
Assalamu alaikum semuanya. berjumpa lagi dengan aku, Aira Annur.
Sesuai dengan kata aku di ig waktu itu. MCK in sya Allah tamatnya gak sampe bulan 3, kok. mohon do'a yah. semoga jalan menuju tujuan dilancarkan Allah, terimah kasih.
------
Pertemuannya dengan Eky beberapa waktu lalu berakhir baik. namun selang beberapa hari pria itu kembali bersikap tak acuh saat ia ingin tahu kapan tanggal persidangan nabil digelar.
Niat ke rumah Tante Sarah urung ketika mendapat panggilan dari Aska.
“Waalaikumussalam. ada apa, Ka?”
“Jam 4 sore aku akan berangkat ke Jepang.”
**
Langkah kaki dibalik rok kain wolfis terus beradu menuju tempat terminal kedatangan. ketika sampai disana, ia linglung mencari seorang pemuda memakai jaket berwarna hitam.
“Syifa!”
Hingga akhirnya suara itu memebri arah, ia lekas menghampiri “kenapa mendadak begini?”
“Maaf,” kata Aska, “Aku pikir gak perlu kasih tahu kamu jauh jauh hari.”
Syifa menghela, “Lia gimana? aku mau ketemu.”
“Lia udah masuk duluan sama Dokter Rika dan perawat lainnya, Fa. maaf, tapi gak mungkin kan, aku tahan Lia disini?”
Syifa masih tak rela, bagaimana bisa ia merasa tenang jika tak melihat Lia. tapi ia juga tak boleh egois.
“Urusanmu sudah selesai?”
Pertanyaan Aska membuatnya menyebik teringat nabil yang sudah membenci.
“Do’ain aja, ka.” balasnya dengan nada bergetar, ia menunduk menyembunyikan tumpukan air mata, “terimah kasih, yah! sudah membantuku selama ini,” namun ketika menonggak, air mata itu lolos begitu saja.
“Antar aku dengan senyuman, Fa,” imbuh Aska. “ jangan menangis. aku ingin mengenang senyummu disana bukan wajah sedihmu.”
Kali ini syifa hanya sibuk mengusap air mata yang sama sekali tak mau terbendung.
“Meski jauh, Aku akan selalu ada untukmu. tak kubiarkan diriku dimliki seseorang sebelum kamu membuka hati kepada orang lain, Fa.”
“Dirimu milik Allah, Ka…” balas Syifa tercekal. ia coba menarik napas namun tetap saja tak membuat gemuruh didada berkurang, “Aku tidak yakin dengan perasaanku. akankah Aku kuat ketika mata yang dulu memandang sendu itu kini menatapku benci. nabil sudah membenciku. dia membenciku, Aska..."
Pria itu terdiam. ia berharap didetik-detik kepergiannya ini syifa akan membahas perasaannya, namun wanita itu justru menyesali sikap pada pria lain.
“Itu tujuanku. tapi seharusnya Aku tidak perlu melibatkan polisi, Ka. aku bodoh!”
“Jangan menyesal, Fa. kamu sudah melakukannya. waktu tak bisa kembali untuk mengubah.”
“Kupikir itu mudah, Ka. aku pikir kuat.” ia masih terisak sementara pria didepannya hanya menatap iba. hingga pengumuman agar penumpang bergegas ke pesawat membuat syifa lekas menatap Aska.
“Aku pergi, yah.” Aska mengeratkan pegangan kopernya, “kamu kuat. kamu punya Allah yang maha mengerti perasaanmu. Aku yakin, Dia akan membantumu melewati rasa penyesalan ini.” ia diam sejenak. tanganya terangkat hendak mengusap kepala syifa, namun ia urungkan dan hanya mengepal angin.
“Kamu hamba yang taat, Fa. ini hanya soal waktu. Dia akan membawamu bahagia ketika kamu sudah melewati ini.” Aska menghela berat ketika wanita itu kembali menunduk dan terisak “Assalamu alaikum___"
Syifa mendongak, "Ka.."
“Iya?”
“Sampaikan maafku pada Lia. bisikkan padanya, meski Aku tak ada disampinya.. tapi aku akan menemaninya dalam doa.”
Aska mengangguk, “ada lagi?” tanyanya ketika Syifa diam cukup lama menatap.
