
Setelah melaksanankan sholat magrib. Lia mencoba mengasah bacaan iqro'nya. Ini pertama kali ia membaca kitab itu tanpa bimbingan shifa, Membuatnya terbata-bata ketika memasuki iqro ke 5 dimana tulisan arabnya mulai panjang-panjang.
Ia mulai merasakan kaku dilidahnya sendiri. juga merasa perih di wajahnya yang beberapa kali diusap kasar karena kesal belum bisa selancar anak-anak lain.
"Susah amat sih! tulisan gini aja," Lia menutup iqronya kemudian menaruh nya di meja. ia ikut menyandarkan kepalanya disana.
Pandangan Lia tertuju pada bingkai foto yang berdiri tegak menghadapnya. itu adalah foto keluarga yang diambil beberapa tahun lalu saat perayaan Natal.
Seketika ia menyunggingkan senyum mengingat ancaman papanya yang tidak mengijinkan dirinya pindah kepercayaan. Sebuah ancaman yang membuatnya harus benar-benar mandiri demi menjadi seorang mukallaf.
Lia menarik diri kemudian mengambil ponsel dan membuka instagramnya. beberapa notif masuk, banyak pesan yang menawarkan dirinya untuk bekerja sama Namun ia sudah menjadi Brand Ambasador orang lain. Ia memutuskan membuka beranda, melihat beberapa postingan akun yang sudah ia ikuti.
..."Jangan terlalu sibuk memperbaiki penampilan hingga lupa memperbaiki Ahlaq"...
Sepenggal nasehat dari postingan akhwat yang muncul di berandanya membuat lia teringat pria yang beberapa waktu lalu ia temui di rumah sakit.
"Kukira omangannya cuman mau menjatuhkan ku," gumamnya, "ternyata benar, ada nasehat seperti ini rupanya."
Ia mulai memaknai setiap kata dari caption postingan tersebut, yang menjabarkan maksud nasehat di atas.
"Apa yang harus ku perbaiki? sikapku memang seperti ini. dari lahir," Lia hendak meletakkan ponselnya Namun sebuah getaran membuatnya mengurungkan niat.
//sebelum tidur, kunci rumah. Malam ini aku nginep diluar.//
Sebuah pesan whatsAap dari Aska membuatnya mendengus kesal,
"Kenapa gak kabarin dari awal sih."
Lia keluar kamar, Namun langkahnya terhenti ketika melihat lantai satu yang begitu gelap. Sadar belum sempat menyalakan lampu disana sebab dari sore sampai petang ia hanya berdiam dikamar.
Ia bergidik merasakan bulu kuduknya merinding. Buru-buru ia berbalik dan kembali ke kamar. Bukan pertama kali gadis itu harus menginap dirumah sendiri, Namun suara-suara aneh beberapa waktu lalu membuatnya parno dengan sesuatu yang mengganjal.
Lia memutuskan menghubungi syifa kemudian pergi kerumah wanita itu karena hanya rumah Syifa lah yang paling dekat dari tempat tinggalnya.
****
Usai menerima panggilan, syifa kembali melanjutkan bacaan Qur'annya. Salah satu kelebihan yang ia memiliki adalah suara yang merdu, siapapun yang mendengar qiro'a pasti merasakan kedamain disana.
"Sadaqallahul adzim" ia menutup bacaan-nya kemudian berbalik. Pandangannya tertuju pada wanita setengah baya yang berdiri di daun pintu kamar, menatapnya dengan mata berair.
"Mama kenapa?"
Ana berkedip mendengar pertanyaan putrinya dan spontan air yang menggenang di mata itu pun terjatuh.
Karena tak ada jawaban, Syifa menyimpan Al-Qur'annnya kemudian menghampiri ibunya, "Mama kenapa nangis?" ia mengusap bekas air mata sang bunda.
Wanita setengah baya itu mengulas senyum, ia meraih tangan putrinya.
"Mamah bangga lihat kamu, nak. seharusnya ini adalah peran orang tua mendekatkan anaknya pada tuhannya. Dan bukankah seorang ibu adalah madrasa bagi anak-anaknya?"
Pertanyaan Ana yang tiba-tiba membuat Shifa mengangguk kaku, ia hanya tidak mengerti apa yang membuat ibunya sampai menangis.
