Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Menjadi teman...


__ADS_3

Lia menyodorkan minuman pada nabil namun matanya tercekal melihat tangan pria itu berdarah. ia buru buru mengambil tisyu kemudian memberikannya pada nabil, namun pria itu menolak dan memilih membersikan tangannya di jelana jeans miliknya.


“Anak bengkel udah biasa kena kotor,” kata nabil membuat lia menghentikan menawari tisyu.


Keduanya kembali terdiam, lia fokus memerhatikan nabil yang sedang memutar rantai motornya untuk memastikan apakan sudah kencang.


“Kita boleh berteman gak, kak?”


pertanyaan Lia yang tiba tiba membuat pria itu mendongak heran.


“Pas awal aku pikirnya kak nabil itu anak gak baik, karena liat penampilannya. taunya kak nabil orangnya berilmu,” lia menyebik karena malu mengingat sikapnya dulu pada pria itu.


“Aku sadar gak seharusnya aku liat seseorang dari penampilan hanya ingin mengukur imannya. karena aku pun seoarang mukallaf yang minim ilmu tapi penampilku seakan sudah setakwa ustadzah.”


Nabil terdiam, sesaat kemudian ia meminta minuman pada lia kemudian meminumnya hingga habis.


“Terus apa hubungannya dengan kita berteman?” tanya nabil sembari berdiri.“udah tau kan gak boleh deket deketan sama yang bukan mahram?”


Lia mengangguk, “asal gak melewati batas, kak,” balas lia “aku hanya ingin berteman dan belajar islam dengan orang orang yang memiliki ilmu. seperti kak nabil.”


“kamu kan bisa belajar sama syifa, dia tau banyak dari aku, dek.”


Lia menyebik mendengar nabil menyebutnya 'dek' tetapi perlahan bibirnya memanyun, “akhir akhir ini kak syifa sibuk, aku gak enak gangguin dia terus.”


Nabil diam memikirkan, setelah menimang nimang ia menatap lia kemudian menggagguk, “jadi mau belajar tentang apa?”


Lia mengulas senyum, “kita boleh berteman!?” pekik lia, ia mendapat anggukan dari pria yang tersenyum melihat tingkah bahagianya.


“Cepetan mau tanya apa?”


Lia menggeleng, “nggak sekarang, lain kali aja.” lia mengambil ponsel dalam tasnya, “sebutin aku nomermu, kak. nanti klo ada mau aku tanyain tinggal aku chat kan.”


Lagi lagi tingkah Lia membuat Nabil tersenyum, ia mulai menyebutkan nomornya dengan cara cepat. namun karena mendapat tatapan protes dari lia membuatnya terkekeh dan harus mengulang kembali.


“Aku jadi curiga, pasti ada niat lain selain kamu ingin belajar, kan,” selidik nabil setelah remaja itu menyimpan ponselnya dalam tas.


“Gak baik curigaan sama orang,” balas lia, ia menatap motornya kemudian kembali menatap pria dihadapannya, “itu aku bayar berapa kak?”


“5 rebu doang,”


Lia sedikit terkejut, padahal ia mananyai itu hanya ingin berbasa basi menghindari tatapan nabil. beruntung masih ada sisa uang jajan disaku. nabil menyambilnya setelah lia menyodorkan uang tersebut.


“Aku ambil biar kamu gak baperan terus klo aku baikin,” kata nabil kemudian pergi usai memberi salam.


Sementara lia menyebik menahan malu, mengira mungkin sikapnya terlalu jelas jika menyukai pria tersebut, “payah!” lia mengumpat dirinya sendiri tepat ketika motor nabil sudah melaju.


**


Matahari sudah redup berganti awan mendung disana. sore itu shifa berjalan ke TPA ditemani nabil. entah apa yang direncanakan pria itu sampai meninggalkan motornya di TPA kemudian menyusul Syifa.

__ADS_1


“Jadi kamu lahir dijakarta?” tanya nabil setelah shifa menjawab beberapa pertanyaan darinya.


“He’em,” hanya itu jawaban shifa, ia sangat tidak suka jika orang asing menanyai asal usulnya.


“Kenapa pindah ke malang klo di Jakarta ada keluarga?”


Shifa menghentikan langkah, “gak usah kepo mengenai keluargaku, aku gak bakal cerita sama orang asing,” katanya kemudian melanjutkan langkah.


Kekesalan syifa justru membuat nabil tersenyum, "cuman mau tanya.. sebelum calon mertua kamu yang tanya.”


Syifa mengabaikan, ia hanya mengertakan gigi melampiaskan kesalnya. tak ada niat menoleh sebab ia tahu nabil sedang menatap.


“Aduh!”


Pria itu menghentikan langkah ketika menginjak sesuatu.


“Iisss, apaan, nih!” pekiknya seraya meringis, ia mengabaikan wanita yang sedang menahan diri menertawainya.


“itu kotoran sapi,” kata syifa setelah nabil menatapnya. pria itu hanya berdecak seraya membersihkan sepatunya di rumputan hijau.


