Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Mengenang.


__ADS_3

"Jawab pertanyaan gue!" desak Nabil.


"Hem?"


Lia kebeblakan. jangankan menjawab, dirinya saja baru mengetahui ada balasan balasan tertentu seperti itu dalam islam. Merasa tersudutkan, tangannya perlahan mengambil ponsel dalam tas dan mengetik sesuatu, berharap jawaban itu ada di mbah gogle.


"Dari tingkah Lo, itu jawaban gue dari pertanyaan Lo sebelumnya," kata Nabil menatap remeh Lia.


"Maksudnya?" Lia menghentikan jarinya.


"Menutup aurat itu wajib. berubah menjadi baik dari sebelumnya itu harus,


Berpakaian syar'i seperti itu memang sangat di anjurkan juga dalam islam.


namun, jangan terlalu sibuk memperbaiki penampilan hingga lupa ada juga prilaku yang menentukan tempatmu di akhirat." Tutur pria itu serius


Lia bergeming menatap, ia tak menyangka pria yang berpenampilan urakan itu mengerti banyak hal, bahkan memberi pencerahan padanya yang justru berpenampilan lebih baik.


"Satu lagi!" Nabil menunjuk nunjuk matanya, "Loh juga harus jaga mata." lanjutnya kemudiam beralih memegang salah satu piinya, "tauu, gue ganteng. jangan sering-sering liatin. gue gak bisa bales perasaan cewek model kek Lo."


Binar kagum di wajah Lia seketika menghilang mendengar keangkuhan pria tersebut. ia memotar bola mata dan kembali menatap.


"Aku hanya tidak menyangka, pria berantakan seperti anda bisa berceramah seperti itu rupanya." cibir Lia.


Nabil berdecak, "Dasar cewek, ya. liatnya cuman dari luaran."


Baru ingin melayangkan protes, seorang wanita yang baru bergabung dengan membawa kursi roda menghentikan Niat Lia.


Sarah membantu putranya meduduki kursi roda. sementara Lia membereskan barang-barang shifa yang dibawanya kemarin. Mereka bersama-sama keluar dari ruangan itu, dan keluar dari pintu rumah sakit.


"Kamu di antar siapa, Nak?" Tanya sarah pada Lia usai menutup pintu mobil yang di masuki putranya.


"Nungguin temen, tante. bentar lagi kayak nya datang."


Sarah mengagguk, "Kalau begitu tante pamit duluan yah, Nak. assalamu alaikum."


"Waalaikumussalam, tante."


Setelah kepergian mobil Nabil, tak lama kemudian Shifa akhirnya datang. ia menghampiri Lia yang tengah duduk diruang tunggu bersama tas miliknya.


"Kok diluar?" tanya Shifa bingung.


"Udah pulang tuh pasien," jawab Lia terlihat kesal.


"Kok cepat banget? bukannya lukanya lumayan parah, yah?"


Lia menatap Shifa, "namanya juga orang kaya, kak. jangankan perawat, rumah sakit aja mereka beli." jawabnya kemudian kembali memalingkan wajah.


"Aku belum ucapin terima kasih lagi, sama itu orang."


"Udah ku ucapiin." jawab Lia ketus.


Shifa baru menyadari ada yang tak beres dengan sikap gadis itu, "Masih marah, nih?"


Lia mendengus kesal kemudian mendongak Shifa, "dari mana aja sih, kak. aku telat nih ambil barangnya.." adu Lia.


"Iyah deh, maaf. udah di bilang tadi macet."


Setelah semua berbaikan, mereka pun menaiki motor untuk pulang. beruntung rumah Shifa lebih dekat jadi Lia tak perlu putar balik atau membuang waktu untuk mengantar.

__ADS_1


"Kak? Kak Aska!" panggil Lia ketika memasuki rumah. Tak ada jawaban dari dalam ia menelisik dan pandanganya terhenti pada seorang pria yang terbaring membelakanginya di sofa ruang tamu.


"Gue kerjaiin aa..." Lia mengendap endap menghampiri pria itu. "DER!!"


"Sial!!" cetus pria itu kemudian bangkit dan menatap kesal ke arah adiknya.


"Astagfirullah, kak. Itu mukanya kenapa?" Lia terkejut melihat langsung wajah babak belur kakanya. ia hendak menyentuh namun pria itu menapiknya pelan.


"Sakit, tau!"


"Kok mukanya bisa kayak gini, sih?" tanya Lia, "Udah diobatin?"


Tak ada jawaban dari pria itu.


Lia berdecak, "mama mana?" tanyanya sambil celikungan.


"Udah pulang."


Lia pergi kekamarnya. tak lama kemudian ia kembali membawa kotak obat dan duduk di samping kakaknya.


"Lebay amat sih! dek. cuman luka kecil doang," kata Aska seraya mendekatkan wajahnya.


"Bukannya apa.. ini kasian muka gantengnya lecet," Lia mulai mengolesi beberapa krim luka di wajah Aska "Siapa lagi yang rawatin kalau bukan adikmu?"


Pertanyaan serius dari Lia justru membuat pria berparas tampan itu tersenyum geli. Lia memang selalu ada saat semua orang bahkan kedua orang tuanya membencinya.


Ia teringat  beberapa tahun lalu ketika kedua orang tuanya mengusir dirinya dari rumah karena ia terbukti sebagai pemakai. Setelah keluar dari penjara, ia akhirnya memutuskan tinggal dirumah itu, sendiri.


Lia yang mengetahui keberadaannya langsung pergi dari rumah, berharap orang tua mereka sedikit luluh. Namun justru ia mendapat ancaman dari papanya, tapi beruntungnya ancaman itu hanya gertakan saja. dan lambat laun mereka membiarkan adiknya tinggal bersamanya meski ia sendiri masih tak dianggap sebagai anak.


