Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Rindu berakhir


__ADS_3

Rahasia yang bertahun tahun disembunyikan apakah terungkap dalam pertemuan itu. Mirna menatap syifa yang matanya sudah tergenang cairan netra.


Suasana menegangkan itu bertambah ketika Sarah bertanya pada Syifa.


“Kamu syifa, anaknya Firaz?”


“Bu-bukan mba!” selaan Mirna berhasil membuat bibir syifa terkatup "dia anaknya bang uka, ” Ia menyebut kakak tertuanya sebagai alasan.


Terlihat kekecewaan diwajah sarah, sementara syifa melanjutkan pekerjaan usai mendapat kode dari Tante Mirna untuk pergi.


“Dia mirip sekali syifa, anaknya almarhum Firaz." pandangan sarah masih mengikuti langkah syifa. setelah wanita itu menghilang ia menatap mirna harap. “sudah ada kabar mengenai keberadaan Mba Ana dan putrinya?”


Mirna menggeleng. berat rasanya harus berbohong pada sarah tapi ia takut jika wanita itu mengetahui ana pasti menghindar dan membawa jauh syifa, ia tak mau berpisah dengan ponakannya lagi.


Tepat di jam satu shif kerja syifa sudah berganti, ia sudah bergegas keluar dari toko namun Tante mirna memanggilnya.


"Kenapa tante?” tanya syifa ketika wanita bercadar itu sudah dihadapan.


“Sembunyikan identitas mu dari wanita itu tadi, nak.” imbuh mirna.


Meski belum dipertanyakan alasannya apa, tapi syifa mengagguk mengerti apa yang sedang dikawatirkan tantenya sama dengan apa yang ditakutkan mamahnya.


Awan yang tadinya cerah kini berubah senja dan berakhir hitam pekat. 3 wanita dirumah sederhana itu sedang makan malam namun salah satu darinya sedikit merenung menatap wanita setengah baya yang kusyuk dalam hidangannya. berpikir bagaimana reaksi wanita itu jika mengetahui orang yang dijauhi selama bertahun tahun ternyata menetap didaerah mereka.


“Gak makan, Fa?” kalimat Ana membuat putrinya tergagap.


“Iya....” tambah lia, Gadis itu melirik piring di hadapan Syifa “klo gak mau ya sudah, minta perkedelnya!" tangannya yang menjulur terpangkas ketika syifa menarik piringnya.


"Gak boleh rakus dirumah orang," candaan Syifa membuat gadis itu menyebik.


Usai mencuci piring, Syifa menghampiri mamanya di meja makan. sementara lia sudah berada di ruang tamu mengerjakan PR. sengaja syifa mencari waktu berdua dengan sang bunda untuk menyampaikan jawaban khawatirnya. namun ternyata butuh waktu lama untuk mencari narasi agar tak membuat mamahnya marah mempertanyakan itu.


“Jika suatu hari nanti.. kita ketemu tante sarah atau keluarganya, mama akan bersikap apa?"


Intonasi kalimatnya sangat pelan tetapi Ana menatap cepat, Syifa sudah menduga pertanyaan itu pasti membuat mamahnya terkejut. namun sepertinya tidak dengan dugaan kalimat yang akan terlontar dari mulutnya.


“Mama akan menerima maaf mereka setelah mereka berjanji tak lagi mengusik kehidupan kita."


Syifa mematung mendengar jawaban mamanya yang terlihat tulus. namun dibalik ketulusan itu ada yang ia takutkan.


"Mama tidak mau orang orang seperti itu ada disekitar kita lagi, nak. biarpun anak-anaknya, cucu-cucunya. mamah gak akan membiarkan itu, mereka itu licik dan bermuka dua.”


Syifa hanya menghela miris mendengar bagaimana mamanya mendoktri untuk menjauhi keluarga Nabil. memang tak ada kemarahan saat Ana mengatakan itu, tapi syifa tak bisa menjamin jawaban menerima maaf, dari mamanya akan benar terjadi jika mereka sampai bertemu.


Malam yang semakin larut tak membuat Syifa bermalasan memeriksa profil pegawai yang dikirimkan Nabil siang tadi.


Namun setelah pekerjaan itu selesai ia masih terjaga dengan pikiran kalut. ini mengenai bayang bayang hari yang ia takutkan kelak, akan seperti apa pecahnya amarah itu? akan sampai mana Batas kedekatannyan dengan nabil?


Belum ada harapan membentuk mimpi tuk bersama. cukup hubungan berjalan baik saja antara keluarganya dan keluarga nabil berdamai, sudah menjadi syukur paling dalam.


Layar DM yang sedari tadi ditatapnya sudah mengetik sebuah pesan namun belum berani dikirimnya.


@elfariz_


(Assalamu alikum..)

__ADS_1


@Asyifa_Mrkmh


(Assalamu alaikum..Kamu kapan pulang, bil?)


Karena terkejut mendapat pesan salam dari nabil, jemari syifa spontan menekan tanda kirim. ingin menghapus namun langkanya lambat sebab pesan itu sudah menunjukkan terbaca dan sekarang shifa hanya mendengus menunggu jawaban apa yang diketik pria itu.


@elfariz


(Waalaikumssalam, seminggu lagi.)


Rasa malu syifa berubah gelisa setelah membaca pesan dari nabil. berat, seharusnya ia mendesak pria itu agar buru buru pulang.


@Asyifa_Mrkmh


(Itu terlalu lama, bil.)


(Aku butuh kamu. aku ingin menyelesaikan semuanya.)


(Aku capek memikirkan hari itu.)


