
“Alhamdulillah…” ucap Shifa ketika masuk, ia segera menutup pintu rumahnya.
Seorang wanita paru baya yang baru memasuki ruang tamu mengampiri shifa.
“Ada apa shifa?” tanyanya.
Shifa berbalik ke pemilik suara itu, "Ah gak kenapa-napa kok mah," jawabnya sambil menggeleng.
Wanita paru baya itu menyernyit kemudian membuka gorden jendela nya, "orang itu ngikutin kamu lagi?" tanyannya.
Shifa mengangguk.
Wanita paru baya bernama Ana, Ia mendekati putri semata wayangnya dan memegang shifa, "Makanya kamu cepat nikah dong nak biar ada yang jagain."
"Udah dong mah, jangan bahas itu lagi," pinta shifa ia melangkah hendak kekamarnya.
"Kalau saja papa mu masih hidup, pasti kita tidak akan melarat begini," ujar Ana tercekat.
Shifa membalikkan badan dilihatnya Ana sedang bersedih. ia segera menghampiri dan memeluk mamanya, "Mah, shifa gak suka mama nangis."
"Semua ini karena orang itu, nak.
orang-orang tamak itu yang menghancurkan kebahagiaan kita." suara Ana tecekat segukan.
ia menyesalkan atas penderitaan hidup yang di alami keluarnganya, menyalahkan orang-orang yang merenggut nyawa suaminya.
"Sudah maa..., kita pasti bisa lewatin ini semua," ucap shifa sambil menepuk pundak ana juga untuk menguatkan diri sendiri.
Setelah merasa puas dengan kesediaannya, Ana menarik badannya dari pelukan putrinya. ia menatap tepat di mata shifa.
“Tadi nak Aska datang kemari, Nak. sepertinya ada hal penting yang ingin Dia katakan," Ana diam sejenak menatap putrinya yang terlihat tak nyaman
"Malam ini Dia akan bertamu kesini," lanjutnya.
Shifa hanya menarik napas dalam-dalam usai mendengar lanjuatan kalimat Ana. ia mendengus kasar hingga meninggalkan jejak suara seperti hembusan angin, Huff..
"Sifa ke dalam dulu mah," pamitnya dengan lengkungan alis yang membuat garis diantara alis tebalnya.
Ana bisa melihat ada rasa tidak nyaman di wajah putrinya, mungkin kalimatnya sangat mengusik perasaan shifa, "Maafkan mama sayang," sesalnya kemudian.
....
Bruuk!!
Shifa menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. tangan kanan menindih matanya, berharap lelahnya sedikit berkurang, namun Napasnya mulai mengeluh juga sesak di dadanya menghampiri.
“Ya Allah.., kenapa Dia lagi sih!
Gue gak suka sama Aska...," kelu nya.
Shifa memiringkan badannya kesamping. ia mengusap air matanya yang ternyata sudah mengalir deras.
"Sifa capek. capeeek," Lirih nya kemudian memejamkan mata.
**
ALLAHU AKBAR ALLAAAHU AKBAR
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menggema dalam kamarnya.
“Sudah Adzar nak, kok belum ambil air wudhu?” sahut Ana mengingatkan putrinya sholat. karena sejak tadi ia tidak melihat Shifa ke luar kamar.
"Shifa!"
“Ya Allah Adzar!" Kaget Shifa dari dalam, ia baru keluar dari dunia mimpinya.
__ADS_1
"Iya, mah sifa bangun,” Shifa mengusap ke dua matanya dan melangkah membuka pintu.
“Loh kamu habis tidur nak?" Tanya ana melihat mata putrinya sedikit sembab.
Shifa mengangguk sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Bukannya Kamu sendiri yang bilang, tidur di waktu sore itu gak baik” papar Ana.
“Iya mah, maaf. tadi Shifa kecapean banget,” menggandeng manja tangan mamanya.
"Pergi whudu gih,"
"Oh, Iya."
Shifa bergegas pergi mengambil air whudu dengan derap langkah melelahkan.
Melaksanakan solat 5 waktu yang dimulai dengan Niat dan berakhir pada Salam sudah ia lakukan. Kini meminta keberkahan dalam Sholatnya ia meneladahkan tangannya
teringatlah Aska yang akan datang bertamu.
"Ya Allah, jauhkan lah lisanku dari kata-kata yang bisa melukai hati orang lain," doanya.
Alaska siaga.
pria berwajah oriental yang selalu mengandalkan kekuasaan ayahnya.
Dia adalah anak dari salah satu tokoh masyarakat di Jakarta yang memiliki banyak cabang perusahaan dimana mana. Yah kaya raya, tapi ia memilih tinggal di desa terpencil bersama adiknya, Lia karena masalah keluarga.
Berasal dari keluarga yang sangat disegani dan dihormati Itulah mengapa Shifa sangat takut jika lisannya membuat marah pria itu lagi hingga mempersulit keluarganya sendiri.
Tampan juga kaya raya, kini bukanlah poin utama dari kriteria pendamping shifa. Ia tahu betul bagaimana sosok Pria masa lalunya itu.
Apa yang di jabarkan Lia tentang kakak nya itu benar. Dia memang Pria yang ganteng, pintar, keren, factionable. Namun buat apa semuanya jika tampang seperti itu tidak mampu membimbingnya ke Surga.
