
"Bantu Gue, Ky."
Eky menoleh malas, "emang kapan, Gue gak bantu, Lo?” ia menegakkan diri, “Gue selalu ajak Lo keluar dari sana, tapi Lo yang gak ada usaha.”
Nabil menghela, “karena ini berat, Ky," kelunya menatap Eky, “tapi kali ini Gue bakal serius coba.”
Eky mengangguk menghargai keputusan sahabatnya. ia memikirkan jalan, “besok Gue ada acara, tapi Lo bisa berkemas. lusa, Gue temenin Lo ke Fajar.” Eky mnyebutkan salah satu temannya yang seorang dokter psikolog.
Nabil berdecak, “gak secepat itu juga, Ky” serunya membuat Eky menghentakkan kaki ke lantai.
"Katanya serius mau sembuh! gimana sih, Lo!”
“Masalanya nyokap Gue sakit, Ky. Gue anak paling tua, paling dibutuhin. lagian gue juga gak mau buat bunda kepikiran klo Gue pergi.”
Eky menghembus napas berat, “masalah Lo banyak,” cetusnya membuat Nabil menyebik.
Memang tidak bisa dipungkiri, masalah yang ia hadapi saat ini begitu memusingkan. ada bunda yang sakit, masalah dengan Syifa, juga jati dirinya yang terbawa kasus Narkotika. belum lagi kabar dari Dio mengenai Aska yang datang ke bescame untuk mengambil Fotonya.
"Tapi untuk Apa?" pikirnya.
**
Resmi keluar dari toko membuat Syifa punya banyak waktu menjenguk Lia. seperti pagi ini, ia sedang menamani Lia seorang sebab Aska menjalani pemotretan.
Hampir seharian dirumah sakit mulai membuatnya cemas dengan Aska yang belum kembali. ia ingin menelpon, tapi takut jika ternyata mengganggu pekerjaan Aska. ia kembali bertahan menahan cemas dan lelah, hingga pandangannya menangkap sosok Wilyang yang berlari kearahnya
"Fa! lo harus ikut gue!” Ajak Wilyam ketika di hadapannya,
Syifa meyernyit “ikut kemana?"
“Buruan ikut aja!" panik Wilyam, "Dia bisa mati klo Lo lambat!” ujarannya membuat syifa terbelalak,
"Dia siapa!?”
“Buruan, Fa. ayo!”
Syifa terpaksa mengikuti langkah wilyam menuju parkiran usai menitipkan Lia pada Dokter rika. mereka mulai mengendarai kendaraan yang dibawa masing masing.
Di sebuah tempat wisata yang banyak pepohonan menjadi tujuan 2 kendaraan itu berhenti. namun ketenangan lingkungan tersebut menjadi menengagkan dengan kerumunan orang orang yang menutupi pekikan dari seseorang.
Diarahkan oleh Wilyam, Syifa ikut berlari menghampiri kerumunan itu, dan ikut dibelakang wilyam membelah kerumunan.
"Nabil!” pekiknya ketika melihat Nabil mencekik leher Aska. 2 pemuda itu sama bonyok, namun Aska yang lebih memprihatinkan.
Syifa segera belari menepis tangan Nabil dari leher Aska kemudian membatunya duduk, "Ka, kamu gak apa, kan?” tak ada jawaban dari Aska, Pria itu hanya meringis kesakitan.
Syifa mendongak kesal orang-orang yang mengelilinginya, "kenapa kalian tidak melerai mereka!" teriaknya kemudian beralih pada seorang yang mengabadikan dengan ponsel.
"Apa ini pantas menjadi bahan populiritas?” pertanyaannya berhasil membuat orang itu menurunkan ponsel.
“Kami sudah mencoba melerai, tapi Nabil mengancam akan membunuh Aska.”
Penjelasan Wilyam membuat Syifa menoleh geram pada Pria yang sedang duduk menekuk lutut.
“Aku tunggu kamu, Fa.” kata Nabil kemudian mengusap bibirnya yang berdarah seakan memberitu jika dirinya juga terluka, namun syifa justru mendekat dan mendorongnya.
“Untuk apa semua ini, Bil!? Kamu bisa menemuiku tanpa harus mencari keributan disini!"
“Karena Aku ingin Kamu menyelesaikan semuanya disini, Fa," balas Nabil kemudian menyedarkan pandangan pada orang-orang yang mulai penasaran dengan kisah mereka, "biarkan mereka jadi saksi, betapa gilanya Aku tanpamu.”
Sekitar 20 pasang mata lebih menatap seolah menyalahkannya, Syifa sangat malu, ia duduk menenggelamkan wajahnya dan tangis lirih mulai terdengar.
