Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
KTP jaminannya


__ADS_3

Siang ini Shifa sudah selesai bekerja. saat perjalan pulang, pandangannya menangkap sosok pria yang membuatnya teringat sesuatu.


seorang pria berjaket hitam juga celana sobek di bagian lututnya itu sedang berdiri didepan toko buku gerak geriknya seperti menunggu seseorang.


Shifa memberhentikan motornya tepat di depan pria itu.


"Nah akhirnya datang juga," kata pria itu membuat Shifa tercengang.


"Apa ini? dia menungguku?"


"Ayo turun! kenapa malah bengong disitu?" kata pria itu.


"Untung apa aku turun? Heh! dimana kau sembunyikan motor metic yang satu itu?"


pria itu terdiam sebentar mengingat sesuatu kemudian ia merogoh ponselnya dalam saku dan melakukan panggilan keluar.


"Halo ky? Loh dimana?"


"Masih di bengkel gue!"


"Itu metic yang gue titip ke elo waktu itu, udah beres belom?"


"Kayak lo gak kenal gue aja, Bil. gue kan ahlinya, gak sampe se jam juga udah selesai."


"Trus kenapa lo belum balikin?"


"Eh mikir! lo mau gue balikin kemana? ke jalan itu?"


Nabil diam sejenak, "Oh iyah, dia tidak tahu alamatnya."


"kemarin gue nelpon lo gak angkat! lo kemana aja sih? punya usaha tapi di titipin ke orang. lo niat gak--"


"Berisik!" Nabil mengakhiri panggilannya sebelum omelan itu terus menendang telinganya.


ia menolek ke Shifa, ia tahu wanita itu mendengar percakapannya tadi.


"Ooo.., jadi Dia memperbaiki motornya."


"Udah denger kan?" tanya nabil, "ikut gue klo Lo masih mau tu motor."


Nabil melangkah masuk ke toko buku itu. sudah beberapa langkah namun ia segera menghentikannya ketika sadar ada yang aneh."mana langkah kakinya?"


Ia berbalik dan mendapati Shifa masih duduk anggun di atas motor.


"Kenapa masih disitu? Lo mau motor itu balik atau gue jual!?" teriaknya, karena jarak mereka lumayan jauh. pun di halaman itu hanya mereka berdua.


"Kenapa aku harus ikut ke dalam? itu toko buku, bukan tempat motor!"


"Kau sungguh membuang waktu ku," guman nabil, ia menghampiri shifa.


"Kau kenal mamaku? ku harap kau mengingat apa katanya kemarin," ucapnya ketika di hadapan shifa.


Shifa terdiam, "oh iyah membeli buku untuk anak-anak."


"Sudah ingat?"


Shifa terlihat ragu, iya sangat lelah baru pulang dari bekerja bahkan tenggorokannya sangat kering.


"Tidak bisakah nanti? bertiga, bersama Lia." ia mencoba menego.


"Apa?" kata nabil "seharusnya kau beruntung bisa jalan berdua denganku. asal kau tahu banyak wanita ingin dekat dekat denganku tapi aku mengabaikannya karena mereka terlalu cantik."


Shifa terbelalak menatap pria di depannya.


"Hah! maksudnya aku jelek?"


"Turunkan tatapanmu! atau akan ku cungkil matamu!"


gertakan nabil membuat Shifa merasa down seperti tidak punya harga diri. bagaimana pun juga telinganya tidak pernah mendengar bentakan seperti itu. ia menyalakan motornya dan meninggalkan pria itu.


"Hey! KAU!!"


Nabil tak tinggal diam, ia menghampiri motornya dan memburu Shifa.


"berani sekali dia membentakku."


"benar kata Lia, Dia sangat menyebalkan, lidahnya sangat ringan."


"dan apa kata intan waktu itu? kakaknya sangat baik menghormati wanita, padahal jelas Dia baru saja membentakku."


Shifa tak henti mengutuk pria itu, ia hanya berharap Allah tidak melibatkan pria itu dalam kerumitan hidupnya.

__ADS_1


Saat sedang lengah, seseorang tiba-tiba memotong jalannya.


cekiiik!


"Kau!"


"Iyah aku! kenapa?"


Shifa menatap pria itu kesal "kupikir dia minta maaf ternyata hanya ingin mengajakku bertengkar Lagi." batinnya,


Shifa sudah malas berbicara dengannya. ia ingin sekali menghindari pria ini. untungnya Nabil hanya menghadang sebelah jalan, Shifa hendak melewati sisi jalan berlawanan. melihat itu, Nabil buru buru turun dari motornya ia merentangkan tangan menghadang motor Shifa.


