
"Bismillah."
Mentari yang ditunggu namun ingin segera terganti senja akhirnya tiba. berat ia menjalani hari dari sekarang, banyak rencana yang membuatnya sulit berdamai dengan naluri pria yang berjalan ke arahnya.
Syifa mengulas senyum namun jelas terbingkai diwajahnya ada sebuah kekawatiran.
“Kamu jangan cemburu. ini adalah rencanamu, dan aku tahu batasanku.” kata nabil ketika mereka bertemu.
Kalimat Pria itu justru semakin membuat air matanya tergenang dan akhirnya lolos.
"Bukan itu yang kutangisi. tapi Masihkah kamu bersimpati jika mengetahui siasat sebenarnya?"
Melihat tatapan sendu Syifa membuat Nabil ragu melanjutkan misi. "kalau kamu gak siap_"
“In sya Allah aku siap.” pangkas Syifa kemudian menyaka air mata. ia tersenyum hambar. "jangan kawatirkan perasaanku, perasaanmu lah yang seharusnya kamu rawat dari sekarang.”
“Kita sama-sama merawat perasaan ini, yang itu artinya kita saling membutuhkan. jarak ini hanya sementara dan untuk kebaikan orang lain.” tegas Nabil.
Syifa hanya diam menatap.
“Tapi jangan salahkan aku jika keputusanmu ini terlalu lama. Aku harap, kamu sudah membuktikan janjimu sebelum aku menagihnya.”
Sama seperti sebelumnya, wanita itu hanya diam menatap. tidak mungkin ia berkata tidak, namun jika mengiyakan. itu sama saja memberikan harapan palsu pada Pria itu.
"Lia pasti sudah menunggumu." kata Syifa kemudian mengajak nabil mengikuti koridor RS yang menghubungkan ruangan Lia.
Sesampainya mereka didepan pintu, Syifa menghentikan langkah ketika mendengar bacaan ayat Al-Qur'an dari seorang pria yang suaranya tak asing.
Ia mengintip lewat cendela. senyuman membingkai wajahnya ketika dugaan itu benar, bahwa Aska lah nya mengaji. memang tak semerdu Muzammil tak juga selancar Salim Bahanan. tapi niat Pria itulah yang menjadi sebuah penilaian.
Sementara pria yang berdiri disampingnya juga mematung melihat aska. ia menoleh, rasa khawatirnya hadir ketika melihat wajah syifa yang bersemu ria.
“Assalamu alaikum.” Syifa memberanikan diri masuk keruangan lia dan diikut nabil.
“Waalaikumussalam” Aska menutup dan menyimpan Al-Qur'annya di atas nakas kemudian kembali menatap 2 orang itu.
Tatapan Aska tak semenyeramkan kemarin, tapi syifa masih merasakan ada kecewa yang masih disimpan.
__ADS_1
“Gimana keadaan Lia?” tanyanya.
Pria itu melipat tangan kedada seraja menatap adiknya, “lebih buruk dari kemarin” jawabnya dingin.
Syifa coba memahami sikap pria itu. ia menoleh ke nabil yang sedang menatap iba wanita yang terkulai lemah itu kemudian kembali menatap aska.
“Bisa kita bicara diluar, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”
Aska tak langsung menjawab ia menoleh ke nabil dan mendapat anggukan dari pria itu. "ada yang ingin aku sampaikan juga ke kamu, Fa.” kata Aska.
Mereka pun keluar dan menyisahkan nabil di ruangan itu. perlahan ia mendekat dan duduk di kursi dekat brankar. dipandangnya wajah tenang itu tanpa rasa kecuali belas kasihan.
Kalimat dan celotehnya masih ternyiang di telinga. senyuman aneh berdesir di bibirnya kala meningat perasaan gadis itu.
"Dasar abg. beraninya kau menaruh hati pada pria yang sudah mengaggapmu sebagai adiknya yang menyebalkan.”
Nabil kemudian mengagakat tangan untuk menarik badcover rumah sakit untuk membalut tangan Lia yang saling bersendekap. ia menggenggam tangan itu perlahan agar tak membuat impusnya bergerak.
“Kau wanita kuat. ceria, sabar, dan baik. jangan mencintai orang sepertiku, sebab itu akan menjadi sia. bukan namaku yang tertulis dalam buku Lauhu Mahfusmu. tapi namamu lah yang tertulis dalam lauhu mahfus ku dalam bab, sebagai wanita kuat dan iklas.”
