Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
sebuah buku


__ADS_3

"Ayo kita duduk," Sarah mempersilahkan,


"Sudah lama kita tidak berbincang seperti ini," ucap Sarah membuka percakapan. ia mengingat terakhir kali mereka bertemu ketika perayaan ulang tahun shifa yang ke 6.


"Sebentar lagi usianya 7 tahun. gak kerasa yah mba," sarah tersenyum memandangi gadis kecil yang sedang tertawa lepas disana.


"Hahahaha.. ulang tahunku masih lama," shifa tertawa mengetahui barang yang sedari tadi disembunyikan Nabil ternyata kado ulang tahunnya.


Shifa masih tertawa, sementara nabil hanya tersenyum diam dalam pikirannya.


"kata mama, ulang tahunku masih 2 minggu lagi. kamu memberikannya terlalu cepat! Dan itu tidak seru," ucapnya kini terlihat kecewa.


Nabil memanyun, kemudian menunduk menatap sebuah barang persengi panjang ditangannya dengan bungkusan kertas berkarakter doraemon disana, "Aku tidak yakin akan memberikannya di hari itu," ucapnya lirih.


"Apa!?" Tanya Shifa yang sebenarnya mendengar tapi ia hanya ingin memastikan kembali.


Nabil mengangkat kepalanya,"aku mendengar pembicaraan papa dan mamah, kami akan pindah dari sini."


"Kemana?"


Nabil hanya mengangkat kedua bahunya, "entah," ucapnya.


"Senang yah, mba. lihat mereka sedekat ini," ucap sarah yang masih memandangi anak-anak itu.


"Apa papanya Nabil belum pulang Sa'?" tanya Ana:setelah sedari tadi hanya terdiam.


Sarah menoleh ke pintu rumahnya,


"Katanya sih masih diperjalanan pulang mba. ada apa? Ada yang mau mba sampaikan?"


Ana terdiam, kemudian menunduk


"Aku meragukan sesuatu sa'," ucap nya lirih.


Sarah meraih tangan ana dan menggenggam nya. dari raut wajahnya  ia tahu sahabatnya ini ingin berbicara serius.


"Mba meragukan apa?"


Ana berganti menatap sarah,


"Aku curiga. ada orang yang sengaja mencelakai mas Firaz," ucapnya, kini matanya sudah berair, "Kemarin aku membawa mobilnya kebengkel. dan ternyata benar, ada kejanggalan disana. kabel remnya terotong sa' ada yang sengaja membunuhnya," ucapnya diantar isak tangisnya.


Sara mendekatkan diri, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan semua tangis dalam pelukannya,,"Yang sabar mba.ini sudah takdir beliau," ucapnya sambil mengusap punggung ana.


Ana melepaskan pelukan itu dan menyeka air matanya, "Aku mencurigai seseorang," ia menatap tajam wanita pemilik rumah itu,


"Siapa mba?" tanya sarah yg meski tidak  nyaman dengan tatapan itu.


Ana dengan berat mengalihkan pandangannya pada sebuah foto berukuran 8 × 12 cm yang terpajang di dinding rumah itu.


seorang pria muda, berkemeja putih dan berjas hitam sedang merangkul suaminya, senyum bahagia terlihat jelas disana, siapapun melihatnya pasti mengira mereka adalah saudara, saking dekatnya.


"Mas haris?" sarah terbelalak usai mengikuti pandangan itu, bagaimana tidak pria muda disana adalah suaminya.


Ana bergeming tak berani mengangguk, ia hanya mengiakan dalam diamnya.


Sarah berdiri dari duduknya, beberapa kali ia menggelengkan kepala tidak menyangka sahabatnya ini menuduh suaminya, "Mas haris tidak mungkin melakukan itu mba" pekik sarah.

__ADS_1


Ana ikut berdiri, "Dia yang melakukannya sa! " bentak ana, membuat kedua anak kecil yang sedang asik bermain itu mendongakkan kepala.


