
Setibanya di rumah, Lia melihat kakaknya yang baru saja keluar Rumah.
"Sepatumu mana dek?" tanya Aska ketika Lia berjalan tanpa beralas.
"Hilang!" Lia melewati kakaknya dan masuk ke rumah.
Aska berbalik, Kenapa si Dia? batinnya kemudian melanjutkan Niatnya pergi untuk pemotretan.
Lia yang sudah masuk dirumah duduk di shofa dengan napas yang memburu, pandangannya lurus menatap tembok yang sudah ia imajinasi dengan wajah Nabil.
"dasar pria menyebalkan, sok bijak, celana sobek! Jika saja dunia ini milikku tidak akan kubiarkan kau bernapas disini."
Triiit.. triiit..
sebuah getaran dari Ponselnya membuyarkan sumpah sarapanya. terlihat disana ada panggilan dari susi. kawannya, alias pemilik sepatu balet yang di sandera Nabil.
Lia mengangkatnya, "Halo?"
"Li, sepatu balet yang lo pinjam kemarin bisa lo balikin besok gak?"
Lia mengusap keningnya, "Waduh, secepat ini. bagaimana ku kembalikan, sepatu tinggal sebelah." batinnya.
"Li' kok lo diem aja? bisa kan?"
"Heemm.. gimana yah Si, sepatunya gue suka banget. bisa gak klo gue beli nih sepatu?"
"Klo lo suka gue kasi, tapi masalahnya tu sepatu punya kakak gue."
Lia menegakkan duduknya, "Apa!! jadi Lo BBM juga?"
"Hemm," jawab susi "pokoknya besok lo balikin. ketahuan nih sama kakak gue, bisa dimarahin habis habisan gue, gak tau gue klo tu sepatu pemberian dari cowoknya."
Astagaaa, Lia berpikir sejenak, "Ok! besok gue balikin," Ia memutus sambungannya dan menyandarkan punggungnya ke shofa.
"Ok, mustahil jika harus mengemis ke celana sobek itu. Liaa, sepatu model begitu banyak kau bisa mencarinya di toko."
***
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah Lia mampir ke toko sepatu. ia mulai memilih milih yang sama persis dengan sebelah sepatu yang ada ditangannya.
"Akhirnya dapat juga," Lia mengambilnya dan berbalik.
Bruuk!
Ia tak sengaja menabrak seorang pria yang berjalan di belakanng. Lia memunguti sepatunya, pria itu juga memunguti barang bawaannya yang jatuh."
"Maaf, Mba--" pria itu mendongak, "Kau!!"
Lia mendongak, matanya langsung terbelalak melihat wajah pria itu yang sudah tak asing.
Mereka mengambil barangnya masing-masing, kemudian berdiri. Lia pergi begitu saja namun langkahnya terhenti ketika mulut pria itu berbicara.
"Hey trompet! Kau menabrakku, minta maaf lah."
Lia berbalik menunjukkan wajah kesalnya, betapa tidak sukanya ia dengan panggilan itu.
"Berhenti memanggilku kalimat itu! Dasar celana SOBEK!"
Nabil menghampirinya, ia melihat sepatu yang di bawa Lia. Sama persis dengan sepatu yang ia ambil kemarin.
"Apa kau hoby mengkoleksi sepatu kembar-kembar?" Nabil menarik salah satu sudut bibirnya, "dasar ABG" gumamnya.
__ADS_1
Lia hanya memutar bola matanya malas menaggapi, ia memilih pergi begitu saja.
"Jangan harap sepatumu kembali jika kau tak mengubah sikapmu itu!!" Teriak nabil sebelum wanita berseragam putih abu-abu itu menuruni tangga.
Lia tak menanggapi, ia hanya terus melangkah dan melangkah, hingga tiba didepan kasir. Usai membayar Lia langsung berangkat kesekolahnya.
Sesampainya disana, ia langsung ke kelasnya dan menghampiri susi yang duduk sebangku dengannya.
"Ini" Lia menyodorkan kantong pelastik yang berisikan sepatu ke Susi, kemudian duduk disampingnya.
Susi membukanya, dan memeriksa sepatunya, "Kenapa baru sekali? Kau membelinya?"
"Heem," jawab Lia seraya mengambil buku pelajaran pertamanya.
"Astaga Lia! Aku tahu kau menyukai sepatu itu. tapi ku mohon, kau harus tetap mengembalikannya." Pinta susi.
"Lupakan, Sepatunya hilang."
"Apa!!"
Lia menghadap ke susi "aku minta maaf, tapi ada seorang yang menyebalkan yang mengambil sepatu itu,"
Susi terdiam mencerna pernyataan itu.
"Lagian yang ku ganti juga sama persis dengan sepatu kakakmu, kan?" Lanjutnya.
"Matilah aku," Susi meneput jidatnya, ia membayangkan kemarahan kakaknya.
"Tenang, semuanya persis." Kata Lia mencoba menenangkan.
Susi mendongak, "persis apanya!" ia menatap Lia penuh kesal, "Asal kau tahu sepatu itu ada ukiran dan tanda tangan dari pacarnya."
Lia bergidik ilfil membacanya. Ia tidak menyangka ada kalimat seperti itu di sepatu yang ia pakai.
"Kita bisa mengukirnya sama persis. masih ada sepatu sebelahnya, kita bisa ambil contoh dari sini." Lia mengankat sepatu itu mencoba meyakinkan temannya.
