Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Ilham


__ADS_3

Berita besar itu sudah ia ketahui. tapi syifa menyetuji permintaan tante mirna, apapun yang ia lakukan nanti jangan sampai merugikan perusahaan.


Sore ini ia sudah berada digenung Maxgrub, selangkah pun kakinya tak bergerak meninggalkan teras kantor. tak peduli tatapan kariawan maupun kalimat yang mengatakan pemilik Maxgrub tak ada, ia sangat yakin nabil ada didalam.


Arloji yang sudah menunjukkan angka pukul 20 membuatnya mulai goyah, lelah, lapar, dan haus. tapi ia masih bertahan dengan keyakinan, nabil pasti luluh.


usahanya untuk menetap ternyata tak menjadi sia ketika seorang pria berkacamata berjalan menghampiri. namun semakin dekat dan jelas wajah itu, membuatnya tercekal dan kesal.


“Eky!” teriaknya.


“Sebaiknya pulang sa_”


“Pembohong!” belum pria itu menghentikan langka, syifa sudah menyerang menggunakan tas, “kamu bilang malam itu nabil akan di eksekusi. aku datang dengan harapan kabar baik. tapi kamu akhiri dengan menyalahkanku! kamu membohongiku!! dia masih hidup!”


“Aku bukan pembohong.” eky menatap lekat Syifa yang terisak, “dia memang hampir di eksekusi, dan itu karenamu. jadi aku tidak salah menyalahkanmu, kan?”


Mengingat tujuannya, Syifa tidak pedulipenjelasan pria itu, ia usap air mata kemudian mengiba, “dia ada bersamamu ‘kan, tolong bantu aku bertemu dengannya.”


“Untuk apa kamu menemuinya?”


“Aku ingin minta maaf,” kata syifa hampir tanpa suara.


“Jagan temui dia dan jangan ingat tentangnya! 2 tahun lalu aku sudah katakan, itu cara agar kamu dimaafkan.” eky kemudian berlalu pergi.


“Ky! Aky!” syifa tak bisa menahan eky ketika pria itu sudah memasuki gedung dengan Id Cart. hanya teriakan yang terus berujar yang bisa ia lakukan berharap pria itu iba. namun sampai jam sepuluh, suasan yang hening itu membuat syifa takut dan seharusnya tak perlu semalam ini menunggu. ia menganbil tas dan menghampiri motor. namun baru beberapa langkah berjalan, ia tak sadarkan diri karena terlalu lelah.


**


Sayup-sayup terdengar ketikan keyboard, ia membuka mata dan memicing pada sekitar yang nampak tak asing. ya, dia merasa bingung berada dikamarnya. masih teringat betul terakhir ia berdiri ada dimana.


“Tante.. yang bawa aku kesini siapa?” tanya syifa usai melihat wanita yang focus didepan laptop.


Wanita itu lekas menghampiri, “ada pasangan suami istri yang temuin kamu. untungnya dia telpon tante,” ia memengak kening ponakannya, “kamu rasain apa? kepalanya masih sakit?"


Pertanyaan tante mirna membuat ia teringat perjuangnya bertahan semalam. ia sangat yakin, nabil ada di gedung itu. ia sempat berharap bahwa nabil-lah yang membawanya pulang, namun ternyata ia terlantar semalam.


“Dia juga egois tante.., seharusnya dia yang menolongku,” tangisnya kembali pecah, “aku hanya ingin bertemu untuk minta maaf.”


Bukannya memeluk ataupun menyabarkan ponakannya, wanita bercadar itu justru mengabil laptop dan mempelihatkan video ujaran syifa semalam yang tertangkap cctv.


“Dia yang menyebarkan ini di grub perusahaan. masih ingin meminta pertolongannya?”


Meski dibelur, tapi keterangan yang diberikan nabil membuatnya tak menyangka nabil setega ini padanya. tante mirna mematikan leptop kemudian menatapnya lekat.


“Jangan turunkan harga dirimu, sayang. kamu adalah masa depan Ifacroups. jika ingin menemuinya, buatlah seelegan mungkin, jangan jadi jahilia seperti ini. kamu punya banyak peluang bertemu dengannya jika kamu serius mengurus perusahaan itu.”