Nabil coba mendekati, “hentikan semuanya," pinta Nabil, "kenapa harus sekejam ini pada dirimu? kamu berhak merawat bahagiamu tanpa melibatkan kesalah pahaman orang tua Kita.”
Rasa kecewa membuat Syifa membuangkam. gemuru didada memaksanya terus menaik turunkan pundak.
__ADS_1
“Semua akan baik baik saja, Fa. jika kamu mau menungguku mengumpulkan bukti.”
Perlahan Syifa menatap, “bukan hanya itu alasanku menjauhimu, bil. tapi karena aku kecewa, aku kecewa!!” teriaknya kemudian berdiri membantu Aska bangkit.
“Jangan bantu Dia!” Nabil berdiri dan menepis tangan Syifa sehingga membuat Aska hampir terjatuh kalau saja tak ada Wilyam yang menahan.
“Tega Kamu sama teman_"
“Dia bukan temanku! Dia penghianat!” sentak Nabil pada Wilyam kemudian mendekat ke Syifa, "untuk apa kamu menyuruh Dia mengikutiku? ingin membuktikan klo aku pemakai?” bisiknya membuat pandangan mereka bertemu.
“Karena aku benci kamu!” teriakan Syifa membuat Nabil memejam dan kembali menatap wanita itu.
“Kamu hanya kecewa, Fa. tidak sampai membenciku.”
“Maka akan kupastikan Kamu yang membenci!” balas Shifa kemudian menghampiri Wilyam dan Aska, "ayo, Ka. kita pergi." ajaknya.
"Kamu tega, Fa! tega!!” teriak Nabil menyertai langka mereka. tak lagi pedulikan tatapan orang yang sebagian iba atau menghakiminya.
“Fa, motormu gimana?” Tanya Aska lirih ketika Syifa ikut ke mobil Wilyam.
“Biarin aja, Ka. Aku lebih takut klo Dia samperin Aku di jalan.” balas Syifa sembari menutup pintu, pipinya masih basah dan menahan diri untuk tidak menangis.
“Entar Aku suruh Andi sama Fahmi bawa pulang motor Kalian.” Wilyam menyebut rekannya yang masih berada di lokasi. ia kemudian memakai sabuk pengaman dan mengemukan mobilnya.
Saat di perjalanan, Wilyam mulai menceritakan Kronologi Nabil yang menghajar Aska saat break pemotretan.
“Kita mau kemana, Ka?” tanya Wilyam ketika hampir sampai di persimpangan antar jalan kota yang menghubungkan RS dan jalan masuk rumah Aska.
"Rumah sakit,” balas Aska.
“Kaa… Kamu ‘kan masih sakit. seharusnya Kamu dirumah.” usul Syifa membuat Aska yang duduk disamping Wilyam berbalik.
"Aku punya Lia yang harus Aku jaga, Fa.”
“Biar Aku saja," Kilah Syifa.
Syifa tak lagi menentang, ia hanya iba dengan Aska yang tidak punya siapa siapa lagi selain dirinya dan Wilyam. sementara setelah ini Wilyam akan kembali ke lokasi mengurus pemotretan Aska yang tertunda.
“Kalau Kamu benar perhatian, Fa. balikan aja. klo perlu nikah biar bisa jagain Dia tanpa memusingan fitnah orang," sosor wilyam menapat Lirikan dari Aska tapi Pria itu mempedulikan.
"Lagian Aku heran. udah jelas kalian saat ini berbaikan, tapi kenapa gak ada yang usaha buat balikan, sih!” Wilyam meloleh ke Aska, “terutama Elo, Ka. katanya cinta mati, mana!?”
Aska mendengus, “Gue udah usaha, Wil. tapi..” Ia tak melanjutkan kalimat menyadari masih bersama Syifa.
Sementara Syifa pura-pura tak mendengar percakapan 2 sejoli itu dengan mengalihkan pandang ke candela.
“Maafkan Aku, Ka. Aku masih mencintainya.”
**
Langit sudah gelap sempurna, baru saja ia keluar untuk mengucap terimah kasih pada rekan Wilyam yang mengantarkan motor. belum tuntas ia menutup pintu, sebuah mobil sedan yang berhenti depan rumah membuat pintu itu kembali ia buka.
“Assalamu alaikum Kak Syifa.” sapa seorang gadis kecil yang baru turun dari mobil dan berlari menghampirinya.
"Intan?" ujar Syifa terheran, "Kamu ngapain kesini?" tanyanya sembari menelisik dalam mobil, memastikan intan hanya datang bersama sopir.
“Boleh duduk gak, kak?” tanya anak itu dengan raut lelah membuat Syifa mengulas senyum dan mengajaknya masuk. beruntung mamanya belum datang.
"Bunda gak tau Kamu kesini?" tanya Syifa usai duduk.
