
Shifa dan Nabil saling memandang.
Nabil yang tak mau adiknya menyimpulkan sesuatu segera merebut KTP itu. dan memberikan uang ke pada intan.
"Udah sana, ditungguin tuh sama abangnya," usir Nabil.
Intan yang memang menyukai es tong tong melupakan pertanyaannya. ia langsung berlari menghampiri abang es tong tong.
Shifa memicing pria didepannya, "bisa bisanya dia menyimpan KTP ku dalam dompetnya. apa jangan jangan dia sengaja menahannya agar bisa melihat wajahku setia saat?"
Nabil yang mengetahui arti tatapan itu langsung memasang wajah juteknya.
"Berhenti menyimpulkan. Kau pikir aku menyukaimu? aku menyimpannya di sini itu biar ketika kau menebusnya aku langsung memberikan benda ini tanpa terlibat lagi denganmu!" kata nabil.
Shifa menyernyit.
"Oh, sungguh malas sekali berurusan dengan orang pelupa sepertinya." gumam Nabil kemudian.
Shifa kesal mendengar itu, ia mengambil uang 50 ribu dalam tasnya dan menyodorkannya ke Nabil, "berikan KTP ku, sisanya biar ku cicil di Intan. biar kau tidak berurusan langsung denganku!"
Bukannya menerima pria itu malah tertawa. "Dasar bar bar" cetusnya.
Shifa tak menanggapi ia hanya menyodorkan kembali uangnya.
"Ambillah uangmu! kumpulkan sampai menjadi 4 buah uang biru," kata nabil kemudian berlalu masuk ke TPA.
Shifa mendengus "*a*pa begini cara penolakan orang kaya? katakan saja klo aku miskin dan tidak usah membayarnya, itu lebih baik."
Dia tidak semiskin itu, bisa saja Shifa langsung melunasinya. tapi cicilan motor dan kebutuhan rumah tidak bisa di undur sementara gajian masih lama. ia juga tidak bisa meminjam uang pada mamanya apalagi ke tante mirna.
Shifa memilih duduk di tangga. ia tersenyum melihat intan yang masih berdiri menunggu es nya sambil meminta agar di buatkan lebih dulu. namun antrian juga berlaku disana karena keadaan mulai ramai juga terlihat anak-anak TPA mengantri disana. mereka juga datang lebih awal mungkin ingin menghabiskan waktu dengan membaca buku di dalam.
Melihat Intan yang kini cemberut membuatnya mengulas senyum. Shifa teringat masa kecil bersama ayahnya, yang selalu memanjakan dirinya dan terpaksa menuruti semua keinginnannya ketika ia memasang wajah cemberutnya.
"Aku rindu papa." setetes air mata kerinduan menjatuhi pipi shifa, ia mengusapnya.
"Dasar cengeng."
Shifa berbaik ke sumber suara itu. seorang pemuda yang tadi berbicara dengannya sedang bersandar di bibir pintu dengan kedua tangan ia lipat ke dada.
"Apa kata kataku menyakitkan?" tanya Nabil ia menatapnya remeh "cih! kau saja yang baperan." decak Nabil sambil menarik sala satu sudut bibirnya.
"Aku hanya merindukan ayahku," Shifa berdiri dari duduknya dan memberanikan diri masuk ke TPA.
Nabil menyingkir dari pintu ketika Shifa masuk ke dalam, ia menatap heran wanita itu yang tiba-tiba bertingkah aneh. Namun wajahnya berubah sendu ketika melihat shifa duduk dengan menenggelamkan wajahnya di atas meja.
Nabil memilih keluar dan duduk di tangga teras, ia mengingat kalimat shifa sebelumnya.
"Kau wanita kuat, jangan sampai kerinduanmu membuatmu lemah."
**
Kerinduan pada ayahnya membuat Shifa tergiang, rasa menyiksa seperti ini benar benar ingin ia lepas pada pemiliknya.
memang sejak tinggal di malang mereka tidak pernah lagi menginjakkan kaki di jakarta. kota dimana Harist, ayah shifa di makamkan.
__ADS_1
shifa memberanikan diri menghampiri mamanya yang tengah bersantai di ruang tamu untuk menyampaikan keinginannya.
"Mama udah selesai jahitannnya?" tanya shifa basa basi, ia duduk di samping Ana.
"Belum sayang mama mau istirahat sebentar, Alhamdulillah yang pesan lumayan."
Shifa mengangguk angguk, ia melihat layar TV hanya tatapan kosong dan sesekali menoleh ke Ana dengan banyak menyimpan tatapan mengiba.
"Kenapa sih, nak?" tanya Ana yang mulai risih dengan sikap putrinya.
"Maa.., Kita udah lama gak pergi ke makam papa. Shifa rinduu..," tiba tiba suara shifa tercekat di akhir kalimatnya. air matanya sudah jatuh bersama sesegukan.
Ana langsung memeluk putrinya.
"Shifa rindu papa, Shifa mau ke makam papa."
"Ngga, sayang. kita kirimkan saja Do'a, mama tidak mau orang orang itu mengenalimu dan melukaimu karena harta itu masih atas namamu."
Shifa melepaskan pelukannya, "Shifa tidak menginginkan harta itu ma, shifa hanya ingin menemui papa."
Ana menggeleng tegas, "dengarkan mama, mereka itu sangat licik. kita memang tidak membutuhkan warisan itu. tetapi kamu tetap ahli warisnya dan pasti mereka mengincarmu untuk tanda tangan apalagi usiamu sudah dewasa."
meninggalkan masa lalu mungkin keputusan terbaik bagi masa depan putrinya.
namun itu hanyalah pengobat luka agar dendam dengan keluar Firaz tidak tergiang lagi.
meninggalkan harta suaminya begitu saja memang sangat bodoh. tetapi ia juga tak ingin putrinya terluka.