Anggukan keyakinan yang diberikan tante mirna membuat syifa meredakan isakan, namun kualitas diri membuat ia menggeleng, “aku tidak berpendidikan, aku hanya menghancurkan udaha tante.”


“Kamu bisa belajar dengan Om Rudy. dia yang akan membantumu sampai bisa.”


Tekad yang ditanamkan tante mirna untuk dirinya begitu kuat selalu ada kata kata pembangkit jiwa ketika ia mulai lelah dan putus asa. ia memang perlu berkembang dan mengenbangkan jeri payah almarhum papanya yang tersisa.


**


Hampir 2 bulan sudah syifa belajar dengan Om Rudy, tenyata ambisi membuat ia cepat tanggap dan akhirnya Om Rudy meyakini ia sudah mampu mengurus Ifacroups.


Tepat di hari syukuran keberhasilan Ifacroups setelah bekerja sama dengan Maxgrub, di hari itu pula tante mirna memperkenalkan syifa yang selaku pemilik perusahaan yang asli. dengan ramah, syifa menyapa satu persatu kariawannya. setelah puas menyapa, tante mirna mengajak syifa keruangan kusus. disana ia dibuat bingung dengan kehadiran pria yang terus mengulas senyum padanya.


“Syifa, kenalin, nak. ini ilham, anaknya Pak Rudy.”


Syifa menagguk dan menyapa pria itu dengan ulasan senyum.


“Dia yang akan menjadi sekretarismu.”


Namun seketika senyum itu tertahan mendengar lanjutan tante mirna. ia menatap tak setuju namun ketika pria itu mengatupkan tangan ke dada, membuatnya urung.


“Saya ilham, Bu. in sya allah saya akan membatu Ibu sampai perusahan ini bisa berkembang lebih baik lagi.”


Tutur kata ilham yang sopan membuatnya tak memeprotes. tante mirna memberikan beberapa berkas dan menjelaskann beberapa hal. setelah syifa mengerti, barulah wanita itu berpamitan pulang untuk mengurusi toko barunya di Jakarta.


“Aku harus memulai dari mana?” kalimat serta eksperi syifa membuat pria ramah itu tertawa kecil.


“Seharusnya itu pertanyaan saya, Bu.” ujar ilham, “tapi sebagai sekretaris, saya akan menjelaskan lagi tentang perusahaan anda.”


Ilham mendekat ke meja dan mulai menjelaskan berkas apa yang ada dihadapan wanita itu. syifa merasa sangat malu, wawasan ilham serta cekatannya dalam berbicara membuatnya benar benar membutuhkan ilham kedepan.


“Kalo gambar kerangka motor dan contoh logo ini untuk apa?” Syifa menutup sebuah map untuk membaca judulnya, “proposal kerjasama Maxhrub dengan Ifacrops?”

__ADS_1


Ilham menagguk, “itu miting pertama Ibu dengan pemilik perusahaan itu. senin depan, maxgrub melakukan pertemuan dengan perusahan perusahan yang bekerja sama dengannya. termasuk pwrusahaan ini, Bu.”


**


Malam sudah mulai larut, pemilik perusahaan otomotif ternama yang memiliki banyak penawaran untuk kerja sama kini merenung menatap senduh kerlip kerlp bintang angksa. ada sebuah bintang yang sangat bersinar yang membuatnya enggan berpaling.


“Hadirmu ibarat bintang. meneraniku dengan kesabaran dalam lembar yang pekat. menyilauku dengan perhatian sehingga aku menetap. namun disaat aku sudah mengabaikan bulan, kamu seakan cemburu dan pergi begitu saja.”


Dulu ia mengagungkan bulan, namun ketika bulan itu pergi dan merasa dirinya tinggi. ia ganti terkagum pada bintang yang mengelilingi bulan tanpa rasa cemburu. namun saat ini, bintangnya telah pergi. Nabilah, cahaya hidupnya saat ini mendukung bulan.


Lembar pesan terakhir yang dikirim wanita itu terus terlihat. ia tahu siapa yang dimaksud almarhum calon istrinya. seorang wanita akan datang dengan ketidaktahuan juga kata maaf ketika wanita itu menemuinya. syifa, firasat nabila tentang kedatangan syifa sudah terjadi beberapa hari lalu.


