
Berada dirumah sakit menjaga Lia membuat Syifa penasaran dengan pernyataan Nabil pagi tadi. ia menemui Dokter rika dan meminta penjelasan kenapa Lia semakin parah. dari penjelasan dokter, Syifa akhirnya paham dengan pecahan gelas dilantai waktu itu.
Garis besarnya adalah Aska. Pria itu yang lebih bertanggung jawab atas kondisi lia sekarang, bukan karena Nabil.
Setelah berjam menunggu akhirnya
Aska datang dengan menggunakan. ia menunggu Pria itu menghampiri, “gimana, Ka? dapat?”
Aska tak langsung menjawab, Pria itu duduk di kursi kemudian membuka maskernya.
"Astagfirullah, Ka!” pekik Syifa ketika melihat wajah Aska yang semakin lebam, “kenapa bisa gitu?” tanyanya lagi namun ia menyesal melayangkan pertanyaan ketika Aska mengipasi wajah perihnya dengan tangan.
“Aku beliin kamu obat, yah." langkahnya yang hendak berbalik urung ketika Aska menarik tas selepang miliknya.
"Gak perlu,” tolak Aska “focus aja sama rencanamu, Fa,” ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layar, “maaf, klo Gue cuman dapet ini.”
Syifa menghela dan menatap iba, “apa Dia yang memukulmu?”
Aska menggeleng, “bukan, Fa.” jawabnya, “temenku yang dulu Aku jebak.”
Syifa semakin merasa bersalah, ia ikut duduk di samping Aska, “maaf, Ka. karena Aku.. Kamu ketemu mereka.”
Aska tersenyum hambar, “bukan salahmu, Fa. Aku yang salah udah jadi pecundang. buat temen sendiri kejebak.” Aska meyesalkan perbuatannya yang egois.
Kali ini Syifa hanya menatap iba.
Aska menegakkan duduk dan menatap Syifa serius, “jadi gimana? mau kamu buat apa foto ini?”
Ada keraguan untuk mengambil langkah selanjutnya. ia menatap meminta pendapat, “apa Aku terlalu kejam jika harus memberitahu ini pada orang tuanya?”
“Itu tidak buruk, Fa. mereka memang harus tahu kondisi anaknya," dukung Aska, "bukankah karena dengan begitu Nabil akan mendapat dukungan untuk sembuh?” Ia tahu, selain membuat Nabil membenci, Syifa juga berharap Nabil berhenti dalam lingkaran itu.
Syifa menyebik dan membenarkan, sesaat kemudian ia menatap Aska, “apa benar, keadaan lia semakin buruk karena kepalanya terbentur di lantai, Ka” Tanyanya ragu sementara Aska sudah menyernyit.
"Tahu dari mana?" tanya Aska, "Dokter rika?”
Syifa mengagguk, “dan juga Nabil.”
“Nabil?”
Ia kembali mengagguk, “Dia ada disana saat kamu memaksa lia sarapan, Ka. Dia juga melihatmu keluar dengan membawa pecahan gelas yang airnya sudah berserakan di lantai."
Aska terdiam, penyesalan kembali muncul dibenaknya, “apa Kau juga akan mengaggapku penyebab dari kondisi Lia?” Tanya Aska lirih.
Syifa menghela pelan, “itu takdir, Ka. Kamu tidak sengaja membuatnya semakin menderita__”
“Buset! muka Lo kenapa, Ka!?”
Pandangan dua insan itu langsung teralihkan dengan suara wilyam yang berjalan cepat menghampiri. sontak Aska dan Syifa berdiri.
“Itu muka kenapa?” ulang wilyam ketika sudah di hadapan Aska, namun sayang ia tak mendapat jawaban maupun dari Syifa. wanita itu hanya menatap dan membuatnya mendengus.
"Bahaya, nih! makin para aja muka Lo!" resah wilyam, "udah di obatain?” tanyanya pada Syifa namun wanita itu bergeming.
__ADS_1
"Ck! ck! mantan-mantan,” celetuknya sambil geleng2 kepala, “bagaimana pun juga mantan itu manusia,” sindir wilyam kemudian mendekat ke Aska, “mana yang sakit, Ka. ini? atau ini?” tanyanya sembari menunjuk memar biru itu namun tangannya ditampik kasar pemilik wajah.
“Sakit, sialan!” sentak Aska.
“Setidaknya Gue simpati dong, Ka.” wilyam melirik sinis Syifa.
"Ka, Aku balik, yah,” Pamit Syifa yang tak nyaman dengan kehadiran wilyam.
“Iya, Fa. hati hati.” balas Aska menatap kepergian wanita yang baru saja ia jawab salamnya.
“Cepat amat perginya. Gue juga baru datang.” celetuk Wilyam membuat Aska menatap kesal.
“Lo, sih! buat Dia gak nyaman.”
“Lah! kok Gue!?” protesnya, namun segera ia tepis pertikaian itu ketika melihat Aska kembali meringis, “muka kenapa sih, Ka. belum sembuh bonyok lagi? siapa yang demo, huh!?”
“Bahaya nih! klo tutupin mukamu pke make up terus. bakal dikira wajahmu kaleng-kaleng, Ka.”
Setiap omelan Wilyam hanya dibalas lirikan malas. Aska memilih menoleh cendela menatap adiknya. melihat itu, Wilyam menghela.
"Gimana Dia?” Wilyam membuka pembicaraan serius.
“Gak ada perubahan.” balasan Aska mendapat tepukan ketegaran dari Wilyam dipundaknya.
