
matahari sudah melewati singgasananya, pikiran shifa mengenai sosok bernama Nabil itu masih menuai penasarannya.
dan itulah kenapa siang ini ia sengaja berangkat ke TPA lebih awal, berharap bisa bertemu sosok yang dicarinya itu.
Tak ada satu pun tanda tanda kedatangan muridnya, Shifa memilih duduk di tangga mosholah sambil memainkan ponselnya menghilangkan kesuntukannya.
beberapa menit kemudian, akhirnya sebagian murid-muridnya datang, usai memberi salam kepada shifa mereka langsung masuk ke TPA samping mushollah.
shifa masih memilih duduk ditempatnya menunggu seseorang yang entah kapan datangnya. membuat shifa menyerah mungkin intan memang tidak datang hari ini.
ia berdiri hendak menuruni anak tangga
namun sebuah mobil mewah berwarna hitam yang baru saja memasuki halaman mushollah menghentikan langkahnya.
shifa masih berdiri disitu, pertama kalinya ia melihat ada mobil mewah yang masuki halaman ini membuatnya penasaran, siapa dan untuk apa orang ini berada disini.
Kalau ditanya untuk sholat, tentu tak jauh dari mushollah ini ada mesjid besar yang lebih layak untuk melakukan ibadah.
"intan?" ucap shifa pelan ketika melihat gadis kecil yang sangat ia kenali keluar dari mobil itu.
"Assalamu Alaikum kak shifa," sapa intan.
Shifa tersenyum, "walaikumussalam." ia menuruni anak tangga dan menghampiri intan.
"kakak kira siapa, taunya kamu," shifa mengusap kepala intan, "tumbenan pke mobil?" tanyanya sambil melirik siapa lagi yang akan keluar dari mobil itu.
"intan?"
"iyah mah," intan berbalik ke pemilik suara itu.
seorang wanita paru baya keluar dari mobil, ia tersenyum menghampiri putrinya dan seorang wanita muda yang juga tersenyum padanya.
"Assalamu Alaikum," sapa wanita paru baya itu kepada shifa.
"Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab shifa, ia meraih dan mencium tangan wanita paru baya itu.
"Jadi intan ini anaknya ibu yang ngaji disini?" tanya shifa, ia teringat pertemuannya dengan wanita paru baya itu beberapa hari lalu.
wanita paru baya itu mengangguk sambil tersenyum.
"Mama kenal sama kak shifa?" tanya intan.
"Oo.. Nak shifa, namanya?"
Shifa tersenyum, "iya bu, nama saya shifa."
"panggil tante saja. tante sarah," pinta wanita paru baya itu ramah.
Shifa mengangguk, ia melirik ke mobil berharap orang yang ia tunggu ada disana.
"kenapa kak?" tanya intan.
"ngga apa," shifa ganti menatap Sarah,
"Saya baru liat tante nganter intan kesini jadi tadi sempat binggung itu mobil siapa? takutnya pemilik tanah ini datang lagi." kata shifa di tutup kekeh kecilnya.
"kakak sih, datengnya telat mulu jadi gak pernah Liat mamah," racau intan.
sarah segera menatap putrinya dan menggelang agar bisa berbicara sopan, intan membungkam mulutnya menyesal, "maaf kak," ucapnya.
melihat itu, shifa tersenyum gemes, ia berjongkok di depan intan, "intan gak salah, kak shifa aja yang emang datangnya gak tepat waktu. janji deh, mulai besok kakak datanya lebih awal."
"kayak hari ini!"
shifa mengangguk dan berdiri, "in syaa Allah."
seraya mengusap kepala intan.
"ngga kok, shifa. tante juga nganter intan baru 2 kali," kata Sarah "yang biasa ngater yah itu, kakanya."
"tapi intan lebih suka di antar sama kak nabil, mah."
ungkap intan membuat shifa tersenyum, sementara sarah sudah menunjukkan wajah merajuknya.
__ADS_1
"jadi lebih milihin kakakmu itu dari pada mama nih,"
"iiih bukan gitu mah, kan kak nabil bawa motor, seruuu!"
"Ooo.. cuman itu, kirain."
intan menggeleng, "sama kak nabil juga sering ajakin main di taman mah, makan permen, es tong--"
Upss
intan segera menutup mulutnya karena keceplosan.
"Ooo.. pantas aja kamu betah di ajakin kakakmu itu, rupanya ngajarin adiknya jajan gak bener!"
"kak nabil gak ngajarin mah.., aku yang minta," intan membela kakaknya.
"tetep aja! dianya gak larang kan?"
"katanya, asal Intan bahagia."
sarah terperangah, "tuh anak betul betul, yah! awas aja nanti."
shifa hanya terkekeh kecil menyaksikan ibu dan anak itu.
"awas apa mah?" tanya intan.
"mama mau kasi pelajaran tuh ama kakakmu"
"coba aja mah," tantang intan "orang kak Nabilnya lagi gak ada."
"Oiyah, mama Lupa," sarah menepuk jidatnya "duuh.. bisa lupa nih mama marahinya kalo nungguin dia pulang."
intan hanya terkekeh melihat kegundahan mamamya, "untuk kak nabil pergi cepat" gumamnya.
"kak Nabil memangnya kemana, intan?"
ibu dan anak itu kompak menatap pemilik suara itu dengan heran. yah, itu shifa.
melihat tatapan itu membuat shifa sadar mungkin pertanyaannya terlalu ikut campur dalam keluarga mereka.