Sangat tak sudih, tapi dihati kecil, ada sebuah kegelisahan ketika ingin menepis memenuhi permintaan terakhir nabilah namun bagaimana bisa ia kembali bodoh pada wanita yang sama?


**


Hari yang ditunggu syifa untuk bertemu pemilik Maxgrub akhirnya tiba. pintu masuk ruang miting terus membuatnya menoleh setiap kali ada orang yang datang. namun harapan untuk bertemu nabil pupus ketika Maxgrub diwakili oleh sekretarisnya yaitu Eky.


Saat miting berlangsung, ia tak henti menatap pria berkacama itu yang sama sekali tak terkejut dengan keberadaannya. padahal ia sangat ingin mempertanyakan nabil, namun statusnya yang hadir sebagai pemilik Ifacroups membuatnya menahan kenginan.


“Kita langsung pulang ke kantor, Bu?” tanya ilham ketika miting itu sudah selesai.


“Apa boleh pemilik perusahaan lain melihat lihat perusahaan ini?”


Pria itu tertawa kecil mendengar petanyaan syifa. ia menagguk dan mengajaknya turun di lantai dua. hanya lantai itu yang dizinkan Maxgrub untuk tamunya. berbagai modifikasi motor menjadi pemandangn utama ketika mereka berada dilantai yang setiap dindingnya berbahan kaca bening.


Berada di perusahaan besar membuat syifa ingin menatap kota dengan cara berbeda. ia melipir dan melihat lalu lalang kendaraan yang lewat di depan Maxgrub.


“Nabil”


Syifa lekas berbalik menuju pintu yang menghubungkan tangga luar ketika ia melihat nabil dan eky berjalan menghampiri mobil yang terparkir di halaman gedung.


“Argh!”


Namun ketika berada di tangga terakhir, kakinya tersandung dan akhirnya terjatuh. ia mendongak pada nabil. terlihat pria itu sudah mengambil ancang menghampiri namun niat membantu ia urungkan dan memilih memasuki mobil.


“Ibu gak apa?” ilham yang baru sampai mengulurkan tangan namun hanya ditatap hambar.


Syifa bangkit dengan masih menatap jalan. nabil menghindarinya, pria itu pasti tahu jika bukan tante mirna yang datang makanya ia meminta eky mewakili. meski tak dilakukan, tapi cara nabil yang hendak membantu membuat Syifa merasa pria itu masih peduli.


“Yang pakai setelang hitam tadi, dia adalah pemilik Maxgrup, Bu.”


Namun setelah sampai di Ifacroups, Staf lobi memberitahu jika Maxgrub membatalkan kerja samanya. bukan masalah kerugian, tapi ini tentang tanggung jawabnya sebagai pemilik perusahan. tak terima keputusan sepihak itu, ditemani ilham, ia menuju cabang Maxgrub yang berada di bandung.


Melakukan perjalanan jauh ternyata tak menemukan hasil. nabil tak ada disana, atau pria itu justru bersembunyi menghindari. karena hari sudah sore, ia menuruti ilham ketika pria itu mengajaknya pulang.


**


Di atas pusara yang tanahnya masih merah, ia duduk menatap sendu batu nisan yang mengukir nama Nabila Hijratul Hasana. teka teki yang coba ia pecahkan agar bisa bertemu nabil tak satu pun berhasil. rasa putus asa membuatnya ingin menziarahi nabilah. elusan yang diberikan tante mirna tak lagi membuat air mata itu terurai namun masih terelas mata sembab disana.


“Aku masih menyangkan kamu yang pergi begitu saja tanpa kabar. tapi terimah kasih, keduakaanmu membawaku bertemu nabil. terimah kasih, nabilah. kamu wanita yang tegar dan iklas.”


Syifa berdiri meninggalkan pusara itu. namun ketika hendak menuju mobil, langkah mereka terhenti ketika pria berkacamata hitam dengan membawa sebuket bunga menuju di pusara yang sama.


Ini adalah kesempatannya berbicara, tetapi ia membiarka pria itu memberi doa dan menyimpan bunga diatas pusara nabila terlebih dahulu. pria itu tak mungkin menghindari lagi.


Syifa meminta tante mirna menunggu di mobil, sementara ia menghampiri motor sport yang diyakini milik nabil.


setelah menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya pria itu datang dengan wajah ketus.


