Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Harus kemana?


__ADS_3

Langkahnya terpaku menapaki lantai satu saat mengetahui Pria berjas putih itu adalah ayahnya yang seharusnya pulang 2 hari lagi.


Tiga orang yang berada diruang tamu perlahan menatapnya meminta penjelasan. namun tatapan tajam yang di berikan Ibu syifa membuat ia gugup dan enggan melangka cepat. Karena tidak sabar menunggu, wanita itu segera menghampiri dan mencengkram lengannya.


"Katakan bahwa Dia bukan papamu!”


Nabil hanya pasrah ketika ibu syifa menggoyangkan tubuhnya berharap jawaban yang ia beri menepis praduga wanita itu. ia menyebik dan menatap syifa. terlihat wanita itu menatap dengan mata sembab.


“Katakan!”


"IYA!” sentaknya, “Nabil Al Fariz bin Hariz Akbar. itu adalah Aku!"


Meski tak terlihat linangan air mata tapi siapapun bisa melihat betapa beratnya pemuda itu mengakui siapa ayahnya. cengkeraman Ibu syifa perlahan terlepas.


syok, sangat syok. sehingga wanita itu tak mampu berkata selain tangis yang meraung.


“Syifa...”


Merasa namanya di sebut, Syifa yang tadinya tertunduk kini mendongak menatap mamahnya, namun pandangannya berpapasan dengan nabil. pria itu menatap sendu seakan memohon untuk dibela.


“Kita pulang sekarang," Lanjut Ana kemudian berbalik menghampiri putrinya. namun saat hendak melangka ke pintu, langkah mereka dihadang oleh Nabil.


“Jangan pergi seperti ini, Aku mohon,” nabil berlutut didepan wanita yang enggan menatapnya itu, “jangan pisahkan kami. kami saling mencintai!”


Namun tak sekalipun Ana menatapnya biarpun ia sudah berutut diatas kaki wanita itu, tetap saja terabaikan. ibu syifa bahkan menendang dirinya agar terlepas.


Melihat putranya di perlalukan hina, Haris langsung menarik paksa tangan nabil namun pria itu masih bertahan.


"Kami saling mencintai, kalian yang punya masalah! jangan libatkan kami!”


“NABlL!!” teriak Haris menggema hingga ke lantai dua. Sarah yang terkejut dengan suara suaminya langsung turun ke bawah.


"Papa tidak berniat melibatkan kamu dalam masalah seperti ini, nak. sekalipun kamu bersama syifa yang ternyata anak dari orang yang menfitnah papa! papa tetap merestui.” haris menarik putranya dan merengkuh pundak pemuda itu.


"Tapi jangan sampai turunkan harga dirimu hanya karena belas kasih wanita ini!” lanjut haris menunjuk ke arah Ibu Syifa.


Ana membuang muka dan kembali mengeratkan genggamannya pada syifa, "Kita pergi sekarang, Ibu juga tidak ridho jika kamu tinggal bersama orang tamak seperti mereka!” langkanya kembali didekap oleh nabil. "lepaskan!"


Nabil menggeleng, "tidak! aku tidak akan melepaskannya sampai ibu memberi restu!"


“Biiil?”


Sentakan Syifa membuatnya mendongak, terlihat wanita itu menghampiri dan duduk bersimpuh dihadapannya.

__ADS_1


“Fa, rayu Ibumu, Fa. yakinkan dia bahwa kamu juga tidak mau kisah kita berakhir seperti ini.."


Syifa hanya menatap sendu, namun perlahan tangannya terulur menarik lengan yang masih melingkar di kaki ibunya, "Semuanya sudah berakhir, Bil. iklas dan terimalah keputusan ini."


Tepat setelah tangannya terlepas, kalimat itu kembali terdengar, dan ia benci. tidak menyangka semudah itu syifa mengatakan kata iklas.


Syifa berdiri dan ganti, ia yang menarik tangan ibunya untuk meninggalkan rumah tersebut. Setelah sadar syifa dan ibunya sudah menghilang di baling pintu, nabil segera bangkit dan mencoba mengejar namun langkahnya tumbang ketika haris menariknya dari belakang.


“Pah!” protesnya usai berdiri.


“Mau apa kamu!? mau mengejar mereka!?” sentak haris berusaha menahan tangan putranya. Sarah yang dari tadi tak berani buka suara langsung menghampiri dan mengusap pungung pemuda itu.


“Papa sama mama sudah merestui kami, kan? jadi biarkan aku menyelesaikan masalah ini!!"


Plak!!


Rontahannya seketika mematung ketika mendapat tamparan keras dari sang ayah.


“Kamu ingin menyelesaikan masalah dengan apa!? dengan menurunkan harga dirimu!? huh!?”


Dengan masih memegang pipi, Nabil menoleh pada bunda meminta pembelaan, namun bunda justru mengagguk, pertanda ia tak boleh melawan kalimat ayahnya.


"Biarkan Aku mengejar mereka, pa....”


Suara motor dari luar membuat ia tak melanjutkan kalimat. justru merasakan cengkaraman ayahnya terlepas.


Nabil segera berlari keluar berharap ia masih bisa menghadang roda motor wanita itu. namun telat, ia terlambat.


“SHIFA!!!”.


