
Sudah hampir seminggu mengurung diri dalam rumah, bosan sudah menumpuk dan mengajak beraktifitas dari luar. kehadiran nabil yang biasa memantau sudah tak terlihat.
Besok, Ia dan ibu sudah memutuskan untuk keluar rumah. meski begitu, lampu belum dinyalakan saat malam menyapa, sebab tetangga pasti bertanya-tanya dengan kehadirannya yang tiba tiba.
Dari balik cendela kaca yang tertutup gorden, ia menangkap sebuah bayangan dari luar. sesaat kemudian ada ketukan pelan dari sana.
“Aku Aska, Fa.”
Syifa yang masih terjaga segera memakai jilbab instannya kemudian menghampiri cendela.
"Kenapa, Ka?" tanyanya usai menyibakkan gorden.
“Aku mau ngomong, berdua.”
Syifa terlihat berpikir, ada keraguan. tapi ia juga tak tega melihat wajah gusar pria yang baru pulang dari pemotretan itu bersusah payah menemuinya.
"Kita ngomongnya di pintu belakang."
Kalimatnya mendapat anggukan dari Pria itu. Ia lekas keluar kamar dan mengendap endap membuka pintu. takut jika ibunya menyadari, sebab meskipun ibu selalu meminta bantuan Aska, tapi wanita itu belum bisa menerima Pria itu dekat dengannya lagi.
“Mau ngomong apa, Ka?” tanyanya usai membuka pintu.
“Keadaan lia makin memburuk, Fa." tukas Aska menatap nanar, “semenjak nabil tidak datang menjenguk, aku tidak pernah lagi melihanya tersenyum. bahkan ia memandangku hanya dengan tatapan kosong. dia selalu menanyakan nabil dan janji-janjinya, Fa.”
Ketakutan atas rencana yang dibuat wanita dihadapannya sudah tercium. ia benar benar takut jika imbas dari rencana itu tercipta pada adiknya.
"Tolong aku, Faa. bantu adikku..."
Rencana yang dibuatnya memang beresiko, tapi harus bagaimana lagi? sebagian rencananya tidak berhasil, nabil tidak bisa membuka hati untuk Lia.
“Aku juga ikut sedih mendengar keadaan Lia seperti ini, Ka. tapi bagaimana caraku membantumu..."
"Bujuk nabil lagi, Fa." pangkas Aska, "Aku yakin dia mau."
Syifa menghela berat, rencana yang tak bisa di ubah adalah menjauhi nabil. bagaimana mungkin ia membujuk Pria itu? ia sudah kekeh untuk menjauhinya.
__ADS_1
“Aku akan temui Lia besok.”
**
Diantara pengguna jalan yang sedang memadati jalan utama, syifa salah satu disana. mata lentik yang biasa hanya tertutup kaca helm, kini di balut lagi dengan kacamata hitam yang baru ia beli beberapa menit lalu.
Tatapan sendu juga bibir yang terus bergetar mengikrarkan zikir serta sholawat menjadi sebuah bisikan yang membuat maskernya ikut bergerak.
Rumah Sakit, adalah tujuannya. memberanian diri keluar dari persembunyian demi melunasi janji ditengah kewaspadaan, ia harus melakukan penyamaran agar tak dikenali.
Setelah memarkirkan motor, ia langsung ketempat resepsionis. usai mendapat alamat ruangan Lia, langkahnya kembali bergerak mencari rauang VIP itu.
Syifa tertekun melihat gadis yang dua minggu tak ditemui kini tubuhnya semakin kurus dan tak ada semangat untuk hidup.
Ia membuka masker dan kaca mata kemudian pelan mendorong pintu yang memiliki cendela kaca itu. Aska yang menyadari menoleh dan tersenyum padanya namun pria itu kembali menatap adiknya yang terbaring memunggungi.
“Lia.., coba deh kamu liat siapa yang datang?”
Lia yang tadinya terbaring kini antusian duduk mendengar kalimat kakanyanya. namun keceriaan itu pudar ketika mengetahui yang datanga adalah syifa.
“Kemana aja baru nongol?” cibir Lia dan kembali ia bebaring memunggungi 2 orang itu.