"klo kamu hanya merengek minta maaf, itu tiada gunanya!” ujar nabil kemudian menghentikan langkah ketika mereka berhadapan, “maaf itu ada padamu, dengan berhenti menggaguku.”


“Aku menemui bukan minta maaf,” sergah syifa, “tapi ingin menyadarkanmu yang selaku pemilik perusahaan besar namun pecundang dan tak professional.”


“Apa kau bilang!?"


“Kamu membatalkan kerjasama dengan Ifacroups bukan karena proyeknya yang tidak baik 'kan? tapi kamu ada masalah pribadi dengan pemilik perusahaan itu.”


Nabil tersenyum masam, “tiada gunanya memikirkan manusia egois.” gumamnya kemudian mengalihkan pandangan.


“Jika kamu sudah tidak memikirkannya, lalu untuk apa kamu menghindariku selama ini?”


“Aku tidak sedang menghindari dirimu. tapi rengekan maafmu.” nabil menatap remeh, “sebenarnya kamu yang tidak professional, Fa. aku tahu, kenapa kamu turun tangan sendiri mengurus Ifacroups. karena berkesempatan bertemu denganku 'kan?”


Syifa tak bisa menyanggga, kalimat pria itu memang benar, “kuminta sekarang, kamu tarik kembari keputusanmu yang membatalkan kerjasama dengan ifacroups.”


“Kamu siapa harus menyuruhku!” nabil mendekat dan membuat wanita itu terpaksa menepi, ia menaiki motor dan menatap Syifa kembali, “banyak orang lemah yang bergantung pada perusahanmu, jangan kecewakan mereka hanya Karena urusan pribadi. professional! jadilah pemilik perusaan bukan pemilik kesalahan yang memburu maaf.” ujarnya kemudian menancap gas.

__ADS_1


Kalimat pria itu menyemangati, tapi ada saja yang membuatnya sedih. nada bicara, sikap, bahkan tatapan nabil yang sekarang, sangatlah asing. ia tak ingat lagi keramahan pria dingin itu. setelah 5 menit kepergiannya, syifa lekas menepis lamunan ketika ponselnya berdering. ada panggilan dari ilham ia mengangkat dan menanyakan alasan pria itu menghubungi.


“Beneran! Maxgrub tidak jadi membatalkan kerjasamanya?” balasan iya dari ilham membuat senyum itu terulas lagi. ia mendekap polsel setelah panggilannya terputus dan terus mengucap syukur. namun sesaat ia menatap tajam, ketika teringat kalimat nabil.


“Dia sudah bebas, aku bukan pemilik kesalahan. aku Syifa yang juga ingin berkembang.”


**


Menjalani hari tanpa beban kesalahan yang sudah ia pikul selama 2 tahun ternyata sangat membahagiakan. tekatnya untuk mengembangkan ifacroups semakin besar. ia sudah percaya diri memberikan ide atau keritikan ketika Maxgrub membuka pertemuan.


Sudah tiga kali pertemuan proyek itu ia hadiri, dengan keberadaan nabil yang memberi narasi. namun karena kehadirannya yang masih didampingi ilham, membuat mereka menjadi topik perbincangan disetiap kali ada pertemuan.


Bahkan gosip itu sampai ditelinga nabil. sudah beberapa kali ia mendapat teguran dari pria itu untuk tidak mengumbar kemesraan di perusahannya. namun tiada kesempatan untuk klarifikasi tentang hubungnya dengan ilham hanyalah sebatas teman kerja yang saling membutuhkan.


“Masuk,” ujar Syifa ketika mendengar ketukan dari pintu. pandangannya kembali focus merancang depan layar ketika melihat itu adalah ilham.


“Syifa…”


“Iya?” syifa menatap sejenak dengan tersenyum singkat, ia lebih nyaman jika pria itu memanggilnya dengan nama tanpa sematan ibu.


“Aku ingin mengundurkan diri.”


Syifa lekas mendongak, “kenapa?” ia menarik tangannya dari mouse kemudian menatap meminta penjelasan.


“Memang sudah saatnya aku berhenti. sesuai perjanjian, sampai kamu bisa. dan sekarang kamu sudah bisa mengurus perusahan ini tanpa bimbinganku.”