"Semua bukti tertuju padanya sa'.


Satu jam sebelum kejadian itu, aku menelpon mas firaz dan dia mengatakan akan bertemu dengan haris."


Sara terus menggeleng tidak percaya, ia tidak bisa memilih diantara kebenaran. ana adalah sahabatnya, Suaminya dan suami ana mereka adalah sahabat. Tidak percaya jika suaminya serakus itu hingga menghilangkan nyawa demi sebuah perusahaan yang dibangun bersama.


"Assalamu alaikum."


Semua mata tertuju di sumber suara, menengok siapa yang mengalihkan suasana disaat mencekam seperti ini.


"Papa.." sahut nabil menghampiri pria yang berdiri disana.


Pria tinggi. memakai setelan jas hitam, sepatu mengkilap dan sebuah tas menggantung di tangannya. jangan tanya darimana, Tentu saja dari kantornya ia adalah pria pekerja keras dan gigih hingga kesibukan membuatnya sering menginap dikantor.


Pria itu menjongkok ketika nabil memeluk pahanya. ia menatap satu persatu wajah dihadapannya, keningnya menyernyit mendapati istrinya menangis dan tak mau menatap nya.


Seorang gadis kecil kini menempati pandangannya, gadis kecil itu diam dalam tatapan nya namun wajahnya terlihat sedih, pria itu mengikuti dan mendapati ana, ibu si gadis kecil itu yang juga sedang menangis disana.


mengerti, ini adalah peri hal  serius.


Ia kembali menatap anak laki-laki yang juga sedang menatapnya. "Kamu ajak shifa main diluar dulu yah nak."pintanya.


Nabil hanya mengangguk kemudian menghampiri shifa dan mengajaknya keluar dari rumah.


"Kenapa mamamu memarahi mamaku?" tanya nabil di sela-sela langkahnya.


Gadis kecil itu menaikkan ke dua bahunya, kemudian menatap nabil, "Aku tidak pernah melihat mama semarah itu," ucapnya.


Kedua anak kecil itu kini duduk di sebuah kursi besi berwarna putih dekat air mancur.


"--Bagaimana bisa kamu menyimpulkan hal seperti itu," ucap haris setelah mendengar tuduhan yang di berikan ana padanya.


Sementara sarah mencoba menenangkan suaminya agar tidak terlalu emosi menanggapi masalah ini, walaupun dia sendiri belum bisa membendung air matanya.


"Aku sudah menyelidiki nya, dan semua bukti tertuju kepadamu! "Bentak ana di antara isak tangisnya, matanya tajam menatap pria itu penuh kebencian.


Kini ia tersenyum masam,"Sekarang aku tahu alasan mu ingin mengambil alih posisi mas Rival," Ucapnya lirih menyebut nama seseorang yang menjadi tangan kanan suaminya dulu.


"Kamu dendam dengannya kan!? karna mas Firaz lebih memilih orang lain dari pada kamu, sahabatnya!" bentak nya lagi ia meluapkan semua emosinya yang sudah ia tahan beberapa hari yang lalu.


Haris mebyernyitkan keningnya sambil menggeleng mendengar pernyataan itu, "Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu, justru aku mencurigai Dia sebagai pelakunya."


"Mas, sudah mas," ucap sarah menenangkan suaminya.


Ana tersenyum masam menangkap kebenaran disana, "Dan sekarang anda ingin menuduh orang lain" sindirnya.


Percakapan dari dalam rumah kini terdengar merendah. kedua anak kecil itu sama sekali tidak ingin mencampuri urusan kedua orang tuanya. Mereka tahu didalam sedang bertengkar hebat.


"Mau tahu isinya?" Tanya Nabil memecah keheningan, ia mengangkat sebuah kado yang sedari tadi ia pengang.


Gadis kecil disampingnya mendongakkan kepala usai tunduk terdiam memikirkan ibunya. Sambil mengangguk dan tersenyum, Ia menarik anak rambutnya dan menyelipkannya di belakang telinga.


