Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Mencari tahu.


__ADS_3

Pagi sekali, ana sengaja keluar menemui nabil di bengkel. beruntung Pria itu sudah datang disana, sehingga ia langsung mengutarakan niatnya agar nabil mau memperjaungkan syifa kembali.


Nabil mengerti, maka itu setelah kepergian Ana, ia menunggu 2 sejoli yang ingin memamerkan kedekatan lewat di depan begkelnya. setelah menunggu akhirnya syifa dan aska sudah terlihat dan tanpa diminta mereka mampir sendiri.


“Bagaimanpun caramu ingin membuatku cemburu, itu gak mampan, Fa.” ujar nabil mendekati mereka, “makin banyak dosa kalian jika terus seperti ini.”


Ia menoleh ke Syifa “aku mau bicara berdua sama kamu.” setelah mendapat anggukan dari wanita itu, nabil mengajak Syifa ikut bersamanya.


“Bentar ya, Ka.” kata syifa pada aska kemudian mengikuti langkah nabil.


Di kursi karet itu nabil membuka percakapan dengan kalimat maaf atas bentakannya beberapa waktu lalu. dan dibalas juga permintaan maaf dari wanita itu. setelah semua saling memaafkan, ia mulai meminta syifa agar menghentikan semua rencana tak masuk akal ini. namun wanita itu menolak dan balik mengancam.


"Klo begitu kamu juga tidak boleh melarangku menghadiri undangan ibumu malam ini,” ancaman Syifa membuat pria itu seketika cemas.


“Jangan seperti ini, Fa...”


“Kenapa, Bil?” tantangnya “biarkan kedua orang tua kita saling mengenal. bukankah kau ingin serius?”


Nabil menggeleng, “kumohon kamu jangan datang, Fa. aku belum menyiapkan bukti. bagaimana jika pertemuan itu hanya berakhir menyalahkan antara bundaku dan mamahmu?”


“Aku tidak peduli,” sergah syifa. “aku tidak mau terus terusan membohongi mamahku." ia menatap nabil, "satu lagi. klo kamu benar punya hati..., temuin Lia. pikir kondisi lia sekarang." lanjutnya kemudian meninggalkan pria itu.


"Seharusnya kamu pikirin perasaanku juga, Fa!"


Bukannya hubungan mereka membaik, justru dirinya menadapat ancaman terbesar. berulang kali ia memohin namun wanita itu semakin melotot untuk pergi.


“Bertahun tahun aku mencari, bertahun tahun terpaksa tersesat. apa seperti ini langkah yang terbaik dalam kisah kita? jangan egois. seharusnya kamu pikirkan juga perjuanganku, Fa.”


***


Malam pun, tiba. berbekal alamat rumah yang dikirim Sarah melalui masengger menjadi peta bagi anak dan ibu itu. sampai disana ana dibuat takjub dengan rumah calon basennya.


“Kamu pasti bahagia banget, Nak. klo tinggal disini.” ucapnya sembari menuju pintu rumah besar itu.


Syifa tersenyum paksa, “belum tentu, Mah.”


“Loh, apanya yang belum tentu? kalian saling mencintai, dengan undangan makan malam ini sudah pasti keluarga nabil merestui.”


"Klo mama gimana?”


Ana terkekeh mendegar pertanyaan putrinya, “kamu masih nanyan aja. yah kan mamah udah restuin dari kemarin."


Syifa tersenyum hambar dan kembali focus berjalan hingga langkah mereka berhenti didepan pintu bercat putih.

__ADS_1


“Assalamu alaikum,” salamnya dengan ketukan.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”


Sahutan salam dari dalam membuat Syifa menghela, “bismillah.”


Kekawatiran yang sudah ia persiapkan, sirna ketika bukan Tante Sarah yang menyambut, melainkan seorang pembantu. setelah membenarkan ini rumahnya nabil, pembantu itu mempersilahkan masuk dan duduk di sofa.


Pembantu tadi berpamitan untuk mengabarkan majikannya namun langkahnya urung ketika nabil yang baru datang memberi kode agar tidak memebritahu dulu pada bunda.


“Assalamu alaukum, Bu.” sapa pemuda itu seraya menyalami tangan Ana. ia mengabaikan wanita yang sedang celikungan mencari sesuatu di dinding rumahnya. ia tahu apa yang dicari wanita itu, foto keluarga.


“Mana orang tuamu, Nak?” tanya Ana usai menjawab salam.


“Ayah lagi di Jakarta, Bu. klo bunda masih di dapur. nanti dia kesini.” jawabnya kemudian menoleh pada syifa “ibu ngajak kamu ke dapur, Fa.”


Syifa dibuat terkejut dengan permintaan tante sarah, namun segera ia mengagguk dan melepas tasnya ke meja.


“kalau begitu, ibu juga ikut. buat bantu bantu.”


