
Rasa lelah Shifa tak membuat rasa penasarannya menurun. ia sudah tiba di taman dan duduk di kursi hampir 20 menit.
menunggu dan menunggu hingga membuatnya bosan. taman tidak terlalu ramai siang hari hingga muda mencari seseorang tanpa menoleh kemanapun. ia mengutuk dirinya sendiri yang membuang buang waktu menunggu pria itu.
"Apa sih maunya Dia?" Shifa berdiri, ia sudah kesal menunggu, rasanya pria itu hanya mempermainkannya.
"Dah mau pulang?"
Shifa berbalik. ia terkejut dengan kehadiran pria yang ia cari sudah berdiri di hadapannya.
"Kau? jadi kau disini?"
Nabil mengacuhkannya. ia memutari kursi dan duduk di kursi yang sebelumnya shifa duduki, dengan menyilangkan kaki membuat wanita itu sepontan melangkah menjauh.
"Ah lupakan! aku tidak mau membuang buang waktu." kata shifa masih posisi berdiri "Katakan untuk apa kau mengajakku kesini? dan kenapa kau mengatakan itu pada temanku?"
Nabil mengankat salah satu alisnya, "Itu apa?" tanya Nabil membuat Shifa menyernyit.
"Apa ini, apa dia pura-pura? ah sudahlah lupakan. tidak mungkin juga kukatakan dengan jelas." batin Shifa.
"Kau tidak capek berdiri di situ?" tanya Nabil, ia kemudian tertawa "Haha iyah kau dari tadi pasti capek duduk."
Shifa meliriknya sinis, "cepat katakan untuk apa kau memanggilku kesini?"
Nabil memperbaiki duduknya. Ia terlihat bingung "Hemmm.. aku lupa!"
"Apa!?" Sentak Shifa.
"Ah, tidak! aku tidak lupa. aku hanya iseng mengajakmu kesini."
Shifa tambah terbelalak, ia mendengus kesal dengan menghentakkak kaki dan melangkah pergi. Sementara nabil hanya tersenyum melihat kepergian wanita itu yang terlihat imut.
"Maaf, aku sengaja membuatmu kesal." Nabil menyandarkan punggungnya ke kursi dan memejamkan mata, merenungi misi selanjutnya.
Tak lama kemudian ia membuka mata ketika mendengar langkah kaki yang terburu seperti mengarah kepadanya.
"Shifa?"
Nabil menegakkan duduknya, ia terkejut melihat shifa berlari ke arahnya "apa dia membawa senjata?" Nabil celikungan meliahat tangan shifa berprasangka wanita itu mungkin kembali karna ingin membalasanya.
"Aku mau bicara!" Kata Shifa ketika sampai di depan Nabil.
"Bi bicara apa?" Gagap Nabil.
Shifa hanya menyernyit melihat tingkah aneh pria itu. Ia mendekati Nabil.
"Geser." Kata shifa.
"Apa?"
"Aku mau duduk!"
Nabil menggeser diri hingga ke ujung. mungkin karena kursi itu lumayan panjang jadi shifa berani duduk sebangku dengannya. Tapi Nabil masih waspada, ia takut jika tiba tiba wanita itu menusuknya karena jarak mereka sudah dekat.
Shifa tak henti memicingnya membuat dirinya sedikit gugup dengan tatapan shifa tapi ia berusaha tak menunjukkannya dengan memalingkan wajah menunggu wanita itu bersuara.
"Mau apa dia, apa dia sudah menyukaiku?" Batin Nabil.
"Aku ingin kau menjawab semua pertanyangaanku!"
__ADS_1
Nabil menoleh ke sifa dengan mengangkat kedua alisnya.
Shifa memandang ke depan "Mungkin aku telat menanyakan ini, tapi aku sangat penasaran." ucapnya kemudian kembali menatap pria di sampingnya.
Nabil hanya diam tak memberi respon.
"Pertama kali kita ketemu saat kau menyelamatkanku dari Aska. Dan pertemuan ke dua kau sudah tahu namaku tanpa aku memberitahumu.
Kau tau dari mana namaku shifa?"
Deg!
Sesaat Nabil mati kutu, ia tak menyangka Shifa mencurigai itu. Bagaimanapun juga ia tidak bisa mengatakan kalau ia adalah Nabil teman kecilnya dulu.
"Aa.., ituuu.., kertas yang kau tanda tangani di rumah sakit sebagai penanggung jawab ku! bukankah di situ ada namamu," Akhirnya ia bisa menjawab dengan masuk akal.
Shifa terdiam mencoba mencerna. yah itu memang masuk akal, tapi dari sini ia memiliki pertanyaan lagi.
"Lalu untuk apa kau membohongi orang tuamu klo Lia yang kau tolong? bukankah itu aku?"
Nabil diam sejenak, kemudian tertawa lepas membuat wanita itu terheran.
"Kau bodoh! Itu aku meyelamatkanmu dari amukan orang tuaku, tau." Kata nabil "coba kau pikir, bagaimana jika mereka tahu klo aku terluka karena menyelamatkanmu? pasti mereka akan menyalahkanmu juga. Itulah kenapa aku sengaja menunjuk Lia, agar dia yang kena. tapi sayangnya orang tuaku sangat baik." Lanjutnya.
"Kau ingin membuat Lia dalam masalah?"
