
"Kenapa besok? Seharusnya mereka datangnya sekarang?" tanya Shifa keheranan.
"Nah! itu dia kak. pria itu sok kuat, berkata seolah baik-baik saja padahal keluarganya tadi udah mau datang loh!tapi malah dilarang," adu Lia antusias "Kelihatan Sih! pasti orang tuanya sibuk deh jadi tidak terlalu penasaran dengan keadaan anaknya," lanjutnya.
"Kamu nguping?"
Lia menoleh ke sumber suara itu kemudian meringis menyadari perbuatannya salah.
"Menguping itu perbuatan tidak baik Lia.. tidak baik mencuri percakapan orang lain." Shifa mencoba mempringati.
"Tapi ada untung nya juga kan?" Lia mendekatkan wajahnya, "Aku tahu banyak loh, kak," Lia mencoba membela diri.
Shifa menyebik kemudian tersenyum, "Iyah.. gak pp klo dapat memecahkan masalah tapi buat bahan gosip itu yang nggak boleh."
**
Gemuruh hujan yang bersamaan dengan suara petir kini mendominan di ruangan yang berukuran 4×4 meter itu. terpaan angin yang kencang diluar sana bagai festifal untuk menguji siapa pemilik akar yang paling kuat.
Suasana bising itu sudah pasti mengggangu sebagian istirahat insan yang sudah siap terlelap, termaksud dengan Shifa.
Sesekali wanita itu terbangun menatap pria yang berada di atas berangkar. Beberapa kali pula ia memejamkan mata dan mulai masuk dalam dimensi mimpi. namun pikiran yang was was membuatnya selalu terjaga.
Ia membalikkan badan, melihat Lia yang yang sudah menutup mata dengan wajah tanpa ekspresi, sudah dipastikan wanita ini sudah lupa ingatan. Ia tak berniat mengganggu istirahatnya.
Ia hanya ragu dan bersalah.
Apakah pantas mereka menjaga dan tidur di ruangan yang sama dengan pria yang bukan mahramnya?
"Maafkan kami ya Allah. klo ini salah" batinnya, ia mencoba memejamkan mata tak kuat menahan rasa kantuknya kali ini.
🌄
Hari sudah berganti. meski remang remang kegelapan masih menutupi sebagian cahaya langit, namun wanita muda yang biasanya bagun lebih awal itu masih belum juga terbangun karena banyak pikiran yang mengusiknya semalam.
Bahkan hentakan sepatu flat shoes milik seorang yang berjalan ke arahnya, tak membuatnya sedikit pun tersadar meskipun perlahan langkah itu semakin mendekat.
"Ya Allah, kak Shifa! belum bangun juga?" Lia yang baru saja melaksanakan sholat subuhnya langsung menggoyang kan punggung wanita yang tertutup selimut itu.
"Apa sih deek?" Ucap shifa memelas, ia mengerjap kemudian menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
"Yah Allah, sudah fajar kak! Kakak gak sholat apa?"
Mendengar itu, Sentak Shifa terbangun dan melihat jendela yang hanya berukuran beberapa senti itu. sadar jika kesiangan? segera ia mengibakkan selimutnya dan bergegas pergi.
"Mau kemana kak?"Lia menahan langka Shifa.
"Mau sholat lah, masih ada waktu," jawabnya kemudian setengah berlari meninggalkan Lia.
Jawaban itu membuat Lia bingung.
dirinya hanyalah seorang Mu'alaf yang banyak kekurangan mengenai islam.
Memang pakaiannya begitu syar'i membuat banyak orang tertipu dengan sikapnya yang tidak sesuai.
__ADS_1
"Sudahlah, nanti saja kutanyakan." ia berbalik mendekati pria yang bernama Nabil itu.
Matanya memicing memandangi paras pria yang kedua matanya masih tertutup.
seketika ia tersenyum masak mengingat kejutekan pria tersebut.
"Wajah tampan begini, sayang sekali dimiliki oleh orang sepertinya." cibirnya kemudian hendak membalikkan badan, namun sebuah dehemam menghentikan niatnya.
"Memang aku kenapa?"
Lia terkejut. ia menoleh kesal ke sumber suara itu, "Jadi sedari tadi anda pura-pura tidur?"
Pria itu memilih duduk, ia tersenyum sinis menanggapi tuduhan itu. "Aku tidak suka berpura-pura," balasnya menatap Lia remeh.
Tak terima, Lia juga balas menatapnya remeh "omong kosong."
"Memang sayang, rupa terlalu sempurna menutupi bejatku, wajahku tidak cocok dengan sikapaku, kan?"
Pertanyaan tiba tiba terlontar dari mulut pria itu. Lia hanya menyernyit menatapnya. Namun justru pria itu menatap remeh gamis dan kerudung panjangnya.
"Tapi lebih disayangkan lagi... jika pakaian syar’i itu terpaksa mengena di badanmu."
Kembali alis Lia tersentak dengan kalimat pria itu. ia menunduk menatap gamis nya. pikirannya mulai menebak maksud pria tersebut.
"Apa kamu tidak merasa bersalah?"
Belum Lia mendongakkan. bibir tipis pria itu kembali berbicara.
