
Shifa mengekori tante Mirna naik di lantai 2, ia kemudian diajak masuk ke dalam ruangan wanita itu.
"Perasaan tante kok rasanya sesak yah, fa.” kata mirna setelah mempersilahkan Shifa dan dirinya duduk di sofa “denger kamu lamaran tapi kamu gak kasih tahu tante.”
Shifa menggeleng, “dia gak ngelamar Shifa secara resmi kok, tante. dia gak dateng ke rumah juga, cuman sampein ke Shifa doang.” balas Shifa antusia.
“Tapi dia bakal dateng secepatnya ‘kan? tapi kamu gak kasih tahu tante.”
Shifa kembali menggeleng “Shifa udah tolak saat itu juga, tante."
“Kenapa?”
Shifa menyebik, “bukan calon imam idaman shifa, tante.” jawabnya kemudian.
Mirna langsung mengagguk-angguk. “iyah! tante juga gak setuju. masak keponakan tante yang sholiha ini yang lamar anak gak jelas semua.” Tukan Mirna.
“Tante gak marah?” tanya Shifa.
“lah enggak lah! wong kamu gak terimah,” jawab wanita itu seraya meyipitkan matanya.
Shifa bernapas lega, ternyata ada yang mendukungnya menolak lamaran pria itu di saat orang tuanya sendiri berdekat mendekatkan mereka.
“Tante liat, model modelnya juga sama kayak mantanmu.” ungkap Mirna.
Shifa menyernyit “tante pernah liat?”
Mirna menggeleng “belum" jawabnya "tapi kata mamamu, gerak geriknya kayak preman kan.”
Shifa hanya tersenyum kikuk “dia lebih buruk dari aska, tan.” batin shifa.
**
Shifa sudah rapi dengan gamis anggun berwarna navy dengan balutan hijab berwarna peach yang menutupi rambutnya. sudah siap, sudah segar, tapi ia malah duduk kesal di teras rumahnya menunggu seseorang yang super lelet.
siapa lagi jika bukan Lia. disaat dirinya sudah rapi justru gadis itu member kabar agar menunggunya yang belum mandi.
setelah menunggu hampir 15 menit, akhirnya batang hidung gadis itu sudah muncul dari arah kanan samping rumah Shifa. namun langkah Shifa masih enggan menghampiri ketika melihat dengan siapa gadis itu datang.
“Kak Shifa, ayo!” sahut Lia yang baru turun dari motor Sport kakaknya.
Shifa menghela napas kemudian menghampiri kakak beradik itu. masih canggung rasanya ia bertemu aska sejak kejadian se mobil yang membuatnya lebih akrap lagi dengan pria yang kini berada dia atas motor itu.
“Salam napa…,” goda Lia, ketika Shifa sudah didepannya.
Shifa melirik Lia “Wassalamu alaikum, Liaa..” kata shifa diikuti senyum paksanya.
“Waalaikumussalam cakapku! wanita yang paling cuaantik! dengan balutan hijab berwarnah peaaach yang membuat pria tampan di atas motor ini terpesaona.” ujar Lia penuh semangat membuat dua insan yang tak saling betegur sapa itu meliriknya geli.
“Huff!! capek juga.” lia menagatur napas kemudian bergantian melirik shifa dan kakanya “ciee…, diem dieman.” goda Lia.
“Udah! kakak berangkat dulu.” kata aska, ia tahu shifa tak nyaman jika ada dirinya apalagi jika lia terus mengodanya.
“Assalamu alaikum.” pamit aska kemudian meninggalkan haraman rumah shifa.
__ADS_1
“Waalaikumussalam.” jawab 2 wanita itu.
“Ayok!” ajak Lia pada Shifa yang masih menatap kepergian Aska “udah pergi dianya, nyesel pasti gak sempat ngomong.” tebak Lia.
Sifa melirik sinis, “Apa sih!” Shifa mendahului lia.
Lia mengejar langkah Shifa “kak Aska udah berubah 60% tau! beberapa hari ini kak Aska tinggalnya dirumah. kak shifa mau tahu gak, dia ngapain aja dirumah.”
“Gak mau tahu Lia.., udah! kakak gak mau bahas itu.” kali ini pikiran Shifa benar benar tak ingin di ganggu pemikiran2 yang tidak penting. pikirannya sudah kacau apalagi sejak kedatangan pria tak dikenal yang tiba tiba melamarnya.
“Kak Aska suruh aku ngajarin dia ngaji!” pekik Lia.
Shifa menoleh ke Lia tanpa menghentikan langkahnya. terkejut ia, tapi Shifa tak mau mengapresiasikan Niat baik pria itu.
“Alhamdulillah, dong!”
“Syukurlah kalau dia di beri hidayah,” balas shifa cuek “tapi Alhamdulillah apanya, Li. klo dia cuman nunjukin keseriusan berubahnya itu untuk orang lain.”
Lia menggeleng “nggak, kak. dia sungguh sungguh! cuman butuh tahapan aja biar dia gak berubah hanya karena kakak.”
shifa tak bergeming ia hanya terus melanjutkan langkahnya.
“Kak Shifa gak liat, gimana sikap kak Aska tadi?” Tanya Lia terus mengikuti langkah Shifa “kelihatan kan dia berusaha ngejahuin kakak.”
