
Hari sudah berganti. sebelum fajar terbit,
pria yang sampai sekarang menagggap dirinya korban kini berkendara di jalan sunyi. mata tajam di balik helm furniturnnya tak menunjukkan dendam sama sekali. padahal jika dilihat rencana syifa semua bisa melihat bagaimana tega wanita itu.
Ia hanya tak mengerti dengan cara pikir syifa. mengaku saling mencinta tetapi seakan ingin menumbuhkan kebencian. apalagi yang sedang direncanakan wanita tersebut?
Nabil sudah sampai depan rumah wanita itu namun tak ada tanda pemiliknya bahkan hanya lampu teras rumah yang menyala, meski begitu ia tetap turun dan mengetuk pintu.
Tak adanya suara dari dalam membuat pria itu mulai khawatir, jika syifa dan ibunya pindah ke luar kota lagi seperti 20 tahun lalu. ia beralih ke parkiran motor samping rumah namun ia tak menemukan benda itu disana. pria itu megacak ajak rambutnya tapi ia harus berpositif thingking, mungkin saja mereka sedang keluar sebentar.
Tangga teras menjadi tempat duduknya menunggu. ibu ibu rumah tangga yang lalu lalang depan rumah tak membuat pria itu risih dengan pandangan mereka yang bergunjing mengenai keberadaannya di pagi buta.
Semenit, setengah jam, bahkan hingga berjam-jam pria itu masih stay disana. matahari sudah mulai menampakkan sinar sempurnananya. lelah, sangat lelah. tapi pria itu belum ada niat untuk pergi.
Ia menunduk dan memejam, kantuk. ketika hendak terbawa alam mimpi, putaran roda sepeda yang mendekat membuat ia perlahan mendongak.
"Nak Nabil ‘kan?” Ujar seorang Pria paru baya.
“Pak, tejo?” balasnya yang mengenali pria kurus berseragam satpam itu.
“Ngapai duduk disana, Nak?”
Nabil menghapiri, "Saya nungguin orang yang tinggal dirumah ini, Pak," jawabnya seraya mengacungkan jempol kebelakang, "bapak tahu, mereka kemana?"
“Mungkin nak syifa dan ibunya sedang keluar kampong," jawab tejo, "saya sudah bertahun tahun bertugas disini sebelum mereka menetap di kampong ini, Nak. dan baru kali ini saya tidak melihat syifa bersih bersih dihalamannya sebelum pergi ke toko. dari tadi subuh juga pintunya ketutup."
Penjelasan Pria paru baya itu semakin membuatnya gusar. jika memang syifa pergi pasti ia tidak bisa mengejar sekarang, tapi bagaimana jika syifa hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi.
“Sebaiknya pergi saja, Nak.” imbuh Tejo.
“Saya bukannya mau ngusir, tapi gak enak diliat sama warga. apalagi di samping rumah syifa ada ratu gosip, nanti kasihan mereka klo dengar gosip itu.”
Nabil hanya menatap datar, pandangannya kembali ke rumah syifa. instingnya mengatakan ada orang didalam. ia naik dan kembali menjedor pintu. "Fa! keluar, Fa. Aku tahu kamu ada didalam!" teriaknya.
Melihat pemuda itu tak henti menimbulkan kebisingan, tejo segera menahan tubuh kekar pemuda itu agar berhenti menjedor pintu, "Tidak ada orang didalam sana, Nak!"
"Arrgh!!" teriak Nabil mengeluarkan kesalan. ia mengusap wajahnya kasar dan menghela untuk menenangkan diri. setelah tenang, ia mendongak pada tejo dan meminta polpen di saku pria kurus itu.
"Buat apa, Nak?" tanya tejo ketika Pria itu membalikkan telapak tangannya dan menuliskan beberapa angka disana.
“Klo Bapak tahu syifa sudah datang, tolong telpon Saya.” ucap Nabil seraya mengembalikan polpen itu kemudian bergegas pergi.
Tejo terperangah kemudian berbalik, "tapi, Nak nabil!” teriaknya yang enggan dilanjutkan karena malu. “saya tidak punya pulsa.” lanjutnya ketika pemuda itu sudah mengendarai motor.
**
Nabil sudah berada dirumah sakit menyusuri koridor ruangan Lia. sampai disana ia melihat aska sedang menyuapi adiknya.
Menyadari kehadiran nabil, Lia langsung menyambutnya dengan senyum bahagia,
“kak nabil!” pekiknya riang, namun hanya mendapat senyum singkat pria itu.
“Ka, gue mau ngomong.” pinta Nabil pada Aska.
__ADS_1
"Mau ngomong apa?” balas Aska tak acuh.
“Eggak disini."
Aska mendongak, ia menyernyit melihat tatapan nabil yang kemudian melirik Lia.
ini tentang syifa. begitula arti tatapan yang ia tangkap.
Mengerti, Aska segera menyimpan mangkuk ke meja kemudian menatap adiknya. "Aku keluar sebentar, yah?”
Usai mendapat anggukan dari gadis itu. ia pun keluar mengikuti Nabil.
"Kasi tahu aku dimana Syifa dan Ibunya?"
“Apa!?” Aska tersentak dengan pertanyaan nabil yang memaksanya.
"Syifa gak ada rumah, motornya juga. pasti kamu tahu 'kan mereka kemana?"
Aska berdecak pinggang, “segitu cintanya kamu ke syifa, sampai ngawatirin dia segininya.”
“Ck!” nabil berdecak kesal, “semua sudah terbongkar, Ka. semalam tante Ana sudah tahu orang tua gue!”
