Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
kabar buruk


__ADS_3

Halaman rumah sudah tergenang air tapi hujan masih saja mengguyur. saat ini Ia berada depan candela, menatap hambar jalanan aspal yang terhujani.


Mukenah masih membalut tubuhnya usai melaksanakan sholat isya. perasaan yang sedang gelisah membuat iya nyaman dengan posisinya. masih teringat jelas ancaman pria itu tadi sore.


Bagaimana jika nabil benar-benar nekat memberitahu itu pada Lia?


Aska?


Satu nama yang mungkin bisa menenangkannya, ia mengambil ponsel dan menghubungi Pria itu. setelah terhubung, ia langsung menceritakan semua pada Aska dan menyarankan Pria itu untuk terus berada disamping Lia dan tidak membiarkan nabil menemui Lia. namun Pria itu justru membalas agar dirinya tak perlu khawatir.


**


Perlahan mentari pagi mulai menyingsing daerah malang, hujan kemarin ternyata menciptakan kesegaran dalam lingkungan.


Namun sebelum mentari itu bersinar, seorang Pria bertopi sudah berada dalam parkiran rumah sakit. setelah dirasa sudah waktunya, ia kemudian masuk menuju ruangan Lia.


Setelah sampai di tujuan, Pria itu mengintip kakak beradik yang sedang bertengkar. terlihat aska memaksa Lia untuk sarapan, namun gadis itu menolak dan mendorong tangan aska yang menyodorkan segelas air.


Decak!!


Gelas berbahan kaca transparan itu pecah berserakan di lantai bersama isinya, Aska lansung menatap kesal adiknya.


“….Lia! berhenti persulit kakak!” bentak aska yang sudah tak tahan dengan sikap lia yang sengaja menyiksa diri.


Gadis itu menunduk, menyadari jika selama ini ia menjadi beban, “kalo Kak aska sudah capek jangain lia... bilangin sama Allah klo lia lebih capek jalanin hidup kek gini!”


Kemarahan yang tadi menggebu pudar ketika mendengar kalimat adiknya. iya, saat ini gadis itu sedang diambang putus asa. sikapnya yang kadang berubah ubah membuat ia juga tersulut emosi hingga lupa dengan keadaan sang adik.


Aska menghela berat, menenangkan diri dengan mengingat pesan dokter padanya untuk lebih sabar. ia menatap lia sejenak kemudian memunguti pecahan beling dan ditarunya didalam pelastik. setelah dirasa semua beling terangkat, ia keluar untuk membuannya sekaligus mencari kain lap.


Melihat Aska yang keluar, Pria bertopi itu beralih ke kursi, berpura pura memainkan ponsel. ia segera berdiri dan masuk keruangan lia usai aska menghilang di ujung koridor.


Lia masih menunduk, wajahnya perlahan mendongak ketika mendengar langkah kaki mendekat, “Aku minta maaf klo selama ini_“ kalimatnya terpangkas mengetahui yang datang bukanlah Aska melainkan seseorang yang ia nanti kehadirannya.


"Kak nabil," ucapnya tercekal menatap sendu Pria bertopi hitam itu.


**


Treeet!


Getaran disaku celana membuat Aska segera membuang pecahan beling ke tong sampah. ia merogo ponselnya dan mengangkat panggilan dari syifa.


“Assalamu alaikum, Fa. ada apa?”


“Walaikumussalam. ngga apa kok, Ka. Aku hanya kawatir sama Lia. hari ini dia apa kabar? gimana perkembangannya?” Syifa mendengar hembusan napas dari Pria itu.

__ADS_1


"Makin buruk, Fa. dia gak mau makan, emosinya makin hari makin gak stabil. aku gak tahu harus ngadepin dia kek gimana," gusar Aska.


“Kamu lagi jalan?” Tanya Syifa mendengar ketukan langkah.


“He'em” balas Aska.


“Kamu jangan sampai biarin lia sendiri disana, Ka. aku takut kalau…”


“Dia gak bakal lakuin itu, Fa…” pangkas Aska, “meskipun Aku tahu lia adalah penghalang besar bagi Nabil, tapi Aku yakin, dia masih punya hati. pasti mengerti kondisi lia.”


Tak ada tanggapan dari syifa. karena di seberang sana wanita itu tetap saja dirundung kecemasan. takut, dan khawatir.


“Aku tutup dulu yah, Fa. Dokter Rika nelpon.” kata Aska ketika mendapat panggilan masuk dari seorang yang menagani adiknya. setelah nada sambung berakhir, aska.langsung menggeser tombol hijau untuk Dokter Rika.


"Astaga Lia!"


Aska segera menutup telpon dan berlari keruangan adiknya usai mendapat kabar dari Dokter mengenai kondisi Lia. langkahnya mematung ketika melihat lia yang berada diatas berangkar keluar dari ruangan didorong oleh beberapa perawat termasuk dokter rika.


Sementara ditempat lain, meski sudah mendengar kabar kalau lia baik baik saja dan belum bertemu nabil, lantas tak membuat syifa merasa tenang.


Disela perkerjaannya ia terus berdzikir menerka penyebab jantungnya terus berdetak cepat, jika ini bukan lia atau ibu, lalu siapa?” batinnya penuhTanya. apa itu nabil?


Treet!


