Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Mencari bukti.


__ADS_3

Setelah mampir ke toko, Syifa berniat ke bengkel ingin menyampaikan sesuatu pada Nabil. namun ditengah perjalanan motornnya mendadak mati.


Jalanan sepi, hanya segelintir orang yang melewati jalan yang memisahkan sawah tersebut. ia terpaksa medorong motor, baru beberapa menit roda berputar sebuah motor Sport berhenti disampingnya.


“Kepapa, Fa?”


Syifa menoleh menyadari itu adalah Aska, “bensinnya habis, Ka.” jawabnya sembari memasang standar.


“Ooo.., tunggu Aku disini aja. aku beliin bensin di depan,” Aska hendak menarik tuas gas namun terjeda saat melihat Syifa menghalau sinar matahari dengan tangan.


"Pakai ini, Fa.” dengan masih berada di atas motor ia menutupi ujung kepala wanita itu dengan jaket yang baru ia lepaskan.


Syifa terkejut, tapi sayang jika menolak, sebab ia membutuhkan pelindung di lingkungan tak berpohon tersebut.


Usai menatap kepergian Aska, Ia membenarkan posisi jaket itu di kepalanya. wangi yang sama membuatnya teringat kenangan masa lalu bersama pria itu. namun Syifa segera menepis ketika melihat kaca spion yang memantulkan sosok Pria dengan motor sport hitam mendekat dan berhenti.


"Motormu kenapa?” Nabil bergegas turun menghampiri, namun langkahnya merambat ketika melihat kain yang menutupi kepala Syifa, “Dia kemana?”


Syifa menoleh sejenak, “beli bensin.” jawabnya tak acuh.


Jawaban singkat Syifa seolah menunjukkan ketidaknyamanan wanita itu dengan kehadirannya. Namun bukannya berpaling, Nabil justru mundur menyandarkan diri di motor Sportnya dan kembali menatap dengan melipat tangan ke dada.


Sangat risih dengan tatapan Nabil yang sulit ia jabarkan. “jangan melihatku seperti itu, Bil.” pinta Syifa kemudian menunduk, “aku tidak nyaman.” lanjutnya namun sama sekali tak dihiraukan nabil.


Cukup lama Pria itu menatap membuat Syifa semakin gugup dan habis kesabaran. ia melepaskan jaket yang tadi digunakan menutupi wajahnya.


“Hentikan itu, Bil!” sentak Syifa.


“Kamu yang seharusnya menghentikan semuanya, Fa!” balas Nabil kemudian menghampiri Syifa membuat wanita itu mundur bersandar dimeticnya.


“Apa gunanya melukai perasaanku jika Kamu juga merasakan hal yang sama.” bisik Nabil usai menyisakan jarak sejengkal.


Syifa menyernyit ketika Nabil perlahan menarik jaket yang ia genggam, “jangan menggunakan barangnya jika kamu tak ingin melihatnya lebih menderita, Fa.” kata Nabil seraya membuang jaket itu.


“Apa maksudmu?” tanyanya panik.


Nabil tersenyum masam, “Aku turut berduka dengan kondisi Lia. tapi yang perlu kamu ketahui adalah, tidak sepenuhnya itu salahku. keadaan Lia semakin parah karena Aska. kepalanya terbentur karena lantai licin yang disebabkan Aska."

__ADS_1


Entah dari mana pria itu tahu, tapi penjelasannya justru membuat Syifa terdiam. apa penyebabnya sunggu Aska? belum sempat ia berkata, suara bising klakson membuat jarak diantara keduanya. Itu adalah Aska, Syifa segera membuka bagasi ketika pria itu turun dan membawakannya sebotol bensin.


“Ngapain Loh kesini? Tanya Aska cuek seraya menumpahkan sebotol bensin itu.


Nabil tersenyum masam, “Gue cuman sampaein ke Syifa, klo Lo yang sebenarnya buat keadaan Lia semakin parah 'kan?"


“Kau_“


“Ka, Ka. udah, Ka.” Syifa menurunkan lengan Aska yang hendak memukul dengan botol kaca yang sudah kosong itu. "Kita harus buru-buru, nanti yang jaga KUA keburu pulang.”


Pernyataan Syifa membuat Nabil bahkan Aska menatap bingung.


“Kalian mau kemana?” Tanya Nabil.


“Ayo, Ka.” ajak Syifa, ia mengambil jaket Aska dan memeberikan pada pemiliknya.


“Kalian mau kemana?!” sentak Nabil ketika tak mendapat jawaban, justru 2 orang didepannya bergegas pergi. ia coba menghalau motor Syifa, "Fa? Kalian mau apa di KUA?”