Piip! piip!


"Lo harus ikut---"


"Awaas!!" Shifa menarik kuat tangan kiri Nabil ke pinggir jalan hingga pria itu terjatuh.


"Aarh!" pekik Nabil.


Sementara pengendara itu kehilangan kendali dan menerobos semak-semak.


Shifa turun dari motornya dan menghampiri pengendara itu, sementara Nabil terbelalak melihat sikap wanita itu yang jelas jelas ia berada didekatnya namun wanita itu malah menolong orang lain yang jauh disana.


"Pak? bapak baik-baik saja?" Shifa membantu pengendara itu berdiri.


Bapak itu memengang kepalanya dengan sebuah aduan, namun seketika ia terbelalak melihat keranjan rotannya ikut jatuh sehingga semua isinya berselakan di jalan.


"Alamaak tomatkuuu..," pria itu berjongkok memunguti tomat tomatnya. Shifa ikut membantu.


"Ganti rugi neng! dagangan saya hancur semua ini!" Kata bapak itu menatap kesal Shifa.


"Ini bukan kesalahan saya, pak. pria itu yang salah!" Shifa menunjuk ke arah Nabil.


Mendengar itu, Nabil berdiri dan menatapnya kesal si penuduh itu "Heh! Lo yang salah duluan!..."


"Apa? Aku!" Shifa berdiri "jelas jelas kau yang menghalangi jalan, dan berdiri ditengah jalan! anda Mau ngelak dimana?" Tak kalah emosi.


"Klo Lo gak buru-buru pergi tadi, gue gak mungkin halangin Lo!"


Shifa terbelalak "wah! Sekarang kau malah menyalahkanku? seakan aku adalah akar masalahnya. Kau ingat, saat aku sedang santai-santainya mengendara dan kau menghadang motorku!"


"Itu karena salahmu sendiri yang tidak bisa menjaga Lidah!"


Nabil menyernyit, "Apa salah lidahku?"


Shifa malas bertengkar, menggantung pertengkaran ini mungkin lebih baik. ia menatap bapak-bapak yang dari tadi terheran menyaksikan pertengkaran itu yang tidak ia mengerti lari kemana permasalahannya.


"Pak? Minta ganti rugi ke pria itu saja, Dia yang salah duluan." kata shifa menunjuk nabil.


"Kau!!.."


Nabil mengehetikan protesnya ketika Shifa membulatkan mata.


"Apa!? Setelah mencungkil mataku, kau akan memenggal leherku?"


Nabil melogo, "apa ini, dia menganggapnya serius? Dasar bar bar,"


"Ganti rugilah, kau yang salah!" Kata Shifa kemudian melangkah ke motornya namun seseorang meneriakinya.


"Eh neng!"


Shifa berbalik, "Kenapa pak? Pria itu yang akan ganti rugi semua dangangan bapak."


"Kalian semua yang akan ganti rugi." Kata bapak itu sambil berdiri.


"Pak, Dia yang salah, Dia yang menghalangi motor saya dan juga motor bapak."


"Tapi Lo Lewat jalan yang melawan arah, bar bar!" Kata Nabil.


"Lah pinter!" Bapak itu menjentikkan telunjuknya ke arah Nabil, kemudian kembali menatap shifa. "mba ini melawan arah saat ada pengendara motor didepan, dan itu kriminal."


Pasrah, Shifa menyadari itu memangĀ  kesalahannya. tak mau membuang waktu Ia menghampiri bapak itu. Begitu pun dengan Nabil.


"Saya harus ganti rugi berapa pak?" Tanya Shifa.


"Karena tumpak semua, Masing masing 200 rebu."


"Huh! kenapa mahal sekali pak?"


"Sekarang tomat mahal neng, itu sudah saya ringankan. sebelah keranjang biasanya saya jualnya 250 rebu."

__ADS_1


"Ini pak saya kasi 250 ribu," Nabil yang sejak tadi sudah mengambil dompernya langsung memberikan uang ke bapak itu.


"Dasar cewek, harga tomat aja gak tau," cibir nabil seraya memasukkan dompetnya, shifa hanya melirik sinis.


Shifa mengambil dompetnya dalam tas dan membukanya, namun didalamnya cuman ada selembar uang biru dan pecahan 2000-an yang tak sampai 5 lembar.


"Duuuh, kurang banyak lagi." ia mengambil uang berwarna biru dan memberikannya kepada bapak itu "Yang paling besar cuman ini pak," katanya.


"tapi klo bapak masih minta saya ganti rugi, bapak bisa Nahan KTP saya dulu," Seraya menyodorkan juga KTP nya.


