Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
ada khawatir


__ADS_3

matahari sudah melewati puncak singgasananya beberapa jam lalu. namun keterikan sinarnya masih sangat menggangu siapapun yang sedang menikmati istirahatnya siang itu.


nampak seorang wanita sedang risih pada keringat dingin yang terus membasahi keningnya sementara bibir bawahnya tak henti mengembang, sekedar meniup dan merapikan jilbab persegi empat yang sedari tadi membuatnya berdiri lama didepan cermin.


ia kibaskan gorden tipis yang menghambat angin sejuk dari luar jendela, mungkin sepoi angin bisa membuat pikirannya sedikit tenang.


wanita itu kembali merapikan jilbabnya,


seraya tersenyum menatap pantulan dirinya yang begitu sempurna dengan kain yang menutup dikepala.


setelah memasang hijabnya, ia mundur beberapa langkah kebelakang kemudian berputar memainkan gamis rempelnya dan kembali menatap pantulan dirinya.


"seberharga ini kah dirimu? hingga Allah ingin menjaga dan memuliakanmu dengan pakaian istimewa ini, " batinnya sambil tersenyum.


namun senyum dibibir itu tiba-tiba saja terhenti dan perlahan sirna ketika melihat sosok pemuda yang sangat ia kenali terlihat di balik jendela yang baru saja melintas di depan rumahnya.


tak ingin mengingat kenangan pahit bersama pria itu. shifa buru buru mengambil tasnya dan keluar menuju tempat tujuannya siang ini.


meski motornya sudah keluar beberapa hari dari bengkel, tapi seperti biasa gadis yang selalu mengenakan hijab berwarna navy itu memilih berjalan kaki ke TPA. karena baginya, setiap langkah menuju kebaikan adalah peluang untuk nya mendapat pahala tambahan.


sudah beberapa hari ini ia bisa melaksanakan aktifitisnya dengan tenang, tak ada si pria pengintai atau pun si bucin alaska siaga.


pria yang selalu mengajaknya kembali pada masa lalu itu tak pernah lagi mendatanginya untuk sekedar mengungkap betapa besar cintanya.


meski beberapa waktu lalu mereka sempat bertemu di sebuah toko buku, namun pria itu hanya memberikan sebuah senyuman tanpa mendatangi wanita yang sangat diharapkannya itu, dan tentu sikap barunya membuat shifa terheran. akan tetapi lebih baik seperti ini, saling mengacuhkan agar tidak semakin besar rasa itu tumbuh.


bibir mungil itu tak henti bergerak, dan sesekali tersenyum membalas sapa orang-orang yang ia temui di jalan. kemudian kembali ia melafalkan dzikir, sebagai bentuk terima kasihnya atas nikmat yang di beri Allah padanya.


dari kejauhan sudah terlihat jelas, beberapa anak sedang duduk di teras Menunggu wanita anggun yang berjalan santai ke arah mereka.


"ayo, ayo. masuk," ajak shifa ketika jaraknya sudah sangat dekat dengan anak anak yang menunggunya itu.


mereka semua pun masuk ke ruangan yang berukuran 3×5 meter itu. ruangan tempat mereka akan melantunkan sabda-sabda penciptanya lewat bimbingan seorang wanita yang menyusul di belakangnya.


"Assalamu alaikum"ucap shifa, seraya menuju ke mejanya.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatu," sahut anak-anak yang sudah duduk rapi dengan kedua tangan terlipat di atas meja.


namun ada seorang gadis, yang membuat shifa belum juga memulai pembelajarannya, ia tersenyum menatap gadis yang duduk paling depan itu sedang fokus membaca buku yang sangat ia kenali.


intan, yang paling dekat posisinya dari gadis itu segera menyenggol lengannya,


"kak, Lia!" panggilnya membuat gadis itu kembali kedunia nyata, "kenapa? tanyanya.


"kak shifa udah datang tuh," jawab intan.


Lia mengarahkan pandangannya kedepan, dan benar saja disana sudah ada shifa yang duduk bersila sedang menatapnya.


Lia cengengesan "telalu fokus kak. bukunya bagus sih," kata Lia sambil mengangkat buku itu.


shifa hanya merespon dengan anggukan, kemudian menatap anak yang duduk di sebelak kiri Lia, "Kamu dari mana aja intan? benerapa hari ini kamu gak masuk loh."


