
“LIA!!!”
Teriakan Aska yang diikuti langkah cepat menarik perhatian pengunjung, tak terkecuali Nabil dan Syifa yang berada ditepi danau. Setelah menyadari Lia yang pinsan mereka ikut menghampiri Aska.
Lia segera di bawa ke rumah sakit menggunakan bis. hanya mereka bertiga yang ikut sementara nabil harus bertanggung jawab menjaga murid-murid sembari menunggu bis itu pulang kembali.
Setelah menempuh sepuluh menit perjalan akhirnya Mobil yang membawa Lia sampai. Syifa langsung mempertanyakan kronologi pada Aska saat Lia sudah mendapat penanganan.
"Dia liat kamu mengambil cincin dari nabil."
"Astagfirullah!" Syifa membungkam mulutnya. pasti saat ini Lia sangat kecewa terhadapnya.
Hari masih terang meski sudah melewati jam 4 sore. setelah dokter mengatakan untuk saat ini Lia baik baik saja, Syifa kembali dengan bis.
"Gimana keadannya?" tanya nabil tepat ketika syifa turun dari bis.
Syifa menatap murid murid yang juga menghawatirkan Lia, "untuk saat ini dia baik baik saja." jawabnya kemudian.
"Alhamdulillah..."
"Bil, Aku mau bicara serius."
Nabil mengagguk dan mengikuti Syifa yang mengajaknya menjauhi kerumunan.
"Mau ngomong apa, Fa?" kata nabil ketika syifa berhenti di bawah pohon, ia kembali mengeluarkan cincin yang tadi dikembalikan syifa namun wanita itu hanya menatapnya datar.
"Lia sangat mengagumimu."
"Apa?!"
Syifa menatap mata yang terlihat terkejut itu, "dia yang lebih dulu menaruh hati sebelum aku mengetahui kamu adalah nabil yang kucari."
“Jadi ini alasan kamu melarang agar aku tidak peduli tentangmu didepan dia?"
Syifa menyebik dan mengagguk, "aku mau kamu beri dia kesempatan untuk mencintaimu.” syifa diam sejenak menatap nanar wajah Pria yang sedang menebak maksudnya, “aku ingin kamu membalas perasaannya,Bil.”
“Aku ngga bisa!” tolak Nabil tegas.
“Kamu harus bisa…,” pintanya parau ditengah derasan air mata, “dia mencintaimu.”
“Tapi kita yang saling mencintai!”
“Lia sakit, karena tahu kita mencintai. jadi kita harus mengalah dalam hal ini__”
“Dia yang seharusnya mengerti! bukan kita yang harus melepas.”
Syifa terdiam memalingkan pandang dan kembali menatap pria yang tersulut emosi itu, "tidak ada lagi harapan untuk hubungan kita, Bil. ketika ibuku tahu siapa kamu sebenarnya.. maka tak ada restu darinya..”
__ADS_1
"Banyak cara, Fa. jika itu yang kamu khawatirkan, aku akan semakin berusaha mencari dalang kesalahpahaman keluarga kita."
Syifa hanya diam menatap.
"Dan satu lagi," Nabil yang hendak pergi kembali berbalik, "jangan memaksaku melakukan sesuatu yang kamu tahu aku tidak akan menyukainya."
Nabil pergi meninggalkan Syifa, ia bahkan tidak peduli lagi tanggung jawab sebagai panita. dia tinggalkan wanita itu bersama murid-muridnya.
Sejak pertengkaran kecil tersebut tejadi, Syifa dan Nabil tak lagi memberi kabar. masing masing mereka membesarkan ego sendiri, pun jika terpaksa berpapasan mereka saling berpaling meski degub jantung meminta memangkas jarak.
Liburan yang dianggap dapat menenagkan justru menghadirkan masalah. tak niat melakukan apapun membuat syifa berdiam dirumah dan cuti bekerja begitupun ia meliburkan aktifitas TPA.
Dipikirannya hanya Lia. beruntung ia masih menyimpan nomor aska jadi mudah baginya mengetahui kondisi gadis malang itu tanpa harus mendatangi RS.
Treeet...!
Syifa segera mengambil ponsel yang menampilkan panggilan Aska, ia menerimanya.
"Wa'alaikumussalam," katanya setelah mendapat salam dari aska. "ada apa, Ka?"
"Lia kritis, Fa."
