Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
pertemuan kadua


__ADS_3

Bruum... cikiiik...


suara motor memotong percakapan Lia dan Shifa, mereka mengarahkan Pandanganya ke sumber suara itu.


seorang pemuda bejaket kulit sedang menghentikan motornya didepan salah satu murid shifa.


"Dah pulang?" tanya pria itu pada intan.


Intan mengagguk, "sudah lama kak, nunggunya?" Tanya intan, kemudian menaiki motor pemuda itu.


"Tumbenan kamu pulangnya lama. biasanya klo udah jam segini kita udah di pertengahan jalan loh! " Ucap pria itu, ia memberikan helm berkarakter doraemon pada intan yang sebelumnya ia simpan diatas pam bensin motornya.


"Kakak pengajarnya ngasih ilmu tambahan. jadi lama, "Jawab intan seraya memakai helm. namun aktifitas tangannya terhenti ketika melihat kakanya yang tersenyum dibalik helm, sementara pandangannya tertuju pada kedua wanita mudah yang berdiri didepan pintu sana.


Intan tersenyum. ia tahu siapa yang sedang diperhatikan kakaknya itu.


"namanya kak shifa, kak. Dia yang ngajar disini," Ucap intan membuat pria itu menoleh padanya kemudian kembali melihat ke seberang sana.


ia memberikan anggukan kepala untuk menyapa kedua gadis yang juga sedang menatapnya dengan tanda tanya.


"Diih, sok kenal banget sih, "cetus Lia ketika melihat anggukan kepala itu.


Sementara shifa, yang berada didepannya membalas sapa itu dengan senyuman beserta anggukan kepala, meski rasa penasaran juga nampak diwajahnya.


Merasakan tatapan aneh dari kedua gadis itu, pria yang masih duduk di motor voctionnya segera membuka helmnya.


"Dia?"


Lia dan shifa terbelalak melihat wajah pemuda itu yang sudah tak asing.


"Dia orang yang kita jaga di rumah sakit kan?" tanya shifa pada Lia,


"iyah kak, namanya Nabil."


pria itu kembali memakai helmnya usai memberikan senyuman pada kedua gadis yang sedang membicarakannya disana.


"udah dek?" tanyanya pada intan.


"iya kak."


nabil pun menyalakan motornya dan mulai meninggalkan halaman mushollah itu. diperjalanan ia tak henti menyipitkan kedua matanya mengingat senyum gadis berkerudung navy yang sangat ia rindui.


sementara dari kaca spion intan bisa mengetahui klo kakaknya itu sedang tersenyum, "ciyeeee.. yang jatuh cintaaa," sahutnya seraya memiringkan badan mencoba melihat langsung eksresi pria yang kedua tangannya sibuk memainkan setiran itu.

__ADS_1


cekiiiik!.


tiba- tiba saja nabil menarik rem motornya membuat intan terkejut, "kenapa kak?!"tanyanya.


"enggak! gak papa," jawab nabil kemudian kembali melajukan motornya.


ia hanya terkejut adiknya bisa menebak isi hatinya.


bukan jatuh cinta, tapi ini adalah rasa yang sulit menyatu. senyum manis dibibirnya tak lagi terlihat ketika mengingat bagaimana rasa ini yang akan tersimpan rapi jika tak saling mengungkap identitas.


sementara wanita yang dipikirannya itu sedang risih dengan seorang gadis yang terus memuji muji sosok kakaknya sambil mengikuti langkah wanita itu dari belakang.


"kak? kak shifa!" panggil Lia yang sudah lelah, "capek tau!" ucapnya sambil membungkuk, tenggorongannya mulai kering mungkin terlalu banyak bicara.


shifa berbalik, "emang siapa yang suruh kejar!" sahutnya kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi.


karena tak ingin mengejar lebih jauh, Lia buru buru tegak dan lari menghampiri shifa, "iiih... tungguin 'napa." ucapnya sambil menyeimbangi langkah wanita disampingnya.


"lagian kamu ini aneh, rumahnya lumayan jauh kok gak bawa motor, milih nya jalan kaki." omel shifa.


"kan kak shifa yang bilang, setiap langkah menuju kebaikan adalah hitungan pahala."


"tapi rumah kamu jauh Lia. yang ada kamu menzolimi dirimu sendiri, memaksakankan kakimu untuk melangkah. takutnya ibadah lain tidak bisa kamu lakukan karena kakimu yang bengkak itu."