Nabil menghela napas, “maaf jika sikapku membuatmu menaruh hati, tapi sungguh aku tidak bisa membalasnya. meski kedepannya aku akan berpura pura menanggapi.”
“Sampaikan dulu apa yang ingin kamu sampaikan, Ska. karena apa yang akan ku sampaikan mungkin membuatmu terkejut.” Syifa sengaja memilih tempat agak jauh dari ruangan Lia takut nabil menguping.
“Tadinya aku ingin marah karena kedatanganmu dengannya. tapi sepertinya aku yang harus mengiba padamu.” Aska menoleh syifa yang duduk disebelahnya. "keadaan Lia makin memburuk. meski mustahil baginya sembuh, tapi aku ingin mengurangi sakit dengan membuatnya bahagia.”
Syifa bergeming menerka maksud Pria yang kini menatapnya harap.
“Pinjamkan Nabil untuk Lia.” kata Aska.
Ia belum menjawab, hanya diam menatap dan perlahan menggeleng. sikapnya itu membuat aska menghadap.
"Fa.. aku mohon. selamatkan adikku. biarkan dia merasakan balasan dari perasaannya meski hanya dibalas pura-pura.” bahkan pria itu menyatukan telapak tangan memohon dengan mata berair.
“Tidakkah kau kasihan padanya? jika benar Allah rindu, biarkan dia merasakan kasih sayang dari seorang pria yang ia cinta sebelum Allah..." Pria itu menunduk, "mengambilnya dariku." lanjutnya dengan meneteskan air mata.
"Ka...."
__ADS_1
"Aku mohon.."
"Aku tidak akan meminjamkan nabil. tapi aku ingin mengiklaskannya untuk Lia.”
Sebuah kalimat yang membuat tangis Aska terjeda, ia mendongak menatap syifa. wanita itu mengguk dan tersenyum seakan tahu apa yang ingin ia perjelas.
“Nabil untuk Lia,” kata syifa “aku sudah merencanakannya sebelum kamu memintanya, Ska. dan in sya Allah, aku ikhlas."
Aska terlihat tak setuju, "aku meminta sementara saja, Fa. aku tidak meminta nabil benar-benar ada didekat adikku. aku tahu kalian saling mencintai.”
“Apa kamu ingin membuat Lia kembali kecewa karena harapan?”
Pertanyaan syifa membuat Pria itu terdiam.
"Biarkan takdir mereka menjadi nyata bukan sekedar pura-pura.”
“Tapi dibalik itu ada dua hati yang akan menderita, Fa.”
“Jika kami bersama. maka ada dua hati juga yang lebih kecewa.” balasnya membuat pria itu kembali terdiam. "jangan merasa bersalah karena sikapmu kemarin padaku, Ska. ini murni keputusanku. setelah dipikir pikir, memang tidak ada harapan lagi untukku dan nabil tetap bersama.”
Aska menyernyit.
“Kami adalah teman kecil yang dipisahkan karena kesalah pahaman antara keluargaku dan keluarga nabil.” kata syifa menjawab rasa penasaran pria itu.
Syifa menghela berat kemudian menatap Aska serius, “bantu aku mendekatkan mereka.”
Aska belum merespon, ia tampak berfikir. bukan tentang Syifa tapi mengenai adiknya. bagaimana mungkin ia merelakan Lia pada Pria yang masih menaruh hati pada wanita lain. bukankah kelak mereka hanya saling kecewa dan menuntut.
“Nabil sudah tahu rencanamu ini?”
Syifa mengagguk, “dibagian ia berpura pura mendekati Lia saja." jawabnya. "aku memberinya harapan besar agar dia mau berpartisipasi. dia tidak tahu jika setelah ini aku benar benar meninggalkannya.”
Aska menyipitkan mata tak menyangka syifa memiliki strategi seperti itu. “kamu akan memberinya luka yang sulit dia lupakan, Fa.”
“Itu tujuanku,” tegas syifa, “bantu aku membuatnya kecewa secara perlahan. buatlah dia kecewa sehingga membenciku dan membuka hati untuk lia."
Dibalik kesungguhan ucapan itu ada sebuah keraguan yang membuatnya menggenang air mata. aska tahu wanita itu sebenarnya tak tega menyakiti. namun perlahan pria itu mengagguk menyetujui.
__ADS_1
-Bersambung.
mohon maaf untuk kedepannya Mck gak Up dulu. tunggu sampai desember. soalnya paketku habiiis, huaaa...