Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Tak menyelesaikan masalah.


__ADS_3

Semenjak keberadaannya sudah diketahui semalam, syifa dan ibunya sudah memulai aktifitas sejak pagi.


Dan pagi ini Ia mulai kembali bekerja di toko. beruntung tante mirna tidak marah dan bisa mengerti keadaannya yang menghilang hampir seminggu. dengan begitu ia tak perlu menjelaskan pada teman kerjanya, termasuk nina.


Menghabiskan waktu hampir sehari ditoko memang menyenangkan, ia rindu kesibukan seperti ini tanpa rasa kawatir bertemu nabil, mengaggap pria itu pasti sudah barada dalam jeruji besi.


Namun sesampainya dirumah, Ia dikejutkan dengan keberadaan nabil yang sedang memohon restu pada ibunya yang menutup pintu, namun dibuka kembali karena Ibu menyadari kehadirannya.


"Syifa! suruh dia pulang! sampai kapan pun mama tidak mengizinkan kamu dekat denagnnya!”


Ujaran Ibu yang cukup keras menarik perhatian beberapa tetangga yang mulai menguping dibalik cela rumah.


Melihat kediamannha menjadi pusat perhatian, syifa lekas turun dari motor dan menghampiri sang ibu, "Maa, gak enak sama tetangga,” bisiknya.


"Kamu seharusnya gak enak sama papamu yang sudah tiada, Nak. ayah orang ini yang__”


"Maafkan semua kesalahan keluarga kami, Tante. saya akan menjauhi syifa jika benar ayah saya yang mencelai suami anda.” pangkas nabil yang memohon dengan berlutut dikaki wanita yang tak.mau menatapnya itu, “beri saya kesampatan untuk berbicara pada syifa.” lirihnya


Wanita hanya bergeming, ia tak tahu harus berakata apa lagi untuk menolak. semua kata kata sudah ia keluarkan pada pemuda tersebut.


“Maaa.., untuk terakhir kalinya, izinkan syifa menyelesaikan masalah ini. beri dia kesempatan untuk berbicara.”


Ana terperangah dengan permohonan putrinya, “tapi, Nak_"


“Mama tidak perlu kawatir. hati syifa tidak akan goyah, in sya allah." kata syifa dengan senyuman, ia mengagguk pada ibu meyakinkan wanita itu agar tak khawatir, hingga akhirnya ibu menghela.


"Ibu pegang kata katamu, Nak." ucap Ana kemudian masuk dalam rumah.


Nabil segera berdiri dan memghampiri syifa, namun wanita itu memperlihatkan telapak tangan, melarang ia mendekat.


“Gak disini, Bil” kata syifa, “tunggu aku di taman." lanjutnya kemudian masuk rumah dan menutup pintu.


**

__ADS_1


Sesuai permintaan, sudah hampir sejam ia setia menunggu wanita itu datang. di detik detik lelahnya ia menunggu akhirnya wanita itu sudah terlihat menghampiri.


“Aku tidak ingin berlama-lama, Bil. langsung saja katakan apa yang kamu rasa penting,” Ucap syifa usai mereka berhadapan.


Nabil mencoba menarik senyum melihat sikap tegas syifa, "Aku sudah menemukan titik terang, Fa. aku sudah tahu siapa yang mencelakai ayahmu.”


Binar bahagia saat mengungkapkan titik terang pupus ketika syifa hanya menatap hambar. ia kecewa dengan ekspresi wanita itu tapi tak mampu membalas kesal.


"Kita bisa bersama tanpa kendala masa lalu, Fa” pekik nabil, perlahan matanya menatap sendu, “berjuanglah sedikit lagi, Fa. beri aku semangat untuk meyakinkan ibumu.”


"Yakinkan hatimu dulu, Bil. aku terlalu kejam untukmu.”


Nabil menggeleng, “aku terlalu yakin dengan naluriku, Fa. jika memang Allah tidak menakdirkanmu untukku, lalu mengapa Dia tak pernah menggoyahkan hatiku dalam lelah mencarimu.”


“Bisa jadi Allah menuntun karena aku adalah pengantar taubatmu, bukan partner ibadahmu.” balas Syifa.


Kali ini keduanya diam dalam tatapan yang paling terdalam. menghayati setiap keyakinan yang ditanam pada diri masing masing. hingga akhirnya wanita itu berpaling.


“Perasaamu tak bisa ku balas kali ini, Bil.” Lirihnya dalam tunduk, “ada wanita yang lebih mencintaimu, lebih membutuhkanmu. dia akan membalas rasamu lebih indah dari yang pernah ku berikan." syifa mendongak, "Saat ini dia berjuang untuk harapan, menunggu janji itu tertunaikan darimu."