“Dulu Aku mengharapkan kamu yang seperti ini, Ka.” kalimat syifa membuat pria itu terkesiap, “terimah kasih karena selama ini kamu mau mengerti perasaanku dan kamu mengendalikan perasanmu.”
__ADS_1
“Aku akan tetap menunggumu.”
"Kaa..”
Aska mneggeleng, “aku tahu apa yang ingin kamu katakan. jangan sekarang, yah. biarkan Aku mendalami perasaan meski pemilihnya tak menuliskan kisahku ada disana.”
“Kenapa, Ka?” Syifa tahu pria itu masih ingin berucap.
“Apa kamu keberatan jika aku meminta kamu mengantar dengan senyuman? Aku hanya rindu senyum hangat itu tertuju padaku lagi, Fa.”
Syifa belum memberi tanggapan.
“Maafkan Aku, aku tidak memaksamu, kok. permintaaku juga terlalu berlebihan.” Aska memalingkan pandang, namun kalimat syifa kembali menjadi alasannya menatap.
“Terimah kasih atas kisah kita,” syifa mengulas senyum, “karena darimu juga, aku mendapat hidayah.”
Aska ikut tersenyum lebar, “jaga hatimu, baik-baik, Fa. jangan berhubungan lagi dengan model sepertiku,” ia mendapat anggukan yang dibarengi tawa kecil dari syifa, “Assalamu alaikum.”
"Waalaikumussalam.” Syifa masih terpaku menatap Aska yang sudah melangkah dan semakin jauh.
"kamu berubah di saat rasaku sudah mati terhadapmu, Ka. jangan mengutakam aku dalam ingatan, ingatlah allah. aku sudah memberimu luka. hanya menginat Allah-lah hati akan menjadi tenang.”
**
Sehari setelah kepergian Aska, persidangan terakhir kasus mendiang ayahnya kembali digelar. terdapat dua pria sebagai terdakwa, syifa masih kenal siapa terdakwa baru itu. dia adalah Farhan, pria yang ia dan nabil curigai dulu. Farhan sempat menghilang setelah haris mendapatkan surat warisan yang dia simpan, beruntung kasus ini kembali dibuka sehingga dengan muda anak buah haris menemukannya dengan bantuan penyebaran foto.
Suara tangis pecah saat Farhan mengakui dan menjelaskan bagaimana korban dibunuh dengan cara sadis juga rekayasa yang melibatkan kecelakaan. Ana tak henti mencela pria itu, sementara haris yang sudah terbebas dari tuntutan juga ikut menangisi sahabatnya. namun disamping kepiluan itu, masih ada senyum yang terlintas dari wajah syifa. ia mendongak menatap langit ruangan.
"Ya Allah, terimah kasih engkau menyelesaikan pertikain mereka. tolong bantu juga masalahku.”
Setelah persidangan itu selesai, Ana dan Syifa sengaja menunggu haris keluar. tak lama setelahnya, pria itu keluar seorang diri sebab tak ada satupun dari pihak keluarga yang menemaninya tadi. Ana langsung menghampiri dan menghujani dengan permintaan maaf. sementara Syifa hanya berdiam menetapi, ia sangat segan, pasti om haris sudah mengetahui dialah penyebab nabil tertangkap. namun pria itu justru tersenyum dan memanggilnya mendekat.
“Sudah waktunya kamu urus perusahaan ayahmu, Nak.” kata haris penuh harap, namun sepertinya ia mendapat penolakan dari syifa.
Iya, syifa menolak dan mempercayakan itu pada om haris. ia meminta om haris yang mengelolanya. selain tak berpengalaman, ia juga tak ingin menjadi wanita yang angkuh dan terbebani dengan urusan dunia. pembicaraan haru itu terjeda ketika haris didatangi seorang supir dan memintanya segera pulang.
**
Beberapa belas menit setelah kepergian mama, sebuah ketukan terdengar dari pintu depan. ia membuka dan ternyata itu adalah tante mirna. ia menyernyit mendapati mata wanita bercadar itu sembab dan memerah.
“Bundanya nabil meninggal, Nak.”
**
Terkejut, ia bahkan tak mampu menguasai diri mendengar berita itu. dengan perasaan getir, syifa mengikuti tante mirna ke tempat Ta’ziah. sampai disana ia lansung disambut mamanya. langkah cepat memasuki rumah berubah pelan ketika melihat seorang pemuda yang dikawal 2 orang polisi sedang menagis disamping jenazah yang sudah tertutup kain kafan.