"Nak Shifa kenal sama anak saya, Nabil?" tanya sarah.
"benerapa waktu lalu, dia yang nolongin saya tante." kata shifa, "pas Nabil di rawat di rumah sakit, sya dan teman sya yang menjaganya."
mendengar pernyataan shifa membuat sarah menyernyit, ada yang mengganjal disana.
"Loh! tante jadi bingung, kalo gak salah bukannya yang di tolong anak saya itu Lia deh namanya."
"Lia? oh itu teman saya tante." kata shifa, "maaf waktu itu saya tidak ada, jadi gak sempat ucapin terimah kasih langsung." lanjutnya.
sarah mengangguk, "yang penting semuanya baik-baik saja" katanya dengan masih memikirkan, mana yang bener Lia atau shifa. sedang sangat jelas ia mengingat anaknya menunjuk Lia.
"kak! kapan mulainya?" sahut beberapa anak dari pintu TPA.
"Oiyah, ngajar," shifa menoleh ke sarah
"kalau begitu shifa pamit dulu yah tante, Assalamu Alaikum."
sarah mengagguk, "Waalaikumussalam"
"yuk! intan," ajak shifa.
"Shifa!" pangil sarah, shifa dan intan berbalik.
"kenapa tante?"
"titip salam ke Lia, Yah!"
"Mamah emang kenal sama kak Lia?" tanya intan heran.
"Mama ketemunya dirumah sakit, sayang."
"Kak Lia menyebalkan tau' mah!" sahut intan.
__ADS_1
Sarah sudah hampir melayangkan protes ke pada putrinya, Namun anak itu malah berlari masuk ke TPA. shifa hanya tersenyum melihatnya.
"Nanti In shaa Allah saya sampein, tante," kata shifa.
sementara wanita yang mereka bicarakan itu masih menetap di atas berankar, keadaannya mulai membaik. itulah mengapa ia mengisi kebosanannya dengan membaca buku dari shifa, yang di bawa aska tadi pagi.
Fokus sangat fokus, hingga tak menyadari ada sesorang sedang masuk dan megendap endap menghampirinya.
"Serius banget sih, dek."
Deg!
Lia mengarah ke sumber suara itu, ia terkejut mendapati Aska yang sudah duduk dengan kedua tangan ia lipat kedadanya.
"Iiih, kak! ngagetin aja sih! " protes Lia seraya memegang dadanya, "udah tau orang sakit, klo kumat gimana?"
"kita kan lagi dirumah sakit Liaa.., klo kumat yah panggil dokter aja." canda Aska. Lia hanya melirik sinis dan kembali membaca bukunya.
"Lagian kamu itu serius banget baca bukunya.
kakak udah salam loh! kamu gak jawab."
"iyakah?"
aska mengagguk, ia menghampiri adiknya dengan membawa beberapa buku.
"mending kamu belajar ini nih," aska menyodorkan buku itu ke Lia, "Kata gurumu tadi, nilaimu itu jelek.., bikin malu aja!"
Lia menerima buku itu, "kak Aska dari sekolah?"
Aska mengagguk
"ngapain?"
"ya Ampun, Nih anak! ngisinin kamu lah."
"yah elah, kak. Lia kan juga udah biasa bolos ama gak masuk, gak usah repot2 ngijinin kali," kata Lia memelas.
"eh! lo mau jadi apa klo gede nanti? lo mau hidupnya berantakan kyaka kakak? gak berpendidikan?"
cukup kakak aja berantakan gini, cukup kakak aja yang bikin malu papa sama mama.
Lo fokus aja sama sekolah loh deh, gak usah sok jadi selegram."
"Lia tidak ada harapan lagi kak, buat ninggiin sekolah, percuma," Lia menyimpan buku yang diberi aska dan kembali membuka buku punya shifa.
"gak ada yang cuma-cuma Li--"
"Lia gak yakin bakal jadi orang sukses dengan gelar sarjana. mungkin malaikat izrail lebih dulu pinang Lia, kak!"
Aska terkejut dengan kalimat adiknya,
"Lia--"
"Lia ini penyakitan kak!" mata Lia bekaca-kaca mengungkap kekurangannya, "biarkan Lia hidup dengan cara Lia, biarkan Lia mengejar apa yang ingin Lia kejar! berhenti mengharap lebih dari hidup Lia, kak."
Aska bergeming, ia tidak menyangka di balik keceriaan adiknya itu ternyata menyimpan sebuah kesedihan yang ia pendam.
"Lia gak ada harapan lagi kaak," Lia menutup kalimatnya dengan air mata, "Lia akan mati."
Aska segera menarik adiknya dalam pelukaannya, "Kamu kuat Lia, kamu bisa melewatinya. jangan pernah berkata seperti itu.., kakak sangat menyayangimu." Aska mengecup kepala Lia dalam tangisnya.
sulit rasanya mebayangkan jika mereka harus berpisah, berharap sang pemilik bisa mengasihi adiknya, memberinya sedikit tambahan umur. sedikit saja, dan kesembuhan.
karena saat ini, hanya Lia lah yang ia punya. hanya gadis itulah yang membuatnya kuat, kuat menghadapi kerumitan cintanya dan kuat menghadapkan diri di depan kedua orang tuanya.
-Bersambung
Jangan Lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE sebanyak banyaknya.
#Jangan Lupa bersyukur
Terimah kasih.
__ADS_1