Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Nabila hijratul hazanah


__ADS_3

Janji dari mama sudah terlunas ketika ia menghapiri lapas, namun petuga malah menyampaikan jika pemuda itu sudah dipindahkan ke lapas Jakarta sebagai permintaan terakhirnya. percuma tangis dan penyataannya terurai, polisi hanya bisa menatap iba . didampingi mama, ia ke rumah nabil namun yang ia dapat justru kabar jika om haris dan intan sudah pindah ke Jakarta.


Sejak saat itu, syifa mulai sakit sakitan karena terlalu menghukum diri, tak pernah meninggalkan kamar kecuali untuk bersiap melaksanakan sholat. dua benda tak lepas dari pelukannya, yaitu ponsel yang menampilkan foto nabil yang ia unduh dari ig dan juga buku pemberian pria itu. sementara lisan terus berzikir dan berdo’a untuk kebebasan pria tersebut.


Treeet!


Sebuah panggilan masuk dari Aska segera ia angkat sebab sudah berapa kali ia menelpon pria itu namun tak ada jawaban.


“Ka_”


“Assalamu alaikum Syifa."


“Wa’alaikumussalam,” jawabnya lemah, rasa syukur dapat berkomunikasi dengan aska membuat ia menitikan air mata.


“Kamu menangis?”


“Aku butuh kamu. tolong Aku, Ka…”


Tanpa diminta, ia lekas menceritakan apa yang sudah terjadi. syifa ungguh menyesali dan ingin menyampaikan pernyataan sebenarnya pada kantor polisi. ia meminta aska untuk pulang tapi pria itu menolak sebab lia akan menjalani oprasi. sabar, hanya itu inti kalimat yang diberikan aska. tetapi entah itu benar atau hanya ingin membuat dirinya tenang, aska akan mencoba menghubungi teman temannya untuk memberi pernyataan bahwa bukan nabil pemilik barang itu.


**


Sudah hempir seminggu janji aska coba ia jadikan alasan untuk membuang rasa bersalah. tidak, ia tidak membuangnya tetapi menjeda. tanpa berpamitan pada mama, pagi ini syifa berniat menemui eky. hanya pria itu yang tahu kabar nabil. namun sesampainya disana, bengkel itu malah tutup.


“Ya allah…” matanya terpejam lelah. memang jarak tidak jauh, tapi sebelum kesini ia sudah mempersiapkan hati jika nanti eky kembali menyalahkan. entah suatu keburuntungan atau tidak, tapi ia juga menyayangkan tidak bertemu eky.


Bruum! bruum!


Langkahnya menghampiri motor terjeda ketika rombongan pemuda datang dan memarkir didepan bengkel. ada eky, namun pria itu bersikap tak acuh.


“Ky! sebentar,” panggilnya sebelum pemuda itu masuk bersama teman-temannya.


Eky menghela dan meminta teman-temannya untuk tidak ikut campur seraya menyuruh mereka membuka bengkel. setelah semua pergi, eky menatap syifa.


"Enggak disini,” katanya ketika syifa hendak berkata.


“Aku cuman sebentar, Ky. ingin tahu gimana kabarnya.”


“Orang tuamu yang akan tanya kabarmu,” eky menelengkan wajah ke arah bengkel,


“klo mereka denger bahwa kamu penyebab temannya meninggal, kamu pikir mereka akan biarin kamu pergi begitu saja?”


“Ky…." pangil syifa parau usai menagkan kalimat tabu, "maksud dari meninggal apa…?”


Eky memejam kemudian mengajak wanita itu melipir ke samping bangunan bengkel, belum ada kalimat yang terlontar. syifa tidak bodoh, tapi ia hanya ingin memastikan.


“Malam ini….. dia di ekskusi,” kata Eky hampir tanpa suara.


“Bohong!” tampik syifa dengan gelengan, seketika badannya lemas dan akhirnya duduk merapatkan diri pada rumput hijau. tangis memilukan hadir. saat ini ia terus membesarkan dugaan nabil pasti bebas, tapi disisi lain kenyataan seakan mengajaknya untuk bertempur.


Eky tersenyum masam diantara mata yang berkaca, “sudah menyesal, kan?” ia menatap intimidasi, “ayolah, syifa. ayo! kamu puas sekarang. percuma air matamu itu, gak bakal ngembaliin keadaan.”


“Dia gak bersalah…” Syifa mendongak menatap nanar, “aku butuh ketemu dia, aku perlu minta maaf...”