Susi mengeleng cepat, "tidak, aku tidak bisa mengambil resiko. Klo pacarnya curiga bisa bisa kakak ku akan di putuskan, dan aku kena imbasnya." Ia berdiri menatap Lia penuh ancaman "kau tetap harus mendapatkan sebelahnya. kalau tidak! lupakan klo kita pernah berteman."
Susi meninggalkannya begitu saja. Lia hanya bisa mengendus pasrah, ia menyandarkan punggungnya ke bangku. Sulit rasanya memutuskan persahabatan, tapi lebih sulit lagi mengambil sepatu itu.
Pandangannya lurus memikirkan sesuatu.
"Iyah, apa salahnya mencoba."
Tak lama kemudian bell berbunyi. Susi kembali kekelas dan duduk di samping Lia.
"Siiii, Beri aku waktu. tapi jangan diemin gue dong."
Susi hanya menolehnya sebentar dengan ekspresi datar. Pandangannya kembali lurus menatap guru yang sedang menerangkan.
Lagi, Lia hanya mendengus pasrah, detik ini adalah awal ia di acuhkan.
**
Sikap Susi pagi tadi membuatnya tidak nyaman berada disekolah, itulah kenapa ia sudah berada di rumah saat di kelasnya sedang melanjutkan pelajaran ke 3.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka, nampak disana seorang pria bertubuh tinggi dengan Fasion ala korea. Ia menatap kesal wanita yang sedang duduk santai di shofa rumahnya.
"Lo bolos lagi?" Aska menghampiri Lia dan merebut ponselnya. Ia bisa melihat apa yang di kerjakan adiknya dari layar itu sehingga tidak menghiraukan kehadirannya.
__ADS_1
"Plis Lia, fokus sama sekolahmu! gak usah ngerjain kek gini." Aska melempar ponsel itu ke shofa, Lia mengambilnya dan melanjutkan mengedit foto yang akan di Up ke IG nya.
Aska menggeleng-geleng kepala melihat sikap adiknya, ia duduk di shofa depan Lia sambil terus mencaramahinya agar tetap fokus pada sekolah dan berhenti menjadi Selegram.
"Berisik!" Lia berdiri dan melangkah ke kamarnya.
"Yah! lakukan semau mu, dasar keras kepala!" Teriak aska ketika Lia sudah sampai di lantai dua.
"Jangan sok ngurusin hidup orang! Urusin tuh hatimu yang bucin." Balas Lia kemudian menutup pintu kamarnya sekeras mungkin.
Bukan kesal pada kakanya tapi semua yang terjadi pagi ini benar benar membuatnya bad mood, dan tak ingin kemanapun termaksud ke TPA.
**
Matahari sudah melewati puncaknya.
Shifa sudah tiba di rumah dan melaksanakan sholat dhuhurnya.
Usai sholat dan bersiap, ia langsung berpamintan pada Ana dan pergi ke TPA lebih awal untuk bersih-bersih.
Sesampainya disana, ia di kejutkan dengan kehadiran pria yang selalu membuat darah tingginya naik.
"Gue bukan setan!" Sahut Nabil yang duduk di tangga TPA. ia tak suka dengan mata bulat wanita yang sedang berjalan ke arahnya.
"Apa yang anda lakukan disini?" Shifa merasa risih dengan keberadaan Nabil, karena di sini hanya mereka berdua.
"Sekarang aku yang punya tanah ini, memangnya kenapa klo aku mengawasi?" Nabil berdiri dari duduknya, "tidak ku biarkan seorang pun mengisi pot bunga dengan tanah ini." Gumamnya kemudian.
Shifa yang sudah tahu percakapan ini hanya akan berujung pertengkaran jika ia membuka suara, memilih terdiam. Kau lebih kejam dari pak kumis, batinnya.
"Intan!" Panggil Nabil membuat Shifa menyernyit.
"Iya, kak!" Sahut intan yang berada dalam TPA. Ia keluar dan membawa buku dongeng.
"Eh kak shifa udah datang?" intan menghampiri Shifa dan mencium tanggannya "Assalamu alaikum, kak."
"Waalaikumussalam," jawab Shifa sambil tersenyum, "kamu datangnya lebih awal loh, intan. Masih ada 2 jam lagi." seraya melihat jamnya.
"Bosan tinggal dirumah, berantem terus!" intan melirik kakanya. "serumah bareng Dia, rumah kayak es kotor!"
Shifa menyernyit, sementara Nabil sudah menunjukkan ancaman kepada gadis kecil itu agar diam.
"Gak takut!" kata intan.
Tong! Tong! Tong!
bunyi pukulan dari penjual es yang lewat didepan mushollah membuat intan langsung mengiba pada kakanya. "Kaaak,"
"Enggak!"
Intan menggoyak-goyangkan kaki pria yang tegak seperti patung "BELIIIIN!"
Nabil menghela napas, sejengkel apapun ia dengan adiknya tapi ia juga sangat menyayanginya, itulah kenapa Nabil selalu memanjakan intan. Nabil mengambil dan membuka dompetnya, namun sebuah benda tipis dan persegi jatuh dari sana. intan mengambil dan melihatnya, ia menyernyit kemudian mendongak menatap shifa dan Nabil bergantian.
"Kenapa ada KTP nya kak Shifa?"
-Bersambung
Jangan Lupa LIKE, KOMEN, and VOTE sebanyak banyaknya yah!
Terimah kasih😊
__ADS_1