“Tau,” jawab intan, “Bunda yang nyuruh, malah.”
Syifa menyernyit dan menerka apa maksud tante sarah membawa intan bersanya.
"Kaak…,” panggil intan seraya meraih tangannya, “haus.”
__ADS_1
Permintaan intan membuat wajahnya yang tadi serius kini terkekeh kecil dengan mengusap gemas ujung kepala intan. ia berpamitan ke daput dan tak lama kemudian kembali dengan membawa segelas jus jeruk.
"Wah! jus jeruk,” riang initan menerima dan meneguk minuman itu sampai habis, “enak,” ucapnya kemudian.
“Alhamdulillah.”
“Kak Syia tau aja apa yang Aku suka,” tukas intan dan kembali meneguk gelas yang sudah kosong itu, membuat Syifa geleng kepala dan mengusap ujung kepalanya.
"Kan kakakmu yang bilang...” Syifa tak melanjutkan kalimatnya.
“Kak Nabil bilang apa ke Kakak?"
Syifa menurunkan tangannya, “kamu kesini disuruh bunda apa?” ia sengajah mengalihkan pembicaraan.
Intan meletakkan gelas di meja kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya, “ini," ia menyodorkan sebuah kotak.
Syifa menerimanya heran, “ini apa?”
Anak itu menaikkan kedua bahunya, “urusan orang tua kata bunda.”
Syifa hendak membuka namun intan mencengahnya.
“Bunda bilang urusan orang tua, Kak. jadi jangan dibukan didepan anak kecil.”
Syifa terkekeh kecil, “terimah kasih kamu belain bawa ini,” ucapnya meletakkan kotak itu di atas meja.
Intan menggeleng tegas, “bukan cuman itu, ada maksud pribadi juga.”
Syifa menyernyit ketika intan melipat tangan ke dada seakan ingin mengintrogasi.
“Kak Syifa kenapa gak lagi ajak aku main klo jalan sama Kak Nabil?" tanyanya memanyun, "dosa tau! jalan berdua, jina!”
“Intan…”
“Pokoknya lain kali klo kak Syifa jalan sama Kak nabil, ingat aku juga. bawa aku!” pangkas intan kemudian membuang muka.
Syifa hanya diam menatap. bagaimana bisa ia menceritakan masalah keluarga pada gadia kecil itu, tapi bagaimana pun juga ia tidak bisa terus disalahkan seperti ini.
"Intan..." panggilnya membuat anak itu menoleh, "Aku sama kakakmu itu gak ada apa apa, kami hanya temen.” ungkapannya justru membuat intan memicing.
“Mana ada temen sedekat itu? Bunda sama Papa selalu bahas Kak Syifa juga dirumah. pasti mereka mau bawa Kak Syifa tinggal bersma kita, kan?"
Syifa segera menyebik menahan desiran yang membuat air matanya menggenang. ia rengkuh kedua pipi intan, "anak kecil ini suka nguping ternyata, gak boleh tau..."
Intan meringis, "terus buat apa?" tanyanya.
"Mereka bahas kakak, mungkin ada urusan dengan mamanya Kak Syifa. lagian Kak Syifa juga akan menikah dengan orang lain," ungkapnya bohong.
Mendengar itu membuat wajah intan kecewa, "padahal Aku berharap Kak Syifa jadi kakakku beneran. seperti Kak nabil.”
Syifa segera memeluk intan, “Kamu bisa mengaggap Aku sebagai kakakmu, selalu.” air mata itu pun tumpah dan segera ia seka sebelum melepaskan pelukan.
“Aku berharap banyak sama Kak Syifa, sungguh.”
Syifa tersenum dan mengusap kepala intan, "jangan mengahrapkan sesuatu yang sudah kamu tahu tak ada harapan."
"Intan akan berdoa semoga Ini ada harapan, Kak.” kekeh intan membuat Syifa terdiam.
Melihat sudah larut malam, Syifa meminta anak itu pulang. ia juga takut jika sampai mamahnya melihat Intan. sesaat setelah intan pergi, Ana datang dan mempertanyakan kotak di atas meja.
Syifa jujur jika Intan datang untuk membawa benda itu. karena penasaran, mereka pun membukanya. di dalam kotak itu berisi beberapa berkas. berkas wasiat perusahaan dan juga surat pengadilan yang mengatakan jika Haris akan menuntaskan keadilan mengenai pembunuhan Ayah syifa.
“Kamu tahu mengapa mereka baik seperti ini?" tanya Ana pada putrinya, "karena Haris ingin damai dan memilihmu sebagai menantu, agar tiada halangan menguasai perusahaan Ayahmu.
-Bersambung.
__ADS_1
Yuk! yuk! bantu Supportnya, Yah.
Assalamu alaikum.