Teriaknya sekuat tenaga ketika motor itu sudah melewati pagar rumah. mungkin ada waktu mengejar sampai rumah wanita itu, tapi setelah kejadian ini. apa mungkin ia akan disambut hangat kembali oleh ibunya Syifa? Setelah menuntaskan ratapannya, ia kembali masuk ke rumah dengan wajah marah.


“Semua ini salah Papa!!” teriaknya menatap tajam pria yang duduk sembari menekan pelepis itu.


“Nabil! turunkan suaramu!” protes Sarah yang juga duduk bersama haris, menenangkan suaminya.


“Kalau saja papa tidak datang sekarang, semua ini tidak akan terjadi!”


Lelah dengan penyalah putranya, haris berdiri, “beraninya kamu menyalahkan papa! papa lebih berjasa dari wanita itu!”


Iya, nabil sedang frustasi sampai tega membentak sosok yang ia banggakan dalam hidupnya. pria itu menagis, sekali lagi perjuangnya menjadi sia. menurunkan semua foto agar tiada cela yang membuat ibu syifa curiga dengan keluarganya. langkahnya sempoyongan duduk di sofa. ia menunduk dengan menarik tengkuk leher.


Semua bisa melihat betapa sesalnya pria itu hari ini. bahkan penyesalan yang diikuti tangis lirih pria itu membuat marah sang ayah mereda.

__ADS_1


“Klo saja papa tahu yang menelpon adalah syifa, anaknya om firaz. papa pasti menolak ajakannya untuk bertemu dengan ibunya hari ini."


Hening!


Nabil masih menunduk mengulang tiap kata yang keluar dari mulut papanya. perlahan ia mendogak "jadi syifa yang meminta Papa datang ke sini?” tanyanya mendapat anggukan dari sang ayah.


**


Sementara itu ditengah perjalanan, tak ada lagi suara tangis dari keduanya. mereka saling mendiami dan sibuk dengan pikiran masing masing. syifa sadar, ia terlalu egois dan kejam terhadap nabil dan itu membuat dadanya sesak tak lepas dari rasa bersalah.


“Ku harap kau sudah membenciku, Bil.”


Setelah syifa menepikan motor, ibunya segera turun dan masuk ke rumah. ia hanya menyebik melihat sikap ibunya yang sejak tadi mendiami.


Malam yang semakin larut. setelah membersihkan diri, ia merebahkan diri ke tempat tidur. tak berniat memejamkan mata. ia sedang berpikir, apakah langkah yang di ambil ini sudah benar?


Pandangannya mulai kabur saat melihat buku pemberian Pria itu di atas nakas. diambilnya buku tersebut dan dipeluk.


Dalam pejaman mata yang mulai basah, teringat ibahan pria itu pada mamahnya yang memohon untuk sebuah restu. namun dirinyalah yang menghancurkan harapan pria tersebut.


Saat ingin mendalami rasa, tangis lirih dari kamar sebelah membuatnya terperanjat dan segera menuju kesana. dibukanya kamar tersebut, “Mamah!” ia segera menghentikan mamanya yang tadi memasukkan pakaian dalam koper, “mama mau ninggali Aku?”


Ana menggeleng di sela tangis, ia usap air mata putri semata wayangnya, “kita pergi sama-sama, sayang. jauh dari kenangan yang menyesakkan ini.”


Saat itu juga syifa langsung duduk merapatkan diri ke lantai. memang ia ingin menjauh dari nabil, tapi jauh dari lingkungan ini bukanlah keinginannya. ada sebuah misi yang belum terselesaikan disini.


“Jangan bilang, kamu lebih memilih anak pembunuh itu dari pada Mama?”


Syifa menoleh ke ibunya ketika wanita itu menggoyang kasar kedua pundaknya, sebab belum menanggapi.


"Mama harap, kamu tidak lupa bagaimana perjuangan mama membesarkanmu sampai sekarang ini, Nak! mama banting tulang menghidupi keluarga kecil ini, tanpa ayahmu! jangan pernah memilih tinggal bersama orang yang membuat kita sengsara!"


Sentakan ibunya membuat syifa memejamkan mata, air matanya kembali tumpah. ia menarik kedua tangan mamahnya yang masih bersendekap di bahunya.


"Maa.., in sya allah syifa iklas melepaskannya,” ia menyebik, “tapi keadaan kita sekarang ini berbeda, Ma. kita mau lari kemana meninggalkan kenangan itu? kita tidak sekaya dulu saat memulai hidup di kampung ini.”


Penjelasan syifa membuat wanita itu semakin meraung kegundahan. semua barang yang ia bawa dari Jakarta memang sudah habis terjual. bahkan saat ini hidupnya masih terlilit kredit dan pinjaman sana sini. tidak mungkin meninggalkan semua tanggung jawab begitu saja.


“Aku tidak memaksa mama memaafkan mereka. tapi sampai kapan kita harus menghindar dari masalah ini. bukan kita yang bersalah, kenapa kita yang harus bersusah payah bersembunyi?”


Tangis Ana semakin kencang, membuat syifa segera memeluk mamanya, “mama masih punya Aku, aku gak bakal ninggalin mama. jadi jangan kembali merasa hancur bertemu mereka.”


Syifa berusaha menenangkan mamanya disaat dia juga membutuhkan sebuah penyemangat.

__ADS_1


-Bersambung.


Jangan lupa tinggalin Like, Komen, atau Support cerita ini dengan cara versi kalian. terimah kasih😊


__ADS_2