Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Rencana pertemuan


__ADS_3

“Nungguin orang yang bakal ngalirin aku pahala.”


"Eh! gimana? gimana?" Lia ingin memperjelas namun syifa yang menjawabnya.


"Kamu klo dapat ilmu dari dia terus kamu bagiin ilmu itu ke orang orang, maka kalian sama sama mendapat pahala jariyah tanpa harus dibagi sedikit pun."


Lia mengangguk angguk, "Ooooo..."


“Mending kamu belajar aja sama syifa si calon ustadzah, gak usah belajar sama berandalan sepertiku,” ujar nabil.


“Berandalan dari mana?” tanya Lia tak membutuhkan jawaban, “keliatannya aja berandalan, tapi sebenarnya kak nabil ini calon ustad ustad gaul, loh."


Sebuah senyum merekah dari bibir seorang wanita berhijab segitiga saat mendengar lanjutan kalimat gadis remaja itu. Seakan membenarkan hal tersebut.


Dia pernah mengagap Nabil adalah pria yang seburuk buruk melewati Aska. ternyata ia yang tidak mengenal sedekat apa pria itu dengan Rab-nya. sadar, tak searusnya mengukur iman seseorang dari jalur penampilannya.


Lama kelamaan cerita-cerita mereka saling bertukaran hingga tanpa sadar mereka terikat ukuwah islamiyah.


namun ditengah terjalinnya persahabatan itu, ada aska yang semakin bertekat untuk pergi disuatu tempat.


Kecurigaannya terhadap nabil mengenai cara pria itu mendekati syifa membuatnya tergerak. maka dari itu aska ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh nabil.


Tak bisa mengalahkan dengan iman. aska sadar bahwa nabil pria yang taat, tapi ada cara yang membuatnya tak dikalahkan oleh nabil, yaitu berhenti dari obat terlarang.


Setelah medapati Lia pulang kerumah, ia menyampaikan niatnya untuk pergi keluar kota dalam 3 bulan, dengan alasan pemotretan. Meski berat harus jauh dari sang kakak lia mencoba mengerti dengan posisinya.


Tampa berpamitan pada syifa, Aska pun pergi. sementara lia sudah memboyong beberapa pakainnya untuk sementara tinggal di rumah syifa. beruntung keluarga kecil itu ringan tangan menerimanya.


Selama lia berada disana, ia selalu berbarengan dengan syifa ke TPA. meski sudah mendapat banyak waktu belajar dengan wanita tersebut tapi Lia tak ingin membuang kesempatan belajar dengan nabil.


Sementara syifa membiarkan asal lia bisa menjaga batasan bergaul dengan yang bukan mahram. pun jika gadis itu tak menerapkan, Syifa percaya bahwa nabil yang akan memeberi jarak. sebab selama dekat dengan nabil, pria itu tak lagi modus-modus seperti awal perkenalan mereka.


Selama menjadi dekat, Nabil tak pernah lagi mengungkap kata yang menjerumus, membuat syifa merasa nyaman.


Hingga di suatu hari pria itu mengajaknya bertemu, dengan alasan intan yang ingin bermain dengannya.


Disebuah taman dekat mesjid menjadi tempat pertemuan mereka. syifa menghampiri seorang pria dan anak yang tengan duduk disalah satu gazebo dengan memakan es krim.


Intan mengajak syifa berbincang, dan celotehnya itu membuat syifa teringat masa kanak kanaknya.


"Kak? aku kesana dulu," pamit intan setelah melihat temannya ada disana. kedua orang dewasa itu mengagguk dan membiarkannya pergi.


“Gak capek, fa?” tanya Nabil.

__ADS_1


“Capek kenapa?” syifa balik bertanya.


“Nemenin adikku...”


“justru aku seneng bisa bermain dengan intan. intan anaknya ceria, celotenya suka bikin orang ketawa.”


“Persis yah, kayak kamu waktu kecil.”


binar kegembiraan di wajah syifa berubah. ia melirik pemilik suara itu, “sok tau.”


Nabil terkekeh, “mau gak adikku jadi adikmu beneran?”


Syifa memicing curiga “aku tahu akan kemana arah pembicaranmu itu.” ia mengambil tasnya yang ia taruh di gazebo, “kamu bahas yang kayak dulu aku pergi, yah?”


Ancaman syifa justru mengundan tawa pria tersebut.


“Perasaanku udah kubuang kali. jadi kamu gak perlu curigaan gitu.” kata nabil disela tawanya, “aku cuman ingin berteman dengan calon calon penghuni syurga. biar nanti.. klo allah gak masukin aku disana, ada teman kayak kamu yang keluarin aku dari neraka.”