“Bunda…., jangan tinggalin intan. intan sayang bunda! jangan pergi…."
Rintihan anak kecil yang bersebelahan dengan pemuda itu membuatnya bertekuk lutut dalam barisan petakziah. ia tak berani mendekat dan memilih menatap bunda sarah dari jauh. ia ingin memeluk intan, tapi sangat segan dihadapan nabil.
Riuh tangis pecah ketika jenazah dimasukkan dalam peti, sahutan La ilaha illalah menjadi kalimat yang terus mendominan sampai ke tempat pemakaman. tertutup sudah liang lahat itu, semua petakziah menatap telapak tangan mengaminkan do’a dari pak ustad.
setelah do’a terselesaiakan mereka semua silih berganti mengucap bela sungkawa.
“Pak, kasi saya waktu berkumpul dengan keluarga saya sampai besok,” pinta Nabil dengan suara yang hampir habis ketika 2 polisi memintanya kembali ke lapas namun dua orang itu kembali memborgor tangannya, “pak, bagaimana jika malam ini bapak baru jemput saya,” tawarnya yang mulai panic, ia menatap intan yang terus terisak.
“Pak, kami sedang berduka. mohon bapak mengerti keadaan putra saya. beri kami waktu untuk berkumpul dirumah,” Ayah bahkan ikut membantu namun tetap saja mendapat penolakan dengan alasan kasus yang dialami nabil adalah kasus yang sangat berat.
Sebuah tatapan muak, marah, benci, tersiksa, bercampur pilu dalam pandangan nabil. menatapnya dengan penuh penekanan seakan mengatakan, bahwa ‘ini menyakitkan. syifa segera menunduk menghindari tatapan itu.
“Kak nabil jangan pergi…., jangan tinggalin intan!” teriak intan mengerjar kakaknya yang sudah berjalan mengukuti polisi, ia menarik ujung kaos pria itu dan membuatnya bertekuk lutut, “papa sibuk, bunda udah gak ada. intan sama siapa klo kakak juga pergi…. intan sama siapa!?”
Nabil segera mengusap air mata intan dengan coba tersenyum, “papa gak akan tinggalin intan. klo papa sibuk ‘kan ada bi uti yang nemenin intan, yah!” ia memeluk adiknya, “janji, nanti klo kakak disurga, kakak akan sampain salam rindu intan ke bunda.”
Syifa yang berada tak jauh dari tempat nabil dan intan menyernyit mendengar pernyataan pemuda itu. apa maksud nabil mengatakannya? menghibur? pasti pria itu sedang menghibur adiknya. syifa ikut terenyuh menyaksikan intan yang berusahan menarik tangan nabil, menahannya agar tak pergi. namun seorang datang dan memutuskan tarikan itu.
__ADS_1
“Kak nabil jahat!” jerit intan menatap nabil yang sudah masuk mobil, “pembohong! kakak suruh intan jangain bunda. intan udah jangain bunda! udah rawat bunda! kakak bilang klo intan lakuin itu kakak akan nemenin intan lagi! ajak jalan intan lagi! tapi kakak malah pergi….”
Tak tega mendengar raungannya, syifa lekas menghampiri dan memeluk anak itu, “intan sayaang, sabar, yah!” ucapnya namun sedetik kemudian ia mendapat penolakan.
“Pergi! kak syifa pergi!” teriak intan mendorongnya, “ini semua karena kak syifa laporin kak nabil ke polisi! intan benci kak syifa! intan benci!” intar berlari memeluk papahnya.
Syifa hendak menghampiri namun om haris mengagkat tangan melarangnya mendekat, “om juga kecewa sama kamu,” kata haris kemudian mengajak putrinya untuk pulang.
Belum sempat menguasai diri atas penyalahan intan, syifa kembali terimindasi dengan tatapan keluarga nabil yang masih berada disana. sebuah elusan dari bunda maupun tante mirna membuatnya tak bisa membenduk air mata, ia memeluk mamah dan menumpahkan tangis disana.