**
Langkah yang sudah cepat di balik Rok rempelnya namun baginya tetap lama membuat ia berlari menghampiri pemuda yang duduk di balik ruang UGD.
“Ska! gimana keadaan Lia?” tanyanya, namun Pria itu hanya menatap nanar sembari mengajak rambut sikapnya semakin membuat syifa kalut "Ka! Lia gimana?"
"Ya Allah…” Syifa membungkam mulutnya.
“Di tambah lagi kata dokter, jantung lia mengalami pertumbuhan sel abnormal yang bisa menyebabkan tumor."
Sosok yang dikenal jantelmen dan ditakuti didaerahnya akhirnya bisa melow juga akibat kondisi sang adik. biarpun air mata itu ia usap, tetap orang orang akan speklis melihat betapa terlukanya seorang Alaska Siaga.
“Sabar, Ka.”
Bahkan elusan Syifa pada pundaknya tak mampu menjeda tangis yang tertahan. ia tak peduli lagi perhatian itu.
“In sya Allah, Lia baik-baik saja.” syifa mencoba menegarkan aska namun kalimatnya tak ditanggapi sama sekali.
Ia menarik tangannya dari pria itu kemudian celikungan mencari seseorang.
namun apa yang ia cari tak ditemukan.
“Orang tuamu belum kamu kabari mengenai keadaannya Lia?”
Aska menggeleng dalam tunduknya
__ADS_1
Syifa menghela, "Ka..." panggilnya "sebaiknya kamu beri tahu mereka sekarang. bagaimana pun juga__"
“Fa!” bentak Aska, “ini bukan saatnya membahas keluargaku. itu.. bukan urusanmu!” aska meninggalkan syifa dan memilih duduk dikursi.
Kemurkaan aska membuat Syifa mematung. terkejut pasti, tapi melihat frustasinya membuat syifa tak mengambil hati. sebab dirinya juga mungkin salah mempertanyakan kepedulian keluarga aska.
Ceklek!
Pintu terbuka, aska segera menghampiri dokter dengan mempertanyakan keadaan Lia.
“Untuk saat ini kondisi pasien sudah sedikit membaik.”
Syifa dan aska sama sama mengucap syukur.
“Kami sudah melakukan tes pencitraan untuk mendiaknosis penyakitnya. memang untuk saat ini pasien dalam keadaan baik. tapi kita tidak bisa menjamin keselamatan, ketika irama jantungnya kembali tak normal. maka itu tetap harus ada yang menemani pasien.
Tidak apa apa. mendengar keadaan Lia baik baik saja sudah membuat Pria itu sedikit tenang.
"Bisa ikut ke ruangan saya?” pinta dokter pada Aska.
Aska menatap Syifa sejenak kemudian mengikuti dokter. sementara syifa tetap di posisi menemani Lia dari luar.
Perih hatinya mengintip Lia dari jendela ruangan. gadis yang selalu membuatnya tertawa dan marah karena kecerewetannya kini terkulai lemas tak berdaya. rasa bersalah terhadap gadis itu membuatnya menitihkan air mata.
"bagaimana bisa kamu seegois ini, fa.."
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya aska datang. mimik muram yang membingkai wajah tampannya membuat syifa menyernyit.
“Gimana? apa kata dokter, Ska?” tanyanya ketika pria itu baru saja sampai dihadapan.
Aska belum menjawab, ia hanya menatap kosong wajah wanita yang sangat kawatir tersebut.
"Ka.."
“Tumor jantung, Fa. Lia menderita penyakit yang berpotensi kangker."
“Astagfirullah.."
Suara gemetar aska menjawab pertanyaannya membuat Syifa tak kuasa menahan air mata.
"Ternyata sudah lama dirinya tahu menderita penyakit itu. tapi Lia gak mau merepotkan orang lain, Fa. bahkan kepada kakaknya sendiri pun."
Syifa tak bisa berkata, selama ini ia hanya mengaggap lia sebagai gadis yang lebih kekanakan darinya. namun mendengar penjelasan aska membuat hatinya perih.
Lia yang hidupnya terlihat sangat bahagia ternyata banyak menyimpan sebuah kepiluan yang tak ingin orang lain campuri.
Sedang dirinya sudah mengaggap orang yang paling dewasa dan beragama, bagaimana bisa ia sesombong itu pada gadis yang mengerti kesabaran hidup.
__ADS_1
-Bersambung.
Cek Ig @airaannur_ biar feelnya lebih afdal, hehe. assalamu alaikum.