
Dua kursi yang tadinya kosong di salah satu ruangan butik, kini terisii oleh syifa dan nabil. keduanya sama-sama bingung harus bertegur sapa dari mana. hingga beberapa pelanggan butik yang perlahan ramai membuat mereka mulai menyusun kata.
“Nanti datang, kan?”
“Habis ini kemana?”
Dua pertanyaan yang bersamaan membuat mereka tertawa kecil.
“Klo kamu mengundangku, in sya allah aku akan datang” balas nabil.
Syifa mengagguk, “setelah ini aku baru mau pilih desain undangnnya.”
“Di tempat aku sama nabila aja. disana pilihannya bagus bagus, loh.” usulan nabil membuat syifa menatap bingung, “hem… dekat tempat kamu beli buah waktu ketemu nabila.” lanjut nabil mengingat syifa tak melihat dirinya waktu itu.
Syifa coba mengingat pertemuan itu. setelah ketemu, ia bertanya, “waktu itu kamu ada disana?”
Nabil menagguk, “aku yang kasih kelakson dalam mobil.”
Setelah nabil menjawab, keduanya kembali diam. membahas tentang nabilah membuat mereka mengenag sejenak sosok itu.
“Aku penasaran dengan pertemuan kamu dengan nabilah” kata syifa mengharap penjelas namun sepertinya pria itu tak semangat menjelaskan.
“Terlalu panjang. yang lain aja, yah.” pinta nabil.
Belum syifa membalas, pria itu sudah mengalihkan pandagan memulai bercerita.
“Nabilah tahu semua tentang masa lalu kita. makanya setelah ketemu kamu… dia berusaha mempertemukan kita. tapi aku menantang itu.” nabil menoleh, “masih ingat waktu dia ajak kamu di kafe untuk dikenalkan pada seseorang?”
Syifa coba mengingat, “itu kamu?” tebakannya mendapat anggukan.
“Menjelang pernikahan, dia mulai ragu tentang perasanku. dia takut merebut takdir orang lain. dia terlalu yakin dengan kisah kita. kita berjodoh katanya,” sebuah senyum getir hadir. nabil segera menyebik sebelum cairan rindu itu mendesak.
Dalamnya kalimat yang diucapkan nabil tentang nabilah yang selalu berusaha menyambung kembali kisah mereka, membuat syifa menitikan air mata. bagaimana bisa wanita yang berjuang untuk nyawanya sendiri memikirkan masa depan orang lain.
Syifa begitu speklis, dan menghargainya. namun untuk mewujudkan permintaan nabilah, itu sudah terlambat.
**
21 April, hari yang selalu di wanti wanti itu akhirnya ia jejaki bak seorang ratu. mahkota kecil dengan manic merah muda membuatnya tampak anggun dan menjadi pusat perhatian ketika tante mirna dan satu wanita lain mengapit kedua lengannya menuju tempat berlangsungnya akad.
Rasa grogi dan malu membuat ia terus menunduk, menatapi jari manis yang akan disematkan cincin dari pria yang belum bisa ia cintai. sebuah dentuman dari mic akhirnya memaksa ia mendongak, namun pandang itu justru mematung pada pemilik senyum teduh yang berdiri menatap sendu di bibir pintu mesjid.
"Bisa?” kata nabil dengan isyarat mulut. ia kemudian menciptakan senyum dengan tarikan di pipi menggunakan kedua terlunjuknya.
Syifa mengagguk mengerti, ia tersenyum lebar dan kembali menunduk ketika pria itu memutuskan meninggalkan mesjid.
Tangan Om dari ayahnya sudah bersalaman pada Ilham, sembari mengucap kobul penyerahan, semakin meembuat jantung syifa merontah cepat.
“Saya_”
"Tunggu!"
Suara lantang ilham menggantung ketika beberapa orang berseragam polisi berdesakan memasuki mesjid. para tamu menatap bingung termasuk syifa. namun keringat dingin malah memenugi kening ilham.
“Dengan saudara ilham!?” Tegas petugas pada Ilham.
Pria itu mengagguk kaku, “i-iya, pak.”
“Anda kami tahan atas kasus tabrak lari yang menyebabkan satu orang meninggal.”
Pernyataan pak polisi membuat semua orang terperangah. Rudy segera menahan ilham dengan menyangkal putranya adalah orang yang beratnggung jawab. namun kediaman ilham membuat rudy kecewa dan membiarkan polisi membawa putranya.