“Tapi Ilham...”


Ilham menggelang, “ayah suruh aku berkecimpun diperusahaanya.”


Pernyataan ilham membuat syifa tak berhak mencega, namun ia terpaksa mengagguk, “Padahal kamu orang yang berpengaruh dalam perusahan ini,” masih tak rela.


Ilham diam sejenak tanpa mengalihkan pandangan, “ada sesuatu lagi yang mau aku katakan."


“Apa?”


Bukannya menjawab, pria itu justru merogoh sesuatu dalam sakunya. kotak cincin berwarna merah membuat syifa mematung, ia paham betul dengan keadaan ini apalagi setelah pria itu berlutut dihadapnnya. tapi sulit dipercaya, pria yang sudah ia anggap sebagai saudara itu ternyata menyimpan perasaan.


“Bisakah aku menjadi bagian dalam hidupmu?”


Syifa belum menjawab, ia masih tertekun dengan lamaran ini. setelah bisa mengendalikan diri, ia berdiri dan menjaga jarak, “aku sudah mengaggapmu seperti saudara, il! mana bisa aku menikah denganmu.”


Ilham menggelng, “tapi tidak denganku,” balasnya, “aku mengagapmu wanita yang bukan mahram. tapi ingin selalu melindungi dan membuatmu bahagia. ingin melindungimu dalam halal.”


Perasan Syifa berusabah sesak mendengar kalimat halal. tubuhnya lemah dan berkeringat dingin. ia tidak suka keadaan seperti ini. ia lekas mematikan laptop dan memasukkannya dalam tas. langkahnya yang hendak pergi dihadang oleh pria itu.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, kumohon.”


“Sudah jam dua! hari ini kamu masih seorang sekretaris, loh! seharusnya kamu yang mengingatkan itu.” ia belalu pergi ketika pria itu mematung. beruntung ia mengingat jadwal miting dengan Maxgrub untuk dijadikan alasan.


**


Bukan tentang masih mengharapkan nabil. tetapi ada saja keraguan jika ia harus mengiyakan lamaran ilham. tapi jika menolak, umur juga seakan mendesaknya menikah. pikirannya yang gusar semakin rumit mengingat bentakannya pada ilham. ia sudah membuat pria itu sedih.


Selama miting, matanya memang terlihat focus menyimak presentase, namun sebenarnya pikiran itu sedang kalut sehingga apa yang ia dengar keluar begitu saja.


“Klo ifacroups sendiri, sudah sampai mana perkembangan proyeknya?”


Bahkan pertanyaan yang sudah terulang 2 kali dari eky belum juga membuatnya tersadar. semua yang hadir disana menatap, termasuk pemilik wajah ketus yang memicing menebak apa yang ia pikirkan.


“Syifa!” barulah tepukan sanas, teman akrabnya yang duduk disamping membuatnya menoleh, “Pak Eky tanya, kerjaanmu udah sampai dimana?”


“Oh!” syifa lekas metap layar leptop yang masih menunjukkan gambar wallpaper. ia segera mencari berkas tempatnya menyimpan desain logo. meski segan dengan lamunannya tapi ia berusahan menahan gugup ketika mempresentasikan itu.


Syifa baru bisa bernapas lega ketika pemilik Maxgrub berhenti melayangkan pertanyaan yang menjerumuskannya pada tatapan mengintimidasi.


“Pertemuan kali ini kenapa sih gak focus gitu?” bisik sanas ketika miting selesai dan hanya menyisakahan beberapa orang di ruangan, termasuk nabil yang tengan berdiskusi diujung sana namun pendengarannya berusaha menangkap kalimat dari 2 wanita tersebut.


“Apa Karena permen karetmu gak ikut?”


Syifa menoleh bingung, “permen karet?”


“Yang il il itu, loh. ilham!”


Syifa menatap malas, “jangan tanya dia.”


“Loh, kenapa?” sanas mendekatkan telinga ketika syifa melirihkan sesuatu, matanya langsung membulat mendengar penjelasan wanita itu, “Dia lamar kamu!?” pekikan sanas membuat semua teralihkan.

__ADS_1


-Bersambung


Sekali lagi minta supportnya yah, temen temen. makasih, assalmau alaikum.


__ADS_2