“Ibu gak usaha,” sergah nabil “ibu duduk aja. ini urusan camet sama camar.” lanjutannya membuat wanita setengah baya itu terkekeh kecil.


“Yah sudah. berarti kamu yang kesini temeni ibu. ibu juga mau gantiin papanya syifa introgasi kamu.”


Nabil terkekeh dan mengaguk “setelah saya anter syifa, yah, Bu,” ucapnya kemudian menuju ke dapur.


“Eh, nak syifa sudah datang?” sarah segera menghampiri calon menatunya yang baru saja masuk ke dapur. tangannya terulur ketika wanita itu mengajaknya bersalaman.


“Assalamu alikum, Tante.”


“Wa';alaikumussalam warahmatullahi wabarakatu.” balas sarah, “pasti sudah lama yah nunggunya? sampai kamu samperin tante.”


Syifa menyernyit, ia menoleh pada pria disampingnya meminta penjelasan. namun pria itu memilih tak acuh, syifa kembali menatap wanita itu, “baru kok, Tante. Aku sengaja mau bantuin Tante.” ia memilih mengikuti permainan pria itu.


“Emang mantu sholeha,” celetuk sarah kemudian mengajak syifa memasak, namun langkahnya mendekati dapur urung ketika teringat sesuatu, “ibumu mana?”


“Ada di luar."


Ana geleng geleng kepala, “kalo begitu, tante nemenin ibumu dulu.”


“Biar aku, Bun.” sergah nabil, “bunda sama syifa focus aja masaknya.”


“Cuman mau sapa sebentar. gak enak masak tamu istimewa bunda biarin gitu aja.”

__ADS_1


Nabil menahan bundanya yang hendak keluar. “mamanya syifa orang baik, kok. tadi juga sudah aku bilangin, klo bunda lagi masak. ibunya shifa pasti ngerti.”


Sarah menghela pasrah dan membiarkan putranya pergi.


“Bagaimanapun usahamu untuk tidak mempertemukan mereka, pasti hari ini akan terbongkar juga, Bil. kita kembali di situasi yang sama, hanya keadaan waktu saja yang berbeda."


Nabil segera menghampiri ibu syifa yang celikungan mencari sesuatu di dinding rumah itu.


"Disini gak ada foto kamu sama keluargamu, Nak?” Tanya wanita itu ketika nabil sudah duduk.


"Eggak ada, Bu.”


“Loh, kok bisa. padahal kalian ini orang besar. masa buat foto keluarga saja gak sanggup.”


Nabil terkekeh, “ada kok, Bu. ada. cuman gak dipasang.”


“Kenapa?”


Nabil menatap serius, “biar anak Ibu, bisa masuk ke rumah ini.”


Ana menyernyit mendengar jawaban pemuda itu. “apa hubungannya kehadiran syifa sama foto keluargamu, Nak?"


Wajah nabil berubah senyum, “bagiku Syifa seperti malaikat, Bu. dan bukankah seorang malaikat enggan memasuki rumah yang terdapat pajangan fotonya?”


Ana terkekeh kecil, “tante jadi bingung, kamu sebenarnya mau puji syifa atau nyindir tante, sih!”


Ganti Nabil yang menyernyit.


“Di rumah... banyak pajangan foto. karena bagi ibu, objek yang bisa di peluk untuk orang yang kita rindui namun tidak bisa lagi kita temui di dunia ini, yaitu hanya gambar fotonya.”


Nabil mengagguk, ia tahu siapa yang di maksud wanita itu. sesaat keduanya diam dalam pikiran masing masing. ada yang mengenang, ada pula yang sedang berpikir bagaimana agar kesalah pahaman di masa lalu itu terselesaikan.


“Maaf Bu, jika saya lancang." kata nabil membuat wanita itu menatapnya, "saya pernah dapat artikel mengenai kematian almarhum ayah syifa, klau boleh tahu apakah benar beliau meninggal karena kecelakaan mobil?"


Ana hanya diam menatap, membuat pemuda itu mengucap maaf telah lancang membahas.


“Tidak Apa, nak. kamu berhak tahu. siapa tahu ini bisa jadi pelajaran buat kamu klo nanti udah sukses.”


Nabil menyebik menuggu wanita itu bercerita.


“Belasan tahun yang lalu, Ayah Syifa membangun usaha bersama sahabatnya.


mereka saling berjuang untuk membesarkan perusahan itu. namun saat berada di puncak kesuksesan mulai timbul rasa iri dari mereka. sahabatnya itu meminta bagiannya diangkat sebagai direktur. tapi karena keadaan membuat ayah syifa tak menyetujui. hingga suatu hariorang itu.. membunuh Ayah Syifa.."

__ADS_1


Nabil terdiam, bukan karena ia menghayati cerita wanita yang sedang menagis tersebut, tapi karena ia bingung. sebab apa yang diceritakan wanita itu sangat berbeda dengan apa yang didengar dari Ayahnya.


-Bersambung.


__ADS_2