
"Wa'alaikumussalam, ini shifa."
Hening.
Sesaat Aska terdiam, ia sedang menyesali cara bicaranya yang tadi banyak bernada tinggi.
"Halo!"
"Eheem" aska menperbaiki pita suaranya, "Lia mana?" Tanyanya lembut.
"ka' kaami di rumah sakit," jawab shifa ragu.
"Lia sakit?!" Pupil mata aska membesar.
"Dia kenapa?" Belum shifa menjawab aska melontarkan pertanyaan lagi, Dan itu membuat shifa semakin takut.
"Kasih tau aku kalian diruangan mana!? Kirimin alamatnya!" Aska menutup panggilan telponnya. ia berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Bro!!" Panggil rekan kerja Aska yang bernama wilyam. Ia menghadang langkah Aska yang hendak pergi, "Mau kemana Lo?"
"Adek gue sakit, wil."
"Wiiitz.. Tapi ini masih ada pemotretan."
Aska mendengus kesal, "Adek gue saakit, wil! Lo tuli!" Ia mendorong wilyam dan kembali melanjutkan niatnya untuk pergi ke rumah sakit.
Sementara di rumah sakit, Shifa terus menghentak-hentakkan sepatunya ke lantai sambil menggigit kukunya karena resah dan Bingung. bagaimana bagusnya ia menjawab pertanyaan Aska atas musibah yang menimpa adiknya? Apa pria itu akan memarahinya jika sampai tahu dirinya lah yang membuat Lia kecelakaan?
Merasa terganggu dengan hentakan kaki wanita disampingnya, membuat kepala nabil mulai pusing. Ia menoleh ke wanita itu. "Lo mau gue apain biar Lo tenang?"
Namun sayang, niat baiknya hanya dilirih sinis oleh wanita yang sedang resah dengan pikirannya sendiri.
"Dasar wanita aneh." Gumam nabil.
Dan gumanan itu mampu membuat shifa menoleh secepat kilat padanya. Dan lagi, nabil harus menerima tatapan tak enak dari wanita yang sebentar lagi akan menerkamnya.
"Anda bisa diam!" Gertak shifa, "kalo saja tadi anda langsung menjalankan motor. tentu keadaannya tidak separah ini!"
Kalimat yang sama dari mulut wanita itu membuat nabil sulit menelan air Liurnya.
yah, ia memang salah di bagian itu.
"kan gue udah minta maaf." kata nabil.
Huh!
Shifa tercengang mendengar pernyataan pria di sampingnya,
"Kapan!"
Nabil diam sejenak, ia sedang mengingat kapan waktu ia mengucapkan kata maaf. Namun segera ia menyebik rupanya kalimat itu memang tidak pernah ia keluarkan hanya terucap saja di dalam hati.
"Saya minta maaf." Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Kata maaf mu tidak bisa mengembalikan keadaan," jawab shifa "anda tetap bersalah," lanjutnya.
Nabil mengeratkan giginya menahan marah, "sabar bil, sabaar. Inget! Dia temen lo" batinnya.
"di sini saya hanya menolong. seharus nya anda yang berterimah kasih, bukannya malah menyalahkan saya." Nabil membela diri.
"Justru saya sangat menyesal mengapa Harus anda yang menolong. mengapa saya harus meminta bantuan kepada orang seperti anda! kenapa tidak meninggalkan kami saja waktu itu."balas shifa.
"Heh!" nabil menepuk pahanya, "Klo gue gak berhenti tadi, trus siapa yang nolongin temen Lo!? mungkin keadaannya bakal tambah sekarat klo gue gak ada," Balas nabil, ia sudah tidak tahan berbicara Formal.
"Saya masih punya satu orang buat dimintai bantuan. dan yang pasti, dia lebih peduli nyawa dari pada benda-benda mati itu," sindir shifa.
"Terserah, Lo!"
"Seharusnya saat seperti itu anda lebih mementingkan nyawa! Bukannya harta, tahta, atau pun cinta."
Nabil tertunduk. ia menopang keningnya dan mengangguk-angguk, "Ya ya ya."
"Di dunia ini, Nyawa yang lebih berharga. Harta dan benda lainnya itu tidak sebanding dengan nyawa seseorang."
Nabil menoleh kesifa tanpa mengubah posisi kepalanya, "Bukannya yang berharga itu agama yah?" Tanyanya.
Iyah sih, agama. Shifa dia sejenak ia sedang Mencari kalimat untuk tidak membuat jatuh kalimatnya tadi, "Tapi ini beda! Pilihannya cuman ada dua. nyawa? Atau benda mati itu?"
"Udaaah, diem," nabil kembali menunduk. Sesekali ia mengangguk-angguk pura pura mengerti dengan ucapan wanita yang tidak berhenti menceramahinya itu, "Ternyata makin gede, makin ribut." bisiknya.
