
Langit yang tadinya cerah kini berubah mendung hingga malam menyapa. perlahan hujan menyentuh permukaan tanah kering dihalaman rumah daerah malang salah satunya rumah keturuan korea tersebut. cuaca yang tak mendukung beraktifitas dari luar membuat pemiliknya terpaksa berdiam dalam rumah.
Usai melaksanakan sholat isya, Aska menghampiri Lia yang bersandar di sofa sembari tersenyum menatap layar ponsel.
Berusaha dirinya mengendap-endap untuk menjahili, namun langkahnya mematung melihat layar ponsel adiknya menunjukkan Ig nabil.
“Eh, kak aska!” lia yang menyadari segera menurunkan ponselnya, “se-sejak kapan disitu?”
Pria itu ikut duduk dihadapannya kemudian mengambil snack di meja,“katanya kalau pandangin foto orang, dosaaa.” kata Aska.
“Kan cuman sebentar,” Lia melirik sinis kemudian merebut snaknya.
“Cih! sebentar dari mana? aku berdiri hampir 2 menit disana. mau ku kagetin tapi keburu kamu nyadar.”
Lia melempari pria itu bantal, “nyebelin!”
Aska tertawa, “suka kamu sama dia?”
“Eggak!”
"Alaaa, suka kamu.”
“Eggak! yah.”
“Beneran?”
“Iya!”
“Tapi kok pipinya merona gitu?” godaan aska berhasil membuat lia menyebik, “cih! sok malu malu lagi.”
“Emang aku pemalu,” balas lia dengan menjulurkan lidah. kali ini ia tak bisa menyembunyikan perasaannya ketika pria menyebalkan didepan terus menggodanya.
“Mencintai sewajarnya,membenci seperlunya.” kalimat aska yang tiba tiba mendapat lirikan sinis.
“Kamu sendiri aja bucin. gak bisa ngontrol perasaanmu sampe sekarang. gak pantes banget!”
“Makanya itu, cuman ngingetin,” ujar Aska, “jangan sampai kamu sepertiku.” lanjutnya.
Lia menatap malas, “sorry yah, ini cuman kagum jadi gak usah khawatirin perasanku. aku kuat, gak kayak kamu lembek.” ia segera berlari sebelum pria itu melayangkan protes.
“Semoga saja.”
**
__ADS_1
Selama penyelidikan, belum ada kepastian untuk mencap seseorang sebagai pelak. selama di Jakarta nabil juga tidak menemukan apapun yang memberatkan Om Fariz sebagai tersangka. meskipun yakin, tapi dirinya tak boleh gegabah karena hal itu bisa merugikan dirinya sendiri.
Tak membuahkan hasil, syifa putus asa dan tak mau lagi ambil pusing. sebab bagaimana pun juga ayahnya tak akan kembali sementara dirinya tidak membutuhkan harta warisan itu. Berbeda dengan nabil yang bukan siap siap, pria itu justruh kekeh mencari si pelaku untuk membersihkan nama baik ayahnya.
**
Hari berganti hari. wisata alam yang baru di buka di daerahnya membuat syifa tertarik mengajak anak anak TPA berlibur. beruntung lia dan nabil menyetujui idenya. di akhir mengajar mereka menyampaikan itu pada muridnya dan sangat disambut antusias.
Setelah mengantarkan intan pulang nabil kembali ke bengkel. disana ia bertemu aska, masih teringat jelas bagaimana luka terakhir yang diberikan pria berwajah oriental itu, nabil mengabaikan kehadiran aska yang datang sebagai consumernya.
"Bil!” panggil Aska, “gue mau gomong sama lo,” katanya setelah pria yang sudah melewatinya itu menoleh malas.
Nabil menghela dan mengajaknya duduk di tumpuan ban bekas.
"Gue gak tahu sudah sedekat apa kamu dengan dia. tapi gue gak akan pernah nyerah buat dekat dengan syifa lagi.”
Sebenarnya nabil terkejut aska sudah tahu kedekatannya dengan syifa tapi ia juga tak mau disangka menusuk dari belakang.
“Bukannya kamu nyakitin dia waktu itu. kamu fikir syifa mau menerimamu kembali?” tanyanya.
“Aku juga tidak yakin syifa akan menerima tanganmu saat dia tahu kamu pemakai.” balasan aska berhasil meruntuhkan percaya diri nabil, “biarpun syifa tahu kamu adalah teman kecil yang memberikan buku itu. tak akan menjamin, bil.”
