
“Suster tolong!!” teriak Shifa ketika memasuki pintu utama Rumah Sakit.
Beberapa Suster menghampiri mereka, warga yang ikut segera meletakkan Nabil diatas brankar yang dibawa Suster.
Shifa ikut mendorong, raut wajahnya masih cemas menghawatirkan Pria itu.
"Mba, Tunggu disini. kami akan menangani pasien. " Ucap salah seorang Suster menghentikan langkah Shifa.
Shifa mengangguk, ia sendiri bingung harus berbuat apa. ia hanya takut jika Pria itu kenapa-napa.
Pintu ruangan sudah tertutup namun mata Shifa masih mengarah ke sana.
"Mba? kami pamit pulang dulu." ucap seorang warga yang ikut mengantar Nabil.
"Ah! iya, Pak. terima kasih sudah membantu."
"Permisi."
Sementara ke dua warga itu pergi melangkahkan kakinya dengan sedikit bergosip menerka-nerkah kisah kedua anak muda itu..
Shifa mengedipkan mata, wajahnya belum berekspresi hanya detakan jantung yang terus mengompa kuat.
Ia berjalan meraih kursi yang tak jauh dari sana Kemudian duduk dan menyatukan kedua tangannya.
Matanya mulai berkaca-kaca, entah mana yang menusuk pikirannya. Hanya satu Kedipan lagi sudah membuat matanya mengeluarkan dua bulir air mata dipipi caby nya.
Hentakan cegukan mulai menerpa dada, kini ia tidak bisa menyembunyikan tangisnya dari orang-orang yang lalu lalang di koridor RS.
Shifa.., hentikan tangis mu shifa.
Batinnya mencoba menenangkan diri Namun kejadian beberapa menit lalu masih saja terbayang-bayang hingga tangisnya terus saja meledak, Ada trauma dan rasa takut menyelimuti. Ia menunduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
Ceklek!
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pintu ruangan terbuka. segera Shifa menghapus air matanya kemudian berdiri menghampiri dokter.
“Dok? gimana keadaanya?”
"Tidak apa apa, kami sudah menangani luka Tusuk nya." jawab Dokter.
"Alhamdulillah." ucap Shifa mendengar kata tidak apa-apa.
"Hanya saja saat ini keadaan pasien masih dalam kondisi lemah, Ia mengalami pendarahan sangat banyak."
"Ya Allah!" Shifa membungkam mulutnya.
“Anda temannya?" tanya dokter kemudian.
Shifa berpikir sejenak lalu memutuskan menganggukkan kepala, "Iyah Dok, saya temannya."
"Bisa ikut sebentar? ada yang ingin saya beritahu.” ajak Dokter sambil mengarahkan tangannya ke koridor ruangannya.
Shifa mengangguk saja dan mengikuti langkah Dokter.
Sampai disana, ia menandatangani selembar kertas yang diajukan Dokter padanya. nama Shifa tertera dibawah tanda tangannya sebagai petanggung jawab atas pasien.
__ADS_1
“Siapa nama temannya, Dek?” Tanya Dokter kepada Shifa yang masih saja melihat isi kertas itu.
"Yah, dok?" Shifa mengangkat alisnya, ia bingung harus jawab apa. mengotak atik pikirannya dan akhirnya menemukan nama Nabil dalam ingatannya.
"Namanya Nabil, dok." jawab shifa.
Untung saja ia sempat mendengar Aska menyebut kata Nabil kepada Pria itu.
“Begini, dari hasil pemeriksaan, sepertinya teman anda ini orang yang Operdosis."
Pernyataan Dokter seketika membuat shifa bingung “maksudnya, Dok?”
“Dia ketergantuang obat terlarang dan candunya ini sudah sangat menghawatirkan." jawab Dokter.
Shifa makin menyernyit.
"Khawatirnya karna obat ini teman anda bisa saja menyakiti dirinya sendiri” jelas dokter.
Mendengar ketergantungan obat, Ia akhirnya paham apa yang di maksud Dokter padanya. Baginya itu bukan urusan yang harus dicampuri ia tidak mau ambil pusing seperti apa kehidupan Pria itu.
"Saya harap anda bisa menjaganya dengan baik saya hanya kasian dengan Spikisnya," saran dokter.
"Iyah, Dokter. Terimakasih sudah memberi tahu, Saya akan menjaganya sampai sembuh." Jawab Shifa.
Usai keluar dari ruangan Dokter, shifa kembali menuju ke ruangan Nabil.
"Ok, Disini tanggung jawab ku cuman ngurusin Dia sampai luka tusuknya sembuh aja," batin Shifa.