"Denger gak sih, saya ngomong!"
"Dengeeer."
Shifa langsung mengarahkan pandangannya ke depan mencari siap yang memanggil namanya, ia melihat aska sudah berlari kearahnya.
"Lia mana?" Tanya Aska ketika di hadapan shifa.
Shifa berdiri kemudian menunjuk kebelakang, "masih ditangani sama dokter."
"Kenapa bisa kek gini sih!" Aska mengusap asal rambutnya, "dia kumat lagi?" tanya nya pada shifa.
"tadi kecelakaan dan---"
"Aska?"
Aska menoleh ke samping shifa dan melihat pria yang sangat ia kenali hendak berdiri dari duduknya.
"Lo!!" Aska menghampiri nabil, ia menarik kerah jaketnya dan menghempaskan pria itu dinding. "Lo masih dendam ama gue, hah!"
aska mengeratkan geggamannya di kerah jaket nabil, hingga membuat pria itu sulit berkata-kata, sementara sifha masih terpaku dengan pernyataan Aska,"dendam apa? siapa sebenernya mereka ini?"
Bugg!!
"urusan Lo ama gue! bukan ke adik Gue!" aska tak henti memukul wajah nabil, meluapkan kemarahannya disana. dipikirannya hanyalah pria itu yang mencelakai adiknya. sebagai motif pembalasan atas jebakan dan luka tusuk yang beberapa waktu lalu ia berikan kepada nabil.
melihat aska sudah terlampaui batas, shifa buru-buru menarik lengan aska, "ska! udah ska! ini rumah sakit."
__ADS_1
"biarin gue!" aska menghempas lengannya yang ditarik shifa, "Dia harus mati, fa! klo Lia sampai kenapa napa, gue gak akan biarin dia hidup!"
gertakan aska, mampu membuat shifa mematung. yah! kalimat itu seharusnya diperuntukan padanya.
shifa buru-buru menahan lengan aska yang sudah mengambil ancang ancang untuk memukul pria itu lagi.
"pria ini yang udah nolongin Lia!" kata shifa.
mendengar itu, perlahan aska melonggarkan cengkramannya dari jaket nabil.
Bugg!!
"Arrgh" teriak aska ketika mendapat sebuah pukulan keras dari nabil.
"makanya, klo lo belum tau kebenarannya jangan asal mukul dulu!" ujar nabil sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
Aska juga merasakan sesuatu yang perih di bibirnya, ia mengusapnya dan terkejut melihat darah dari sana, "Bangs*t!"
Bugg!!
aska kembali memukul nabil, sedang nabil tak tinggal diam, ia juga membalas pukulan itu.
shifa semakin panik, bagaimana ia bisa memisahkan kedua pria berotot ini, sedang ia hanya seorang diri.
ceklek!!..
pintu ruangan tempat Lia di rawat terbuka.
terlihat seorang dokter dan kedua perawat baru keluar dari sana.
"jangan buat keributan disini, ini rumah sakit," pinta dokter ketika melihat dua pemuda yang saling menarik dengan wajah yang sudah babak belur.
"justru karena ini rumah sakit," gumam salah seorang prawat yang berada di samping dokter. ia cengingisan pada perawat lain berharap gumamanannya itu di sambut tawa dari temannya, namun ia menyebik ketika mendapat tatapan tajam dari dokter.
"Dok? bagaimana keadaan teman saya?" tanya shifa.
"Sudah kami beri obat penenang. keadaan pasien sangat lemah, masih membutuhkan pralatan medis dan perlu di rawat inap," jelas dokter.
Aska melepaskan tangannya dari lengan nabil kemudian menghampiri dokter, "boleh saya masuk dok?"
dokter mengangguk, "jangan lama-lama, pasien masih sangat lemah," dokter memperingati Aska, dan pria itu hanya mengagguk kemudian masuk melihat keadaan adiknya.
"Tolong jaga kenyamanan disini mba, mas. ini rumah sakit, jangan buat keributan." kata dokter pada orang yang masih tersisa didepannya.
shifa mengangguk, "baik, dok. maafkan kami."
setelah melihat dokter dan kedua perawat itu pergi, shifa berbalik. ia menyernyit mendapati pria yang tadi ia maki-maki sudah penuh dengan keringat dingin diwajahnya. pria itu memukul-mukul kepalanya dan beberapa kali mengedipkan mata seperti menahan sakit yang amat menyiksa.
melihat itu, shifa buru-buru menghampiri namun pria itu malah menjauh dan berlari keluar dengan langkah yang sedikit sempoyongan.
"kenapa tu orang?"
-Bersambung-
__ADS_1
jangan Lupa LIKE, KOMEN, VOTE, dan FOLLOW @airaannur_
Terimah kasih #Jangan lupa sholat.