"Tapi mama tidak pernah sekalipun memperkenalkanmu tentang ajaran islam. bahkan kamu yang mengajari mama," Lanjut ana, suaranya tercekal di akhir kalimat, "Mama merasa orang tua yang tidak beguna," Ucapnya ditutup linangan air mata.
"Maaaa..," shifa mengusap air mata mamanya, "jangan bilang seperti itu.., Semua orang tua berguna bagi anak-anaknya. dan mama adalah satu satunya orang yang shifa sangat syukuri kehadirannya. Karena saat ini, mama adalah pemilik syurga shifa."
"Mama bukanlah orang yang pantas memiliki syurga itu, nak. mama terlalu hina di masa lalu."
"Masa lalu shifa lebih buruk mah," sela syifa.
"Itu karena mama tidak pernah mengajarimu pekerti islam. mama yang terlalu sibuk mengejar dunia Hingga membuat kamu jadi seperti itu, karena kebodohan mama."
Shfa menggeleng, "aku tidak menyalahkan siapa pun atas keterlambatan ini, hanya saja mungkin memang harus kudapati luka itu agar mengantarkan hidayah untukku dan juga mama."
__ADS_1
Ana hanya diam terisak.
"Memang mama tidak mengenalkan shifa akan itu... karena mama yang tidak tahu. tapi bukan berarti shifa juga harus menyerah. Semua takdir sudah tersusun rapi, kita hanya perlu mengikuti naluri baiknya."
Ana mengagguk angguk, "Terimah kasih ya, nak. karena berusaha mencari tahu sendiri keindahan ini."
Shifa tersenyum, setelah semua kembali tenang dan tak ada lagi tangisan, Merekapun bersama-sama ke dapur
Dan mulai melahap makan malamnya.
"Assalamu alaikum."
Terdengar suara salam yang dibarengi ketukan dari luar.
"Nah, udah datang tuh kayaknya," syifa mencuci tangannya kemudian berdiri.
"Siapa nak?" Tanya ana.
"Lia mah, mau nginep disini katanya.
gak apa kan?" Tanya shifa namun ana bergeming memikirkan sesuatu.
"Maa.., Lia dan Aska itu beda.
Lia sangat antusias untuk berubah gak kayak kakaknya." shifa mencoba memberi pengertian.
Ana mengangguk kemudian tersenyum, "kamu panggil Lia makan bareng kita yah."
Shifa pun keluar dan mengajak Lia untuk makan bersama.
"Tau ajah nih, tante. klo aku belum makan," Lia mengambil piringnya sendiri Membuat ana dan shifa tersenyum dengan tingkah gadis itu yang selalu jujur dan tidak sungkan.
"Tumbenan kamu nginep disini?" Tanya ibu syifa.
"Takut nginep sendirian dirumah," jawab Lia sembari mengambil makanan.
Lia mengangguk.
"Bukannya kamu sudah biasa ditinggal disana sendiri yah, Li?" Tanya shifa, "kok tiba-tiba jadi takut gitu."
"Gak tau kenapa, akhir akhir ini aku ngerasa rumah itu ada penghuninya."
Hening.
Hingga Kalimat Lia di sambut gelak tawa ibu shifa.
"iii.. kok malah di ketawain sih, Tan," protes Lia.
"Kamu ini aneh aneh aja, Yah kan emang ada penghuninya, "kata ana masih terkekeh, "kamu dan kakakmu itu loh, penghuninya."
Lia berdecak, "maksudnya penghuni lainnya tante..."
"Maksudnya Lia penghuni yang gak bisa di lihat itu loh, mah," Shifa memperjelas.
"Setan," Tebak ana.
Lia menggidikkan bahunya, "Gak usah di sebutin juga dong, tante. Nanti klo setannya dengar gimana?"
"Loh, emang kenapa kalo mereka dengar? Toh, Manusia dan jin memang hidup berdampingan," ana menoleh putrinya yang sedang mengunyah "iyakan shifa?"
Shifa mengangguk, ia menyebik melihat wajah Lia yang ketakutan.
"Tapi nanti Gangguin Lia lagi lah, tante."
__ADS_1
"Setan sukanya emang gitu, ngenganguin manusia dengan kelebihannya yang tak kasat mata. Membuat manusia takut melebihi takutnya kepada Allah."
