
Dengan menggunakan jasa ojek online, Shifa akhirnya tiba ditempat kerjanya.
Ia menyapa beberapa rekannya kemudian naik ke lantai dua melayani pembeli yang kebetulan hari itu sangat ramai.
Setelah beberapa jam melaksanakan tugasnya dengan gerakan terbatas. waktu makan siang pun tiba. ia dan Nina pergi ke warung makan yang kebetulan bersebelahan dengan toko.
"Kenapa sih, dua hari ini kamu gak masuk?" Tanya Nina sambil mengunyah, "padahal kemarin pembeli lagi banyak-banyaknya, sampai aku turun tangan loh, disitu," kelu wanita yang tiba-tiba gembul itu.
Shifa hanya tersenyum, ia menghabiskan sisa makanan dimulutnya, "Panjang ceritanya, Nin." jawabnya kemudian.
"Zhari kamarin birangnnya fanjang-fanjang mulu. kavan diceritaaiin?" protes Nina dengan keadaan mulut yang masih penuh. "kan-- uhuk! uhuk! Uhuk!"
Nina tersentak makanan, segera Shifa menyodorkan segelas air kemudian wanita itu segera meneguknya. Namun ia masih merasakan sesak dan beberapa makanan masuk kesaluran hidung.
"Makanya kalo lagi nyunyah, jangan ngomong dulu," celetuk Shifa seraya menepuk-nepuk belakang wanita yang masih syok dengan wajah merah.
Setelah dirasa aman, akhirnya mereka kembali melanjutkan makan siang Tanpa membahas apa pun. Kemudian kembali bekerja. hingga Matahari sudah melewati puncak peraduannya.
Melihat pelanggang tak seramai tadi dan hanya menyisakan segelintir orang yang sudah mendapat seles masing masing. Shifa memilih beristirahat sejenak sebelum pulang. ia memejam mata dan mulai masuk dalam dunia mimpi namun seseorang mengacaukannya.
"Jadi gimana nih, cerita yang katanya panjang kali lebar itu?" Nina duduk disampinya dengan gaya mengintrogasi. Shiga hanya mendengus karena terkejut.
"Ayooo.., ceritain!" desak Nina.
Shifa menegakkan poisinya, "Please deh, Nin, aku lagi males bahas dia."
"Dia?" Ulang nina, "Aska maksudnya?"
Shifa terdiam, ia bergegas pergi namun Nina menghalanginya.
"Iiih.. Tuggu dulu!" Nina menarik tangan kiri Shifa ketika wanita itu kembali menghindar.
"Aaarg!"
Spontan Nina melepaskan cengkeramannya. ia menatap Shifa heran kemudian beralih ke pergelangan tangan kiri Shifa, "Dia sakitin kamu lagi?" tanya Nina setelah melihat memar disana.
Shifa masih memejam mata menahan sakit. namun pertanyaan dari sahabatnya membuat ia kembali mendalami luka. dadanya mulai sesak, matanya pun sudah memupuk cairan bening. Bukan hanya luka yang nampak membuatnya terisak tapi karena mengingat luka itulah yang juga membuatnya teringat kelakuan aska padanya.
Melihat cairan bening yang terus berderai dipipi sahabatnya, Nina segera memeluk dan menyesali perbuatannya, "udah aku gak nanya lagi." ucapnya seraya mengusap punggung Shifa.
Nina dan Shifa memang bersahabat sejak dulu, bahkan sebelum pria itu datang di kehidupan Shifa. jadi, Ia tahu betul bagaimana hubungan sahabatnya yang selalu mendapat perlakuan kasar dari Aska. terlebih lagi ketika Shifa ingin mengakhiri hubungan mereka, Semakin lama semakin Aska tak ingin melepasnya begitu saja.
Setelah merasa tenang, Nina akhirnya mengatarkan Shifa pulang. sepanjang perjalanan Shifa menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin, Nina yang mendengarkan hanya memberikan kata untuk menguatkan wanita yang terus mencurhat tersebut. Ia tersenyum mengingat kalimat Shifa yang tak ingin membahas apapun, tapi kali ini ia menceritakan semuanya. hanya butuh kesabaran untuk menunggu Shifa bercerita.
"Fa?" Panggil Nina setelah menepikan motornya samping aspal depan rumah Shifa.
__ADS_1
"Hemm?" jawab Shifa setelah turun dari motor.
"Orang yang Lo ceritain tadi, ada dirumah Lo!"
Shifa menoleh ke rumahnya, benar saja disana ada Aska yang duduk di tangga teras.
"Gue temenin, yah?" tawar Nina.
"Gak usah, aku bisa urus itu," tolak Shifa yang sebenarnya masih trauma, "Makasih sudah anteri aku sampai sini."
Nina mengagguk, "Hati-hati yah, Fa. Kalo ada apa apa telpon gue." Nina masih tak tega meninggalkan sahabatnya.