"Maaf, kak. Intan mau masuk cuman gak ada yang nganter," jawab intan merasa bersalah, "kakak intan yang biasanya ngater, tapi kemarin dia sakit."


lanjutnya.


"Iya dong kak, intan selalu baca," jawabnya "setiap kakak nya intan tidur, intan selalu diem-diem bacain Al-Qur'an, biar dia cepat sembuh."lanjutnya membuat shifa tersenyum.


"kamu mau gak, kakakmu cepat sembuh dan gak sakit lagi?" tanya Lia, membuat intan mengangguk cepat, "aku tahu loh caranya," lanjutnya dengan wajah meyakinkan.


"iyah kak, aku mau banget kakakku gak sakit lagi, "kata intan menatap Lia dengan binar kegembiraan, "kasih tahu dong kak, caranya," Lanjutnya.


"Ok!," Lia menaruh bukunya kemudian menghadap intan, "bacain surah yasin, biar dia tidak merasakan lebih lama betapa kejamnya dunia ini."


intan menyernyit, "kenapa harus surah yasin?" tanyanya yang tidak mengerti maksud Lia.


"surah yasin kan lebih di peruntukan buat orang yang meninggal. upps," Lia menutup mulutnya dengan jari, kalimatnya kali ini terlalu jelas, takut anak itu terlalu serius menanggapi bercandaannya.


intan masih bergeming, ia sedang mereka ulang kalimat yang keluar dari mulut gadis yang sedang menyesali ucapannya itu. apa maksudnya meninggal? batinnya.


shifa yang tidak ingin intan salah menyimpulkan segera menatap anak itu, "maksudnya kak Lia tadi, kakaknya intan sangat bagus di bacakan surah yasin, sebab dalam surah yasin banyak memberi peringatan." kata shifa kemudian menatap Lia memberi isyarat agar lebih hati hati dalam berbicara.

__ADS_1


meski jawaban shifa, tidak terlalu memuaskan namun intan memilih mengangguk saja.


setelah merasa semua stabil, shifa pun memulai proses belajar mengajarnya.


percakapan diawal tadi lumayan menyita banyak waktu sehingga mereka sedikit menggunakan waktu istirahatnya.


Bacaan ayat ayat Al- Quran dari pengeras suara mesjid sebagai tanda pembelajaran hari itu harus ditutup.


Satu persatu mereka menyalami shifa yang berdiri tegak di pintu, sedang wanita itu hanya memberi senyuman juga usapan lembut di kepala mereka.


namun shifa segera menarik tangannya, ketika seorang anak yang sangat ia kenali hendak mencium punggung tangannya, "gak usah kamu cium, Lia,"


Shifa berusaha menarik tangannya agar gadis itu tidak melanjutkan niatnya.


"gak pp kak."Lia meraih tangan shifa, "toh, kak shifa juga akan jadi cakap ku, jadi, harus di hormatin dari sekarang,"lanjutnya sambil mencium punggung tangan shifa.


Shifa menarik tangannya, "jangan terlalu berharap pada sesuatu yang sudah jelas tidak akan terjadi, nanti kecewa."


"Kak shifa ngerauin Allah?" Tanya lia membuat alis tebal shifa tersentak.


"Ngerauin apa?" tanya shifa, "Aku selalu percaya pada-NYA setiap kalimatnya adalah nyata," Lanjutnya.


"Bukankah Allah maha pembolak balikkan hati, kak? Semua terjadi atas kehendaknya dan sekarang kak aska sudah mulai berubah. Dia benar- benar serius menjadikan dirinya sebagai cerminan diri kak shifa." Ucap Lia membuat shifa mematung. apa karena itu, kemarin Dia ke toko buku Reliji? batinnya.


seharusnya shifa senang mendengar perubahan aska dari mulut orang lain. Tapi entah kenapa hal itu membuanya khawatir. Ia takut jika pria itu benar-benar cerminan yang di takdirkan Allah untuknya.


-bersambung-


dah habis, maaf yah kali ini telat ngepos, pikiran kesana kemari jadi menatap layar cuman khayalan kosong yang gak bisa di utarankan dengan huruf.


percayalah, menulis cerita itu susah guys. jadi pliss hargailah authornya dengan sedikit gerakan jari kalian untuk novel ini.


tekan Like nya, komen apapun disana, jika ingin menghargai lebih tolong di share yah novel ini, biar authornya lebih samangat.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2