Entah sedih atau bersyukur. tapi syifa tak bisa melakukan apapun selain duduk menatap bingung keadaan ini. namun disisi lain, ada rasa kesal atas musibah yang menimpa ilham. ia kecewa, tapi bukan hak-nya untuk menyalahkan.
Setelah satu persatu tamu undangan pergi usai mengucap simpati. syifa mengajak tante mirna pulang mengganti pakaian. mereka kemudian menyusul om rudy dan ilham di kator polisi. sayangnya ilham terbukti salah dan dibatasi kunjungan.
“Maafkan ilham, nak. dia tidak bermaksud meninggalkan korbanya. saat itu dia terburu buru menghadiri pertemuan besar untuk perkembangan perusahaan. untuk masa depan kamu juga.”
Penjelasan om rudy hanya disambut anggukan hambar.
“Berapa lama dia akan disini, Om?”
Rudy tak sanggup memberi jawaban, ia sendiri mengkawatirkan hukuman apa yang akan diterima putranya,
“Om hanya berharab kamu bisa sabar menunggunya.”
Tak ada jawaban yang pasti atas permintaan om rudy. keraguan atas keputusannya kembali timbul. saat ini ia menimbang lagi, apakah keputusan menikah dengan ilham adalah jalan yang terbaik?
**
Setelah beberapa hari menunggu perkembangan akhirnya kunjuangan untuk ilham dibuka. pertama kali yang diucapkan pria itu ketika bertatap muka adalah permintaan untuk ditunggu.
“Sampai kapan aku harus menunggumu?” pertanyaan Syifa membuat pria itu terkejut, “sebenarnya aku kecewa. bagaimana bisa kamu meninggalkan orang itu begitu saja hanya karena kepentingan sendiri.”
“Aku lihat orang itu baik baik saja, Fa. makanya aku tinggalkan."
Syifa menggeleng mendapat satu kebohongan lagi, “ada bukti cctv. saat itu kamu turun dari mobil. dan melihat keadaannya.”
__ADS_1
Ilham tak bisa lagi membantah,pikirannya berkecamuk mencari alasan.
“Aku benci karangan bohongmu untuk pembelaan diri.” sesal syifa.
“Kamu sudah punya alasan untuk meninggalkanku...”
Suara getar ilham membuat kecewa syifa mereda. apalagi ketika pria itu sudah menatap nanar.
"Iya. aku tahu. sejak dulu kamu hanya menagggapku pelarian masa lalu. aku paham, Fa. aku paham.” ilham menyandarkan kening, memalingkan pandang menutupi tangis.
Tangis tertahan membuat syifa mengulurkan tangan mengusap bahu yang segukan itu. memahami jika ilham benar benar menyesali perbuatannya.
"Aku tidak sedang mencari alasan. aku akan tetap menunggu kamu.”
Ilham segera mendongak usai mendapat kalimat melegakan itu.
**
Semenjak memberi kepastian, syifa sering mengantarkan bekal untuk ilham yang sudah mendapat hukuman selama 5 tahun. berat bagi syifa menunggu itu, banyak hal yang akan membuatnya goyah. termasuk kedatang nabil yang kembali mencari dekat semenjak mengetahui pernikahannya batal.
Sebuah surat resmi dari Maxgrub kembali ia terima untuk kerja sama, tapi syifa tak langsung menyetujui. ia meminta pendapat dari ilham dan pria itu mengizinkan selama tidak menggoyahkan hubungan mereka.
Akhirnya Syifa menerima, dan kerjasama itu lebih padat pertemuannya. hampir setiap hari ia harus bertemu nabil, selama itu pula ia harus bersikap cuek untuk menahan perasaan dari perhatian nabil yang berusaha memunculkan rasa.
“Papaku mau ketemu kamu.”
Langkahnya yang dari tadi menghindari akhirnya terhenti. ia berbalik meminta penjelasan.
“Papa sama intan maafin kamu,” ujar nabil membuat wanita itu mengucap syukur.
"Tapi kamu juga perlu terimah kasih sama aku. aku yang kasi mereka pemahaman.”
“Kapan aku ketemu mereka? aku rindu intan.”
“Sekarang,” meski kalimatnya diabaikan tapi ulasan senyum hadir mendengar antusias wanita itu.
**
Salah satu ruangan di lantai 12 Maxgrub menjadi tempat pertemun syifa, haris dan intan. mereka saling mengucap maaf dan saling memaafkan mempercayakan semua masalah adalah ketentuan dari Allah.
