
Sesuai dengan perkataannya, sore ini Shifa mengajak Lia ke bengkel itu. dan akhirnya motor kembali ke tangan pemiliknya. meski sempat beradu mulut pada penjaga bengkel yang sedikit mempersulit masalah. yah, itu Eky.
Mereka pun putar balik menuju ke TPA.
sesampainya disana, terlihat anak-anak sudah datang dengan perlengkapan sapu dan kain lap. karena hari ini khusus untuk pembersihan TPA baru mereka.
Nabil yang mengantar intan juga berada disana, karena selain membeli buku, sarah juga memintanya membantu bantu mengangkat barang.
"Tanganku sakit di waktu yang tepat," batin Nabil seraya memijat-mijat tangan kanannya.
Ia masih ingat bagaimana wanita yang sedang berjalan ke arahnya itu menariknya paksa tadi siang, sehingga tangannya juga terbentur di jalan dan sakitnya baru ia rasakan.
meski merasa sakit, tentu ia berusaha menutupinya. ia tidak mau penampilannya yang terlihat preman keren ini tercemar karena aduan sakitnya.
"Assalamu alaikum anak-anak." sapa shifa kepada muridnya yang tengah bersih-bersih tanpa di suruh.
"Wa alaikumussalam kak Shifa." jawab mereka.
Lia memotar bola matanya, "aku juga di sini, apa kalian tidak mau menyambutku?"
intan maju paling depan, "selamat datang mulut mercon," katanya.
"Apa kau bilang!?" Lia yang tak suka panggilan itu mengangkat tas ransel yang masih melekat di punggung intan.
"Kakaaak!" teriak intan.
Lia menyernyit "Kakak?" ia celikungan mencari seseorang hingga pandangannya terhenti pada pemuda yang tengah bersandar di tembok depannya dengan tatapan membunuh.
Bukannya takut, Lia malah semakin mengangkat tas ransel itu hingga membuat intan berjinjit.
"Kaaak!"
"Lepaskan tanganmu!" bentak Nabil, namun Lia tak kunjung melepasnya malah balik menatap tajam pria yang jauh lebih tua darinya itu.
Nabil mendekat ke mereka, "Ku bilang lepaskan tanganmu dari tas adikku!"
"Akan kulepas, jika kau mencopot mulutnya dulu!"
Shifa yang berada di dekatnya hanya meringis. ia mendekatkan mulutnya ke telinga Lia sementara pandangannya menatap Nabil.
"Liaaa..., jangan buang-buang waktu berdebat dengannya, kau akan tetap kalah." bisik shifa.
"Aku kalah karena mengalah, dia menang karena omongan bodohnya itu." kata Lia kemudian melepaskan tangannya. intan yang masih kesal melampiaskan dengan menginjak kaki Lia kemudian bersembunyi di belakang kakaknya.
"Aargh! BOCCAH!" Lia membuka sepatu balet kanannya kemudian melemparnya ke arah intan, namun Nabil yang kena karena melindungi adiknya.
"Kau mengotori bajuku!" bentak Nabil melihat noda tanah di bajunya.
"Salahmu!" Lia hendak mengambil baletnya namun Nabil lebih dulu mengambilnya.
"Intan, simpan di bagasi" Nabil menyerakan balet itu ke adiknya.
"Ok!" intan mengambilnya dan berlari mengikuti perintah kakaknya.
"KEMBALIKAN DASAR MENYEBALKAN!!" teriak Lia. membuat manusia di sekitarnya meringis dan menutup telinga.
"Akan ku kembalikan jika sikapmu sudah sedikit sopan." kata Nabil kemudian melewati Lia yang masih menunjukkan kekesalannya.
Nabil menoleh ke shifa, "jika kau masih menginginkan buku-buku itu, ikuti aku." kata nabil kemudian kembali melangkah ke motornya.
Nyiiiiing!!
"Dia bukan mercon, Dia jelmaan trompet sangkakala." gumam nabil sambil mengorek telinganya yang mengeluarkan suara aneh karena terikan Lia tadi.
"Lia, aku titip anak-anak yah, assalamu alaikum" kata Shifa kemudian menghampiri motornya yang tak jauh dari motor Nabil.
"Intan ikut?" tanya Shifa ketika melihat intan naik ke motor Nabil.