Bapak itu menggaruk kepala, "Aduuh neeng, untuk apa saya nahan KTP? saya minta ganti rugi berupa uang neng. Anak saya sudah 2 bulan gak bayar uang sekolah."


"Tapi bener pak, yang saya punya cuman segini," Shifa memperlihatkan isi dompetnya.


Bapak itu hanya mendengus pasrah. ia kemudian melirih pemuda yang sedari tadi cuman menyaksikan.


"Mas? Mas kenal sama neng ini kan? Mas bisa bayarin saya dulu gk mas? biar dia yang ganti," menunjuk shifa.


Shifa menoleh ke Nabil, tidak ada pilihan ia memang harus menghutang ke pria itu.


Mengerti tatapan itu, Nabil kembali mengampil dompetnya dan memberikan uang 250 pada bapak itu.


"Alhamdulillah, semua kembali modal. Gak usah capek capek ke pasar." Kata bapak itu kemudian menghampiri motornya dan meninggalkan mereka.


Nabil tersenyum melihat tingkah bapak itu yang tidak mengucap terimah kasih pun. Ia tidak menyadari ada sepasang mata sedang menatapnya kesal.


"Bapak itu mintanya 200 rebu, kenapa ditambahin 50 rebu?"


Nabil menoleh ke pemilik suara itu, "sedekah," jawabnya "tenang, hutang Lo tetep 200 rebu, inget!"


"Hemm," jawab shifa kemudian melangkah. ia dan hendak masukkan KTP juga uang birunya ke tas Namun tiba tiba Nabil menghadang lagi langkahnya.


"Siniin KTP Lo! " Nabil meneladahkan tangan kanannya didepan Shifa.


"Huh?" Shifa menyernyit.


"Sebagai jaminan, biar Lo gak kabur."


"tenang, in Sya Allah saya orangnya amanah," kata Shifa hendak melangkah namun lagi pria itu menghalanginya.


"Yah! Itu dari katamu, tapi sepertinya kau orangnya pelupa. Kau ingat pertama kali kita ketemu?" tanya nabil "Gue terluka karena nolongin Lo! dan sudah 3 kali kita ketemu, tapi sekalipun ucapan terimah kasi tidak keluar dari mulut itu."


Shifa diam, menyadari memang tidak pernah mengucapkan kata itu ke orangnya langsung, tapi bagaimana pun pria ini memang sangat menyebalkan seperti kata Lia.


"Bahkan sudah 2 kalinya gue nolongin loh! Astaga ya tuhan, pantaskah perempuan ini di percaya?" Lanjut Nabil.


Malas membuang waktu. Sifa pasrah menyerahkan KTP nya. Sedang pria itu langsung pergi ke motornya usai menerimanya.


"Mustahil jika aku tidak berurusan lagi dengannya" Shifa juga menghampiri motornya.


"Klo Lo mau motor itu kembali, ikutin gue!" kata Nabil langsung melajukan motornya sebelum mendengar jawaban Shifa. Dan mau tidak mau shifa harus mengikutinya karena itu motor Lia.


Nabil menghentikan motornya di sebuah bengkel yang tidak terlalu besar tetapi lumayan rame.


Nabil menoleh ke belakang, "Gue simpen motor lo disini, klo lo mau ambil masuk aja." ucapnya pada Shifa, kemudian mengarahkan pandangannya ke bengkel.


"Ky!" panggilnya ke pria yang berada di bawah mobil.


"Eh Lo!" pria yang bernama Eky itu menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Nabil.


"Yang punya motor itu, nih orannya!" nabil menunjuk kebelakang.


belum sempat Eky keluar dari bengkel,


Nabil sudah melajukan motornya. ia tahu betul, kedatangan eky hanya ingin mengomelnya.


"WOY!!" teriak eky, namun pria itu semakin melaju, "Awas Lo Bil!"


ia kemudian menghampiri Shifa yang juga kesal dengan pria yang pergi seenaknya itu.


"Mba-"


"Nanti sore saya ambil, mas." kata Shifa kemudian ikut pergi juga.


"Huh! apa ini? yah! pergilah semua dan jangan kembali lagi."


Eky kembali melanjutkan pekerjaannya tentu dengan perasaan kesal. ia mengutuk pria yang sudah berkawan dengannya sejak lama itu namun selalu saja mengusik suasana hatinya tiba-tiba.


-Bersambung.


Pliiis, Jangan Lupa LIKE, KOMEN and VOTE sebanyak banyaknya yah, terimah kasih.

__ADS_1


__ADS_2