“Aku duluan, anak anak pada nunggu.”


Syifa melenggang pergi tanpa menunggu respon pria itu. tawa kecil mengiringi langkahnya, sangat puas melihat nabil mendapat ganjaran.


Sementara itu, di sela tertunduknya nabil mengulas senyum melihat Syifa tertawa karenanya.


“Selanjutnya, tinggal ku tawari pertemanan,” ucapnya kemudian menghampiri kios yang menjual sandal jepit.


**


Mungkin karena nabil tak pernah lagi membicarakan hal-hal yang menjerumus dan ia juga tak pernah lagi ke rumah syifa.


Bahkan jika ada yang bermasalah pada motornya, Syifa tak sungkan memperbaiki di bengkel pria itu. nabil juga selalu menyampaikan kalimat kalimat yang menurut syifa nyaman, tapi meski begitu syifa berusaha menutupi klo nabil ternyata tidak seburuk pikirannya.


“Itu jadinya berapa?” tanya syifa usai nabil memperbaiki motornya.


“Lima rebu,” jawab nabil seraya melepas bandana hitam dari keningnya, ia mengambil uang yang disodorkan syifa, “tanya ke lia, kapan mau belajarnya?”


“Huh!?”


“Mau belajar sama aku katanya, tapi sampai sekarang gak muncul muncul dia.”


Meski ada penasaran dan banyak pertanyan dibenaknya, tapi syifa malas mempertanyakan itu. ia tahu betul pasti itu hanya akal akalan lia mendekati nabil.


“Ntar kutanyain klo ketemu."


Nabil hanya mengguk, ia membiarkan syifa pergi dengan motornya. tak ada niat lagi untuk menagi jawaban atau membuatnya wanita itu kesal karena misi itu sudah ia lewati.


“Sedikit lagi, Bil. sedikit lagi."

__ADS_1


***


Sore itu awan tak seceria siang tadi, matahari sudah menyelinap di balik awan hitam pekat pertanda hujan akan mengguyur deras.


Tapi pengajian yang rutin diadakan syifa di jam itu tetap berjalan. mereka sama sama kusyuk melafalkan doa selesai belajar ditengah derasnya hujan yang kembali jatuh.


Beberapa anak yang rumahnya dekat menerjang hujan untuk pulang. hingga yang tersisa hanyalah syifa, lia, juga intan yang tengah bermain bersama 2 anak didalam.


Syifa memilih keluar menikmati hujan dari sisi teras TPA, sesaat kemudian lia juga keluar dan memainkan rintik hujan itu dengan jemarinya.


“Kak syifa?” panggilnya membuat pemilik nama itu menoleh, “der!” lia menjentikkan jarinya ke hadapan syifa sehingga wanita itu mendapat percikan diwajahnya.


Tak terima, syifa juga membalas. namun bukannya berhenti mereka justu saling menyerang.


“Kalian udah gede, bukan waktunya main main.”


Dua gadis yang tadinya saling melempar serangan itu berbalik. terlihat nabil tengah melepas jas huja kemudian menjemurnya di pot bunga yang berada di teras.


“Kak Nabil kapan datang?”


Pertanyaan lia mewakili pertanyaan syifa, sebab ia juga tak mendnegar suara motor namun motor nabil sudah terparkir di dekat Mushollah yang memiliki atap lebih.


“Baru,” jawab nabil, ia menoleh ke dalam TPA dan memberi isyarat pada intan untuk kembali bemain, “udah loh sampein ke lia?” tanya nabil pada syifa.


“itu oranganya, kamu tanyain aja sendiri.” balas syifa setelah mengerti maksud pria itu.


“Tapi itu amanahmu yang harus kamu sampein. tahu, munafik namanya orang yang diberi amanah tapi gak nepatin?”


“Mau sampein apa sih ke aku?” sosor lia yang penasaran dengan perdebatan dua insan di hadapannya.


“Dia nanyain kamu, kapan belajar bareng?” kata syifa.


Lia menyebik dan mentap nabil, pria itu menaikkan kedua alis untuk mempertanyakan, kapan mau belajarnya? namun gadis itu malah berbalik ke arah syifa.


“Aku kok grogi yah, ditatap kak nabil?"


Syifa menoleh ke arah nabil, “Katanya dia grogi sama kamu,” ungkapnya membuat lia berbalik cepat.


“Nggak!” elak lia, ia melirik syifa kemudian menatap nabil, “kak nabil pasti tunguin panggilan masuk dari aku yah?”


Meski mengelitik ditelinga, tetapi dua orang didepannya mencoba menahan tawa, nabil menyebik dan mengagguk.


“Aku nungguin orang yang bakal ngalirin aku pahala.”


Lia meyeryit, ”maksudnya?”


Bersambung


Kapan Up nya lagi belum tahu, yah. tapi tetap pentauin aja terus IG ku @airaannur_

__ADS_1


Terimah kasih sudah meluangkkan waktu, assalamu alaikum.


__ADS_2