Syifa menghela kemudian menatap mata pria yang terlihat panic tersebut, “Kami akan mendaftarkan diri untuk menikah.”


"Aku gak percaya.”


“Terserah!” Syifa hendak menarik tuas gas namun ketika menyadari sikap Nabil yang berbeda membuat ia mengurungkan menatap heran.


Nabil beberapa kali memejam seakan meyadarkan diri. wajahnya semakin pucat dan keringat dingin mulai berkucur. sesaat kemudian ia pergi ke motor dengan langka sempoyongan dan meninggalkan lokasi.


Sementara 2 insan yang tersisa hanya menatap. Aska sudah mengetahui kenapa Nabil bersikap seperti itu. ia kemudian menatap Syifa ketika wanita itu memanggilnya.


“Dia bakal make, Ka?” pertanyaan Syifa mendapat anggukan Aska. "bisa sekarang kita mulai rencananya, Ka?”


Aska terdiam, ini adalah kesempatan menjebak nabil, tapi ia juga memeikirkan Lia.


"Kamu tenang aja soal Lia, Aku yang akan jaga Dia. kita ketemu disana, dan pastikan kamu dapat buktinya.”


Mendengar itu, Aska segera menarik tuas gas dan mengikuti Nabil.


**

__ADS_1


Di sebuah perumahan sederhana menjadi tujuan Nabil, ia segera turun dari motor dan menusuri gang kecil. tanpa disadari ada sepasang kaki yang mengikuti. pria itu berjalan cepat didepan sebuah rumah sederhana yang tanpa teras. Nabil mengetuk pintu dan sesorang bertubuh kurus membukanya, ia kemudian menutup pintu usai memastikan tak ada yang mengikuti.


Sayangnya, Aska stanbay disana. Pria itu mengambil bebearpa gambar Nabil. Aska coba mendekat kerumah itu untuk memastikan gambar yang lebih bagus. bukti jika Nabil terlibat dengan Narkotika.


Namun di tengah mendekat ke cela candela, seseorang menarik kaos belakangnya.


“Dio?” betapa terkejutnya Aska bertemu dengan salah satu teman lama yang dulu ia jebak.


Bug!


Aska sampai tersungkur mendapat pukulan dari Pria bernama Dio itu.


“Lo ngapain kesini, HAh!?” Sentak Dio kemudian mendorong Aska ke dinding


“mau jebak Kita lagi? iya!?”


Bukan hanya Nabil yang dulu Aska jebak, banyak teman yang ia jebak untuk melindungi diri dari kejaran polisi, termasuk Dio.


“Di, Di. Lo tenang dulu,” Aska berusaha melepas cengkraman Dio karena sulit bernapas. namun Pria itu justru menatap layar ponsel Aska dan semakin marah ketika melihat foto nabil disana.


“Bajingan Lo!” sekali pukulan Dio layangkan lagi, “gak tau terimah kasih! beruntung kita gak bongkar klo Lo juga pemakai. tapi apa balasnya?lo mau jebak temen Lo, lagi!?”


Aska tak berdaya ketika Pria itu mendorongnya ke lantai. sekuat tenaga ia coba bangkit menyandarkan diri ke tembok, “Gue udah berenti,” katanya seraya mengusap darah dibibir. “Gue gak lagi jebak Dia. Gue cuman cari bukti klo Dia pemakai!”


Dio berdecak, “buat apa Lo cari bukti klo gak buat jebak Dia, sialan!”


Aska coba berdiri, "karena ada Cewek yang harus gue bantu. dan gue Cuma butuh foto, ini,"


Aska mengambil ponselnya kembali dan coba untuk pergi, namun Dio menarik bahunya. namun mampu Ia tepis dan balik memutar tangan Dio sampai Pria itu meringis.


“Gue udah bersih. gak ada alasan Lo buat jerat Gue. tapi Gue punya banyak bukti buat jerat Lo kembali,” kata Aska mebuat Dio berhenti melawan. “biarin Gue pergi, klo Lo gak mau berurusan lagi dengan polisi.”


“Sialan!” Dio menarik tangannya ketika Aska melonggarkan cengkraman, “bajingan Lo jadi teman!” teriaknya meyertai langkah Aska yang sudah pergi.


-Bersambung.


Sekali lagi Autor minta Supportnya dong, dari kalian. bantu Share, Like, Komen, dan apapun itu yang bisa membuat cerita ini mendapat pembaca setianya. terima kasih. assalamu alaikum.

__ADS_1


__ADS_2