"Bukan masalah, Itu pelajaran untuknya." ralat Nabil "kau lihat kan bagaimana penampilannya yang sok alim? Padahal kelakuannya seperti orang yang tak beradap. Aku tidak suka cara bicaranya yang ketus!"
Shifa memicing mendengar aduan pria itu, ia tidak menyangka ternyata pria ini memiliki sisi curhat seperti ini.
"Kau pedendam" gumam shifa.
"Tunggu!" Tahan shifa.
Nabil tersenyum karena sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan shifa. Ia berbalik dengan berpura-pura mendengus, "Apa lagi!?"
"Dari mana kau tahu rumahku? dan kenapa kau bilang namamu adalah Al di depan ibuku?"
Nabil menyernyit "Ternyata selama ini kau sudah mencurigai semuanya" gumamnya kemudian kembali menghampiri shifa.
"Kau mengajar di TPA. kau pikir aku tidak punya akal mencari alamatmu untuk mengembalikan motormu?"
Shifa mengangguk mengerti, "oh, jadi dia bertanya ke orang-orang sekitaran TPA" batinnya.
"Lalu, dengan nama itu?"
Nabil maju selangkah, membuat shifa terkejut dan segera mundur.
"Karena Nabil di peruntukan untuk temannya. sedangĀ Al, untuk orang orang yang gue hormatin."
Shifa hanya berngidik mendengar penjelasan aneh itu.
"Kau boleh memanggilku Nabil. tapi jangan pke, mas."
Shifa melirik malas, "aku tidak berniat jadi temanmu," ucapnya kemudian melangkah pergi.
"Klo jadi pendampingku!?"
Deg!
__ADS_1
Shifa berbalik ke pemilih suara itu. Nabil sudah melangkah mendekat dengan senyuman manis yang merekah memperlihatkan lesung pipitnya. Wajah tampan itu membuat jantung shifa berdenyut kenjang apa lagi dengan kalimat pria itu barusan.
"Bagaimana?" Tanya nabil ketika sampai didepan shifa. Ia mengangkat alisnya menunggu jawaban wanita itu.
"Ka kau Serius? ah tidak. Maksudku..," shifa memicing "kau sudah gila!!" Ralatnya.
Nabil terkekeh kecil, kemudian kembali menatap shifa "kau gugup?"
"Kau aneh!!"
"Yah, aku merasa aneh dengan sikapku sendiri." Nabil menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Mungkin karena aku sudah mengagumimu." lanjutnya.
Shifa masih mematung dengan kalimat Nabil yang mengusik pikirannya. Pengakuan itu baginya terlalu cepat. bagaimana mungkin semudah itu ia mengungkap perasaannya sedang kemarin pertemuan mereka berakhir rusuh.
"Faaa..?"
Shifa membuyarkan pikirannya ketika pria itu memanggilnya sangat lembut.
Ia mundur selangkah menjauhi pria aneh didepannya. "Kau aneh!"
Nabil mengangguk, "aku memang merasa aneh, tapi coba katakan apa membuatku terlihat aneh?" Tanya nabil tak sedikitpun beraling dari mata indah Shifa.
"Kemarin kau seperti musuh, dan sekarang---"
"Kau meragukan Firman-nya?" Pangkas Nabil "bukankah Allah sang pembolak balik hati, dia bisa mempermainkan hati siapapun yang ia kehendaki." lanjutnya.
"Tapi perasaanmu tidak masuk akal. Allah memang...," shifa menghentikan kalimatnya, ia baru sadar apa yang baru saja pria itu ucapkan. Ia memandangi Nabil dari ujung kaki sampai kepala. Terlihat banyak tato di pergelangan tangannya. Membuat shifa bergidik.
"Kau kebalikan dari Lia." Batinnya.
Melihat tatapan shifa menelisik dirinya membuat nabil juga mencari sesuatu di tubunya. "Apa pakainku aneh?"
Shifa menggeleng "kalimatmu yang aneh."
Nabil tersenyum mengerti, "jangan menilai orang dari luarnya saja, kau tidak akan bisa menemui baiknya jika kau tidak mengenalnya, ibarat durian."
Shifa hanya bergeming.
"Klau tau durian kan?" tanya nabil.
Shifa mengangguk.
"Diluarnya memang terlihat berantakan, tapi ketika kau mencicipinya dan mengenali rasanya kau akan tahu betapa nikmatnya buah itu."
"Aku tidak suka durian" kata shifa membuat lesung pipit pria itu seketika menghilang.
Keduanya diam beberapa detik. hingga Nabil teringat pada kalimatnya. ia memandang shifa yang terlihat seperti memikirkan hal lain.
"Tidak perlu kau jawab lamaranku hari ini, kau bisa menjawabnya besok." Nabil berlalu begitu saja usai mengeluarkan kalimat yang membuat wanita itu terbelalak.
"Kau sungguh gila dan aneh." gumam shifa masih mematung memandangi pundak pria yang baru saja melamarnya itu.
Rasa percaya diri yang ditunjukan Nabil, membuat shifa merasa ilfiil. bagaimana tidak, dari sekian banyaknya pria yang menyatakan cinta padanya baru kali ini ia mendapat sosok aneh yang seperti nabil. menyatakan perasaannya dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun yang membuat hati wanitanya sedikit melayang. meski tidak menyukai, tapi ia mengharapkan kalimat itu dari Nabil.
-Bersambung
Jangan Lupa Like, Komen, and Vote sebanyak banyaknya yah.
terimah kasih.
__ADS_1