Sementara dibagian lain rumah sakit, Saat Syifa baru saja melewati meja resepsionis, seorang wanita memanggilnya dari sana. ia sedikit terkejut mengetahui itu adalah tante sarah. masih teringat bagaimana kacaunya pertemuan terakhir mereka.
“A-assalamu alaikum, tante.” gugup Syifa berhadapan dengan Sarah.
“Alhamdulillah, baik, Tante." jawab Syifa tanpa balik bertanya.
Sarah menyebik, "Apa Kamu marah dengan kami, Nak?” tanyanya kemudian
Syifa tak mungkin berkata jujur jika dirinya tidak dendam sama sekali. tapi ia juga harus mendukung mamanya bersikap tak acuh pada keluarga Nabil.
“Bu, ini hasil cuci darahnya," seorang resepsionis menyodorkan kertas pada Sarah dan disambut wanita itu.
Wajah Syifa berubah Khawatir, "Tante sakit?"
Sarah tersenyum, “akan sembuh jika Tante rutin cuci darah dan tak banyak pikiran, Nak.” ucap Sarah kemudian menyimpan kertas itu dalam tas.
Ungkapan Wanita itu membuat Syifa teringat misinya. sepertinya ia harus membuang niat untuk membongkar keadaan Nabil pada keluarganya, mengingat kondisi Bunda sarah yang tak boleh banyak pikiran.
“Kenapa, Nak?” Tanya Sarah mendapati Syifa terdiam lama.
Syifa menggeleng dan menyebik, “maafin Syifa. karna buat gaduh dirumah Tante waktu itu.”
Sarah tersenyum, “bukan salahmu.” ia mengusap lengan Syifa, “Kami sudah tahu siapa pelakunya. tinggal tunggu waktu saja untuk mengeluarkan bukti, setelah itu semua aset mendiang ayahmu akan kembali ke ahli warisnya, yaitu Kamu."
Syifa tak merespon apapun. baginya harta itu sudah hilang. lamunannya sirna ketika sarah merengkuh pundaknya dan menatap harap.
“Tante harap, setelah ini kalian memikirkan agar tak saling menyakiti lagi. tidak egois lagi.”
Syifa terjekal, “Ta-tante tahu?”
__ADS_1
Sarah mengaguk, “Dia hancur tanpamu, Nak.”
Sikap segan kembali hadir ketika Sarah mengetahui semuanya. ia terlalu memberi harapan dan luka pada Nabil dan mungkin berimbas pada Bunda sarah. tapi ia tak boleh goyah, sebab ada mamanya.
Syifa mundur selangkah, “maaf jika kedepannya Saya akan memberi banyak luka padanya, mungkin sampai Dia membenci.” Ia coba menatap Sarah, “dan semua itu ada alasannya, Tante.”
Baru Sarah ingin memperjelas maksud pernyataan Syifa, wanita muda itu meraih dan mengecup punggung tangannya.
“Jaga kesehatan Tante, ya,” kata Syifa dengan suara serak, "Assalamu alaikum." ia segera pergi sebelum cairan bening itu tumpah.
**
“Aaaarg!!” teriak Nabil di sebuah jembatan sunyi. ia menyesalkan diri yang tak bisa lepas dari lingkaan narkoba. masalah dihadapan membuat obat itu menjadi temannya. pagar jembatan dijadikannya sandaran kening.
“Gue harus gimana..?” ucapnya lirih pada Eky yang sengaja ia panggil untuk meluruskan jalan pikirnya. sebua tepukan dari Pria itu dipundaknya ia rasakan.
“Gak ada pemakai yang teriaknya kek gitu, Bro.” Eky menyandarkan pinggang di pagar besi menatap iba sahabatnya, “klo Lo emang mau berhenti, lawan! jangan kek bencong! jangan turutin candu, Lo!”
Saran yang ia utarakan justru mendapat tendangan kecil dari Nabil, “kelakuan Lo kek bencong, sumpah!” cetus Eky tak terima.
“Lo pikir mudah? keluar dari dunia itu? enggah!” tampik Nabil seraya mengajak frustasi rambutnya.
“Mudah!” balas Eky, “buktinya Lo sempat berhenti. tapi bodonya Elo. make lagi!”
“Itu karena Gue nyari Dia! nyikutin teman temannya yang nakal, buat apa? buat nyusurin keberadaannya! tapi gue berada di tempat yang salah, Ky.”
“Bodoh!"
Nabil menatap marah, “apa lo bilang!?”
“Bodoh, Lo bodoh!" ulang Eky, "rusakin hidup loh cuman nyari cewek kek Dia, bodoh, Lo!"
Karena geram, Nabil hendak melayangkan tinju namun Eky dengan santai menagjisnya.
“Gue pergi klo Lo mukul Gue.”
Ancaman Eky membuat Nabil melampiaskan pukulannya pada pagar besi berkali kali. sementara Eky menghela pasrah menatap sahabatnya.
"Tiang gak bakal balas mukul, Lo. klo mau yang lebih menantang, lawan tuh candu Lo.”
Nabil menghentikan serangannya dan kembali menempelkan kening pada pagar jembatan. cukup lama suasana itu senyap dan akhirnya hembusan napas panjang membuat Eky menoleh padanya.
“Bantu Gue keluar dari sana.”
-Bersambung.
Hem...
mana duluan, yah?
Nabil berhasil sembuh, atau Syifa yang berhasil pada rencananya untuk menjebak nabil terbukti sebagai pecandu narkotika?
Yuk! apa salahnya main tebak tebakan dikolom komentar. sekali lagi jangan lupa Suport yah, temen temen. makasih.
__ADS_1