“Jangan ingat tentangnya dan jangan temuin keluarganya, "itu cara agar dia memaafkanmu."


“Aku perlu mendoakannya..”


“Bahkan dia tidak mengisinkanmu untuk itu.”


Syifa terperangah, ia segera berdiri dan menyangkal bahwa nabil tidak seperti itu. namun eky malah terus menghujani dengan kalimat penyalahan sehingga syifa memilih pergi dengan tumpukan rasa bersalah.


**


“Dulu hatiku terpanggil karena aku percaya kebesaranmu.... tapi tuhan, biarkan aku pura pura tak mendengar agar aku tak teringat penyesalanku.”


Silih jema’ah melewati diri menuju mesjid depan rumah tempatnya tinggal saat ini. ajakan dari pemudi untuk menghadiri kajian hanya dibalas senyum getir.


“Syifa!”


Bahkan hatinya sama sekali tidak tergerak ketika seorang dari dalam rumah memanggil namanya. sesaat kemudin sebuah elusan di bahu membuatnya menoleh.

__ADS_1


“Masuk yuk, Nak. udaranya dingin.”


Dia menggeleng, “biarkan Syifa disini, tante.” pandnganya kembali menatap mesjid, “aku ingin merasakan lingkungan kelahiranku.” sebuah senyum simpul hadir.


Jakarta, bagaimana bisa ia membiarkan hari pergi begitu saja tanpa memandangi udara kota yang memberinya kenangan bebas bersama mendiang ayah, nabil, dan juga mamah. mamah? iya, mamahnya sudah tiada hampir setahun lalu. satu persatu Allah mengambil penyemangatnya, itulah mengapa ia mengabaikan tuhan tapi ia tak mau lagi membenci.


Semenjak kepergian mamah, hidupnya sudah tak terawat. ia coba terlihat baik baik saja namun ia tidak bisa membohongi tante mirna. sebab adanya tanggung jawab perusahaan, tante mirna mengajaknya tinggak di Jakarta sekaligus melupakan kenangan di kota malang. dia selalu diminta untuk mengurusi perusahan besar almarhum ayahnya, namun syifa menolak dan menyerahkan itu pada tante mirna. akibatnya, perusaan yang diberi nama Ifacrops itu mengalami kolaps, tapi tante selalu berusaha untuk membangkitkan lagi.


Karena semakin hari keadaanya memperhatinkan, syifa akhirnya dibawa ke sorang spikiater bernama Nabila. syifa tak gila, hanya menzolimi diri sendiri. nabila tahu itu. ia mengajak syifa berbicara dan semuanya nyambung hanya saja wanita itu lebih banyak melamun dan tak ada sesuatu yang ia tanyakan.


“Ingin bercerita?” Nabila menawarkan diri namun mendapat gelengan. tak menyerah, nabila memperlihatkan buka yang tante mirna berikan, “bagaimana dengan buku ini? mau menceritakannya?” wanita itu membuka bukunya hingga berada di lembar terakhir, “Nabil alfarizi…”


Mendengar nama itu Syifa lekas mendongak merebut buku itu dan memeluknya, “itu buku ku.”


“Nabil alfarizi pasti sedih melihatmu seperti ini.”


“Dia sudah tiada!”


“Kalau dia masih ada?”


Syifa terdiam menatap, ia tahu wanita ini hanya ingin mengajaknya bicara.


“Aku denger dari tantemu, dia yang membuatmu seperti ini?” Nabila tidak mendapat balasan, “pasti dia orang jahat.” dan akhirnya cibiran itu langsung mendapat tatapan marah.


“Dia... tidak jahat.”


“Kalo begitu, pasti dia orang buruk yang mendapat hukuman mati.”


“Dia tidak jahat ataupun buruk! kamu tidak kenal dia!” geram Syifa semakin mengeratkan bukunya dalam dada.


Nabila terkejut, tapi ia berusaha bersikap tenang menunggu syifa meredakan kesal. “kalau begitu, ceritakan dia agar aku bisa kenal baik tentangnya.”


Dengan menahan kesal syifa mulai menceritakan tentang nabil. mulai dari masa kecil, cara pria itu mencarinya hingga hukuman yang menimpa pria itu. cara syifa yang menyampaikan dengan begitu dalam membuat nabila terpaku mengenai sosok nabil, ia bahkan menyeka bulir air mata yang menggenang disudut mata.


