
meski matahari sudah menyapa bumi beberapa jam lalu, namun sinar yang diberinya masih memberi kesegaran dari embun yang menyapa dedaunan.
setelah mengantar shifa ketempat kerjanya, Lia melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.
terlihat sebuah motor gede tepat didepan rumahnya, pertanda penghuni rumah yang sebenarnya sudah datang.
"Assalamu Alaikum," salam Lia, ia membuka pintu yang sudah tidak terkunci dan mulai masuk kerumahnya.
"ngapain dia disitu," gumamnya setelah melihat Aska yang merebahkan badannya di atas shofa sedang wajahnya menghap ke sandaran.
"kak? ngapain sih?" panggil lia, ia menggoyangkan punggung pria itu. hingga membuatnya terbangun.
"apa sih, dek," aska duduk dan mengusap asal kepalanya. ia menatap Lia didepannya sebentar, "dari mana?" tanyanya kemudian menguap.
"Emmbh.." Lia menutup hidungnnya, "kakak mabok lagi?"
pria itu hanya terdiam dan melihat ke sisi lain,
ia malas bertengkar masalah pribadinya pagi ini.
Lia menaruh buku dan tas kecil nya di meja, "tunggu disini," kata Lia kemudian masuk ke dapur.
aska kembali merebahkan diri, sementara tatapannya lurus kedepan. melihat barang asing didepannya, ia kembali duduk dan mengambil buku yang di letakkan lia di atas meja tadi.
"cara menjadi wanita sholihah?" seketika aska teringat shifa sang pemilih hatinya yang kini berpenampilan persis seperti gambar sampul buku itu, berhijab dan anggun.
meski di khususkan untuk seorang wanita, tapi buku itu membuat aska penasaran. seperti apa sih wanita sholihah itu?
ia pun membuka tiap lembarnya.
-Semakin tinggi ilmu seorang wanita,
maka semakin sederhana pula penampilannya.-
hingga terhenti pada sepenggal kalimat berhuruf tebal di sana.
"apa karena kalimat ini, membuat mu tidak lagi memakai riasan wajah?" senyum aska merekah mengingat shifa yang dulunya sangat melekat dengan alat make up.
ia kembali membuka tiap lembaran disana, hingga senyumnya terhenti pada kalimat yang membuatnya tidak percaya diri.
-wanita baik untuk Lelaki yang baik dan lelaki yang buruk Untuk wanita yang buruk pula.-
"dan aku akan berusaha menjadi yang terbaik." aska menutup buku itu dan diletakkannya di atas meja.
sebuah angin segar masuk kedalam rumahnya, hingga membuka paksa apapun disana.
"Nabil Al Fariz, "ucap aska. ia menyernyit mendapati bagian sampul belakang itu terbuka dan menyuguhkan Sebuah nama beserta tanda tangan disana. baru ingin mengambil buku itu kembali namun segera di urungkan, ketika melihat Lia menghampirinya.
"minum kak," Lia menyodorkan gelas.
"apaan itu?"
"jahe hangat," jawab Lia, "katanya sih bagus buat menyadarkan orang yang maabok," lanjutnya sengaja menegaskan kalimat akhirnya karena merasa kesal.
Aska menerima dan meneguknya beberapa kali.
Lia mengambil bukunya dan duduk di sofa depan aska untuk membaca.
"buku apa itu?" tanya aska basa basi.
Lia hanya memperlihatkan judul bukunya pada aska karena masih kesal pulang dengan keadaan mabuk.
__ADS_1
"dapat dari mana? tumben kamu punya buku sebagus itu."
"bener bagus kan kak?" Lia tersenyum mendengar kalimat aska, "aku dapatnya dari kak shifa. nih!" Lia memperlihatkan daftar isi buku itu "menarik banget kan kak pembahasannya?"
"hemm, menarik," jawab aska beserta anggukan kepalanya, "jadi semalem kamu nginepnya disana?"
seketika senyum Lia mengilang dan kembali menatap kesal pria didepannya, "terpaksa," katanya menunjukkan rasa marah.
"heh!" aska mengetuk jidat Lia dengan telunjuknya, "klo gue gak nginep di luar, mana bisa kamu dapat buku itu."
"iyah juga sih, untungnya aku nginep di rumah kak shifa semalam," kata Lia kemudian wajahnya kembali serius menatap, "tapi lain kali jangan pulang mabok mabok.
katanya mau berubah," sindirnya.
aska hanya berdehem sebagai respon, "udah sana, mandi baru berangkat sekolah gih," aska mencoba merampas buku itu namun segera lia menjauhkannya, "iiih.. kak, hati hati. ini buku penting kak shifa,"
"kamu gak di kasih?"
"nggak! cuman di pinjemin," kata lia
"hari ini sekolaku jam 10, aku mau baca ini dulu biar cepet ku balikin," lanjutnya membuat aska terheran.
"ternyata makin kesini, makin pelit yah dia," gumam aska.