**
Segelas teh hangat yang baru saja diletakkan diatas nakas oleh tante mirna hanya ditatap hambar. wanita yang sudah tidak memakai penutup wajah itu berpamitan ke ruang tamu usai menyarankannya untuk minum. mungkin karena melihat keadaannya yang sakau membuat tante mirna memilih menginap.
bulir air mata kembali lolos ketika teringat tatapan pilu nabil. penyalahan intan maupun om haris yang sangat kecewa sampai ia dilarang mendekat.
Syifa meringkuk menenggelamkan wajah diatas lutut coba melukiskan wajah bunda sara dalam ingatan.
“Bunda, maafin syifa. bukan seperti ini maksudnya… syifa sungguh minta maaf.”
“Mas firaz pasti kecewa pada putrimu, mba! karena keputusannya itu membuat istri saya meninggal dan satu nyawa lagi akan terenggut!”
Syifa lekas mendongak mendengar pekikan om haris diruang tamu, ia terperanjat dan segera keluar.
“Nya-nyawa siapa yang akan terenggut?” yanya Ana pada haris.
“Putra saya akan dikenakan hukuman mati!”
Deg!
Syifa mematung mendengar jawaban om haris pada mamahnya. pandangnya tak berkedip sama sekali, namun sekalinya berkedip 2 bulir air mata mengalir begitu saja.
“Om….”
Surahnya yang lirih membuat om haris menoleh. syifa berhenti melangkah ketika pria itu mengagkat tangan memintanya tetap ditempat. om haris berpaling kemudian berlutut menatap lantai, ia menggeleng geleng dengan tangis lirih namun sangat memilukan ditelinga.
“Selama ini kami berdo’a untuk bertemu kalian, kami menjaga semua amanah yang diberikan untuk kalian. tapi apa balasannya...” haris tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Syifa ikut bertekuk lutut, mematung menatap om haris, “tante, nabil gak bakal di hukum mati 'kan tante?” tanyanya ketika tante mirna datang dan memeluk,“ tante!?” desaknya ketika wanita itu hanya terdiam.
Berada diantara mendengar dan tak terima, membuat ia bagkit menghadap om haris. “om, sa-saya salah denger ‘kan om. nabil gak mungkin dihukum mati, kan om?” sekali lagi pertanyaannya tak mendapat jawaban dan harus menelan apa yang coba ia sanggah. syifa merapatkan diri ke lantai, menghujaninya dengan air mata.
“Tolong katakan tidak, Oom. jangan buat syifa semakin merasa bersalah,” lirinya dengan nada bergetar, ia mendongak ketika om haris bangkit.
“Om yakin, bahkan mendiang ayahmu maupun istri, Om. pasti kecewa padamu.” haris lekas menghampiri mama syifa yang duduk terisak di sofa. “saya kembalikan semua yang berhubungan dengan perusahaan keluarga kalian, Mba!” katanya sembari menurunkan tas yang berisi berkas ke atas meja.
“Saya memang kecewa tapi mba dan syifa tidak perlu kawatir, kami tidak punya waktu untuk balas dendam. kami akan menjauh dari kalian." haris pergi meninggalkan rumah tersebut.
Raungan memilukan hadir dari syifa ketika pria itu sudah keluar dari rumah. ia memukul dadanya beberapa kali namun dicegah tante mirna.
“Hentika syifa… jangan menzolimi diri sendiri, Nak.”
“Semuanya karenaku… aku penyebabnya, tante! aku!” raung syifa, “bagaimana bisa aku tidak menyalahkan diriku... aku yang membuat bundanya meninggal, dan aku yang menjadi penyebab dia dikenakan hukuman!”
Mamah lekas menghampiri coba menenangkan meski dirinya juga syok, “Bu-bukan salahmu, Nak. bundanya meninggal karena terkena serangan jantung. jadi bukan salahmu.”
Syifa menggeleng, “beliau terkena serangan jantung karena tahu putranya akan dikenakan hukuman itu… aku tidak tuli, mah. aku dengar semuanya.” Syifa bangkit berlari keluar rumah.
“Aku harus temuin dia! aku harus membelanya!” ia berusaha melepas diri dari tarikan tante mirna, namun wanita bercadar itu menariknya kasar danbmerapatkan dirinya ke tangga teras.
“Petugas juga tidak akan mengisinkan kita,” bunda datang dan memeluknya, “besok, sayang. besok kita temuin dia."
-Bersambung.
Tetap.supportnya yah, Kak. terimah kasih.
__ADS_1
assalamu alaikum