“Dia sosok yang luar biasa?”


Syifa mengagguk, “aku yang bodoh. jahat. aku yang egois, bukan dia. semua hanya kesalahpahaman.” sekali lagi ia terisak mengingat keegoisannya. “bahkan di saat aku ingin menjelaskan, mereka berpaling. tak ada yang mau percaya dan mendengarkanku. semuanya menyalahkan..”


Nabila lekas memeluk dan menepuk nepuk punggungnya. “mulai sekarang, kita berteman, yah. ada aku yang selalu mendengarkan dan membela apa yang terbaik bagimu.” Meski tidak mendapat anggukan, tapi nabila yakin, syifa mengiyakan dalam benak.


Syifa mulai bahagia, harinya mulai bersinar sejak bertemu nabila. ia kembali tersenyum, dan sudah mengekspresikan tawa jika ada yang lucu. bahkan hari ini ia ikut ke mol menemani tante mirna bertemu dengan pemilik perusahaan Maxgrub, perusahaan besar yang menawarkan kerja sama, salah satunya dengan Ifacrops.


Berbagai macam modifikasi motor produksi maxgrub berjejer rapi diatas lantai yang tokonya paling besar dilantai satu. tante mirna mengajak syifa masuk namun penjaga toko meminta hanya pemilik Ifagrub saja yang masuk. tante akhirnya berpamitan sebab tante mirna-lah yang dikenal sebagai pemilik Ifacrops.


Syifa memilih duduk dan mengedarkan pandangan pada kendaraan beroda dua tersebut. entah kenapa setelah mengagumi karya itu, ia teringat sosok nabil. tak sampai 15 menit akhirnya tante mirna keluar.


“Gimana tante, keterima?”


Mirna belum menjawab, ia hanya mematung menatap ponakannya. hingga panggilan dari syifa membuat ia tersadar dan tersenyum, “Alhamdulillah, sayang. pemilik maxgrub mau berkerja sama dengan perusahan kita.”


Meski tak turun tangan dan sudah mengabaikan perusahaan itu. syifa tetap mengekspersiasikan usaha tantenya. ia memberi ucapan selamat. mereka ingin merayakan satu keberhasilan itu dengan makan di lantai dua sekaligus ingin berbelanja.


Syifa lekas mengajak tante mirna naik eskalator. namun saat berdiri disana, ia mematung ketika melihat seorang pria yang baru keluar dari bawa tangga escalator dan beralih keluar mol. saat sampai di ujung tangga, syifa lekas memutar arah dan segera beralih ketangga turun. ia mengabaikan teriakan tante mirna dan terus mengejar pria itu sampai teras, namun ia kehilangan jejak.


“Kenapa sayang?”


Syifa menatap nanar tantenya yang menyusul, “tadi aku liat nabil, tante! dia ada. dia masih hidup!” kebahagiann yang sesaat terpancar perlahan sirna ketika tante mirna memberi tepukan dipunggung.


“Dia sudah tengang, sayang,” imbuh mirna, “disurga. bersama papah, mamah, dan juga bundanya.”


“Tapi__”


“Sudah minum obat?”


Pertanyaan tante mirna membuatnya menggeleng hambar bersamaan dengan helaan napas. mungkin karena belum meminum obat dari nabila, akhirnya ia berhalusianasi dan menaggap itu adalah nabil.


"Masih mau lanjut ke lantai dua?” tanya tante Mirna.


Syifa mengagguk kemudian menggandeng lengan wanita bercadar itu untuk kembali ke dalam.


**

__ADS_1


Sayup terdengar azan subuh, ia membuka mata bersamaan dengan degung jantung yang tak karuan. ia tak sedang mimpi buruk hanya saja ia terkejut mendapati nabil dalam mimipi. dalam mimpinya, pria itu merintih meminta pertolongan namun ketika dirinya mendekat ia justru ditinggalkan begitu saja, syifa mengejar namun ia terjatuh dan akhirnya tersadar.


Ketukan dari pintu menghalau lamunan saat ia coba tafsiran mimpi itu, “iya tante! aku udah bangun,”


Syifa lekas keluar kamar dan mengambil wudhu. setelah melaksanakan sholat dan mengaminkan doa untuk orang orang tersayang, ia menatap layar ponsel diatas nakas.


