
Sejak pengakuan Nabil kemarin pikiran Shifa tak karu karuan dibuatnya. entah kenapa pengakuan itu membuatnya resah meski ia tidak menyukai Pria itu. untungnya kemarin sore mereka tidak bertemu karena sengaja Shifa datang lebih lambat ke TPA.
Begitupun dengan hari ini, ia juga sengaja datang lambat. namun sayang ia kurang beruntung karena hari ini takdir baik berpihak ke Pria tersebut.
Nabil sejak tadi sudah menunggu kedatangan Shifa untuk menangih janjinya, namun keterlabatan Shifa membuat wajah anak pengaji cemberut.
untungnya Nabil menyarankan agar mereka membaca buku-buku saja sambil menunggu si pengajar itu.
"Lo kemana aja? punya tanggung jawab masuknya jam 2, lah ini udah setengah 3 loh! kamu pikir mereka gak punya kesibulan lain?" omel Nabil ketika Shifa sudah di hadapannya.
Shifa berkerut kering menatap Pria yang kemarin dulu melamarnya kini mengomel. miris sekali, bukannya menyambut dengan kalimat puitis, pria itu justru menghujatnya dengan kalimat merenahkan.
"Saya akan meminta maaf dengan mereka," shifa malas memperpanjang, ia mulai naik ke tangga.
"Lo juga harus minta maaf ke gue!" sahut Nabil membuat langkah Shifa berhenti dan berbalik.
"Lo ngehindarin gue, 'kan?" tebak Nabil
"Temuin gue habis lo ngajar, di belakang Mushollah."
Shifa hanya menatap sinis ia memilih masuk ke TPA sambil mengumpat pria itu yang seenaknya menyuruh.
"t**idak sengaja saja aku muak, apalagi ada rencana menemuinya"
Shifa sudah mengakui kesalahannya pada Anak-anak. seharusnya ia bisa prifesional disini mengenai hal pribadi dengan tugasnya sebagai pengajar.
Sudah sejam lebih wanita itu mengajar. hingga waktu yang di tunggu anak anak pun tiba. Shifa buru buru meninggalkan TPA, mereka semua pulang kecuali Lia, gadis itu di hukum karena 2 hari tidak masuk.
"Makanya jangan males!"
Suara menyebalkan muncul dari depannya. intan baru saja keluar dari TPA.
Lia mengacuhkan ajakan pertengkaran itu. intan mendengus tak di tanggapai ia memilih duduk di teras membaca buku sambil menunggu Nabil.
Lia membersihkan TPA sambil memikirkan bagaimana caranya mendapatkan sepatu Susi dari Pria menyebalkan itu. tangannya terus mencabut rumput sambil mengumpat dan mengutuk.
"Shifa mana?"
Lia terkejut mendengar suara yang baru saja mengusik pikirannya, ia berbalik mendapati Nabil celikungan.
"Kak Nabil ngapain di belakang Musollah?" tanya intan yang melihat kakaknya keluar dari sana. namun pria itu tak menanggapi, ia menatap ke Lia.
Lia berdiri seraya menepuk membersihkan tangannya. "Kak Shifa baru aja pulang, kak." terasa kelu Lidahnya menyebut pria itu kak.
"A**h sudahlah yang penting sepatunya cepat kembali."
Sementara kakak beradik itu terbelalak mendengarnya. terasa menggelitik memang di telinga Nabil mendengar panggilan itu tapi ia tak mempedulikannya. ia berbalik hendak menyusul shifa namun urung ketika Lia mengatakan.
"Kembalikan sepatuku!"
Nabil menoleh, "baru satu kesopanan yang kudengar, sempurnakan dulu syaratnya baru ku kembalikan!"
Lia hanya menghela napas, tak ada pembrontakan.
"Kak Nabil! mau kemana!?" tanya intan ketika melihat Nabil sudah berlari keluar halaman.
"Tungguin kakak di situ!"
Intan hanya mendengus pasrah ketika kakaknya sudah menghilang bersama motornya.
__ADS_1
Saat ini shifa tengah berjalan dengan santainya tidak ada beban apapun di hatinya ketika mengingat ajakan Nabil untuk bertemu. pria itu pasti sudah kering menunggu, pikirnya.
Cekiiik!
Tiba-tiba motor Sport kepunyaan Nabil menghadang langkahnya, ia beristigfar terkejut kakinya hampir saja hilang tertindas.
"Kau ingin membunuhku!!" protesnya
"Nanti, ketika kau sudah jatuh cinta."
Nabil memasang standar dan menuruni motornya menghampiri shifa. namun wanita itu malah melangkah cepat meninggalkannnya.
"Dasar!" umpat Nabil, ia buru-buru menaiki motornya dan mengikuti Shifa.
"Gue nungguin Lo di belakang, kenapa gak dateng!?"
Shifa mengacuhkannya ia terus berjalan tak menganggap ada orang sekalipun. namun langkahnya tersandung ketika Nabil menarik tas yang ia selepang di bahu kananannya.
"Siniin tas ku!" Shifa hendak merebutnya namun Pria itu menjauhkannya.
"Katakan dulu klo kau mencintaiku."
Mata shifa nyalang menatap Pria aneh di hadapannya.
"Kau sunggu tidak waras, yah! apa perlakuanku ini tidak jelas klo aku sudah menolakmu!"
"Kenapa kau menolak? bukankah pernikahan itu Sakral?"
Shifa menghele napas "pernikahan itu akan menjadi Sakral ketika benar-benar di pertemukan oleh tulang rusuknya, dan__"
"Dan klo ternyata aku lah tulang rusukmu?" pangkas Nabil dengan senyuman meyakinkan.