"Kaaak?"


"Berantem gara-gara apa?" Tanya Lia masih fokus mengobati lukanya.


Aska tak berniat memberi tanggapan. tak mungkin juga ia mengatakan jika dirinya terluka karena menggagu Shifa.


Keadaan kembali hening, kakak beradik itu diam dalam pikirannya masing-masing. Lia juga tak mau memaksa penjelasan kakaknya, ia tahu pria itu tak suka di paksa.


Setelah selesai, Lia merapikan kotak obatnya, "aku gak tahu kenapa kakak kek gini," Lia kembali membuka percakapan, "tapi sampai kapan kak, mau kayak gini terus? papa akan semakin benci dan tidak menganggap kak aska.." lanjutnya dengan suara bergetar, ia tertunduk dan merasa ada yang basah di pipinya.


Melihat itu, Aska segera memeluk adiknya, ia bisa merasakan betapa besar sayang wanita itu kepadanya.


"Lia gak mau ditinggal kak aska lagi.." suara tecekat dan tangisnya semakin kencang dalam dekapan itu.


Dalam diamnya, pria itu juga menangis. menyesali keadaannya yang memang sulit tuk diubah. merasa sudah tenang, Ia melepaskan pelukannya dan mengusap bekas air mata adiknya, "kakak gak bakal ninggalin kamu," ucap Aska kemudian mencupit pipi Lia. "Udah dong nangisnya.. tuh matanya sipit."


Lia tersenyum diatara sesegukannya, "namanya juga orang korea. matanya sipit, lah!"


Aska terkekeh, "emang semalam kamu dari mana sih?" ia mengusap lembut kepala adiknya, "pergi gk bilang, kakak nyariin tau."


"Loh, emang mama gak bilang?"


"Kamu tau sendiri 'kan Gimana mereka ke aku?


Lia menyebikkan, lupa bagaimana mamanya juga kecewa dengan sikap aska. "Maaf yah, kak. gak sempat kabarin."


"Hem.. " jawab aska, "tapi lain kali kalo ada apa-apa kabarin."


Lia mengangguk.

__ADS_1


"Jadi, kemarin kemana?" tanya aska lagi.


"Nemenin cakapku kerumah sakit," jawab Lia diikuti senyum jailnya.


Aska terdiam, membuat Lia menatap heran. sebab jika membicarakan mengenai Shifa sudah pasti pria itu akan penasaran apalagi setelah mengetahui shifa ke rumah sakit. namun kali ini berbeda.


"Kak aska gak mau nanya, nih! Kenapa kak shifa dirumah sakit?" ujar Lia ketika aska hendak meninggalkan sofa.


"Gue ngantuk."


Hanya 2 kalimat itu yang di ucapakan Aska. membuat Lia memicing curiga hingga pria itu hilang dari balik pintu kamar.


"Gak biasanya dia cuek gitu." gumam Lia kemudian berdiri bersiap melaksanakan sholat Dhuhur yang baru saja masuk.


**


Siang sudah berganti petang. tapi suasana teriknya masih terasa.


mungkin hanya sebagian orang, atau justru memang hanya dialah yang merasankannya. seakan menggambarkan suasana hati yang memang hanya ia dan Allah yang tahu.


Pergelangan tangan kiri yang masih terasa perih itu ditatapnya datar. Ada rasa marah, benci, bersalah dan penyesalan hadir dibenaknya seketika terngat Sosok yang pernah ia banggakan.


"Apa rasamu terlalu besar, hingga menjadikan dirimu manusia kejam? Menyakitiku, karena diinginkanmu."


Shifa memejamkan mata.


Membuat cairan bening yang ia tumpuk bersama penyesalan jatuh seketika,


ia mengutuk cinta pertamanya itu.


🌄


Terpaan angis sejuk dari jendela kamar yang dibukanya Shubuh tadi bagai jarum es yang menusuk kulitnya yang sudah di baluti dengan pakaian rapi.


Meski tak nyaman, tapi ia enggan mengubah posisinya dari depan cendela.


ia menumpukan dagunya diatas lipatan tangan, menunggu siang mengusir petang seutuhnya.


Samar-samar terdengar suara dari luar. Shifa mebuka mata, rupanya keadaan  sudah terang sudah banyak orang  yang memulai aktivitas pagi. Ia mengambil tas selepang yang ditaruh di atas meja kemudian keluar menuju kedapur.


"Kamu yakin, udah bisa kerja?" Tanya ana ketika melihat putrinya mengambil beberapa perlengkapan makan.


Shifa hanya tersenyum. ia menghampiri meja makan dan maengajak ibunya makan bersama.


"Mah? Shifa berangkat." ucapnya usai menenguk air putih ia kemudian menumpukkan gelas itu di atas pirinya yang sudah kosong kemudian di bawa ke tempat pencucian piring.


"Kamu bener udah bisa kerja, nak?" Ana menyodorkan tangannya ketika putrinya meminta salaman.


"Doakan Shifa, semoga Allah selalu melindungi langkah Shifa."


"Tanpa kamu minta.. Mama akan mendoakanmu, Nak. Sekali pun Lisan ini dicabut, mama akan mendoakanmu disini." Ana menepuk dadanya beberapa kali.


Shifa memeluk ibunya, "terimah kasih, sudah merawatku dengan baik. aku juga akan melakukan keinginan mama sebelum mama memintanya."


Bersambung.


Mohon Suportnya kak.


terimah kasih sudah menyempatkan waktu membaca cerita fiksi saya. batu Like sama share yah. pantengin juga IG nya @airaannur_

__ADS_1


Assalamu alaikum😊


__ADS_2