Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
pernyataan bohong.


__ADS_3

Semua berjalan lancar sesuai dengan rencananya, perlahan keadaan lia mulai membaik. meski syifa mendengar dari aska jika gadis itu selalu menanyainya. namun rasa bersalah membuat ia belum berani menemui. sebenarnya disamping rasa bersalah, kehadiran nabil lah yang membuat ia enggan menemui.


Karena semenjak rencana itu berjalan, ia sudah memutuskan menjauhi pria itu. semua pesan yang dikirim nabil terbengkalai tanpa balasan bahkan ia tak membiarkan centang biru hadiri dilaman masengger. dan bukan hanya itu, bahkan syifa tak lagi bertanggung jawab atas murid murid yang ia ajar di mushollah, seseorang menggantikannya. beruntung, intan mau menuruti katanya agar tidak memberitahukan hal ini pada nabil meski pria itu masih mengantar jemputnya disana.


Namun sore ini mereka di pertemukan, sebab Lia mendesak ingin bertemu. di sebuah ruangan yang setingkat VIP sengaja dipilikan Aska demi kenyamanan sang adik. gelak tawa yang berasal dari ruangan itu perlahan mereda dengan kehadiran syifa.


"Assalamu alaikum."


“Waalaikumussalam."


Aska dibuat bingung dengan tatapan hambar syifa pada nabil yang duduk menghapa Lia. ekspresi keduanya membuat ia menyimpulkan jika ada masalah diantara mereka.


“Kak syifa, kemari."


Syifa segera memalingkan pandang dan menghampiri gadis itu. “kamu apa kabar, Lia?” Tanyanya sedikit gugup, sebab di sisi lain berangkar ada sepasang mata yang terus menatap.


“Alhamdulillah baik kok, kak,” balas Lia kemudian menatap Aska dan Nabil bergantian, “boleh aku bicara berdua dengan kak syifa?”


Aska yang peka lansung keluar usai memberi anggukan, namun nabil masih setia duduk disana. ia terus menatap syifa datar sehingga membuat wanita tersebut semakin menunduk.


“Kak nabil?”


Hingga panggilan Lia berhasil mengalihkannnya dan syifa bisa bernapas lega.


“Aku mau bicara berdua dengan kak syifa, kakak bisa keluar sebentar?”


Nabil memberi anggukan dan senyum teduh, ia kemudian menoleh ke syifa yang kembali membuang muka.


Sreek!


Usaha untuk membuat wanita itu menatap meenggunakan pergerakan kursi, gagal. ia menghela dan memilih meninggalkan dua wanita itu.


Setelah memastikan nabil benar keluar syifa mendekat ke Lia, “aku minta ma_“


"Kak syifa duduk dulu,” pinta Lia sembari menepuk kursi yang sebelumnya di duduki nabil. syifa menurut, ia memutari berankar dan duduk ditempat itu, “panas, yah?”


Syifa menyebik dan mengagguk kikuk hingga membuat tawa gadis itu pecah.


“Emang kak nabil udah dari tadi duduk disana gak pindah- pindah. itu kursi emang udah jadi troterinya klo datang kesini, kak. klo ada temen temenku.. aku usir kak nabil terus aku minta mereka duduk disana. tapi mereka cuman diam aja pas ngerasain panasnya, hahah.” celoteh gadis itu berakhir kekeh.


“Kamu bahagia, Lia?”

__ADS_1


Lia menghetikan tawa kemudian menggenggam tangan kiri wanita itu sembari menatap sendu, “makasih, kak. kak syifa sudah menuntun nabil untuk menyatakan perasaannya.”


Syifa tersenyum dan mengagguk.


“Aku beruntung ada kak syifa. maaf kalau kemarin aku sempat salah paham. mengira bahwa nabil melamar kakak, yang ternyata itu cuman latihannya untuk memberikan cincin ini padaku.”


Penjelasan gadis itu membuatnya menyernyit. namun sesaat kemudian ia mematung ketika lia menunjukkan cincin yang sangat dikenalinya sudah melingkan di jari manis gadis itu.


“Secepat ini!” pekik Lia kemudian memeluk syifa. tangan yang masih menggenggam itu terus terayun bahagia sembari mengucap terimah kasih pada wanita yang diam dalam dipeluknya.


“Aku gak nyangka, kak. aku gak nyangka!” setelah puas, gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap syifa, "Kak syifa, nangis?" tanyanya ketika wanita itu menyeka mata.


Syifa mengulas senyum, “aku bahagia. akhirnya harapanmu terbalas.”


Lia mengagguk angguk riang. namun segera mereka menegakkan duduk ketika 2 pemuda tadi datang bersama seorang perawat.


"Bentar juga aku sembuh kok, Sus. jadi gak usah seringan datang kesini, yah.” ujar Lia ketika perawat mulai memerkisa kondisinya.


“Gak boleh gitu dong, Dek. kita gak tahu sampai mana tuhan bakal kasih kita sehat.” tukas Aska.