Pesan beruntung yang ia kirimkan sudah beberapa menit tidak mendapat balasan, jam demi jam menunggu bahkan hari berhari nabil belum juga membalas. padahal yang ia inginkan hanya kepastian damai. sebab dirinya benar benar lelah dengan keadaan, ingin hidup berjalan tanpa dendam.


Sejak saat itu ia tak mendengar kabar dari Nabil. bahkan pria itu tak pernah mengunggah status lagi. waktu terus berlalu hingga sudah genap satu minggu dan bagai mana bisa syifa melupakan hari kepulangan nabil.


Namun sampai hari itu justru belum ada kabar yang ia dapat meskipun dirinya terpaksa bertanya pada intan dan teman bengkel nabil.


Tetapi saat ia pulang, motor sport yang sangat ia kenali terparkir dihalaman rumah membuat langkahnya beradu cepat.


Kali ini ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia ketika melihat pria yang duduk mengahadap bunda menatapnya teduh.


"Assalamu alikum, Syifa."


"Ehem!"


Deheman Ana membuat pandangan keduanya berpaling dan saling salah tingkah.


"Mamah ke dalam dulu." wanita setengah baya itu langsung masuk usai mendapat anggukan dari putrinya.


Syifa duduk di sofa depan nabil. keduanya terdiam dan terlihat canggung.


"Kamu marah?"


"Sudah lama?"


Pertanyaan yang kompak itu membuat mereka terdiam, namun tak lama mereka tertawa menyadarinya.


"Sekitar sejam, lah." kata Nabil, "Kamu.gak marah kan aku kesini?"


Syifa terdiam, dan menatap kesal pria itu. bersusah paya ia mencari dan ternyata Nabil duduk santai dirumahnya. "Jahat!"


Nabil terkekeh kecil mendengar aduan Syifa, "Kamu juga jahat."


"Dari mananya?"


"Aku duduk disini hampir 60 menit, tapi kamu datangnya kelamaan."

__ADS_1


"Karena Aku cariin kamu." Syifa segera menutup mulutnya karena keceplosan.


"Oo... habis nyariin aku.." Kata nabil dengan mengagguk angguk, "sebegitu pentingnya yah diriku ini?"


Syifa melirik sinis, pandangamnya berali ke pintu ruang tamu. "Tante Sarah..."


"Bu-bunda?" saking terkejutnya, nabil sampai gagap berbalik. namun ia tak mendapati sosok siapapun disana.


"Kena tipu," Kata syifa diselah tawa puasnya mengerjai nabil.


Pria itu memasang wajah hambar, "Faa..?" panggilnya.


"Heem?"


"Jangan ulangi lagi," tatapan Nabil yang terlihat serius membuat syifa berhenti tertawa, "kita harus berjaga jaga. dan tak boleh seakrab ini didepan mamah mu. biarkan aku yang terlihat mengejar, agar tekesan kita tak saling mengenal."


Syifa mengerti. tapi memang ia sangat bahagia bertemu nabil hari ini, itulah sebabnya ia ingin mengerjainya.


"Maaf."


Nabil mengagguk, "aku juga minta maaf."


\*\*


Enam bulan berlalu, hubungan persahabatan antar Syifa, Nabil dan Lia semakin terjalin. kehadiran pria itu sungguh membuat hari hari wanita muda itu berwarna.


Hingga kedatangan aska mulai mengusik kedamaian mereka. pria itu sudah bersih dari obat obatan sehingga membuatnya percaya diri mendekati syifa. apalagi selama melakukan rehab dirinya mencoba belajar agama.


Dan siang ini ia sengaja ke toko tempat syifa bekerja untuk membeli pakaian muslim. tapi sayangnya malah kariawan lain yang ia dapat sebab dirinya berada di lantai satu sementara shifa di atas.


Namun saat ingin ke kasir, ia mendapati syifa antusias turun dan menghampiri Nina.


“Dari nabil!” ujaran Nina membuat salsa menegur dan segera merebut ponselnya yang masih berdering dari tangan wanita itu.


Sikap riang syifa menerima telpon membuat langkah aska mundur dan berpura pura memilah milah kain. terbesik di pikiran, apakah saat ini syifa menjalin hubungan dengan nabil? ia segera menghampiri kasir usai Syifa kembali ke lantai atas dengan membawa ponselnya.


“Nin? yang telponan sama syifa siapa?”


“Aska!” mata nina nyalang membulat tak mengenali aska yang tadi menggunakan topi dan masker, “ka-kamu sejak kapan ke sininya?” ia merasa kawatir.


Aska meminta Nina mentotal belaanjaannya. “nabil sering kesini?”


Nina menggeleng cepat. bukan karena berbohong tapi sebenarnya ia juga takut dengan pria itu jika sudah berbicara formal.


“Se-semua 299,500.”


Aska memberikan uang 200,000 “gak usah kembaliannya,” ia mencegah nina yang hendak memberinya gula gula.


“Terimah kasih sudah mampir.”


Sebenarnya nina tak rela mengucapkan kalimat tersebut, tapi ia harus professional sebagai kariawan yang menghormati pembeli.


-Bersambung.


Gak ngegantung kan?😊

__ADS_1


Sekali lagi mohon dukungan buat kalian semua. menghadiahkan ketikan jemariku yang pengel ini dengan bukti keberadaan kalian, dengan cara meninggalkan jejak berupa komentar ataupun Like dan bantuan share di akun kalian.


Terimah kasih. sekali lagi mohon bantuannya yah teman teman😊


__ADS_2