Usai menaru mukenanya dalam lemari,
Seketika Ia tersenyum masam mengingat masa remajanya yang penuh dengan kenakalan. kurangnya pemahaman tentang islam di waktu itu membuatnya jadi gadis yang tidak menjunjung tinggi harga dirinya. mewarnai rambut, berpakaian tidak tertutup, meminum alkohol bahkan pernah pacaran. dan semua itu kini menjadi sesalnya.
Sebuah buku yang memiliki sampul bernuansa islami. yang berada di atas nakas kini menjadi perhatian Shifa.
di ambilmya buku itu.
"Terimakasih sudah menjadikanku Wanita Sholeha," bisiknya.
ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, senyumnya merekah mengingat pria kecil yang memberikannya buku itu.
namun perlahan wajahnya menjadi gundah dan resah.
"Apa aku bisa mengenalimu, hanya dengan namamu saja? Nabil."
***
Baru saja langit menunjukkan petang Sempurna nya, kini titik titik putih jadi penghias disana.
“Mama lagi ngapain?” tanya syifa menghampiri Ana yang terlihat sibuk didapur.
ia kemudian mendekatkan diri ke wajan dan mengendus aromanya, "Hemm... enak nih!"
“Mamah lagi masakin buat nak Aska." jawab Ana, ia menyempatkan menatap putrinya, "Nanti kan dia mau datang."
Seketika shifa menarik diri, “Mama setuju ya sama Aska?" tanyanya memelas.
Ana hanya tersenyum sambil mengaduk.
"Maa! Mama kan tau Shifa gak suka sama Dia!”
protes Shifa yang tidak terima kalau ibunya terlalu sibuk mempersiapkan hidangan untuk tamu yang tidak diinginkan kehadirannya itu.
__ADS_1
“Hussy! shifa, gak boleh kek gitu. suka atau nggak, dia kan tetap tamu yang harus kita jamu dengan baik,"
"Tapi-"
"Ingat naak, Tamu adalah Raja."
Shifa menaikkan salah satu sudut bibirnya "Raja dari club malam?" grutu batinnya.
"Lagian nak Aska juga sudah berubah. Mama dulu gak setuju dengan hubungan kalian," ungkap ana.
"Tapi sekarang 'kan dia seorang Mu'allaf, semua mama serahkan ke kalian berdua," lanjutnya.
"Ada hikmahnya mama dulu gak restuin kami" batin shifa mengingat masa lalunya.
Tok! Tok! Tok!
"Nah kayak nya itu nak Aska udah datang," Ana menatap shifa yang berada disampingnya, "gih kamu bukain pintunya, mama lagi menggoreng ini.”
“Mama aja deh yang buka. biar sifa aja yang goreng,” ia mengamabil alih pekerjaan dapur.
Ana pun keluar dan membuka pintu ruang tamunya. Tampak Seorang pria muda bermata sipit yang mengenakan kaos putih yang dimasukkan dalam pinggang celananya persis ke steel oppa korea.
"Assalamu alaikum maa," ucap pria itu yang usianya sudah 24 tahunan ia menyodorkan tangannya dan mencium punggung tangan wanita paru baya di hadapannya.
“Waalaikumussalam, masuk nak Aska.”
Keduanya duduk di shofa ruang tamu. Ana tak henti tersenyum menatap kagum perubahan anak muda didepannya yang kini tertunduk segan dan memperlihatkan kesopanannya.
"Mama tinggal sebentar yah," pamit Ana.
Pria yang bernama Aska, ia mengangguk dan tersenyum "iya mah."
Setelah kepergian Ana. Aska mendongakkan kepala menelisik tiap benda yang berada di rumah itu.
Hanya rumah sederhana beserta isinya,
tak ada benda mahal disana, kini matanya memicing menang.
Ia menyunggingkan senyum remeh, ketika mendapati sebuah foto di dinding, seorang gadis berkerudung Navy yang sedang tertawa lepas memperlihatkan gigi ginsulnya disana.
"Tidak ada alasanmu untuk menolakku lagi" gumamnya menatap foto itu ber api-api.
Sementara di dalam dapur, Shifa tak henti mencibir Pria yang tengah duduk santai di ruang tamunya itu.
“Sholatnya cepat amat, dia sholat gk sih! perasaan magrib baru aja lewat,” racau shifa dari dalam.
"Udah matang tuh nak," Sahut ana yang baru memasuki dapur kemudian mengambil piring siap menyajikan masakannya.
Usai melaksanakan makan malam.
Shifa dan Aska memilih berbicara di kursi teras rumah. Shifa sudah tahu akan lari kemana pembicaraan ini, ia memilih diam. malas sekali jika harus membuka pembicaraan dengan pria yang duduk di samping nya itu.
“Heem.., kamu baik-baik saja kan, Faa?" Tanya Aska menghilangkan kesunyian, ia bisa melihat kegelisahan shifa atas kehadirannya.
"Iya Alhamdulillah baik," jawab shifa ia menyempatkan menatap Aska, "Tumben, kesini ada apa kak?" tanyanya.
Aska menyernyit, ia menatap tepat di mata shifa.
“Bukannya kamu sudah tau kenapa aku kesini?" Aska memperbaiki duduknya, "Shifa..," panggilnya lembut, mebuat pemilik nama itu mendongak.
"Aku serius sama kamu, sepertinya mama juga sudah merestui hubungannya kita." Aska diam sejenak menatap wanita yang sedang terjekat di sampingnya itu.
"Kamu terima kan?" Lanjut Aska.
-Bersambung-
jangan lupa LIKE, KOMENTAR, VOTE sebanyaknya, BINTANG LIMA, dan FOLLOW akun ku yah @airannur_
__ADS_1
Terimah kasih.