“Tapi aku udah baik baik aja, kok.” Lia mengulas senyum dibibir pucatnya. “besok kita pulang, yah. pliiiis.”


Aska menggeleng tegas.


Aska menyernyit dengan perlahan menoleh pada pria yang dari tadi memasang wajah datar.


"Jadi kalau kamu makin bahagia, kamu makin sembuh, nih?" pertanyaan syifa mendapat anggukan dari gadis itu. “kalau begitu, aku juga punya kabar baik yang gak kalah gembira.”


“Oh, yah!” Lia segera menarik tangan wanita itu untuk mendekat, “apa tuh kak?”


“Aku sama Aska balikan.”


Deg!


Mata nabil langsung memelototi wanita yang sedang melempar senyum pada pria disampingnya.


“Beneran!?” pekikikan Lia yang mendapat anggukan dari syifa, ia beralih pada aska. “cie cie... clbk!” godanya pada sang kakak namun pria itu hanya mematung.


Karena sebenarnya.. ia juga terkejut mendengar pernyataan syifa. ini adalah kebohongan. entah rencana apa lagi yang akan dilakukan wanita itu.


Menyadari sesuatu, Perlahan ia menoleh pada nabil. dan benar saja ia sudah mendapat tatapan kesal dari pria itu.

__ADS_1


"Lia, udah lama 'kan aku disini. klo begitu aku balik, assalamu alaikum." tanpa mengunggu kalimat salam dari gadis itu nabil langsung pergi. namun karena bahagia, membuat lia tak mempermasalahkan sikapnya.


"Kapan seriusnya dong, kak? masa pdkt terus.” Lia sengaja memancing aska,


“masa di kalah sama adiknya” lanjut Lia kembali memamerkan cincinnya.


Gemas, Aska mengacak ujung kepala gadis itu, “inget, kamu baru aja lulus SMA. cita-cita dulu Lia..,”


“Cita citaku 'kan, kak Nabil."


"Astaga nih, anak!” Aska semakin dibuat kesal, ia menoleh pada Syifa meminta wanita itu mengajari adiknya.


Lia tertawa, “iya, iya. aku ngerti, kok.” ujarnya sebelum wanita itu menceramahi, “aku masih punya cita cita banyak sebelum Allah ambil nyawaku, kaaak. tetapi dengan ini…setidaknya aku tahu, bahwa Allah sudah mengirimkan seseorang yang akan menemaniku menggapai cita cita itu.”


Mendengar harapan sang adik membuat aska reflex memeluknya. gadis itu sempat memprotes namun ia membiarkan ketika memahami sikap kakaknya yang mungkin takut kehilangan.


Syifa yang juga menyaksikan ikut terenyuh. ia mengusap pundak lia bersamaan dengan kata maaf dibenaknya.


Setelah mendalami pelukan, aska melepaskan ketika suster tadi meminta agar pasien segera istirahat. syifa pun ikut keluar bersama suster. diluar ruangan ia tak mendapati sosok nabil, itu yang terbaik sebab ia akan membicarakan sesuatu pada aska. tak butuh waktu lama akhirnya pria itu keluar dan duduk disamping.


"Apa maksud dari kalimatmu bahwa kita balikan lagi, Fa?” tanya Pria itu tanpa basa basi.


Syifa tersenyum hambar, “tidak ada maksud apapun, ka. anggap saja kita benar benar seperti itu.” balasnya membuat pria itu memicing.


“Aku harap kamu tidak menjebakku juga dalam rencanamu."


Syifa menggeleng, “anggap kita sedang balikan, Ka.” ulangnya, “aku tidak berniat menjebakmu. karena jika itu terjadi maka sama saja aku menjebak diriku sendiri dalam harapmu.”


“lalu?”


“Anggap kita sedang menjalani sebuah hubungan yang serius, dengan gandengan, bahwa yang kita jalani ini akan berakhir.”


Aska terperangah, “itu sama saja kamu menjebakku, Fa.”


“Setidaknya aku tidak membuatmu mengharap balasan,” balas Syifa kemudian memalingkan pandang ke depan.


Namun berbeda dengan Aska. pria itu masih setia menatap dengan sedikit mempertanyakan dalam benak. seegois itukah kini orang yang ia cinta? dia sedang mempertanyakan itu, sebab syifa yang dulu ia kenal berhati lembut, tapi kenapa ia masih cinta.


“Jangan memandangku seperti itu, Ka. semakin kamu menatap, maka semakin dalam luka yang akan kau dapat.”


“Biarkan pula aku mencintaimu, dengan gandengan, kamu tidak bisa lagi mencintai pria bodoh sepertiku.”

__ADS_1


Tak berpalingnya pandangan Pria itu meski menyadari kerisihan syifa. baginya ini adalah lagi, sedekat-dekatnya ia memandang syifa dan sedekat-dekatnya jarak diantara mereka. pertama kali jatuh cinta hingga larut dalam hubungan terlama, sebuah skanario yang membuat pria itu enggan berpaling.


-Bersambung.


__ADS_2