Ia kembali berjalan mengikuti koridor ruangan Nabil. Langkahnya terhenti tepat didepan jendela kaca yang masih meperlihatkan keadaan Pria itu dari dalam.
Nabil?
Nama pria itu membuat Shifa mengingat sesuatu hingga akhinya ia tersenyum dengan pemikirannya. iyah, Tidak mungkin pria yang terbaring itu adalah pria kecil yang dulu mengajarinya mengenal Islam.
Sedikit merasa tak pantas jika harus menjaga pria ketergantungan obat ini.
Namun beruntung Shifa adalah orang yang bertanggung jawab apalagi pria ini terluka karena menyelamatkan dirinya tentu shifa tidak akan meninggalkannya begitu saja.
"Duuh! gamisku," ia melihat pakaian yang tadi dikenakan rapi dan bersih namun sekarang malah kusut dan kotor.
Shifa Kembali menengok Nabil dari jendela. Berpikir sejenak apakah ia harus pulang mengganti pakaiannya sekarang atau menunggu Pria itu siuman dulu.
Tritt... Tritt...
Sebuah getaran diikuti nada dering menghentikan kegalauannya. segera ia merogoh ponsel dalam tas.
“Assalamu alaikum, ada apa mah?" ucapnya setelah menerima panggilan.
"Nak, kamu di mana sekarang? Tadi tante Mirna nanyain, katanya kamu gak masuk kerja."
"Di rumah sakit, mah" jawab shifa.
"Ya Allah Kok bisa!? Apa yang luka nak? Kamu di Rumah sakit mana? Kok gak bilang sama mamah?" Panik ana.
Shifa hanya menepuk keningnya menyesal memberi tahu Ibunya. karena yang ada Ibunya akan semakin khawatir apalagi ia tidak bisa menjelaskannya sekarang.
__ADS_1
Sementara dari dalam ruangan Pria yang terbaring itu sudah memicing mengumpulkan kesadarannya.
"*R*umah sakit?" batinnya ketika melihat selang impus yang tersemat di punggung tangannya.
Mata yang belum sempurna melihat tetap ia gunakan untuk mencari sumber suara yang mengusik isrirahatnya.
Pandangannya tertuju pada gadis berkerudung coklat yang berada tepat di balik jendela kaca ruangan.
Gadis yang tengah berbicara melalui telepon itu membuat Nabil teringat sosok yang di tolongnya tadi. Telinganya sedikit menangkap Samar-samar percakapan diluar sana.
"Shifa gak kenapa- napa, Ma."
"Terus ngapai dirumah sakit?"
"Nanti klo pulang shifa ceritain yah, Maa. Shifa beneran gak papa, kok."
"Ya sudah cepat pulang yah, sayang. mama khawatirin kamu dari tadi pagi."
"Iyah mah.., Shifa pulang sekarang Assalamu alaikum."
Usai menutup panggilannya ia melirih ke ruangan Nabil. namun sayang, pandangan itu terlalu singkat hingga ia tidak menyadari klo pria itu sudah siuman. Sambil memasukkan ponselnya dalam tas, perlahan kakinya mulai melangkah menjauh dari ruangan itu.
"Namanya shifa?"
Senyum bahagia dibibir Nabil merekah setelah mengetahu nama gadis itu. yah! satu dugaannya terungkap.
Dari jendela Matanya masih memandang kepergian gadis itu, Bayang bayang parasnya seakan terpantul dalam kaca. namun perlahan sirna karena pikirannya tidak mampu mengingat terlalu keras wajah sang bidadari dimasa kecilnya. Ia memilih memejamkan mata dan kembali memulihkan istirahatnya.
**
“Assalamu alaikum, mah." salam shifa ketika memasuki rumah dan mendapati ibunya yang tengah duduk dengan wajah cemas nya.
“Walaikumussalam," segera Ana menghampiri putrinya dan mencari luka di sekujur tubuhnya, "Mana yang luka sayang?"
"Tidak ada maa..," jawab sifa memelas karena Ana masih saja membolak balikkan tubuhnya.
"Terus ngapain dirumah sakit?" Ana melepaskan tangannya dari pundak putrinya.
"Itu bajunya kenapa banyak kotor nya?" Ana menunjuki noda di gamis Shifa.
"Terus motornya mana?!" Tanya ana lagi, ia melirih keluar ketempat biasa Shifa memarkirkan motor.
“Motor Shifa ada di bengkel, maa.. ”jawab Shifa sambil berjalan ke ruang makan.
“Kamu habis kecelakaan, Nak?" Tanya Ana mengikuti langkah Shifa.
-Bersambung-
Bantu Support Novelku yah, kak😊
jangan lupa Like, Komen dan Bintangnya sama bantu Share yah, kak.
Terimakasih.
#BismillahBarokah
__ADS_1