Syifa menatap bingung dengan ketidak sopanan Lia. ia beralih menatap Aska, pria itu hanya menyebik dan mengagguk kecil. Syifa menghela, mungkin karena gadis itu kesal tak pernah dijenguk.
Syifa mendekat kehadapan gadis itu, "Rindu, ya?" tanyanya, "maaf, yah. kakak baru bisa jengung sekarang."
"Napain rinduin orang yang cuma besarin harapan orang lain, tapi di belakang malah menusuk.”
Syifa terperangah dengan gumanan lia yang tak mau menatapnya, "Li? Aku kenapa? kenapa kamu bersikap seperti ini.." ia hendak memengag tangan lia namun gadis itu bergerak duduk dan menatapnya tajam.
"Karena kamu munafik! bermuka dua! sok suci! wanita hina!"
Bukan hanya dirinya terkejut mendengar raungan Lia, bahkan kakak dari gadis itu juga terperangah dan segera menenagkan adiknya yang kembali merasa sesak.
"Karena aku sakit?" tanya lia yang kini menatapnya nanar, "Aku bukan anak kecil yang bisa kamu gunakan berbalas dendam, syifa... Aku memang lemah! tapi seharusnya kamu tidak memanfaatkan itu."
__ADS_1
Syifa hanya menatap dam berfikir, apakah Lia tahu permasalahan keluarnya dan nabil?
"Kak syifa ingin berbalas dendam karena kak nabil lebih pilih Aku 'Kan? kondisiniku membuat kak syifa berniat menjauhkan aku dengan nabil 'kan?"
Terjawab sudah kekawatirannya, bersyukur gadis itu tidak menegtahui rencana sebenarnya, hanya beranggapan jika dirinya merebut nabil.
"Aku gak seperti itu, Lia..” balasnya, "bagaimana bisa ku buat diriku bahagia sedang ada kamu yang menderita."
"Pembohong!" pekik Lia, kemudian menunjuk tepat di wajahnya, "Pergi dari sini! Aku tahu kamu sengaja menasehatiku untuk mencari muka padanya!"
Syifa menghela, “asal kamu tahu, Li. aku sudah mengaggapmu bagian keluargaku! jadi bagaimana mungkin aku menyakiti keluargaku sendiri hanya karena keegoisanku?”
"Pegi! PERGI DARI SINI! dasar MUNAFIK!"
Cukup sudah, kesabaran syifa sudah hilang. ia mengeratkan tas dipundaknya kemudian berbalik meninggalkan ruangan. ia tak benar benar pergi, hanya duduk menenangkan diri diluar ruangan.
Tak lama kemudian aska keluar dan duduk didekatnya.
“Aku tidak mengenali Lia lagi, Ka.” ia menoleh pada pria itu, “aku juga bingung harus bersikap apa padanya. aku tersulut emosi karena dugaannya tentanku. tapi di sisi lain, aku juga iba.”
"Bersikaplah seperti biasanya, Fa.” balas Aska “tapi jangan sampai mengungkit apa yang kau korbankan padanya.”
Syifa mendengus, “aku akan mengunkit jika Dia sudah kelewat batas.”
"Stadium 4," kata aska membuat syifa menoleh cepat, “kuharap kamu bisa mengerti dengan sikap Lia yang sekarang, Fa. jika tidak bisa menyelamatkan hidupnya, tolong bantu dia bahagia."
Suara terjekal Aska di akhir kalimat membuat ia memejam. pria itu mendunduk dan tak lama ia mendengar tangis lirih dari sana. tangannya terulur mengusap bahu pria itu.
Ia benar benar berada dipersimpangan, terperangkap dalam rencananya sendiri. disisi lain ia harus menuntaskan rencananya menjauhi nabil demi keluarga. tapi keadaan ini berkata ia harus dekat dengan nabil agar pria itu mau menuruti menemui Lia.
Semua jalan itu menyiksa, jika kembali pada nabil, apa yang akan dilakukan ibunya? tapi bagaimana juga ia tega mengabaikan permintaan Aska untuk kebahagian Lia.
-Bersambung
Tolong bantu Suppor, yah. temen temen.
__ADS_1