“Ayahmu mewasiatkan ini pada Om,” haris menunjukkan satu rekaman yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun.
Syifa mendekatkan diri, air matanya mulai menetes melihat gambaran wajah yang pecah tapi masih bisa ia kenali. itu adalah ayahnya yang sedang berbincang dengan om haris. dari perbinncangan itu alisnya tersentak pada satu permintaan ayah.
“Dia pernah berniat menjodohkan kamu untuk nabil, Nak.” kata haris usai rekaman itu terhenti.
“Bukan hanya permintaan nabilah saja, bahkan papamu juga menginginkan kita bersama.” kata Pria itu.
**
Masih tergiang permintaan om haris dan juga nabil, ia kembali berada dalam kalut yang sama. ini adalah permintaan papanya, tapi bagaimana dengan ilham, apa tante mirna tak akan marah.
“Kenapa melamun terus, Nak?”
Syifa lekas menoleh ketika tantenya mendatangi kamar. ia tersenyum dan menggeleng, “nggak apa kok tante.”
“Mikirin ilham?”
Syifa mengagguk, ia menunggu wanita itu menghampiri. mirna ikut duduk di tempat tidurnya.
“Ada masalah apa, nak?” tanya wanita itu menyadari kemurungan ponakannya, “cerita ke tante.”
Tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak dan menghadirkan isakan lirih. tante lekas kawatir dan mendesaknya bercerita.
“Ada permintaan papa.. yang ditunjukkan om haris. papa minta….” ia tak sanggup melanjutkan kalimat dan hanya menagis. usai merasa tenang ia kembali menatap.
"Papa minta klo aku besar nanti menikahnya dengan nabiil” cekal syifa lagi.
“Terus apa yang membuatmu menagisi itu, nak?” tanya mirna setelah beberapa menit terdiam.
“Aku gak bisa ngabulin permintaan papah, tante… sudah ada ilham.”
"Kamu masih yakin bisa menunggunya 5 tahun lagi?”
Pertanyaan tante mirna seketika membuat isakan syifa mereda.
“Itu waktu yang lama, sayang. kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. kamu juga perlu memikirkan masa depanmu.”
“Tante tidak akan marah jika aku tidak memilih ilham?”
Tante mirna mengagguk, “klo kamu masih yakin dengan nabil. terimah saja dia, nak. papanya juga sudah merestui kalian ‘kan?”
Syifa menaggguk, “tapi bagaimana dengan om rudy, ilham. mereka pasti akan kecewa.”
“Biar tante yang kasi pehaman ke papanya ilham. tante yakin, dia pasti akan mengerti. kamu yang minta izin ke ilhan, yah.”
Tiba-tiba saja syifa tersentak, ia menggeleng, “aku gak berani, tante. ilham pasti menolak dan akan marah. aku takut.”
__ADS_1
“Kamu coba aja dulu.”
**
Tangan yang saling menggenggam semakin dingin ketika behadapan dengan pria memaki baju tahanan baru saja duduk dengan ulasan senyum padanya.
“Gak ada bekal lagi?” canda ilham namun hanya disambut senyum hambar dari wanita itu, “kenapa?”
“Maafkan aku jika membawakanmu berita ini,” syifa diam sejenak membiarkan pria itu menebak dengan wajah gusarnya.
"Maafkan aku, ilham. aku tidak bisa menunggumu lagi.”
Syifa sudah duga pria itu tak langsung menjawab, rasa bersalah dan takut semakin menjadi.
“Karena ternyata almarhum papa menginginkan aku menikah dengan nabil. maafkan aku jika harus memenuhi permintaan papa.”
“Kamu tidak sedang ingin memenuhi permintaan papa-mu, Fa. tapi menjadikannya alasan untuk membatalkan janjimu.” Cela ilham, ia menatap nyalang mata itu, “sudah aku bilang, jika kamu sudah memilihku, jangan libatkan lagi dia tanpa izinku!”
“Maafkan Aku, ilham. tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ini lagi.”
“Aku tetap tidak akan melepaskanmu.”
“Aku mohon iklaskan aku.”
“Pergi, Fa.”
“Aku akan pergi jika kamu mau merelakanku.”
“Petugas!!” teriakan ilham mendatangkan dua petugas, sementara syifa semakin membujuk, “pertemuannya selesai. bawa saya kembali.” pinta ilham.