“Halo, Bil? kamu kenapa? kamu baik-baik saja 'kan?” spontan kalimat itu terucap usai menggeser penerimaan panggilan.


"Khawatir yang kau tunjukan salah tempat, Fa. seharusnya itu untuk kakak beradik yang sedang berduka disana.”


Deg!


Mata Syifa langsung melotot mendengar pernyataan nabil. ia ingin menangkal praduganya namun untuk apa jika itu benar terjadi.


"A-apa maksud kamu, Bil?” tanyanya bergetar.


“Baru saja aku menyelesaikan misi yang ku janjikan kemarin, Syifa... orang yang menjadi alasanmu ingin mengakhiri kisah ini, dia sudah tahu semuanya. Lia sudah tahu tentang kita, kau dan aska. dia sudah tahu klo itu hanyalah rencana demi kelangsungan hidupnya.”


Syifa mematikan ponsel dan segera turun ke lantai satu. langkahnya yang memburu membuar nina mempertanyakan, namun ia mengabaikan dan memilih keluar toko menuju RS.


Bulu mata yang sudah basah dalam perjalanan itu masih saja memupuk cairan bening, perasaannya penuh dilema dan kekawatiran. ingin rasanya menghampiri pria yang menjadi penyebab sesaknya, ingin memaki dan menyalahkan. tapi disisi lain ia sangat kawatir dengan kondisi lia, apalagi Aska tak mengangkat panggilannya.


Setiba di rumah sakit, ia langsung menuju keruangan lia, namun ruangan itu kosong hanya ada seorang clinik servise yang sedang membersihkan lantai. mata syifa melototi bercak darah yang berada di lantai dekat brangkar.


Syifa menghampiri petugas itu, "maaf, mas. lihat pasien yang sebelumnya di rawat disini?"


"Pasien atas nama Lia?" tanya petugas itu dan mendapat anggukan cepat dari syifa, "dipindahkan ke UGD, Mba. tapi saya gak tahu di UGD bagian mana. yang saya denger pasien mencoba buduh diri dengan melukai tangannya."

__ADS_1


"Astagfirullah!"


Tanpa sepatah kata pun, syifa bergegas ke resepsionis menanyakan bagian UGD tempat Lia dirawat. setelah mendapat alamat, ia langsung menuju ruangan itu.


“Stadium empat, Dok!”


Dua kalimat yang terucap dari mulut Aska seketika melambatkan langkanya. “Kaa..?"


Aska menoleh pada wanita yang berjarak.3 meter, “Syifaah” balasnya dengan hembusan napas yang memilukan. matanyanya mulai memupuk cairan bening kala mengingat pernyataan Dokter Rika yang baru saja memvonis adiknya sudah terkena kangker jantung di tahap akhir dan sekarang mengalami koma.


"Adikku, Faa...” akhirnya air mata itu jatuh.


Syifa lekas menghampiri dan mengusap punggung Aska yang berbalut jaket bomber, "Sabar, Ka." Hanya dua kata itu yang mampu ia ucapakan saat ini. ia mengerti apa yang dirasakan Pria itu.


"Untuk saat ini pasien tidak bisa ditemui, kalian hanya bisa mengontrolnya dari ruangan saja. ada benturan keras yang juga menghantam kepalanya.” jelas Dokter Rika kemudian berlalu pergi usai meminta tetap berdo'a.


Aska menoleh ke cendela yang memperlihatkan keadaan adiknya. dirasa puas menata menatap, ia beralik duduk dikursi karena tak mampu berdiri tegak.


Syifa lekas mengampiri ketika melihat aska menunduk dengan tangisan lirih, "Ka..?"


"Jangan bicara apapun, Fa,” pinta aska tanpa mengubah posisinya, “biarkan aku sendiri,” lanjutnya.


Namun sepertinya permintaan itu tak membuat syifa menuruti. “semua ini karena nabil, Ka. maafkan aku karena melibatkan…”


“Ku bilang jangan bahas apapun!”


Bentakan Aska membuat syifa terkejut. kedua mata mereka saling memandang menunjunkkan kesedihan, penyesalan dan permohonan.


"Tapi, Ka.."


"Kalau kau masih ingin disini, kumohon diamlah, Fa! tapi jika kau ingin menuntun sesuatu, pergi saja. ini bukan saat tepat untuk berbicara.” tampik Aska dan kembali menunduk.


Meski menyakitkan, tapi syifa mencoba tak mengambil hati sikap Pria itu. "Aku pergi saja, Ka.” katanya kemudian, “nanti aku kembali”


Tak ada tanggapan dari Aska, ia menyebik dan meninggalkan Pria itu usai memberi salam.


Nabil, iya, tujuannya kali ini adalah pria yang menyebabkan kerusuhan sepagi ini. Syifa sudah menyiapkan alasan atas marahnya. menabung air mata untuk. ia tumpahkan didepan pria tersebut.


Bukan hanya aska, Ia pun ingin memaki dan menyalahkan pria tersebut bahkan benar benar ingin mengakhiri semua dramanya sebab rahasia yang ia takutkan sudah diketahui Lia.


-Bersambung.


Mohon Supportnya ya, temen temen.


bisa Follow @airaannur_ biar lebih dapat feelnya, hehe.

__ADS_1


__ADS_2