Tangannya terulur dan membuka Ig nabil. saat ingin menscrool, ia mematung mendapati ada postingan dari akun itu 2 minggu lalu. ia segera menghampiri tante mirna yang berada didapur dan memperlihatkan layarnya.


“Eky yang pegang, sayang.” kata tante mirna.


Alasan kegirangnnya memang mustahil, ia sudah duga itu. tapi tetap saja ada harapan yang masih ia tanamkan. “tante kenal eky?”


“Waktu di Malang, tante pernah ketemu nabil dan temannya itu. dan pas kita sudah tinggal di jakarta tante terkejut liat stori di akunnya. makanya tante dm, taunya itu eky.”


Syifa mengagguk-angguk mendengar penjelasan tante mirna, ia menatap masakan yang masih diaduk dengan berbagai pikiran yang harus ia lakukan hari ini, “nanti syifa mau ke mol yah, tante.”


“Mau beli sesuatu?”


Syifa menggaguk.


**


Beberapa menit setelah melaksanakan solat duhur, syifa bernagkat mengunakan taksi online. tante mirna memaksa untuk menemani namun syifa ingin belajar mandiri dan tak mau merepotkan tantenya yang masih di kantor. karena berbelanja, hanya sebagai alasan untuk mencari sosok yang mirip dengan nabil kemarin.


Dia tahu, itu bukan nabil. tapi apa salahnya mengenang seseorang dengan sosok yang mirip? saat berjalan dari arah yang sama, syifa tak sengaja bertemu nabila, mereka saling menyapa.


“Mau beli apa syifa?" nabila menghampiri dengan meneteng 3 kantong belanjaan.


“Cuman jalan jalan saja, kak. “ balasnya kemudian menatap bingung belanjaan wanita itu.


“Persiapan walimah.” kata nabila yang suadh menebak isi pikirannya.


Syifa tercengang, “mau nikah?” ia mendapat anggukan, “kapan, Kak?”


Wanita itu mengulas senyum, “nanti kamu juga tahu klo Allah ngisinin aku sama dia. pasti undangnya bakal sampai, kok.”


Syifa tak bisa memaksa. meski bersifat rahasia, tapi ia ikut bahagia mendengar pernikahan wanita yang sudah menjadi teman satu-satunya di Jakarta.


“Lusa depan masih ikut kajian kan?” tanya nabila.


“In sya allah.” balasnya.


Nabila mengagguk dan berpamitan pergi. syifa juga pergi melanjutkan niatnya. namun hampir sejam berada disana ia tak menemukan sosok itu. ia mulai merasa bodoh dengan harapannya. pria itu pasti pelanggan di mol yang tidak setiap hari datang.


**


“Janganlah merasa diri lebih baik dari seseorang yang baru berhirjah, sebab kita pernah seburuk itu. tahu bagaimana yang alim mencerca masa lalu, tahu bagaimana yang awam mencoba bagkit. jangan sampai kita termasuk orang sirik berkedok syar’I”


Ditengah pemateri membisik kata dalam mic, tercipta pula perbincangan dari dua wanita mudah yang duduk dalam barisan pengajian.


“Habis ini kita jalan, yah!”


“Kemana, Kak?” tanya syifa.


Nabila mengulum senyum, “aku mau kenalin kamu sama seseorang,"


Syifa terlihat berfikir, “tapi aku izin dulu ke tanteku.” ia mendapat anggukan dari nabila.


Setelah pengajian berakhir, nabila mengajaknya berangkat bersama. tetapi syifa menolak sebab ia belum mengabari tante mirna sekaligus ingin mengganti pakaian. dan akhirnya nabila menshare lokasi saja.


**


Di sebuah parkiran resto siap saji menjadi tempat nabila menitipkan kendaraannya. ia menatap layar ponsel terdahulu untuk mengabari seseorang kemudian memasuki tempat itu. lambaian tangan dari seorang pria memakai setelan jas tersenyum riang padanya, nabila lekas menghampiri.


“Sudah lama?” ia tersipu ketika pria itu menarik kursi, memintanya duduk disanan.


Pria berlesung itu mengagguk, ia sekejap mencari sesorang, “katanya barengan sama temanmu, dia mana?”


“Nanti nyusul.”


-Bersambung

__ADS_1


-hem.. pria itu siapa, yah?


Assalaamu alaikum, kakak. mohon bantuannya yah, kak. dan makasih yang sudah ngikutin ceritaku sampai sini. terus ngikutin sampe tamat, yah. terimah kasih.


__ADS_2