
Langit kota malang, sudah terbungkus petang beberapa menit lalu. bintang-bintang bertaburan menjadi hiasan terindah disana.
Usai melaksanakan sholat magribnya dengan pakaian yang ia kenakan. shifa melanjutkan bacakan ayat-ayat Al-Qur'an melalui aplikasi ponselnya untuk diperdengarkan oleh gadis yang belum saja sadarkan diri itu.
Hingga Adzan isya berkumandang. Shifa kembali mengambil air wuduh dan melaksanakan sholatnya. beruntung, pakaian yang ia kenakan masih menutup aurat.
"katanya sebentar. ini udah jam berapa?" Kelu shifa, ia duduk dikursi luar ruangan. sudah sangat lelah baginya menunggu pria yang bertanggung jawab atas gadis di dalam itu.
"Shifa."
Akhirnya seseorang yang ia tunggu juga muncul di ujung koridor.
"Maaf. aku baru datang," Kata aska menyesal, Shifa hanya memberi anggukan mencoba mengerti kesibukan pria didepannnya.
"Lia belum siuman?" Aska menengok adiknya sebentar.
"Kata dokter masih keadaan pengaruh obat. kondisi jantungnya sangat lemah," jawab shifa, ia berdiri dari duduknya, "aku pamit pulang dulu, besok aku kesini lagi untuk menjenguk Lia " shifa meninggalkan pria yang mematung di depannya.
"Shifa!" panggil aska, membuat pemilik nama itu terkejut dan menoleh padanya, "Biar ku antar," ujar aska.
"Ngga usah!" Tolak shifa, "biar aku pulang pke ojek online saja."
"Sudah kamu pesan?"
Shifa mengambil ponselnya dalam tas, "akan ku pesan sekarang," ia mengaktifkan mode datanya kemudian membuka fitur aplikasi disana. Namun...
"Duuuuh.. kok lowbet sih!" Kelu shifa ketika mendapati layar ponselnya tiba-tiba gelap.
"Kenapa, fa?" Aska menghampiri.
"Drivenya Ada yang kosong?" tanya nya.
Shifa menggeleng, "Hp ku mati," jawab shifa kemudian melirih ponsel di tangan aska, "boleh kupinjam, ponselmu?"
Aska tersenyum, "aku sangat senang jika bisa membantumu," kata aska namun ia malah berjalan melewati shifa yang sedang tercengang.
Shifa mendengus, ia berbalik dan mengikuti langkah pria itu, sudah bisa ditebak maksud dari ucapannya.
"kau tahu aku tidak bisa naik motor denganmu kan, ska? pinjami saja aku ponselmu mu."
Namun lagi, Aska hanya mengulas senyum pada wanita yang terus membuntutinya itu, Hingga tiba lah mereka di pelataran parkir.
Aska menghampiri mobil Avanzah berwarna putih. Shifa masih mengikut dibelakangnya. bukan karena tak punya harga diri, tapi lebih tepatnya pada siapa ia akan meminta bantuan malam malam begini, jika bukan pria di depannya itu. Ia hanya berharap pria itu akan meminjamkannya ponsel.
"Masuk!" Aska membuka pintu mobil bagian belakang, Menyuruh wanita itu segera masuk didalamnya. namun, shifa hanya diam menatapnya.
"Atau kamu mau duduk didepan bareng gue?" Goda aska, ia hendak menutup pintu kembali, namun segera shifa menahan dan masuk di dalamnya. Aska tersenyum melihat tingkah wanita itu yang benar-benar tidak ada pilihan kecuali ikut dengannya.
"Ya Allah maafkan hambamu ini yang terpaksa harus berduaan lagi denganya," Batin shifa, pandangannya mengikuti pria yang sedang memutari depan mobil.
Setelah masuk. Aska langsung menjalankan mobil itu. beruntung, ia bertukar kendaraan dengan wilyam hingga bisa memanfaatkan kendaraan ini.
canggung dan malu, iyah. shifa mencoba mengerti situasi ini, padahal Sudah beberapa hari lalu dirinya ingin sekali terbebas dari pria itu. Namun Allah malah memberinya keadaan seperti sekarang yang membuatnya sulit menghindar.
shifa terus menatap pria didepannya itu melalui cermin depan, "seharusnya ini kesempatann dia untuk menceritakan isi hatinya itu, tidak biasanya dia diam seperti ini?"
shifa menatap curiga pria itu. Namun segera ia memalingkan pandangannya ketika aska melihat ke cermin hingga membuat pandangan meteka bertemu.
aska menyebikkan bibirnya, ketika melihat shifa buru-buru memalingkan pandangannya, "ternyata kamu masih suka diem diem liatin aku ya, fa"
Deg
meski terkejut dengan penyataan Aska, shifa memilih diam, malas meladeni. karena jika dirinya merespon yang ada pria itu akan semakin membesarkan harapannya.