Deg!
Shifa berhenti sejenak, ternyata bukan cuman dirinya yang merasakan Aska sedang menjaga jarak dengannya. Lia, orang yang paling antusias untuk mendekatkan mereka pun merasakan sikap itu. shifa kembali melanjutkan langkahnya.
“Deketin penciptanya dulu! soal hati, biarlah Allah yang mendatangkan dirinya!” sahut Lia, kemudian menghampiri Shifa.
Dalam langkanya Shifa berpikir, apa benar dia akan mengikuti kisah cinta Yuzuf AS dengan Zulaika? batin syifa.
Merasa di diamkan, Lia hanya melirik Shifa dengan memanyunkan bibir. hingga sampailah mereka di tempat tujuan.
“Waduh! ada lagi!” gumam Lia ketika melihat pria yang baru saja memutar motornya usai mengantar adiknya.
“Kenapa, Lia?” Tanya shifa heran ketika melihat Lia tiba tiba menunduk. namun gadis itu hanya menggeleng dan terus menunduk sampai di depan mushollah.
Shifa bisa tahu kenapa sikap Lia aneh seperti itu. pasti pria yang sedang duduk di atas motor Sport yang sedang menatapnya. tapi yang membuat Shifa heran adalah sikap Lia yang terlihat takut.
“Assalamu alaikum, kak.”
Mata Shifa langsung melototi Lia yang tiba tiba memberi salam pada pria menyebalkan yang juga balas memberi salam beserta anggukan pada Lia.
Aneh!
Tapi Shifa memilh melanjutkan langkahnya sebelum pria itu kumat menangih jawabannya. ingin sekali dirinya mempertanyakan sikap Lia saait itu juga. tapi mengingat ia harus menagajar, sepertinya Shifa harus menyusun waktu agar penasarannya cepat terobati.
Shifa sudah memulai mengajarnya, beberapa murid sudah bergilir maju kedepan hingga tibalah juga Lia yang berada dihadapannya. gadis itu membuka kitabnya yang sudah berada di Iqro 5 namun ketika ia hendak basmaalah justru Shifa menahannya.
“Lia! kamu kenapa?”
Lia menyernyit “aku kenapa?” tanyanya tak kalah heran.
__ADS_1
“Itu…, kamu sama kakanya Intan kenapa akur gitu?”
Lia menbuang napas, “ada misi yang harus ku jalani.” jawabnya kemudian kembali focus pada iqronya namun dengan cepat Shifa menariknya.
“Misi apa!?” desak Shifa.
Lia kembali membuang napas “ok ok! aku certain, kepo banget kak.” kata lia kemudian mendekatkan diri
“Jadi, sepatu balet yang dia ambil waktu itu, sebenarnya sepatu susi yang ku pinjam. dan sialnya ternyata itu sepatu pemberian dari pacar kakanya susi yang juga di ambil susi diam diam. dan mau tidak mau aku harus mengemis pada Pria itu agar sepatunya kembali, tapi dia kasi aku syarat.” jelas Lia.
"Syarat apa?" tanya Shifa, "ramah sama Dia?"
Lia menghela napas, “dia suru aku ubah sikap lebih sopan, suruh aku hijrah, harus tahu batasan mahrom, samaa…cari tahu untuk siapa kita berhijrah.” Lia mendikte syarat yang di berikan nabil dengan epresi memelas.
Sesat Shifa terdiam kemudian ia terkekeh
namun segera ia hentikan tak mau menggangu para muridnya yang sebagian fokus dengan bacaannya.
“Kok di ketawain, sih!” protes Lia dengan nada rendah.
Shifa menggeleng dengan masih menahan tawa, “terus gimana?”
“Masih tahap, ” jawab Lia. “banyak yang aku gak tahu. sebagian udah cari di gogle, tapi gk paham klo gak ada yang bantuin di dunia nyata.” kode Lia.
Shifa mengerti, “klo mau di bantu bilang aja, gak usah ngode-ngode.”
Lia hanya meringis.
“Ntar malam kamu nginep aja dirumah, biar sekalian aku kasih tahu semua.” Ajak Shifa.
“Bagaimana klo kak Shifa aja yang nginep di rumah, biar sekalian bimbing kak Aska?” balas Lia dengan kedipan mata, namun segera ia hentikan ketika wanita itu menatapnya kesal.
“Bercandaaa…” seru Lia sebelum Shifa berubah pikiran.
“Mundur sana!”
“loh! aku kan belum ngaji?”
“Waktu kamu udah habis, Lia… makanya jangan banyak cerita.”
Lia menarik salah satu sudut bibirnya “yaelah kaaak, yang nyuruh duluan siapa.., coba.” sindirnya kemudian segera mundur usai mendapat tatapan elang yang membuatnya spontan terperanjat.
-Bersambung
.
.
Author gk bosan, loh! buat minta dukungan kalian😊
Jangan lupa Like, beri tanggapan kalian tentang Novel ini di kolom Komentar, yah. juga bantu Share di media sosial kalian.
cuman satu gerakan jari kalian di Novel ini, berharga banget loh! bagi Autornya.
__ADS_1
Terimah kasih😊
#insyaAllahberkah.