Dulu Shifa hanyalah gadis kecil yang tidak tau menau permasalahan apa yang membuat ibunya ingin menjauh dari keluarga teman kecilnya itu.
Namun sekarang Ana sudah memberitahu Shifa bahwa orang yang melenyapkan ayahnya adalah Firaz tak lain ayah Nabil.
ini hanyalah pada diri Ana yang memilih hidup seserhana dari pada kaya raya tetapi memiliki musuh yang berkedok sahabat. rasa trauma dan kewaspadaan mungkin membodohi nalurinya.
**
Pagi ini Shifa berangkat kerja, ia masih ingat bagaimana mamanya melarangnya ke jakarta. kecewa dan lelah pada keputusan Ana yang selalu mengatur hidupnya tak membuat shifa membantah. ia percaya keputusan seorang ibu itulah yang terbaik baginya.
"Shifa!"
ketika hendak melangkah naik ke lantai dua, nina yang bertugas menjaga kasir tiba tiba memanggilnya dan menghampiri Shifa dengan sebuah surat.
"Kenapa?"
Nina menyodorkan surat itu dengan senyum menggoda, Shifa penasaran dan mengambilnya. apalagi melihat tingkah sahabatnya itu yang dari tadi cengingisan membuat shifa segera membuka isi suratnya.
"Temuin gue di taman abis lo pulang kerja."
Singkat dan padat namun memaksa, isi pesan itu membuat shifa langsung menolak mantap ajakan itu.
"Lo deket ama cowo tapi gak bilang ke gue, jahat banget sih!" kata nina berubah kesal "tapi gk papa deh yang penting ada jagain lo klo tu si bucin macem-macem." lanjutnya sambil tersenyum.
Shifa tak menanggapi, ia membolak balik surat itu mencari segores nama yang mengiriminya.
Shifa mendengus "ada yah surat kek gini, gak ada nama pengirimnya," Shifa menatap nina yang dari tadi menggodanya, "gak usah sebahagia itu, aku gk pernah deket lagi ama cowok apalagi cowok gak jelas kek gini."
__ADS_1
"Hahaha, gak usah bohong deh! orang dia bilang klo kalian menjalin hubungan ke jenjang serius. cuman kamunya aja yang belum siap dan gak mau kasi tahu kita." sindir nina, "ketangkep kan kamu sekarang, bahagia gak bagi-bagi ke kita."
"Bukan--"
"apa, mau ngeles di mana?" pangkas nina.
"iyah tuh Fa, kita kan temen kerja masa gak di kenalin sama calonmu. mana ganteng lagi," sosor nita.
"Lo Liat juga?"
"Iyalah, klo yang bening bening gitu Indera penglihatan gue kuat, hahaha."
Nina menarik salah satu sudut bibirnya, "dasar jomblo."
"Kenapa sih pada ribut-ribut?"
Tiba tiba Tante Mirna datang di tengah tengah mereka. membuat shifa keringat dingin karena ia belum sempat menjelaskan ke pada teman temannya.
"Itu loh, Bu. Shifa gak kasi tahu kita, klo dia udah punya calon," kata Nina.
Mirna memandang ponakannya, Shifa langsung membantah dengan gelengan kepala.
"Iyah, mana orangnya ganteng lagi Bu, keren pula pake celana sobek-sobek." tambah nita.
mendengar celana sobek-sobek, Shifa sudah tahu siapa pemilik surat ini.
"Maaf Bu, Nina, Nita. semua itu tidak benar. saya tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun, apalagi dengan orang itu saya tidak mengenalnya."
"Tapi dia mengenalmu faa' Nama ibumu, tanggal lahirmu, alamat rumahmu daan.., boneka kesayanganmu, doraemon."
"Huh!"
Nina mengangguk, "yah! tadi aku tidak percaya klo dia tunanganmu tapi pas dia menyebut semua tentangmu.., aku percaya" lanjut Nina "dasar tukang rahasia."
Mirna menoleh ke ponakannya, "Benar itu, sayang?"
Shifa menggeleng cepat "nggak Bu itu gak bener, Shifa gak deket sama siapun. toh klo itu bener Shifa pasti kenalin ke tante."
Mirna tersenyum mendengar Shifa memanggilnya tante, ia menoleh ke Nina dan Nita. "Yuk lanjut kerja semuanya."
"Iya Bu." Nita dan Nita lenggang begitu saja.
"Shifa juga mau ke atas Bu, permisi."
Shifa berlalu dan naik ke lantai dua. keadaan belum ramai ia memilih duduk sejenak menenangkan pikirannya.
"Dia tau Nama mamaku karena mereka pernah bertemu, mungkin mama memperkenalkan diri. tapi bagaimana dia tahu dengan boneka doraemonku dan tanggal lahirku? apa mama juga memberitahunya? tapi untuk apa."
Shifa gusar dengan pikirannya, pria itu selalu membuatnya menyimpan pertanyaan di setiap perlakuan, kebohongan dan drama aneh pagi ini.
"Apa sebenarnya maunya?"
untuk apa sebenarnya semua ini? apa yang perlu di mata matai darinya? kenapa pria itu tahu tentang dirinya? pria itu selalu menolongnya tapi kenapa juga berlaku menyebalkan padahal dia sendiri yang menstarker hidupnya.
"Sepertinya aku harus menemuinya."
__ADS_1
-Bersambung
Jangan Lupa Like, Komen And Vote sebanyak banyaknya yah! Terimah kasih.