas tetesan dar--"
Plak!
"Auuu..kak! Sakiiit..." pekik Lia ketika mendapati tepukan keras shifa di pahanya.
"Ah! Iyah juga, yah?"
Plakkkk...
"Auuu... kok dipukul lagi, sih?" Protes Lia sambil mengaruk-garuk bekas pukulan shifa yang lebih perih dari sebelumnya.
"Siapa suruh! Bukannya Alhamdulillah malah mikirnya yang ngak-nggak!" Shifa memanyunkan bibirnya.
"Yah! aneh aja, motornya sampe di bengkel Tapi kok lukanya cuman di pergelangan tangan doang?" Lia melirik tangan Shifa yang memar.
"Cuman kecelakaan kecil Lia..," Shifa menutupi pergelangan tangannya "gak usah mikir aneh-aneh deh!"
"Cuman kecelakaan kecil, kaka bilang?" Lia menyernyit tak percaya. "Tapi kenapa lukanya separah itu?" Lia sedikit menelengkan wajahnya kesamping tepat di pintu ruangan Nabil. sementara matanya masih menatap Shifa meminta penjelasan.
Mereka saling menatap, Hingga akhirnya wanita yang mendapat tuntutan itu menunduk. Tentu itu membuat Lia penasaran dengan tingkahnya, segera Lia menurunkan kepalanya untuk melihat ekspresi wanita disampingnya "Kakak nangis?"
Tidak ada respon dari Shifa hanya tangisan yang tadinya samar kini sedikit meledak usai mendengar pertanyaan Lia.
Lia merasa bersalah. menyadari, seharusnya ia tidak sekepo itu meskipun itu wajar jika dipertanyakan namun ia tidak mau lagi memaksakan Shifa menjawabnya.
"Maaf kak, aku janji gak sekepo ini lagi. gak usah nangis, pliiss." ia mengelus pundak Shifa. memohon maaf dan menyesali perbuatannya.
Shifa menyeka air matanya kemudian menoleh ke Lia seraya menarik napas sedalam mungkin untuk menenangkan diri.
__ADS_1
"Nggak kok Lia, kamu wajar bertanya seperti itu." Ia menarik tangan Lia dan menepuk nya. "Kakak cuman belum bisa cerita ke kamu yang satu ini. maaf, yah?"
Lia mengangguk. meski sebenarnya iya sangat penasaran tapi ini adalah hak Shifa untuk bercerita atau tidak karena dia yang mengalami.
Lia menarik tangannya yang digenggam Shifa kemudian mengusap bekas air mata di pipi wanita itu "Aku ngerti kok, kak. santai aja, aku gak maksain kok buat cerita. aku cuman khawatir calon kakak Iparku ini kenapa-napa." Ia mencupit dan mengoyang-goyangkan pipi Shifa.
"Duuuu!" Shifa menapik tangan Lia kemudian mengusap pipinya, "Sakit Lia.." wajah Shifa seketika berubah kesal.
"Sakit? Makanya, rasain dulu sebelum lakukan ke orang lain," Lia memanyun sambil mengusap pahanya yang masih perih bekas tepukan Shifa tadi.
"Hehe.. iyah deh! maaf! maaf!" ucap Shifa, namun bibir gadis itu masih saja manyun, "uluh uluh masih ngambek aja, mana biar kak urutin."
lia melirik sinis, "Dikira aku keseleo!" Ketusnya mengundang tawa untuk Shifa. melihat itu Lia ikut tertawa bahagia melihat Shifa tertawa.
Krauk.. krauk...
Bunyi perut Lia membuat tawa keduanya terhenti.
"Lapar?" Tanya Shifa.
Lia mengangguk, Ia terkekeh kecil sambil memegang perutnya.
"Iyah sih! kakak juga belum makan siang."
"Hah! Kak Shifa belum makan siang?"
Shifa menggelang, "Belum" jawabnya
"yaudah, Kaka keluar dulu yah? cari makan."
"Ok!" seru Lia sambil memperlihatkan jempolnya.
Shifa menyernyit, "Kamu gak nahan kakak, nih!"
"Ngapain?" Lia mengangkat kedua alisnya, "yang ngajak siapa?" lanjutnya.
"Diih! gak ada segan-segan nya nih! anak." tampik Shifa kemudian berdiri dari duduknya.
"Biarin! dari pada nanti aku tinggal sendiri terus pulang taunya kakak udah jatuh cinta ama tu opa opa gimana?" seru Lia ketika Shifa sudah melangkah. namun seruannya tak di tanggapai sama sekali.
-Bersambung-
.
.
Jangan lupa bantu SUPPORT!
pliiis😢 Like dan komennya yah. kasi bintang lima ama vote juga yah man temen.
Terimah kasih.
__ADS_1
#insyaAllahberkah