"Faa.., aku harap kau bisa membantuku untuk berubah," aska masih menatap pantulan shifa dari cermin, namun wanita itu masih enggan meresponnya, "barang siapa yang membantu kepeluan saudaranya, maka Allah akan senantiasa membantu keperluannya."
__ADS_1
mendengar itu, akhirnya shifa memberanikan diri menatap aska. dan pandangan mereka bertemu, ia bisa melihat sebuah keseriusan di mata pria itu.
"aku akan membantumu, jika kau tidak lagi melibatkan perasaan," tegas shifa, ia menatap tajam pria itu. namun segera ia malingkan pandangannya kembali usai melihat senyum simpul dari bibir aska. ia lupa sifat pria ini yang tidak akan membebaskannya begitu saja.
ia memilih menengok ke jendela, berbicara dengan orang itu hanya akan membuat luka lamanya naik ke permukaan.
meski bukan di akhir pekan. namun pinggir jalan malam itu begitu ramai. terlihat para pemuda dan pemudi yang dengan pedenya memamerkan kemesraan mereka di muka umum. membuat shifa bergidik, "seandainya kalian tahu balasan apa yang kelak diterima orang tua kalian, jika melakukan perbuatan keji seperti itu,"
shifa membuyarkan pikirannya, sadar, dirinya juga tak kalah buruk dari mereka. Lupa, ia juga pernah berpacaran, pernah berduaan, pernah berpeganyan tangan.
namun itu dulu dan sekarang kini sesalnya.
mengapa dirinya bisa terjerumus dalam perbuatan keji itu? bagaimana jika kelak Allah masih menagih hukuman atas perbuatannya? bagaimana jika kelak malaikat zabaniyah akan membawakan batu kerikil dari neraka untuk di genggamkan kepada ibunya.
tak sadar air mata shifa terjatuh, membayangkan bagaimana jika kelak ibunya menanggung perbuatan buruk anaknya. shifa segera mengusap air matanya sebelum mulut manusia di depannya itu melihat dan berkomentar.
pandangannya masih terpaku di jendela, mengikuti laju kendaraan yang di bawa aska. berharap ada sesuatu yang menarik melintas disana.
Motorku...
shofa teringat motornya yang ia tinggalkan
di pinggir jalan usai melihat sebuah motor metic hitam milik pemuda yang sama persis motornya terparkir di tongkrongan anak muda itu.
"Berhenti!"
Teriak shifa, membuat aska terkejut dan segera menginjak pedal remnya, "Kenapa!?"
"Motorku dan motor Lia, masih ada di pinggir jalan tadi," jawab shifa, "kita kelewatan."
Aska memutar balik mobilnya dan mengikuti arahan shifa ke tempat dimana Lia kecelakaan. Namun, ketika sampai disana tak ada satupun benda yang terlihat. Shifa turun dari mobil, ia celikungan mencari motornya.
"Bener, kamu tinggalin nya disini?" tanya Aska.
"Iyah! kejadiannya baru hari ini. masa aku lupa!" Sahut shifa dari sana, ia terus berlari membuka tumpukan semak- semak, berharap ada orang yang berniat baik menyembunyikan motornya.
"Udaaah, kita balik aja. Biar aku yang gantiin motormu!" Sahut aska.
Shifa berbalik dan hanya melirihnya sinis. ia tahu di balik Niat mulia pria itu, pasti ada udangnya di balik batu.
Aska menghampiri shifa, "ini jalanan bekal shifa, sunyi. banyak orang yang bakal manfaatin keadaan, ngambil benda yang gak ada pemiliknya."
melihat wanita itu tak merespon, terpaksa aska menengok wajahnya, "kamu nangis fa?"
pertanyaan aska malah membuat tangis wanita itu semakin pecah, shifa berjongkok dan menenggelamkan wajahnya, ia sedang memikirkan motornya yang hilang, kerja kerasnya tidak ada lagi yang bisa ia lihat.
melihat tingkah shifa, membuat aska bisa menebak apa yang pikirkan wanita itu, "aku akan menggantikan motormu." katanya.
shifa menggeleng, masih keadaan tetunduk, "tidak ada yang bisa menggantikan kerja kerasku. itu jerih payahku," ucapnya di antara sesegukan.
aska yang melihatnya, sudah tidak tahan ingin memeluk dan menenangkan mantan kekasih nya itu. Namun ia masih memikirkan batasan dan mengingat niatnya untuk berubah.