"Aku masih lebih takut kok, sama Allah," sela Lia, "Setannya aja yang suka jahilin di waktu yang tepat." katanya kemudian.
"Kalo kamu benar gak takut sama setan, Seharusnya kamu hadapin mereka. buktikan klo kamu gak takut Bukannya malah lari kesini."
"Kak Shifa enteng benner bilang gitu.
Lah aku yang ngalemin, kak!"
"Kamu malah membuat setan itu tertawa, Li," Kata shifa, "semakin kamu takut, semakin berani pula mereka mengganggumu. Tapi kalo kamu yang berani menghadapinya, maka mereka yang akan takut dan tidak berani mengganggumu lagi."
Lia mendengus kesal, "terus gimana cara ngehadapinnya, mahluknya aja gak nongol cuman neror terus."
"Memang klo mereka nongol, mau kamu apain Lia?" Tanya ibu Syifa.
"Mau ku timpuk pakai sepatu," jawab Lia, "Yah mau di usir lah, tante."
"Tau caranya?"
Lia melirih shifa, berharap wanita itu memberitahunya.
"Makan dulu," kata shifa yang mengerti tatapan itu, "entar ku kasih tau."
Setelah makan malam, Syifa mengajak Lia berbicang di ruang tengah. sementara ana menuntaskan jahitan diruang jahitnya.
"Ooo.. jadi kita cuman perlu ngelakuin sesuatu yang gak di sukai mereka yah, biar mereka yang pergi sendiri" tanya Lia setelah syifa menjelaskan sesuatu padanya.
Syifa mengagguk, "kita gak perlu kena dosa panggil orang pintar buat ngusir mereka, pun dengan beribadah kepada Allah, in sya Allah mereka gak ganggu lagi."
"Seperti membaca Al-Qur'an?" tebak Lia.
Shifa mengagguk, "lebih tepatnya.., kita di anjurkan membaca surah Al-Baqarah untuk mengusir mereka."
Lia menyernyit, "kenapa lebih di khususkan ke Al-baqarah? bukannya semua ayat dalam Al-qur'an juga baik yah kak, seperti ayat Qursi."
Shifa terkekeh kecil mendengar akhir kalimat gadis itu, "semua Surah memiliki keutamaannya tersendiri. dan surah Al-baqarah ini salah satu keutamaannya yaitu mengusir mereka," Shifa menjeda sebentar, "dan ayat qursi juga bagian dari surah al-baqarah Liaaa." lanjut syifa gemas.
"Iyakah?" seketika rasa malu Lia muncul karena sok tahu, "hehe.. maaf, kak. namanya juga masih Iqro, anak baru, belum sempat mampir yang disana,"
Shifa hanya tersenyum mengerti dengan keadaan Lia yang baru memasukin dunia barunya.
"Jadi, gimana nih biar setan jauhin rumah dan gak gangguin lagi?" tanya shifa mencoba mengingatkan Lia kembali.
Sempat Lia berpikir namun untungnya hal itu masih teringat, "pertama, Rajin baca Al-Qur'an dan ibadah apapun dirumah. kedua, jangan peduliin segala bentuk gangguan. ketiga, baca Do'a ketika masuk dan keluar rumah. keempat, baca do'a ketika hendak makan. kelima, baca doa ketika membuka pintu. keennam, jauhkan rumah dari gambar yang bernyawa. dan yang terakhir." Lia jeda sebentar untuk mengambil napas, "jauhkan rumah dari musik," lanjutnya disusul napas lega. "uuuhh kelar juga."
Syifa kembali mengulas senyum melihat Lia yang benar-benar mengingat penjelasannya tadi. begitu sungguh-sungguh dan serius, beda seperti kakaknya yang hanya serius pada janji-janjinya yang entah kapan dibuktikan.
-Bersambung-
.
.
.
.
maaf, yah. mungkin eps kali ini gak terlalu menarik. hujat aja di komentar gk pp kok,
aku cuman gk mau sekedar nulis cerita aja. disini aku jga mau kasih sepenggal sepenggal pengetahuan siapa tahu ngalir sampe kesurga. kamu tahu, lalu di amalin,
jangan lupa cari dan ngajak aku kesurga juga yah😊
__ADS_1
Bantu suport novel ini, yah😊
bisa kepoin juga ig nya @airaannur_