Mata aska tercekal. ia tahu masalah apa yang membuat keluarga mereka berselisih. “apa Syifa dan ibunya pergi lagi?” tebak aska.
Nabil mendongak, “Lo gk usah pura pura gak tahu, Ka! lo kasi tahu aja kemana mereka pergi!"
“Gue gak tahu, Bil.”
Aska melepasnya kasar tangan Nabil, ia juga menatap marah “sumpah, gue gak tau tentang masalah ini!" sentaknya "Syifa gak pernah kesini!"
“Aargh!”
Bug!
Tak mendapat jawaban membuat nabil melampiaskan kekesalan pada tembok. ia menunduk mengatur napas, “klo Lo masih mau Gue bantuin adek Lo sembuh, jangan rahasian keberadaan dia.” Ancamannya membuat Pria itu berdecak.
"Bil, kalaupun syifa ngasih alamat itu ke gue, gue bakal kasih Lo, klo udah ancem gue kayak gini. tapi masalanya…, gue benar benar gak tahu.”
Nabil menarik tangannya dari tembok dan menatap nanar Pria itu. Aska serius, ia tak sedang berbong. Nabil mengacak rambut kemudian berlalu pergi.
Aska langsung bernapas lega, dan kembali menemui adiknya.
“Kak nabil mana?” Tanya Lia ketika melihat Aska sudah masuk. ia celikungan mencari seseorang.
“Sudah pulang,” jawab pria itu.
“Kenapa?” tanyanya, “kalian berantem?”
Aska tak menjawab, ia meraih kunci di atas nakas kemudian mengusap kepala adiknya yang menggunakan jibab instan berwarna coklat, “kamu habisin buburnya, terus istirahat. Aku mau keluar dulu.”
“Kemana?”
“Ada pemotretan.” jawab aska bohong, ia segera keluar usai melihat Lia tak lagi melayangkan pertanyaan.
__ADS_1
Dihalaman RS, Nabil baru saja keluar dari tempat itu. tujuannya adalah kembali ke rumah syifa berharap salah satu dugaannya benar. syifa hanya keluar sebentar dan pasti sudah kembali sekarang. namun ketika sampai disana, keadaan rumah masih sama seperti tadi, bahkan lampu terasnya masih menyala. Ia membuka helm dan di tarohnya di atas pam bensin. tangannya merogoh ponsel dalam jaket untuk menghububgi syifa kembali.
Nomornya aktif, nabil segera merapatkan ponsel itu ke telinga. alisnya tersentak ketika samar mendengar derikan ponsel dari dalam rumah. ia turun dan mendekat memastikan suara itu.
Namun suara bising Truk pembawa pupuk kandang yang melintasi depan rumah, membuat pria itu menutup hidung dikuti decakan kesal karena tak lagi mendengar nada dering itu.
Setelah Truk itu berlalu, ia kembali melakukan panggilan keluar. masih aktif, namun ia tak lagi mendengar suara dari dalam rumah, dan panggilannya dirijek.
Ting!
Ting!
Beberapa detik kemudian dua pesan dari Syifa masuk. ia segera membuka fitur watshab dan membaca Chatnya.
"aku beri kamu kesempatan terakhir untuk bertemu, kutunggu kamu di halte bis.”
Ia beralih membaca pesan ke 2.
“20 menit lagi aku berangkat."
Saat itu juga ia berbalik dan langsung menghampiri motornya menuju ke tempat yang dimaksud wanita itu.
Sesaat setelah kepergian Nabil, sebuah motor Sport berhenti di halaman rumah. pemilik motor itu mengamati keadaan rumah yang semua cela tertutup oleh gorden.
Dia adalah Aska, Pria itu ingin memastikan apakah benar syifa tak ada di sana. usai menaruh helm, ia segera menghampiri rumah dan mengetuknya. sama seperti pernyataan nabil, tak ada orang didalam.
Bonsai?
Ia teringat bonsai yang dulu ia diberikan pada ibunya syifa. itu adalah tanaman kesayangan wanita itu. jika mereka pergi keluar kota, pasti ibu syifa akan membawanya. ia beralih ke samping rumah dan benar mendapati tanaman berakar besar itu masih tumbuh subur bahkan tanahnya masih basah. Segera ia mengetuk pintu kembali.
“Fa! aku tahu kamu di dalam!”
Ujarannya tak mendapat respon sama sekali tapi tangannya tak menyerah mengetuk pintu dengan kasar. ia tak peduli amukan tetangga. benar saja, salah satu tetangga syifa menongol dari jendela dengan teriakan kesal.
“Gak ada orangnya!” teriak seorang ibu rumah tangga yang pipinya penuh dengan koyo.
"Tapi bonsainya ada bekas siramannya, Bu!” balas aska dengan sedikit mendekat.
Ibu itu menghela kasar, “saya yang nyiram!” jawabnya “sudah, sudah. lebih baik anak ganteng ini pulang saja, dari pada bangunin tetangga satunya, malah makin ribet.”
Aska kembali memandang bonsai yang sebagian daunnya masih meneteskan air. dugaannya seketika sirna ketika mendengar jawaban ibu itu.
"Kalau begitu saya permisi, Bu. maaf sudah menggagu." kata Aska mendappat anggukan dari ibu itu yang kemudian menghilang dari cendela.
Baru dua langkah kakinya membelakangi pintu. terdengar putaran kunci yang membuat langkahnya tertahan.
Ceklek!!
“Ka…”
Nada berat itu membuatnya membalikkan badan, terlihat seorang wanita yang memegang ponsel sedang menatapnya nanar.
-Bersambung.
__ADS_1