"Yaudah buruan."
"Assalamubalaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah melihat kepergian Nina, Shifa berjalan kerumahnya. ia melihat Aska yang sudah berdiri dan siap menyambutnya dengan kata maaf, persis yang ia duga.
"Faa?..." panggil Aska seraya mengikuti langkah Shifa yang meniti tangga.
"Maafin gue.."
Setelah menguatkan diri ia membalikkan badan, menatap pria yang kini tertunduk karena rasa bersalahnya. ia bisa melihat ada penyesalan mendalam disana.
Air matanya tumpah seketika megingat kata maaf dan penyesalan yang entah sudah berapa kali di ucapkan pria tersebut. berulang kali pula ia memaafkan namun tak sedikitpun mengubah perlakuan Aska. Shifa menyeka air matanya dan menatap kembali pria itu.
"Katakan semua apa yang mau kamu katakan," Shifa menghampiri kursi diteras rumah. Aska pun mengikuti dan duduk di samping kiri Shifa.
"Ini terakhir kalinya, Fa."
Aska menatap wanita yang masih sibuk mengusap mata yang terus mengeluarkan cairan bening. Ingin sekali tangannya mengusap disana dan menenangkan wanita tersebut, namun ia menghargai keputusan Shifa yang ingin jadi muslimah yang taat.
"Maafkan aku, Fa. maafkan perlakuanku kemarin," sesal Aska kemudian menunduk.
Shifa bergeming, ia masih sibuk mengusap cairan bening di pipinya.
"Aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti itu... Aku hanya ingin menahanmu disini, Fa. disini," Aska menepuk dadanya beberapa kali.
"Cukup, Ka..." sela Shifa dengan suara tercekat. Ia menatap aska begitupun pun dengan pria itu, "Apa kau benar benar mencintaiku?"
Pertanyaan Shifa membuat Aska mengangguk cepat, "Aku sangat mencintaimu, sangat."
"Kalau begitu lupakan aku."
__ADS_1
"Faa..."
"Mencintai tidak harus memiliki, Ska!" Sentak Shifa, "Lupakan aku! berhenti menyakitiku karena keegoisanmu!"
"Apa cintaku ini melukaimu?" Tanya Aska, "sikapku agar menahanmu tetap disini, karena Inginku hanya hidup bersamamu.."
"Menahan dengan menyakitiku?" tanya Shifa balik. ia mengusap pipinya kemudian menatap Aska lembut, "Tolong, berhenti mencintaiku."
Permohonan serta tatapan dari Shifa, seketika membuat air mata yang ditahan Aska tumpah bersama harapannya. sebesar itu kah ia memberi luka pada wanita tersebut? Hingga keadaan marahan pun masih menatapnya dengan sangat lembut.
Aska terkejut ketika tangan lembut Shifa menyentuh pipi kemudian menyeka air matanya. ada rasa bahagia ketika tangan itu kembali hadir disana setelah lama dijauhkan.
"Cintaku masih ada untukmu."
Deg!
Kalimat Shifa membuat pria itu kembali terbelalak, bahagia rasanya mendengar pernyataan itu.
"Benar, kan. kamu masih mencintaiku?" Aska memastikan.
Wanita itu memejam mata sedang tangan kanannya masih menempel di pipi aska, ia menyebik mengingat masa masa dimana mereka saling mencintai dan berjanji tidak akan mengakhiri hubungan itu.
Shifa memberi anggukan atas pertanyaan Aska. ia menjauhkan tangannya dan menatap Pria yang sudah menunjukkan binar kebahagiaan itu.
"Dulu Aku mencintaimu melebihi apapun, Sangaat dalam. sehingga tuhanku sendiri pun tidak ku hiraukan. Namun hubungan itu hanya membatasi jarak kepada sabda Rabb ku.
Zina, mengharapkanmu, bukankah itu larangan dari-NYA?
Ku mohon, Lepaskan aku dari harap mu, Maafkan aku yang membuatmu mendalami rasa hingga mengorbankan kearcayaanmu."
Air mata Shifa tumpah, ia membiarkannya sebangai bukti penyesalan. Aska ingin mengusap namun wanita itu menjauhkan wajahnya.
"Biarkan kisah ini berakhir disini. Jangan mengungkit dan jangan berharap lagi."
"Faaa..," panggil Aska "jika yang kuberikan itu meyakitkan, bolehkah aku memperbaikinya? Kesempatan, Sekali lagi," pinta Aska, namun hanya mendapat gelengan.
Aska mengusap asal wajahnya, juga sebagai bukti betapa frustasinya ia dengan sikap Shifa yang tak lagi menghargai perasaan sekalipun ia mengiba.
"Kau benar benar membenciku?"
-Bersambung-
Bantu support yah, kak. @airaannur_
beri LIKE, KOMENTAR, DAN VOTENYA YA. bisa share juga malah. Terimahkasih.
__ADS_1