"Iya aku tahu aku salah! itulah sebabnya aku ingin mengehentikan semuanya, Bil." tukas syifa, "tetaplah disamping Lia, kumohon."


"Aku setuju berada didekatnya! tapi bukan berarti aku rela menjauh darimu, Fa."


Syifa memejamkan mata, meski begitu nabil hanya bisa menatap. ia tak tega, tapi keputusan sepihak wanita itu membuatnya kesal.


Perlahan bulir air mata mulai berjatuhan dipipi syifa namun segera di usapnya. ia kemudian merogoh sesuatu dalam tas selepang miliknya. sebuah buku yang tak pernah terbesik dipikiran syifa untuk mengenbalikannya namun keadaanya membuat ia harus iklas memberikan pada pemiliknya, perlahan tangannya terulur.


”Ambillah, Bil. dia lebih baik dariku. aku yakin Allah sedang menyusun recana baik dalam kisah kalian.”


Nabil hanya melirik buku itu, “tidak ada kisah yang lebih baik selain dua insan yang saling mencintai karena Allah, Fa.” ucapnya kemudian.


"Jika kau berada disampingnya, rasa itu akan tumbuh, Bil.” balas syifa, “cinta hadir bukan hanya dari scanario kisah lama, cinta bisa hadir karena terbiasa. seiring waktu pasti kalian akan mencintai.”

__ADS_1


Nabil tersenyum masam, ”seiring waktu?” tanyanya, “sebentar lagi dia akan mati, Fa.”


“BIL!” sentak syifa yang tak suka dengan pernyataan Pria itu, “kamu sadar apa yang kamu omongin?”


Nabil menggeleng geleng, “Aku gila, Fa! aku sudah tidak bisa berfikir bijak lagi sejak mengikuti rencana tidak masuk akal mu itu!"


Syifa menyernyit ketika Pria yang tadi meluapkan emosi kini tertawa pedih.


“Karena gadis penyakitan itu, kamu ngejauhin aku ya, Fa?”


Syifa masih bergeming.


“Ok! klo memang 'dia kendala kisah kita.. aku bakal hancurin semuanya! aku bakal kasih tahu ke lia, bahwa semua perlakuan baikku selama ini hanya sekenar mengikuti rencanamu!”


“Bil! kamu gila!?” hardik syifa, “ku mohon jangan katakan itu ke Lia!”


"Iya, aku memang sudah gila!" balas nabil menatap tajam wanita itu, “kamu tega melukai perasaan orang yang kamu cintai. apa alasanmu melarangku melukai perasaan orang yang tidak ku cintai, hem?”


Syifa menunduk menghindari tatapan mengintimidasi itu, "Tapi Lia..."


“Tapi dia sakit, iya!? dan sebentar lagi akan mati, iya!?" sembur nabil, "terus saja seperti itu, Fa. terus saja anggap dirimu bagai tuhan yang membengkokkan takdirku!”


Syifa hanya meraung tangis mendengar tampikan pria itu. ia sungguh ketakutan dengan nabil yang membentaknya. ia hanya ingin Pria itu menolong Lia, itu saja.


Melihat syifa yang ketakutan membuat nabil menghela, ia menenangkan dirinya kemudian kembali menatap.


“Faa.., bukan urusanmu mengatur kisah orang lain. itu adalah tugas Allah, dia yang kuasa. bagaimana pun kamu menganggap dirimu sudah dekat pada-NYA.. tetap kita adalah makhluk, mahluk lemah yang tak bisa menyamai-NYA.”


"Ku harap kau tidak lagi ikut campur degan kuasa Allah, Fa. biarkan semua berjalan sesuai rencananya, meski aku percaya ini sudah menjadi bagian takdir yang tertulis di lauhu mahfuz. kita hanya perlu menjalaninya dengan do'a, tak perlu ikut menyusunnya.”


Percikan hujan yang mulai berjatuhan di atas rumput hijau yang dipijaknya mulai basah, beberapa orang di taman itu mulai mencari tempat bertedu, namun tidak untuk mereka.


"Pulanglah, Fa. aku tidak mau kamu sakit,” Nabil melepaskan jaketnya kemudian mengenakannya di bahu syifa, “aku akan menyelesaikan semua masalah kita.” ucapnya lagi kemudian pergi.

__ADS_1


Saat itu juga syifa mendongak, “Bil! kamu jangan nekad bongkar itu ke Lia!!” teriaknya pada Pria yang sudah berjarak 5 meter, namun sama sekali tak membuat Pria itu berbalik.


-Bersambung.


__ADS_2