"akan ku bantu mencarinya besok, kita bisa meminta bantuan ke polisi untuk menangkap pelakunya." ucap aska. "atau jangan-jangan, itu Nabil." gumamnya kemudian.
shifa mendongakkan kepala, ia menatap pria didepannya yang sedang memikirkan sesuatu. pandangan mereka bertemu ketika aska menolehnya, sementara tatapan shifa hanyalah kekosongan, ia sedang memikirkan pria bernama Nabil itu, iyah, orang itu yang mengambil motorku, batinnya.
"kenapa?" tanya aska.
shifa mengedipkan matanya karena terkejut, "Antar aku pulang," pintanya kemudian berdiri dan berjalan menghampiri mobil.
sementara pria yang bersamanya, masih mematung menatapnya aneh, "bukannya dia memikirkan motornya" batin aska, ia segera mengikuti shifa ketika wanita itu sudah dekat dengan mobil.
aska masuk dan menjalankan mobilnya. tak butuh waktu lama akhirnya tibalah mereka ke tempat tujuan.
shifa sudah memegang handle pintu, namun belum juga membukanya, ia melihat pria yang ternyata juga menatapnya dari cermin,
__ADS_1
"Terimah kasih, Ska." ucap shifa. meski canggung, tapi itulah yang ingin di ucapkan pada pria itu. ia segera membuka pintu usai mendapat anggukan dari aska. turun dari mobil dan buru-buru memasuki halaman rumahnya.
"shifa!" panggil aska.
shifa berbalik, menatap heran pria yang belum juga menjalankan mobilnya itu, "mau apa lagi sih, dia."
Aska tersenyum, "Assalamu alaikum," ucapnya kemudian.
Oiyah, salam. shifa memberi sedikit senyuman, ia lupa memberi salam, mungkin karena rasa canggungnya.
"Waalaikumussalam" jawabnya.
Aska kemudian melajukan mobilnnya, usai wanita itu menjawab salamnya.
sementara shifa juga melanjutkan langkahnya, namun langkah itu terhenti ketika ia hendak naik keteras rumah. benda yang ia cari-cari sedari tadi ternyata sudah terparkir rapi di samping rumahnya.
"maaa..?" pangginya ketika sudak masuk kerumah.
"Ya Allah, nak! kamu dari mana aja!?" sahut ana, ia keluar dan menghampiri putrinya, "kamu dari mana?" tanyanya lagi.
"nanti shifa ceritain, mah" kata shifa, "mah, yang bawain motornya shifa tadi, siapa?
"Loh, bukannya kamu yang suruh dia antarin motormu?" tanya ibu shifa heran.
shifa diam sejenak, "siapa ya, mah?"
"namanya, Al," jawan ibu shifa,
"Al?" ulangnya.
Ana menganguk, "iya, Al. katanya dia temanmu," ia menyenggol lengan putrinya, "kamu ini punya teman gak kenalin sama mama. padahal anaknya baik, sopan, ramah.
klo yang kayak gini mama setuju." godanya.
"apa sih, ma. orang shifa aja gak kenal sama yang namanya, Al."
"tapi katanya dia kenal kamu, nak"
shifa menaikkan kedua Alisnya, ia mulai penasaran, "ciri-cirinya kek gimana mah?"
"Ganteng, putih, keren, manis---"
shifa membuang napas, "itu sih mama lagi sebutin tipenya mama," balas shifa "ciri lainnya deh, mah yang bisa shifa tebak siap tu orang."
"orangnya memang manis, kok. orang anaknya punya lesung pipi gitu."
"Lesung pipi mah?" shifa memperjelas, dan ibunya mengangguk, "celananya sobek-sobek gak, mah?" tanya shifa lagi.
Ibunya mengangguk, "iya. tapi anaknya masih sopan, santun, ramah. gak kayak anak korea itu."
shifa hanya menatap kosong mamanya. mendengar ciri-ciri yang disebut ibunya, membuat dirinya bisa menyimpulkan siapa pria yang bernama Al itu,
tapi kenapa Al? bukankah namanya Nabil?
pikiran shifa sudah memicing curiga.
"oiyah, Nama dan Alamatku, bagaimana dia bisa tau. ya Allah, siapa sebenarnya pria itu?"
-Bersambung-
baca sampai sini. main tebak tebakan yuk!
-kira- kira, shifa bakal CLBK gk sama Si bucin?
Komen di bawah⤵
__ADS_1
Jangan Lupa pula. LIKE, VOTE, DAN SHARE NOVEL ini. Terimahkasih.
#JANGAN LUPA BERPUASA ayyamul bin