Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
mencurigakan.


__ADS_3

usai melaksanakan sholat Isya' nya. Shifa berangkat kerumah sakit untuk menjenguk Lia, memberi kabar keberadaan motornya yang sampai sekarang belum ia ketahui dimana pria itu menyimpannya.


"Assalamu Alaikum" salam shifa ketika masuki ruangan Lia.


"Waalaimussalam," jawab Lia, ia tersenyum mendapati Shifa disana, "Sini kak."


Shifa menghampiri Lia, ia tersenyum ketika melihat sebuah buku yang sangat ia kenali sedang di pegang Lia.


"Kalo kamu sakit, gak usah maksain baca bukunya," imbuh shifa.


"Maunya gitu sih, kaak. cuman yang punya buku ini nih! yang suruh balikin cepet"


"Kakak gak pernah bilang gitu Liaa," kata shifa seraya menarik hidung Lia, Lia hanya memanyun dan mengusap hidungnya.


"Gimana kabarnya?" Shifa mengambil kursi dan duduk didekat Lia.


"Alhamdulillah! lebih baik," jawab Lia semangat.


Shifa mengangguk, ia menoleh mencari sesuatu, "Kamu sendiri, Lia?"


"Yapz! kak Aska lagi ada pemotretan," Lia memicing, "kecewa yaaa, kak Alaska gak ada?" godanya.


Shifa melirik sinis, "Nggak!"


"Terus?"


"Dia sayang gak sih sama kamu? udah malem gini kok kamu ditinggal sendiri,"


"Bukan gak sayang kak, cumam ada keperluan," jawab Lia "bentar lagi juga anaknya pulang."


Shifa hanya mengacuhkannya.


"Motornya Lia udah ketemu gak, kak?"


"Belum," jawab Shifa "orangnya gak ada."


"Orang itu ngilang!? bawa kabur motorku?"


"Ngga gitu Liaa, gini deh biar kakak jelasin


Orang yang nganter kita kerumah sakit itu yang nyimpen motor kamu, tapi orangnya itu lagi pergi, jadi kakak gak ketemu tadi. besok deh kakak tanyain adiknya lagi."


"Emamgnya siapa sih kak?"


"Kakaknya intan," jawab shifa.


"What! cowok jutek itu?"


Shifa mengangguk, "tapi orangnya lagi pergi--"


"Tunggu! tunggu!" Lia memicing "pas Aku pinsan, kakak gak suruh dia angkat kan?"


Shifa menyebik, "Terpaksa."


"Astagfirullah, dosa kak!"


"Eh, namanya juga darurat Liaa.., kakak bisa apa klo keadaannya kek gitu. panik tau Liat kamu tiba-tiba pinsan."


"Gak nelpon kak Aska?"


"Nggak! bisa-bisa kakak udah mati pas langsung kasih tau."


Lia melirik sinis, "Kak Aska gak sekejam itu tau kak. dia itu sebenarnya penyayang, lembut,penge-"


"Aku pergi nih!" ancam Shifa.


"Oh satu Lagi, kak Shifa pasti bangga nih denger ini," Kata Lia tak mempublis ancaman shifa.

__ADS_1


"Kak Aska..., udah hapal bacahan sholat kaak!" Lia kegirangan mengungkap perubahan kakaknya.


"Terus?"


"Dia udah bisa jadi Imam, loh" goda Lia mengangkat kedua alisnya.


Ceklek!!


"Assalamu Alalikum,"


"Waalaikumussalam" sahut Lia dan Shifa, mereka menoleh ke pemilik suara itu.


Terlihat seorang pemuda tampan, dengan Steel korea baru saja bergabung di ruangan itu. namun ada berbeda dari penampilannya hingga membuat kedua wanita itu tercengang.


"Uwwaaw Kak! itu facion baru?" Tanya Lia.


"Kenapa?" tanya Aska heran.


"Kita ini belasteran Korea-indonesia, bukan Arab-Korea. Hahaha!!" tawa Lia ketika melihat kakaknya memakai steel Korea berpadu dengan peci hitam dikepalanya.


"Model kok gini," umpat Lia kemudian, Shifa hanya tersenyum melihat Fation pria itu berbedah dan aneh.


Aska mbuka pecinya dan menarohnya di atas meja, "kakak habis sholat Lia," aska menoleh ke Shifa. "Udah lama?" tanyanya.


Shifa menggeleng, "Baru,"


"Eheeeem! uhuuuk! uhuuk!" batuk Lia ketika melihat Aska dan Shifa saling menatap.


"Kenapa Lia?" khawatir shifa.


Lia mengankat tangan kirinya, "Pengen ninggalin kalian berdua, tapi sayang terikat imfus." kata Lia di tutup tawanya, Shifa hanya melirik Sinis.


Aska menghampiri Kursi yang kosong dan duduk disana, "Udah gak nangis-nangis nih, kamu sekarang?" Tanya aska pada adiknya.


"Udah semangat hidup?" lanjutnya lagi.


"Eh! gomomg apa Lo Dek," protes Aska ketika mendapati dua wanita itu malah menertawainya.


"Gak, Kaaak, cuman bilang kak Aska itu udah rada-rada!" sahut Lia ditutup tawanya.