"Dia gak jemput aku kok, kak," kata Lia yang sudah mengerti arti tatapan wanita yang mematung disampingnya.


shifa kembali melanjutkan langkahnya, ia tidak mau membuang waktu sekedar mendengar sepatah katapun tentang pria itu, ia hanya tidak mau saja tiba-tiba pria itu menemuinya.


shifa akhirnya tiba di halaman rumah dan mulai menaiki terasnya.


namun langkahnya terhenti ketika ada sesuatu yang aneh di belakang. ia berbalik dan mendapati Lia masih mengekor dibelakang, "kamu kenapa masih disini Lia?" tanyanya.


"kan tadi kubilang, setiap langkah menuju kebaikan adalah pahala. jadi aku ikutin kak shifa Kesini lah"


jawaban Lia membuat shifa menyernyit "kebaikan apa yang akan ia dapat disini?" batinnya sambil memandangi rumahnya yang tak sebesar tempat tinggal gadis itu.


"Lia mau mendalami ilmu yang tersembunyi di dalam sana," ungkap Lia kemudian mendahului tuan rumah itu naik keteras.


Ok, demi kebaikan. shifa mengikuti Lia dan membukakan gembok pintu rumah nya, sebab tidak ada seorang pun di dalam.


"jadi mau mendalami ilmu apa nih?" Shifa masuk ke dalam kamarnya. sedang Lia menyusul di belakang, "ilmu silat kah? ilmu hitam kah? atau mau yang warna hijau?" Lanjutnya.


Lia hanya melirih sinis menanggapi candaan wanita yang sudah berdiri didepan cermin itu. kemudian duduk ditepi tempat tidur.

__ADS_1


"pas kita nginap dirumah sakit, Lia kepikiran sama waktu sholatnya kak shifa. bukannya sholat subuh itu dikerjakan sebelum fajar datang yah kak? tapi kenapa kak shifa masih sholat padahal waktu itu keadaannya udah siang?"


shifa tersenyum kemudian membuka gorden jendela didepannya,membiarkan sepoi angin memberi kesejukan di ruangan itu.


"sholat itu memiliki waktu dan batasan, kapan waktunya kita mengerjakan dan sampai mana batas waktu pengerjaannya.


namun disini sifat manusia kadang lalai dan lupa, tetapi Allah selalu memberi kemudahan hambanya untuk beribadah. hanya manusia saja yang menganggap nya sebagai beban. jika kita tidak sengaja meninggalkan atau melupakannya, selama waktu itu belum memasuki waktu sholat selanjutnya maka kita boleh mengerjakan saat itu juga tanpa harus mengulur waktu." jelas shifa.


"Ooo..., jadi itu sebabnya kak shifa buru-buru pergi waktu itu..," kata Lia yang sudah paham.


wanita itu mengangguk sambil tersenyum, sekali lagi ia mengagumi antusian Lia yang benar-benar ingin belajar. shifa yang masih berada didepan cermin hendak melepaskan jilbabnya namun niat itu terhenti ketika melihat sosok pemuda yang baru saja menghentikan kendaraannya di depan rumah. pandangan mereka bertemu ketika pemuda itu juga mengarahkan pandangannya ke jendela.


buru-buru shifa menggeserkan badannya menjauhi pandangan pria itu. ia mengaitkan kembali jilbab nya dengan cemiti. kemudian menatap Lia lewat pantulan cermin. "ditungguin kakak mu sana," ucapnya tak ramah.


"Huh! mana?! " Lia terkejut kemudian berdiri dan mengintip ke jendela.namun sosok yang dicarinya tidak ada, "gak ada siapa siapa tuh kak, " ucapnya masih menelisik halaman rumah shifa.


mendengar itu, shifa juga ikut mencari dan benar saja motor dan pemiliknya sudah tidak ada.


tok! tok! tok!


tiba-tiba saja ketukan dari luar membuyarkan kedua wanita itu dari depan jendela, kemudian mereka saling menatap saling mempertanyakan lewat sorot mata. siapa yang mengetuk pintu? apa itu Dia?


tok! tok!


"Assalamu Alaikum, Liaa?"


"upps!" Lia menutup bibirnya dengan jari karena terkejut mendengar suara yang sangat ia kenali. sedang shifa sudah menatap nya tak nyaman.


-bersambung yah guys.


waduuuh serbah salah nih Lia,


klo itu benar kakakny, bisa bisa di kacangin terus tuh ama cakapnya.


.


.


jangan Lupa Like, dan ketik apapun di kolom Komentar.


jangan Lupa juga follow @airaannur_


disana author kasih sepenggal kalimat dari novel ini.

__ADS_1


Terimah kasih.


__ADS_2