
Tak hanya sampai situ, Nabil memiliki rencana konyol lagi untuk membuat syifa mengingati dirinya.
Seperti hari ini. Setelah beberapa murid sudah keluar dari TPA, pria itu mendekati motor syifa sembari menunggu pemiliknya keluar dari sana.
Hari itu adalah kali pertama syifa memakai motor ke TPA. mungkin karena ia tak mau lagi sampai nabil memiliki kesempatan berjalan bersama seperti beberapa waktu lalu.
Beberapa saat kemudian syifa keluar, gadis itu menyernyit melihat nabil yang menyelipkan sebuah kertas di kantong meticnya, ia mengampiri motornya dengan ingin memprotes.
“Nomor Hpku ada disini, klo kamu butuh sesuatu telpon aku saja,” jelas nabil sebelum syifa menyampaikan protesnya terlebih dulu.
Syifa mencoba menahan kesal, sebab beberapa anak yang masih berada di halaman TPA menatap mereka. ia mengambil kertas itu kemudian merobek nya. tanpa kalimat apapun Syifa menaiki motornya namun tanpa diduga nabil menarik tas selepang miliknya dan memasukkan beberapa kertas didalam.
“Simpan aja dulu,” kata nabil kemudian berbalik menghampiri motornya, ia tahu jika masih diam disitu pasti syifa kembali membuang kertas itu didepannya.
Namun saat ia berbalik tetap saja ia mendapati syifa membuang kertas itu, Nabil hanya bisa menghela napas berharap beberapa kertas masih terselip disana.
**
Seminggu sudah nabil tak pernah lagi menggangu syifa. meski pandangan mereka kadang bertemu saat nabil mengantar atau menjemput intan tapi keduanya saling memalingkan pandang.
Meski pria itu tidak mengganggunya lagi tapi syifa masih risih dengan sosok mistreius yang kadang kadang masih mengawasinya ketika pulang dari TPA.
Suatu hari, syifa pergi ke toko tantenya lebih awal sebab hari itu ada beberapa barang yang perlu dibereskan lebih awal. tapi ditengah perjalanan ia mendapat Operasi zebra.
Dan bodohnya syifa, ia menyimpan kartu sim dan berkas motor dirumah sedang polisi tersebut meminta KTP serta berkas tersebut.
Syifa semakin bingung bagaimana caranya ia meminta KTP pada nabil, sesaat kemudian ia teringat nomor pria itu. syifa mengotak atik tasnya dan berhasil menemukan 2 kertas yang masing masing panjangnya 4cm dengan isian angka berjumlah 12. ia segera menyalin nomor tersebut dan menelponnya.
Syifa memberi salam dan dijawab pria tersebut. ia memperkenalkan diri namun pria itu tertawa kecil.
“Kenapa telpon, sudah ada jawaban iya?” tanya nabil disela tawanya.
“Aku butuh KTP ku sekarang.”
“Kamu dimana?”
“Dipertigaan, ada operasi zebra disini.”
“lah, jauh banget! aku gak bisa.”
__ADS_1
Syifa menyeryit, jawaban nabil sungguh diluar ekspentasinya. ia menduga nabil akan senang membantu, sebab bukankah pia itu ingin mendekatinya?
“Katanya klo butuh sesuatu langsung telpoooon,” bisik syifa seraya mengeratkan giginya, ia berusa tidak memperdengarkan kekesalan pada polisi didepannya tersebut.
Namun yang terdengar hanya gelak tawa menyebalkan dari nabil.
“Masih ada lanjutannya, klo butuh sesuatu… telpon aku aja, tapi ada syaratnya.”
Meski sangat kesal tapi syifa mencoba menahannya, ia menghela napas sejenak.
“Syaratnya apa dulu?”
“Klo gue belum selesai ngomong, jangan langsung pergi, cuman itu kok.”
“Cuman itu…, dibalik itu pasti ada syarat yang lain” selidik shifa.
“Gk ada, gue cuman pengen lo tepatin janji, udah." bantah nabil, belum ada jawaban dari syifa, "klo gak mau ya sudah aku matiin, nih?”
“iya! iya!” sergah syifa, “bawa KTP ku sekarang, sekalian kamu kerumah maintain ke ibuku sim mototorku yg ada di laci bawah tv, cepetan! bentar lagi ibuku mau pergi.”
“Yaaa.. padahal aku mau pdkt sama camerku.”
Shifa berdecak, “klo telat kamu kesini, perjanjiannya batal!” ancam syifa kemudian memutuskan panggilannya.