Aska melirik sinis pada Adiknya, "Eh Faa! kamu gak pernah kan liat Lia nangis?" tanyanya pada Shifa, "masa dia tadi nangis karna ca-"


"KAK!!" bentak Lia. "aku marah,nih!"


"Karena cacingan. HAHAHA" tawa Aska menggelegar di ruangan itu, namun segera ia menyebik ketika sadar 2 wanita itu sedang menatapnya Aneh.


"Gak lucu yah?" Tanya Aska.


"Kakak gak cocok jadi pelawak" kata Lia sambil memggidikkan bahu, "emang bener, gak ada gaya humorisnya."cibir Lia lagi


Shifa hanya terkeleh kecil.


belakangan ini mamang pria itu berlagak aneh, sangat aneh. "Aku tahu Ska, kau benar-benar ingin berubah, tapi jangan terlihat bodoh," batin shifa.


"Nanti juga humoris, yah kan shifa?" goda Aska, namun wanita itu malah mengacuhkan. nyesek! Aska memilih memainkan ponselnya saja.


"Oh iyah Lia, tadi kamu dapat salam dari tante sarah," kata Shifa.


"Tante sarah? siapa kak?"


"Mamahnya Nabil, yang kita jagain di rumah sakit itu Loh,"


mendengar kata Nabil, membuat Aska mendongak, penasaran dengan kelanjutannya.


"Oh, yah! bisa inget gitu yah sama Lia. padahal baru sekali ketemu," Lia cengengesan "emang sih, Lia ini orangnya sulit dilupain." lanjutnya.


shifa melirik sinis,"Udah disalemin tuh, kamu jawabnya apa?"

__ADS_1


"Oh, iyah. waalaikumussalan" kata Lia. "Kak Shifa ketemunya di mana?"


"TPA, ganterin Anaknya ngaji, intan"


"Ow iyah, mereka saudara. pantas aja sama sama jutek," gumam Lia.


"Kamu udah deket banget yah sama tante sarah, sampe beliau minta salemin ke kamu?"


"Ah nggak sih! cuman enak aja ngomongnya, kita nyambung tau," jawab Lia "Gak kayak anak anaknya pada jutekin Lia."


Shifa terkekeh kecil, "Intak gak kyak gitu kok, intan ramah ke aku."


"Itu karena Dia suka kak Shifa, gak inget! kemarin mau di jodohin ama kakaknya?"


"Namanya juga anak kecil, Liaaa" Shifa masih terkekeh, ia tidak menyadari ada seorang pria yang tidak suka dengan pembahasan mereka disana.


"Eh! tapi tau gak kak? pas Kak Shifa gak Ada di RS. masa tu cowok bilang ke orang tuanya klo aku yang ditolong. padahal itu kan kak Shifa! sumpah Aneh banget deh."


Shifa menyernyit, "Jadi bener dia bilang gitu?"


Lia mengangguk, "Iyah! ngapain coba tu orang bohong, malah ke orang tuanyan lagi, mana kita juga gak kenal mereka."


Shifa diam "Kenapa Dia harus membohongi orang tuanya? kenapa tidak mengatakan jujur saja?" batin Shifa.


Triiit! triit!


Shifa segera menghentikan pikirannya ketika sadar ponselnya bergetar.


"Assalamu Alaikum ada apa mah,...., iyah nggak kok mah,..., iyah bentar lagi.., Hemm Waalaikimussalam."


"Udah di cariin yah?" tanya Lia.


"Iyah nih, kakak balik dulu yah. inget jaga kesehatannya, gak perlu maksain buru buru khatamin tuh buku, pake aja asal kamu balikin."


"Ok kak!" sahut Lia.


Melihat Shifa hendak keluar dari ruangan, Aska buru buru menghadang langkah Shifa di depan pintu.


"Biar Aku--"


"Aku bisa pulang sendiri, Ska!" pangkas Shifa, iya sudah tahu niat pria itu.


Aska terkekeh, ia membuka pintu "biar Aku bukain pintunya, Faaaa' "


"Upppz! "Lia membungkam mulutnya, "duuuh! PD banget sih, Hahah," tawanya, namun segera ia menyebik usai mendapat tatapan elang dari shifa.


Malu, Shifa memilih cepat keluar dari ruangan itu.


"Shifa!" panggil Aska.


Shifa menghentikan langkahnya,"M**au apa lagi sih, dia!?" batinnya, ia berbalik dan melihat pria itu sudah bersandar di bibir pintu dengan kedua tangannya ia lipatkan ke dada.


"Assalamu Alaikum," kata Aska di tutup khas senyum manisnya.


"Oh, iyah!" Shifa mengangguk, "wa'alaikumussalam" jawabnya kemudian berbalik dan buru-buru melanjutkan langkahnya.


Aska kembali tersenyum ketika wanita itu menghilang di ujung koridor RS.


"Seandainya hari ini adalah Kita. sudah kucubit pipimu yang seperti kepiting rebus itu," gumam Aska.


-Bersambung


Jangan Lupa semangatin Authornya yah!


dengan cara LIKE, KOMEN, SHARE novel ini dan VOTE sebanyak banyaknya.


#jangam lupa bersyukur

__ADS_1


Terimah kasih.


__ADS_2