“Tapi disamping itu kamu juga harus berbuat baik, untuk jaga jaga... karena bisa jadi orang yang kamu harapin itu justru yang paling buruk dari pada kamu.”


Nabil membuang muka usai membalas kalimat itu dengan senyuman,


keduanya kembali terdiam. nabil paham betul bagaimana kehidupan yang syifa lalui di masa remajanya dan karena itu pula ia juga harus mengikuti kegelapannya. jauh sejenak dari agama hingga membuatnya berada dititik tak percaya diri akan menjadi penghuni syurga.


Syifa ikut memandangi intan, “kenapa tiba tiba bahas teman masa kecil?”


“Rindu aja,” nabil diam sejenak, “kamu punya gak?” tanyanya menoleh ke syifa.


“Punyaaa. tapi aku gak mau certa.”


"Ih! ceritalah. pelit banget sih, kamu."


“Masalahnya klo aku ceritain, gak bakal habis habis aku memujinya.” Kalimat syifa membuat mata nabil tercekal, “Lagian mustahil juga bagi kami bertemu. maka itu aku takut mendalami rasa yang tak berujung.”


Meski tak meenyebutkan nama, tapi nabil tahu bahwa teman kecil yang dimaksud adalah dirinya sendiri.


“Kamu ada rasa sama dia?”


Syifa menoleh dan menatap cukup lama, “itu alasku tidak membuka hati setelah aska mengetuknya.” kalimat itu menjawab pertanyaan di benak nabil mengenai alasan kesendirian syifa.


“Kamu yakin dia akan datang?”


Kini Pertanyaan yang dilontarkan pria itu membuat syifa berpaling. mustahil tuk bertemu, tapi ia sungguh mengharapkan ada keajaiban yang mempertemukan mereka.

__ADS_1


“Berdoa saja, semoga ia menemukan alamat dan lampu hijau orang tuamu kelak,” kata nabil karena tak mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.


Sebenarnya ada kejanggalan dari kalimatnya. tapi wanita itu tak peka dan asyik dalam khayalannya.


“Kasih tahu aku namanya, biar ku bantu cariin.”


Syifa menoleh cepat, “benarkah?”


Nabil mengangguk, “siapa namanya?”


“Nabil."


“Itu namaku.”


“Nabil Al Farisqi nama lengkapnya. tinggal di Jakarta selatan, jalan bima."


“Itu alamat rumahku.”


Syifa berdecak, “klo gak niat bantu. gak usah pancing emosi juga.” ia merasa nabil hanya ingin mempermainkannya.


“Kamu lupa, keluargaku juga berasal dari sana.” Nabil mencoba mengingatkan mengenai informasi yang dulu ia sampaikan pada syifa dan lia, namun wanita itu masih terlihat kesal.


“Aku kenal dia,” kalimat itu berhasil membuat syifa menoleh, namun wanita itu hanya diam menatapnya “gak percaya?”


“Banget,” Syifa memalingkan muka dan sikapnya itu membuat tawa nabil pecah.


“Mudah aku menemukannya,” kata nabil kemudian. namun syifa masih bergeming, “dia penerus Harfir Grub. perusahan yang sedang berkembang di Jakarta. ayahnya bernama haris dan ibunya bernama sarah.”


Kalimat terakhir itu berhasil menarik perhatian Syifa.


“Aku sungguh mengenali dia.” nabil sedikit bercerita tentang Nabil temannya agar membuat syifa mempercayainya.


Cerita nyata yang ia sampaikan membuat mata syifa memupuk cairan bening. jika pria itu benar mengetahui keberadaan teman kecilnya, pertemuan yang selalu ia mimpikan akan terjadi. mereka akan bertemu.


“Besok ya, fa.” kata Nabil dengan nada bergetar sebab merasakan hal sama dengan yang dirasakan wanita yang terus melengkungkan senyum tersebut.


Syifa tak bisa berkata, ia hanya menatap dan mengagguk. bibirnya tak henti mengulas senyum dan terus memastikan pada pria itu untuk mempertemukan mereka, besok.


-Bersambung.


Bantu supportnya teman teman. klo ada yang nganjal tolong di koreksi di kolom komentar. @airaannur_ (kucing oren)


Satu lagi, maaf klo autornya lalot. hehe... tapi aku usahain untuk tamatin kok😊

__ADS_1


Assalamualaikum.


__ADS_2