Terlihat nabil berjalan menghampiri dengan senyum merekah tetapi yg membuat shifa terheran adalah senyum itu dibalas ramah oleh polisi disampingnya.
“Ponakan om udah gede,” sapa davik, polisi yang disenyumi nabil. pria itu memeberi tepukan bangga di pundak nabil “tapi penampilannya jangan berandalan nanti om tangkap kamu, loh”
Candaan polisi itu membuat nabil terkekeh kecil, davik sendiri adalah teman ayahnya namun persahabatan mereka terjalin sebagai saudara.
“Asal jangan dia aja, om.” nabil melirik wanita didepan davik, ia buru buru menyodorkan KTP Syifa sebelum pria itu memperanyakan siapa wanita yang sedang ia bela tersebut.
"Gak sempat aku singgah ambil suratnya. jadi gak apa kan, om? dia dilepasin?" pinta nabil "aku kenal dia, dia anak baik baik kok. gak mungkin nyolong motor orang.”
Bukannya mencurigai, davik justru mengulas senyum, “Pasti ada sesuatu ini.” godanya sembari memeriksa KTP syifa.
Sesaat kemudian ia mendongak pada wanita tersebut, “saya bebasin, kesalahan kamu cuman gak bawa surat suratnya. lain kali klo mau kemana-manq surat suratnya harus dibawa, nak.”
Shifa mengagguk, “iya, pak.”
__ADS_1
Polisi itu hendak mengembalikan KTP pada pemiliknya namun segera disambung oleh nabil.
“Biar aku yang kasi oom,” kata nabil.
Davik terkekeh, ia pergi usai menggoda pemuda yang sudah dia anggap sebagai ponqkan. karena madalahnya sudah selesai, syifa menaiki motornya.
“Eh, tunggu!” cegah nabil, “tepati janji. aku mau ngomong sama kamu.”
“Aku bakal tepati, tapi gak sekarang, aku buru buru.” syifa menarik pedal gas tanpa menunggu respons dari pria tersebut.
Nabil hanya menghela napas, ia menyesal tidak memberitahu syifa bagaimana perjuangannya bisa sampai tepat waktu. sebab sebelumnya ia kerumah syifa namun pintu itu sudah terkunci. jadinya ia haru putar balik lagi dan beruntung ia ahli dalam mengendarai jadi bisa menyalip beberapa Kendara.
Nabil kembali ke bengkelnya, ia memicing melihat wanita berseragam abu abu yg sangat ia kenali sedang duduk dengan sesekali melirik dion yang sedang mempres ban. pria itu terus berceloteh mungkin karena itu lia terus melirik sinis.
"Heh, adeknya Aska itu, jangan macam macam.” kata nabil seraya menghampiri mereka.
Mata dion langsung terbelalak menatap lia, “beneran kamu adeknya?” tak adanya jawaban dari lia membuat dion panas dingin. “aku cuman bercanda tadi itu ngomongnya..”
Lia hanya memasang wajah tak suka, melihat itu membuat nabil tertawa.
"Mampus kamu ndi, bakal dilaporin tuh!” ujar nabil seraya masuk kebengkel.
Terlihat dion terus membujuk lia. namun wanita itu hanya terus meminta agar motornya segera dibereskan. tak lama kemudian nabil kembali keluar dengan membawa 2 botol minuman dingin. ia menyimpannya dimeja samping lia kemudian mengambil alih pekerjaan dion.
“Anak sekolah nih, disuru buru buru juga.” omel nabil pada dion, ia berjongkok dan mulai mempres bannya sementara dion masih saja membujuk lia.
“Udah, masuk aja ndi. dia gak bakal laporin itu,” pinta nabil yang kasihan melihat kepanikan dion.
“Takut beneran gue.”
“Udah, gue jamin.” nabil medongak ke dion “lo urus sepedanya pak tejo, biar gue yang ini.”
Dion kembali menatap lia, “maaf yah deek. tadi cuman bercanda, sumpah,” ucapnya namun tak mendapat respon dari lia. ia memilih melakukan apa yg disuruh nabil.
Sepergia dion, tak ada pembicaraan yg terlontar dari keduanya. lia hanya diam memerhatikan pria yang kini focus memasang karet ban pada motornya.
Bersambung
bantu suport yah, kak. novelku ini😊
__ADS_1
Like, Komen, vote,bintang 5 dan kalau perlu monggo di share😊
assalamu alaikum.