"Pemilik tulang rusukku adalah cerminan dari diriku!" bantah shifa, ia kemudian berlari menjauhi pria yg masih berada di atas motor itu.
Nabil tersenyum melihat cara Shifa menghindarinya. "aku yang bakal jadi cerminan dirimu, Fa!!" teriaknya.
Shifa hanya bergidik dan meringis mendengarnya. itu tidak mungkin, jelas jelas Kamu adalah pecandu obat terlarang sementara aku adalah pecandu Al-Qur'an.
Nabil kembali ke TPA usai memastikan shifa sampai dengan aman. disana masih ada Lia yang hendak menaiki motornya untu pulanag, namun urung ketika melihat Nabil.
"Apa yang harus kulakukan biar sepatuku cepat kembali?"
"Yang pertama, kau harus tahu apa itu batasan mahrom. dan yang kedua, kau harus mengerti apa itu hijrah dan untuk siapa kita harus berhijrah." jawab Nabil sembari melihat intan menghampirinya.
"Itu saja?" Lia terlihat bahagia.
"Aku memintamu mempraktikkan di kehidupan sehari-hari. bukan menyuruhmu mencari di mbah gogle, yah!"
Kaliamat nyolot Nabil yang sudah tahu Lia tidak mengerti, seketika membuat binar keceriaan gadis itu lenyap.
baginya memang mudah untuk mencari tapi klo di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari sepertinya itu sangat sulit.
Pertemuannya dengan Nabil sore itu al hasil tidak menumbulkan bibit pertikaian. mungkin karena ia benar benar ingin mendapatkan sepatu Susi makanya tidak banyak protes.
Sementara Nabil yang biasa merendahkannya juga tidak terlihat ke jutekannya. itu karena Nabil sangat senang membantu orang apalagi soal mendekatkan diri kepada Allah. meski dirinya sekalipun di pandang buruk oleh manusia.
Usai menjemput intan, Nabil selalu mampir ke bengkelnya. memeriksa usaha yang sudah ia bangun 2 tahun lalu bersama sahabatnya.
Memang tidak terlalu ramai hanya teman temannya saja yang selalu mampir disana jika ada yang bermasalah dengan motornya. sedangkan orang sana lebih memilih bengkel sederhana yang berada dipojokan jalan, tapi meski begitu Nabil tetap menjadi idola orang tua yang memiliki anak gadis.
__ADS_1
Intan menunggu di luar memainkan ponsel kakanya seperti biasa sementara pemiliknya sedang berbincang di dalam.
“Cewek yang punya motor kemarin siapa sih, namanya?” Tanya Dion seraya menyusun beberapa perlengkapan bengkel.
“Shifa?” jawab Nabil yang juga ikut membantu.
“Bukan, yang satunya!”
Nabil menyernyit “Lia?” tebaknya.
“Lah! itu.”
Nabil kembali melanjutkan pekerjaannya, “napa? lo suka?”
“Enggak lah! anaknya nyolot gitu mana mungkin gue suka.”
Nabil tersenyum masam “teruuus, ngapain nanya-nanya?”
“Yah! mau nanya aja. napa sih lo introgasi banget!”
Nabil hanya mengagguk-angguk dengan jawaban Dion. terlihat dari gerak gerik pria itu memang sedang menyukai seseorang namun nabil malas membahasnya karena berbincang dengan Dion bukanlah tujuan utamanya datang kesini.
Barang terakhir sudah ia susun. Nabil menoleh ke Dion yang sedang membersihkan tangannya dengan kain lap.
“Kemarin Marvel kasi lo barang, nggak?” Tanya nabil.
“Enggak ada!”
Nabil meninju pelan perut Dion, membuat pria yang selalu terlihat fresh dengan rambut jambulnya itu mengaduh
“Gak usah bohong, lo di kasih ‘kan?” Nabil mengambil alih kain lap yang di pakai Dion.
Dion menatap Nabil sejenak kemudian menghela napas “bentar! gue ambilin.”
Dion mendekati meja kerjanya dan mengambil sebuah pelastik kecil dalam lacinya. dari kejauhan saja sudah bisa ditebak barang seperti apa yang diinginkan Nabil AL-farizi itu.
Nabil langsung merebut barang yang di bawa Dion, “lo gak kasih gue garam lagi ‘kan?” ia mengamati serbuk putih dalam plastik tranparan tersebut.
“Sampai kapan sih! men, lo mau kek gini terus?” Tanya Dion menatap iba ke sahabatnya.
Nabil mengambil beberapa uang merah dalam dompet nya kemudian menyodorkannya pada Dion “lain kali gak usah bohong! gue selalu bayar kok.” jelas nabil, mentiadakan jawaban atas pertanyaan Dion.
“Ini bukan soal bayar atau enggak, men. gue cuman gak mau klo hidup lo bakal ancur karena nih barang.” ucap dion seraya mengambil uang itu.
“Hidup gue bakalan tetap ancur klo gk mke nih! barang. nih barang udah kayak obat bertahan hidup gue!” timpal Nabil.
“Gue harap lo bisa keluar dari lingkaran setan ini, bro.”
“Aamiin.” jawab nabil, ia memasukkan barang itu pada tas kecilnya. kemudian menepuk pundak sahabatnya.
“Tanks ya, bro! cukup gue yang ngerasain ini. lo gak usah nyoba,” pesan Nabil kemudian pergi meninggalkan Dion yang sedang tersenyum masam.
-Bersambung
Bantu Suport yah!
beri LIKE, tanggapan mengenai cerita ini di kolom KOMENTAR, dan juga bantu SHARE.
@Airaannur_
__ADS_1
Jazakillaih Khairan. 😊