“Ilham! ilham!” langkah syifa yang hendak mengejar tertahan ketika petugas sudah menutup jeruji besi. “Aku akan tetap menikah dengannya!!”
Tidak, pernyataan itu hanya ancaman. syifa tidak bisa menikah dengan nabil jika ilham masih marah padanya.
“Kamu akan menerimaku?”
Suara dari belakan sontak membuat syifa terkejut dan berbalik. itu adalah nabil yang juga hendak menemui ilham. pria itu menghampiri namun salah satu petugas memintanya bicara di luar kantor. nabil mengajak syifa keluar.
“Aku sangant senang mengetahui kamu mau memenuhi permintaan papa-mu,” kata nabil ketika mereka berada diteras kantor, “terimah kasih. nabilah pasti juga senang disana.”
Syifa belum menjawab. pikirannya masih gusar memikirkan perasaan ilham, “aku belum memberimu kepastian atas permintaan itu, Bil. aku masih ada ikatan dengan ilham.”
Nabil menagguk, “makanya itu aku ingin menemuinya. meminta untuk mengiklaskan kamu.”
“Tidak semudah itu...”
“Akan mudah jika kamu benar benar ingin memperjuangkan perasaanmu padaku. sama seperti aku yang sudah mempasrahkan kamu, tapi allah beri kesempatan lagi tuk mengejar.”
Syifa terdiam, setelah beberapa menit menimang-nimang kalimat nabil, ia mengagguk. keduanya mulai memikirkan jalan agar ilham mau merela. dan berakhir pada Om rudy agar mau membujuk putranya.
**
Dari bantuan tanta mirna untuk menjelaskan, akhirnya om rudy mau membantu. awalnya ilham sangan keras menantang, namun lama kelamaan ia mulai berfikir bahwa ia sangan egois merasa ini bukan cinta tapi penyiksaan pada orang yang diharapkan.
Rasa syukur menumpuk mendengar kerelaan ilham. akhirnya cinta lama masih diberi kesempatan bersemi kembali. menuntaskan cerita cinta yang penuh liku dan rencana dalam sebuah ikatan pernikahan.
Di hari pernikahannya, Nabil dan Syifa kedatangan Aska, Pria itu datang dengan seorang wanita berhijab.
“Selamat yah, Bro.” kata Aska menyalami nabil dengan pelukan, ia mendapat ucapan terimah kasih dari nabil.
“Gue doain juga, semoga hubungan kalian langgen sampai pelaminan, aamiin,” balasan nabil membuat kening Aska berkerut, pria itu menoleh pada wanita disampingnya kemudian terkekeh.
"Oh, iya. kenalin, ini maya. sahabatku dari jepang tapi aslinya Sulawesi, loh." kata Aska membuat wanita itu tersenyum simpul pada dua mempelai.
"Salam kenal, Kak." ucap maya seraya memberi selamat dan dibalas anggukan dan senyum hangat dari Syifa dan Nabil.
**
Sehari setelah menikah, pengantin baru itu sudah menjadwalkan jika hari ini mereka akan menzirahi nabila.
Sebuket bunga dari nabil juga beberapa pelopak bunga mawar baru saja syifa taburkan di atas pusara. mereka sama sama meneledahkan kedua telapak tangan bersamaan dengan pejaman, membatinkan do'a.
"Terimah kasih nabila, wahai pengantar cinta. tenaglah disana, karena perjuanmu tak sia."
Setelah mengusap wajah, keduanya menatap batu nizan sejenak kemudian saling bertatap muka.
"Kita pulang?" kata nabil.
Namun syifa justru mematung dengan tatapan pria itu yang begitu lembut. sesaat kemudian ia mengagguk. mereka sama-sama bangkit berjalan, saling bergandengan tangan dengan sesekali berpandangan hanya untuk menunjukkan rasa bahagia.
Menyadari, ternyata suatu masalah tak perlu di jadikan alasan untuk membenci. cukup mengerti, seperti apa rasa penyesalannya. Menyadari, betapa menyiksanya kasih sayang yang terbawa dendam masa lalu.
\_TAMAT\_
Terimah kasih untuk kalian yang ngikutin ceritaku dari awal sampai akhir, yang baca setenga-setengah juga aku ucapin jazakillah khair, yah. pokoknya terimah kasih, buaaanyak!😊
Kita ketemu lagi di cerita-cerita baru aku. in sya allah lebih baik dari ini.
__ADS_1
Assalamu Alaikum,