Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Lewat Do'a


__ADS_3

Hari esok menyapa, siang ini Syifa kembali ke rumah sakit. ia mendapati Aska sudah diperbolehkan memasuki ruangan Lia dengan Syarat menggunakan pakaian hijenis dari RS.


“Udah lama, Fa?” tanya Aska ketika keluar ruangan.


“Baru,” jawabnya memandangi wajah Aska yang babak belur, “gimana keadaanmu, Ka?” pertanyaannya membuat Pria itu tersenyum hambar.


“Aku berharap alasanmu kesini bukan sekedar menanyai keadaanku saja, Fa,” kata Aska, “Aku takut, kawatirmu semakin membuatku membesarkan rasa,” lanjutnya.


Syifa menunduk, “Aku hanya merasa bersalah mengajakmu dalam masalahku.”


“Masalahmu saat ini.. masalahku juga, Fa," balasa Aska membuatnya mendongak, "ini adalah lingkarn masalah kita bertiga.”


Syifa mengagguk, “gimana keadaan Lia, sekarang, Ka?” tanyanya menoleh cendela.


“Keadaannya masih koma," kata Aska, "tapi Aku melihat air matanya tadi pagi, ketika mebacakan Al-Qur'an padanya."


Syifa ikut tersenyum, “Dia mendengarkanmu, Ka. terus lakukan itu ketika disampingnya. ayat al-quran adalah penyembuh.”


Binar bahagia di wajah Aska pelahan berubah serius menatapnya, "kalau kamu tidak keberatan, bisakah Kamu yang melantunkannya saja, Fa?”


"Bacaanku masih berantakan," lanjutnya menjawab tatapan Syifa, "Aku takut semakin ia mendengarkan, semakin buruk keadaannya. apalagi itu seorang pendosa sepertiku. klo Kamu 'kan..."


“Ka,” sela Syifa, “gak ada bacaan Al-Qu'ran membawa kesialan. semuanya bermanfaat berdasarkan niat masing-masing. entah itu yang membaca, atau yang mendengarkannnya.”


Aska tersenyum getir, ia memilih duduk di kursi.


“Aku yakin. teman-temanmu pasti bangga melihatmu yang sekarang."


Aska tersenyum masam, “Kamu tahu betul bagaimana pergaulanku, Fa. kebanyakan dari mereka tak suka perubahan. mereka malah akan menjauhiku."


“Tapi ada Allah yang bersamamu," sergahnya membuat pria itu menatap, “jika mereka menjauhimu... itu artinya Allah ingin lindungin Kamu, Ka."


Aska memalingkan pandang bersama dengan helaan. ia sendiri tidak yakin dengan dirinya, bisakah ia menjadi pribadi baik setelah mendapat kenyataan, tak ada harapan bersama pujaannya?


“Mampukah Aku? sedang kamu alasanku untuk lebih baik, Fa.”


“Jangan ragukan kuasa-Nya, Ka. jika Allah menghendaki untuk meluruskan hati.. maka Dia akan meluruskannya. kamu akan di arahkan pada orang-orang yang baik, selagi Kamu masih ingin berada di jalan-Nya.”


Aska mendengus, “Aku sendiri tidak yakin terhadap diriku, Fa. apakah Aku masih bisa bertahan,“ ia menatap Syifa “karena orang baik yang kuharapkan membawa kebaikan itu..., malah menyuruhku menjauh.”


Syifa diam sesaat, memahami siapa yang di maksud Pria itu, “masih banyak orang baik yang bisa mengantarmu lebih baik, Ka. tidak harus dengan wanita seegois diriku.”


Aska berusaha tersenyum, ia memilih menatap hambar ke depan, "sekarang agamaku melarang berharap pada mahluk-Nya. lantas, apa yang harus Aku lakukan agar ada harapan bersamamu?"


"Lewat do'a.“


Aska dibuat terkejut dengan balasan Syifa atas gumanannya. ia menatap meminta penjelasan.


“Aku iklas, namaku berada dalam do'amu," kata Syifa, "coba pinta Aku pada-nya. jika kita memang ditakdirkan, maka Allah juga akan menggetarkan hatiku.”

__ADS_1


Aska masih diam diantara bahagia dan terkejut, membuatnya mematung.


“Aku nyaman kita seperti ini, Ka. tapi Aku juga takut melampauihi kehendak-Nya. Dialah dzat yang mengatur. Dia yang maha membolak balikkan hati. dan hatiku dikuasai olehnya.”


“Kamu memberiku kesempatan?” akhirnya kalimat itu berhasil Aska lontarkan.


“Akan Aku beri, jika Allah menuntun hatiku padamu lagi, Ka. Aku hanya ingin memberimu semangat. Aku tidak ingin seseorang melepas kepecayaannya lagi hanya karenaku.”


Setidaknya kalimat Syifa memberi sedikit angin segar dan kekuatan pada Pria tersebut. ia mendongak, melisankan syukur dan meminta agar Allah memantapkan hatinya agar bisa menerima apa yang sudah ia jalani.


“Wahai dzat yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.”


**


Sudah beberapa hari ini Syifa tidak melakukan rencana apapun. Aska belum pulih, sementara Nabil juga tak pernah ia temui. tapi foto yang diambil Aska masih ia simpan sebagai alat, menunggu tante sarah pulih kembali.


Syifa melakukan.aktifitasnya seperti biasa. dari pagi menjelang duhur, ia menemani Lia. dan setengah harinya lagi ia habiskan dengan berjualan online dirumah. namun sore setelah ashar ia mendapat ajakan Nina berjalan jalan ke taman.