"gak pelit kak, cuman ini buku berharga aja,
kenangan seseorang."
"nabil?" tebak aska, membuat Lia menatapnya, "tau dari mana kak?"
"sampul belakang," jawab aska singkat.
dari ekspresinya, sudah diduga suasana hati kakaknya itu sedang tidak baik. Lia menyimpan bukunya dan menatap aska, "orang yang memberikan buku ini, cuman teman kecilnya kak shifa kok kak. dan sampe sekarang mereka belum pernah ketemu," kata Lia mencoba meyakinkan kakaknya agar tidak kepikiran.
"dah, kaka mau mandi."
"kak!" Lia menarik tangan aska yang hendak pergi, "kenapa?" tanya pria itu.
"klo kak Aska benar cinta sama kak shifa, kakak harus tetap berusaha." kata Lia.
"kakak selalu berusaha Liaa, sampai kapan pun dia tetap disini," aska menepuk dadanya,
"meskipun dia tidak pernah menganggapnya," lanjutnya.
"emang bucin yah, kak ska ini," kata Lia sambil bergidik, "kak, perempuan waras itu gak suka klo ada cowok yang terlalu berlebihan.
jangan terlalu di paksa, yang ada mereka akan risih. jadi bagaimana ia akan menghargai usahanya?"
"terus, kamu mau suruh kaka berhenti disini?!" bentak aska yang sebenarnya tidak menyukai tiap kaliamat adiknya.
"bukan gitu kak," Lia menunduk, "tapi kak shifa pernah bilang, Lelaki yang baik untuk wanita yang baik, dan lelaki buruk untuk wanita yang buruk. jodoh itu cerminan, kak.
bagaimna diri kita, begitu pula yang akan datang. dan kak shifa berharap dan percaya pada kalimat itu, ia hanya ingin mendapat yang terbaik menurut Allah."
"aku sudah berusaha Lia, bukankah sekarang keadaanku tidak seburuk dulu?" kata aska, "tapi tetap saja dia yang tidak menghargainya"
"berusaha sajalah memperbaiki diri, biarkan Allah yang mengurus hatinya.
percayalah pada Allah, jika benar kak shifa untuk kak aska, pasti takdir akan menuntun kalian kembali bersatu." Lia menutup kalimatnya dengan menepuk pundak aska yang hanya terdiam mencerna kalimatnya.
*****
__ADS_1
setelah melaksanakan sholat dzuhurnya, shifa mengajak nina untuk makan siang di tempat biasa.
"kamu gak ada yang luka kan, faa' "nina memperhatikan wajah dan tangan shifa yang biasa di lukai aska.
wanita itu hanya mengagguk kemudian mengangkat tangannya, "mbak! nasgornya satu yah," ujarnya pada pelayan, kemudian kembali menatap temannya yang duduk di depan, "kamu apa nin?"
"samain aja,"
shifa kembali menatap pelayan yang sedang menunggu, "dua porsi yah mbak," ujarnya.
"Ok."
"bener kamu gak pp?" tanya nina lagi.
"iyaaah nin, aku baik baik saja."
"syukurlah dia gak apa apain kamu. tapi klo dia macam-macam lagi, hubungin gue aja, nanti ku panggilin polisi." kata nina, membuat shifa tersenyum.
tak lama kemudian, pelayan pun datang menghampiri mereka.
"Eh, itu apaan yah?" nina menunjuk ke belakang shifa, "rame banget," lanjutnya.
"Oooh, itu mbak. tempat wisata baru," jawab pelayan sambil menaruh makanan di meja,
shifa juga berbalik dan melihat rombongan orang yang antri sekedar melihat kertas kecil yang tertempe di dinding.
"ada acara apa emang disana, mbak?" tanyanya.
"tempatnya masih baru mbak, jadi ngadain Lomba gitu, biar banyak yang datang dan tahu tempat disana."
"deket dari sini gak mbak?" tanya nina.
"pedalaman mba. tapi tempatnya keren, ada air terjunnya pula."
"mba pernah kesana?" tanya shifa.
"nggak sih mba, cuman Liat di brosur sana," jawabnya sambil menunjuk kebelakang shifa.
"Oooo...,"
setelah pelayan itu pergi, mereka pun menyantap makanannya.
samar samar mereka mendengar percakapan dari kerumunan orang di seberang, yang sangat antusias ingin pergi ketempat wisata baru itu.
"aku jadi penasaran, sekeren apa sih tempat itu." kata nina, di sela-sela langkahnya menuju toko, "habis kerja, kita kesana yah."
"heh!" shifa menyeggol pundak nina, "kamu gak denger, mereka buka nya dua minggu lagi, masih lama."
"mau pergi?"
"kalau mama ngijinin," jawab Shifa.
mereka sudah memasuki toko tempatnya bekerja dan berpisah melaksanakan sesuai tugasnya disana.
-Bersambung-
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa Like, Komen, bintang lima.
sama klo punya poin lebih silahkan di Vote yh kakak. Terimah kasih.