__ADS_1
"Iya, kak. kak Nabil tidak mau meninggalkanku bersama macan itu. setidaknya aku bisa membantu memilih buku disana."
Shifa hanya menganguk-angguk, "sedih sekali nasibmu Lia, aku sudah memanggilmu Limun, dan kedua kakak beradik ini malah menyebutmu macan dan mercon." shifa menghela napas.
"Kenapa? Lo gak suka klo adek gue ikut?"
Shifa menggeleng, kemudian menaiki motornya ia malas menanggapi kalimat pria itu yang tidak berujung.
"Baguslah, kirain Lo mau ambil kesempatan buat deketin gue."
Seandainya manusia memiliki cadangan Lidah, mungkin Shifa sudah menarik lapisan lidah pria itu. ia hanya bisa mengutuk dalam diam. sementara intan pipinya bersemu merah.
"---Dan setelah Lia, aku yang akan jadi sasarannya lagi." batin Shifa kemudian melajukan motornya lebih dulu, karena ia sudah tau toko mana yang akan du kunjungi pria itu.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka kembali tiba di toko buku yang sebelumnya mereka singgahi tadi siang.
mereka masuk dan mulai mencari buku bernuansa islami dan sedikit dongeng untuk memanjakan mata anak-anak.
Ah, sebenarnya bukan mereka bertiga. tetapi hanya Shifa dan Intan yang memilih. sedang pria yang ikut bersamanya sedang duduk santai memainkan ponselnya. karena yang di tugaskan sarah hanyalah membawa barang,
sungguh pria yang amanah.
Setelah semua selesai, shifa dan intan membawa trool nya ke kasir. intan memanggil kakanya untuk membayar. setelah membayar, 3 buah kantong merah sudah berada di depan Nabil. Shifa mengambil satu kantong" ya Allah, ini berat sekali."
Nabil juga mengambil 2 kantong yang masih tersisa itu. namun ketika tangan kanannya mengangkat. ia merasakan nyeri di lengannya sehingga menjatuhkan kantong itu.
"Kenapa kak?" bukannya menolong, intan malah mencoba mengangkat kantong itu, "wah 50 klo" menyerah.
Nabil meringis menahan sakit, tangannya seperti Lumpuh dan kram. ia pikir tangannya sudah sembuh namun tidak.
Shifa yang kebetulan belum keluar meletakkan kantong yang ia bawah kemudian menghampiri mereka.
"Dia kenapa intan?"
intan mengheleng, "Gak tau kak, tiba tiba aja mau nangis." intan menatap kakaknya yang sedang meringis menahan sakit.
Sedang Nabil sudah menatap kesal pemilik suara itu, ia tidak suka dengan pernyataan adiknya, seakan ia pria yang cengeng.
"Trus?" Kompak Shifa dan Intan.
"Tangan gue sakit." jawabnya. ia memang tidak bisa menyembunyikannya lagi, karena ini terlalu sakit.
"bilang saja kau mau menangis karena tangan mu sakit, bodoh." batin Shifa. ia mendengus pasrah melihat 2 kantong pelastik didepannya."tidak ada pilihan"
Shifa menoleh ke intan, "Bawa keluar kakakmu disana ada kursi, biar aku yang bawa semua ini."
Intan pun mengajak kakanya keluar dan duduk di luar, ia bantu memijat lengan kakaknya agar lekas sembuh.
sementara Shifa masih kewalahan mengangkat 3 kantong plastik itu. 2 dibawa ke motornya dan 1 di motor Nabil. ia berbalik dan melihat pria itu masih memijat tangannya. "seandanya tadi kau membantu memilih buku, mungkin kau bisa berguna."
Shifa menghampiri kakak beradik itu. "Bagaimana?"
"Sudah lebih baik." kata nabil, ia memang merasa bersalah melihat shifa yang mengankat barang itu.
Shifa mengangguk, "Tangannya sakit di waktu yang tepat, juga berhenti di diwaktu yang tepat." memicing pria itu.
"Apa?" kata Nabil yang risih dengan tatapannya.
Sifa menggeleng kemudian menoleh ke intan, "intan, kamu bisa bareng sama kakak, sepertinya tangan kakakmu masih belum pulih. tenaganya belum bisa digunakan."