"Kamu hanya bermain-main dengan agamamu. lihat penampilan mu? apa itu sudah mencerminkan sikapmu?"
ia mudah tersinggung, apalagi jika seseorang menyingguk sikapnya. Matanya mulai perih mesti mentari baru menyapa tapi kenapa ia harus terluka lebih awal? dikatakan bermain main, membuat didadanya seakan sesak.
"Aku tahu, perempuan seperti kamu hanya ingin terlihat modis dengan pakaian itu. ingin dibilang alim, sholehah!" Nabil tak henti mencibir meski menyadari wanita di hadapannya itu sudah tersinggung "Atau.. kau ingin mendapatkan popuritas dari itu, kan?"
Lia terbelalak. matanya sudah penuh dengar cairan bening. ada luka yang mengena di hati, Seakan sindiran-sindiran itu bagai panah yang menusuk pas dijantungnya yang membuatnya sulit bernapas apalagi berkata membalas pria itu.
Ia mengedipkan mata, ia tak kuat membendungnya lagi. menyadari itu, Lia segera mengusap pipinya dan pergi meninggalkan pria tersebut.
Nabil hanya menatapnya heran. ia terdiam dan menyesali sesuatu. bukan berniat melukai hanya saja ingin memberitahukan gadis itu. tapi sepertinya cara bicaranya terlalu kejam.
"Apa aku salah?"
**
Sepuluh menit berlalu sejak kepergiannya. Shifa menghampiri Lia yang tengah duduk merenung entah apa yang di pikirkan. tapi hal itu membuatnya bertanya-tanya, tidak biasanya wanita periang itu bersikap murung.
"Mikirin apa Lia?" tanya Shifa setelah duduk "Hayo! Mikirin cowo itu, yah?" tebaknya.
Lia menegakkan badannya dan tersenyum,"Kaak?"
"Hemm.." jawab Shifa sambil merapikan jilbab.
"Aku--"
__ADS_1
"Astagfirullah.. aku lupa kabarin Bu Mirna, Li." pangkas Shifa yang baru teringat pekerjaannya.
Lia hanya menarik napas usai kalimatnya terpotong, mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuknya bertanya dan curhat.
Sementara wanita disampinya sudah menatap dengan harap.
"Aku harus pergi Lia.., Kamu masih bisa kan, disini?"
Lia terlihat berfikir, "Apa tidak bisa melalui telepon Kak?"
"Aku tidak enak dengan Bu Mirna, aku ingin minta maaf secara langsung," ia meraih tangan Lia, "aku janji, dari toko.. aku langsung kesini."
Lia diam menatap kemudian memanyun dan mengangguk pasrah, "Iyah pergilah kak, biar aku jaga disini."
"Makasih ya, Lia" Shifa hendak memeluk Lia sebagai tanda terimah kasi, namun gadis itu segera menolaknya.
"Udah! udah! buruan pegi." usir Lia "klo naik motor Hati-hati, Aku gak mau cakap ku ini kenapa-napa."
"Cakap?"
Lia mengangguk "Cakap, calon kk ipar, hahah." tawa Lia, namun wanita disampingnya hanya tersenyum kikuk.
Shifa menghela napas, tidak memerdulikan harapan gadis remaja itu padanya. "Assalamu alaikum," ucapnya kemudian berdiri.
"Waalaikumussalam kak." jawab Lia, "ingat! jangan lama-lama, aku gak betah disini!" teriaknya sebelum Shifa menghilang di ujung koridor.
Baru beberapa menit setelah kepergian Shifa, seorang wanita dan pria paruh baya datang menghampirinya. Lia memasang ingatannya setelah melihat pria paruh baya yang tidak asing baginya.
Kedua paru baya itu memasuki ruangan Nabil, mereka tidak menghiraukan wanita muda yang tengah menatapnya.
"Pah, mah? " sahut Nabil yang terkejut mendapati kedua orang tuanya yang tiba-tiba datang lebih awal.
Sara, mama Nabil. ia berlari kecil menghampiri anaknya, "Mana yang sakit sayang?" Tanyanya khawatir.
"Nggak ada kok maaa.. cuman luka gores doang," Nabil mencoba untuk duduk. "Auuww!" pekiknya kemudian mengusap perutnya yang terluka.
"Kenapa sayang?" panik Sara, ia mencoba membuka kain yang di usap putranya namun segera pria itu menapik pelan tangannya.
"Jangan di buka mah," pinta Nabil kemudian menatap gadis remaja yang baru memasuki ruangan tersebut. Tentu saja kedua paru baya itu mengikuti pandangan putranya.
Melihat 3 pasang mata sudah mengarah kepadanya, membuat Lia merasa tidak nyaman. mungkin kehadirannya juga sudah mengganggu kenyamanan keluarga itu. Ia berusaha mengulas senyum melawan kecanggunannnya.
"Kamu temannya putra saya, Nak?" Tanya pria paru baya yang memakai stelan rapi.
Lia menggeleng, "saya tem--"
"Dia orang yang saya tolong, Pah." pangkas Nabil membuat Lia terbelalak.
-Bersambung-
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa Likenya sama Komennya plis kasi lah semangat authornya.😢
banyu supportnya, temak kasih.