Nabil tersenyum memperlihatkan lesung di ke dua pipinya, ia mulai membuka pelan lakban putih yang menempel di kertas itu.


"Kenapa tidak di sobek saja?" Shifa ingin mengambil alih pekerjaan itu dari tangan nabil, namun nabil menjauhkannya.

__ADS_1


"Heh! Aku membungkusnya pake perasaan," Gerutu nabil.


Shifa memanyun, dan membiarkan pria itu menyelesaikan pekerjaannya.


Lama, saaangat lama. membuat gadis kecil itu harus sabar menunggu. Nabil, ia begitu hati hati membuka tiap lakban disana , ia tidak membiarkan goresan lecet dan sobekan sedikit pun merusak kerja tangannya itu.


"Buku?" Ucap shifa usai melihat isinya.


Pria kecil itu mengangguk-angguk riang, "untukmu."


Shifa penasaran, ia menunduk menatap kembali buku itu dan mulai meng eja judulnya


"Ce a ca er a ra car--..."


"Cara menjadi wanita sholeha," pangkas nabil.


Shifa mendongakkan kepalanya. ia menyernyit bingung, "Aku masih kanak-kanak untuk mempelajari ini," ucapnya.


Nabil terkekeh kecil, "Belajar 'kan tidak memandang umur," tangkasnya sambil memberikan buku itu pada shifa.


"Bukan itu, aku belum pandai membaca," batin shifa, dan Mau tidak mau ia harus menerimanya.


"Ah aku lupa," nabil menepuk keningnya, "kau tunggu disini!" sahutnya kemudian berlari meninggalkan shifa.


Shifa hanya menatap kepergian pria itu,


Ia mulai penasaran dengan isi buku ditangannya. perlahan jemari nya mulai membuka tiap lembaran disana berharap ia menemukan sesuatu yang menarik.


Namun tidak, tidak ada warna atau gambar yang menarik disana, Hanya tulisan komputer dan beberapa tulisan arab yang menggores kertas putih itu, "Ini buku orang besar," Gumamnya kecewa, namun ia masih penasaran dengan isi tulisannya, lidahnya hanya fokus pada ejaannya bukan pada pesan pesan dalam buku itu.


sesaat kemudian hentakan sandal terdengar ditelinganya, Memaksanya menengok ke arah suara itu. Pria kecil yang ditunggunya kini berlari menghampiri. sebuah pulpen, buku juga kamera otomatis mendekap di tangannya.


"Kenapa lewat pintu belakang? " tanya shifa ketika pria itu sudah didepannya kemudian duduk disampingnya.


"Didalam masih ada keributan," jawab nabil tergesa-gesa, ia sambil menunjuk pintu rumahnya, "Aku tidak mau ada suara jangkrik ketika aku bergabung diruangan itu,"ucap nya, saat saat seperti ini pun ia masih tertawa.


"Buku Apa itu?" tanya shifa ia melihat buku yg dibawa nabil, "Ce a ca r a ra car--.."


"Cara menjadi lelaki sholeh," pangkas nabil, kemudian menunjuk buku di pangkuan shifa.


"Kamu belajar itu dan aku belajar dengan ini, kita sama-sama memantaskan diri." Sanggahnya membuat shifa tercengang.


"Mau mengabadikan sesuatu?" Tanya nabil, ah lebih tepatnya meminta.


"Apa?"


Nabil mengangkat kameranya, kemudian mengambil gambar dirinya dan sebuah kertas keluar dari kamera otomatis itu, yah itu fotonya yang baru saja ia ambil.


ia kemudian mengarahkan bidikannya kewajah shifa.


-Bersambung-


.


-sebelum jangan lupa LIKE nya mantemen biar Authornya smangat nulis NOVEL nya.


-jangan lupa jga beri tanggapan kalian atas cerita ini di kolom KOMENTAR.

__ADS_1


@airaannur_


Terimakasih.


__ADS_2