Alis nabil kembali tersentak, “tahu dari mana kamu soal buku itu?”
Aska segera menepis tangan nabil yang hendak menarik kerah jaketnya karena marah.
“Aku sudah bersih," ungkap Aska, "dan asal kamu tahu, putusnya hubungan kami tak lain karena syifa tak bisa menerima aku sebagai pemakai."
Sesaat Nabil merasa gelisah. memang syifa sudah mengetahui dirinya adalah pemakai tapi saat itu ia belum memastikan apakah wanita itu tetap mau bersamanya? setelah ini, ia akan menemui syifa untuk meminta kepastian. rencana yang masih dikepala itu menjadi penguat untuk membalas tatapan aska.
“Kedekatan kami tak ada jarak bahkan setelah dia tahu hal itu, dia tetap menjadi teman. dan seharusnya kamu juga perlu menghayal, Ska. bagaimana bahagianya dia saat tahu aku adalah teman kecilnya.”
Aska tersenyum remeh, “sebelum dia tahu, kamu sudah mati overdosis!”
Balasan Aska hampir saja membuat tanganya memukul, beruntung ia masih punya kata untuk melawan.
Nabil tertawa, “sayangnya dia sudah tahu klo aku nabil teman kecilnya.” nabil menepuk pundak aska, “kamu tahu kan, sedekat apa kami sekarang?”
Pandangan mereka saling beradu, menunjukkan tekad yang tak akan pernah menyerah hingga akhirnya aska menapik kasar tangan nabil.
“Selagi kalian tak seatap. masih banyak kesempatan dan cara untuk mengambil takdirku kembali.”
Kalimat serius aska justru membuat nabil terbahak bahak. pria itu berdiri ketika lawan bicaranya juga berdiri, “bersainglah secara sehat, moral, dan beragama.” ujarnya ketika aska berlalu pergi.
__ADS_1
Bibirnya yang masih mengulas senyum perlahan padam mengingat harus kemana ia sekarang. sebelum matahari semakin menghilang, nabil segera menancap gas kerumah syifa namun diperjalan ia bertemu dengan wanita itu.
“Mau kemana, fa?” nabil yang sudah memutar arah motornya bertanya pada syifa yang berjalan kaki.
"TPA"
"Loh,"
"Ada yang ketinggalan tadi,” jelas syifa.
Nabil mengagguk angguk, “mau ku boncengin?”
Syifa menghentikan langkah dan menoleh, “minta ijin dulu sama Allah. papa, mamahku dan juga…”
“Bilangin ke penghulu?”
tebakan nabil membuat tawa keduanya pecah. namun syifa segera meralat dengan mengatakan, malaikat qarinnya.
"Ya udah, aku tungguin kamu disana yah, Fa. ada yang ingin aku katakan.” Nabil menarik pedal gas usai wanita itu menjawab salam dan anggukan.
Tak sampai 3 menit menunggu akhirnya wanita yang ia tunggu datang. Syifa mengambil barangnya dahulu kemudian duduk diteras dengan berjarak satu meter dari nabil.
“Kamu tahu alasanku menggunakan barang itu." pernyataan nabil membuat pandangn mereka bertemu, “karena ingin mencarimu, Fa.”
Syifa mengangguk.
“Kuharap kamu tidak menjadikannya alasan untuk menjauhiku seperti alasan kamu menjauhi aska.”
Kini alisnya tersentak mendengar ulasan nabil. terlihat jelas bagaimana ketakutan pria itu membayangkan dirinya menjauh.
“Akan jadi seburuk apa diriku jika kamu benar menghindari, Fa.”
Syifa menggeleng pelan, “selama kamu mau berusaha aku akan selalu ada membantumu keluar dari sana. aku penyebanya, itu tugasku untuk membantu sampai sembuh.”
Nabil mengulas senyum, “terimah kasih, Fa. mulai sekarang aku akan berusaha menjauhi barang itu.”
Sekuat apapun tekad yang di seriuskan di lisan, namun tetap terbesit dipikirannya tak akan mampu. bibirnya mencoba mengulas senyum seakan menunjukkan pada wanita di sampingnya bahwa ia pasti bisa.
-Bersambung
Bantu suportnya temen temen.
terimah kasih.
__ADS_1