Setelah puas, Nina pun pamit lebih dulu. sementara ia masih menetap mengedit Foto untuk bisnis onlinnya.


“Kak Syifa!"


Suara Anak kecil membuat ia mendongak, bibirnya menyebik menyadari itu adalah intan. ia tak akan menghindar jika saja tak ada nabil disana. namun sayang, Pria itu ada dan menghampiri bersama intan.


“Assalamu alaikum, Fa," sapa Nabil.


“Jalan yuk, Kak?”


Syifa segera memasukkan ponselnya dalam tas kemudian menatap iba anak itu, “Maaf yah, intan. tapi kakak udah mau pulang.”


"Katanya Aku boleh anggap Kak syifa kakak, tapi kenapa Kak syifa nolak? padahal klo Kak nabil Aku ajakin jalan, mau!" celetuk intan.


Syifa hanya bisa menyebik, menyesali perjanjiannya malam itu. ia serba salah.


“Aku tidak akan berjalan disamping kalian, Fa. Aku cuman ngawasin kalian dari jauh," Nabil tahu apa yang dikawatirkan Syifa, “meski Aku ingin, tapi aku berjanji tidak akan membahasnya di pertemuan kali ini.”


Syifa mengedarkan pandangan hampir ke seluruh taman, memasktikan tak ada mamanya. setelah yakin, ia tersenyum menatap intan.


“Yaudah, yuk! Kita mau kemana?”


“Hore!” Intan melompat riang, “kemana aja asal sama Kak syifa.” ia bergelayut manja di lengan wanita itu.


Syifa kembali menyedarkan pandang dan berhenti di Mas es corn, "disana!" usulnya, mereka pun pergi sementara nabil duduk memerhatikan kedekatan mereka.


Setelah Es corn siap, Syifa mengajak intan mencari tempat duduk. intan sangat menikmati kebersamaan itu, tawa Syifa pecah ketika wajah anak itu belepotan. namun keceriaannya berubah murung ketika mendengar harapan intan.


“Aku mau jalan terus kek gini. sama Kak syifa, se.. la..maanya," seruan intan mendapat usapan dari syifa,


"Kan ada Kak nabil," hibur Syifa namun anak itu melesuh.

__ADS_1


“Sekarang klo jalan sama dia kayak patung, gak ada ceria cerianya. dirumah juga gitu," adu intan.


“Aku pernah di marahin juga karena main di kamarnya. tapi Kak nabil tambah marah pas Aku tunjukin pelastik kecil yang isinya tepung.”


"Tepung?"


Intan mengagguk angguk, “padahal cuman bubuk. tapi dipertahanin sampai marahin Aku. mau Aku aduin ke bunda juga malah semakin marah."


“Sampai segitunya?”


Intan menggauk, “barang apa yah, Kak? pakai pelastik yang modelnya kayak tempat acar martabak, tapi ukuranya lebih kecil. terus pas Aku buka…”


“Kamu sempet buka?” Syifa tahu, barang apa yang berusaha dijabarkan anak itu.


“Cuman Aku hirup, tapi kepaku pusing.” intan memicing mengingat apa yang ia rasakan waktu itu, “atau jangan-jangan, itu seperti obat terlarang yang menyebabkan ayahnya humairah meninggal?”


Syifa coba mengingat salah satu muridnya yang bernama humairah, namun keluar dari TPA karena pindak kota.


“Soalnya keras banget, Kak.” lanjut intan.


"Tahu dari mana klo obat seperti itu keras?”


“Dulu, humairah sering cerita tentang ayahnya yang tiba tiba masuk ke kamar usai berantem dengan ibunya. pas dilihat, ternyata ayahnya pakai obat seperti bubuk. ibu humairah mau buang, tapi malah dimarahin sama ayah humaira. humairah nangis liat mereka berantem, Ka."


"Terus?"


"Sebelum ayah humairah meninggal, humaira ikut sama ibunya dengerin perkembangan ayahnya dari dokter. dan kata dokter, ayah humairah overdosiai karena obat keras."


Intan tiba tiba menunduk, “dan barang yang aku temukan di kamar kak nabil, ciri cirinya sama persis yang dikatakan humairah.”


Syifa lekas mengusap punggung intan, "apa kamu beranggapan jika kakakmu menggunakan obat yang sama seperti ayahnya humairah?”


Intan mendongak untuk menggeleng, “kata humairah, ayahnya menggunakan itu karena ada masalah." intan membuang eskrimnya yang meleleh kemudian membersihkan tangan pada bunga disamping.


“Aku, mama sama papa menyayangi Kak nabil. kami keluarga yang bahagia. tidak mungkin Kak nabil memakai barang seperti itu.”


“Intan,” panggil Syifa, “orang yang menggunakan barang sepeti itu tidak selalu karena masalah keluarga. banyak yang menggunakannya karena tidak percaya diri. ingin coba coba, dan juga pergaulan yang memaksanya memakai."


“Tapi Kak nabil orangnya percaya diri. dia juga pintar dan tahu mana yang harus di coba dan enggak.” bantah intan.


“Tapi Kamu tidak mengenali semua teman-temannya 'kan?”


Pertanyaan syifa membuat mata intan memupuk cairan bening. ia mendongak menatap wanita itu.


“Apa Kak syifa sekarang menggap Kak nabil penjahat?” tanyanya dengan isakan, “apa karena itu Kak syifa menjauhi Kak nabil?”


-Bersambung.


Mohon bantu supportnya, yah!😊

__ADS_1


__ADS_2