"Iya, kak."
Shifa tersenyum pada intan kemudian menghampiri motornya. sementara nabil menatapnya kesal, "itu sindiran, kau tidak benar-benar peduli. asal kau tau, tanganku sakit karena tenagamu yang monster itu."
Nabil berdiri menghampiri dan mengendarai mototnya. intan dan Shifa sudah jalan lebih dulu.
Sesampainya di TPA.
__ADS_1
terlihat anak anak sudah selesai membersihkan, Lia duduk di teras dengan wajah tekuknya. pandangannya menatap tajam pria yang sedang berjalan bersama Shifa dan intan.
"Assalamu alaikum," kata shifa dan intan.
"Waalaikumussalam," jawab anak-anak.
"Turunkan pandanganmu!" kata Nabil yang risih dengan pandangan membunuh dari Lia.
Lia memutar bola matanya, kemudian berdiri menghampiri Shifa yang sedang kewalahan membawa buku itu. ia mengambil alih dan mebawanya ke dalam.
semua masuk dan mulai merapikan buku-buku itu di rak lemari yang sebelumnya di pesan Sarah. Nabil juga ikut membantu karena hanya satu buku tidak akan melukai tangannya.
"Lia, bisa kau ambilkan buku hijau yang berjudul meneladani Sifat lembut Rasulullah?"
"iya kak, dimana?"
"Di kantong yang di bawa Nabil!" Shifa tidak mengambilnya karena Lia lebih dekat dengan kantong itu.
Lia mencari pria itu, ia mendapatinya sedang sibuk menyusun buku. Lia menghampiri.
"Mau apa Kau?" tanya Nabil.
Lia hanya diam karena malas bertengkar, ia mulai mencari buku di kantong pelastik itu namun tidak ada.
"Cari apa?"
Lia mengabaikan lagi pertanyaan Nabil, ia melihat buku berwarna hijau yang sudah tersusun rapi di rak. ia mengambil buku itu namun sulit karena Nabil menyusunnya terlalu rapi dan sempit.
Lia berusaha menarik buku itu dan berhasil. namun sayang, buku yang lain juga ikut jauh karena tarikan itu. Nabil yang kebetulan tertunduk mengambil buku di kantong pelastik menjadi sasarannya.
"Aarg!" pekiknya ketika sebuah buku menghantam tangan kanannya yang sudah terluka.
Nabil meringis sambil melompat-lompat menahan sakit. Lia yang melihatnya terheran dan bergidik "Lebay sekali."
melihat tatapan Lia, Nabil menghentikan gerakannya dan menatap kesal wanita itu.
"Kau bisa pelan-pelan! dasar ceroboh!" cibir nabil sambil mengelus-elus tangannya.
"Hey! salahmu sendiri yang menyusun buku seperti kue lapis. kau pikir buku ini untung pajangan! Sampai disusun sesempit itu." balas Lia tak kalah emosi.
mendengar keributan disana, Shifa buru-buru menghampiri mereka.
"Kenapa berantakan seperti ini?" tanya Shifa kemudian memunguti buku buku itu dan menyimpannya kembali.
"Kau tanyakan saja sama trompet sangkakala ini" kata Nabil menunjuk Lia, kemudian melangkah.
"Dasar celana SOBEK!!"
Nabil berbalik, "Jangan harap sepatumu kembali," ujarnya kemudian berlalu pergi.
Lia menghentakkan kakinya ke lantai melampiaskan kekesalannya, namun tiba tiba dadanya merasa sesak.
"Lia kamu kenapa?" Shifa memengang pundak Lia.
Lia menggeleng, "Boleh aku pulang kak? Aku merasa sesak disini."
"Iyah pulanglah," kata Shifa karena semua juga selesai hanya tinggal menyusun buku.
"Assalamu alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Lia keluar, dan melihat masih ada Nabil disana yang sedang duduk di tangga Dengan memijat mijat tangannya.
"Dasar lebay!" Lia melewatinya tanpa memandang sedikit pun ke arah nabil, karena ia tahu pria itu sedang menatapnya kesal. melihat tatapannya hanya akan membuatnya semakin terpancing emosi.
-Bersambung
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE, KOMEN and VOTE sebanyak-banyaknya yah!
Terimah kasih.