Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
Rasa nyaman untuk Lia


__ADS_3

“Kelas berapa sekarang?”


Pertanyaan nabil memecah keheningan.


“Kelas tiga,” jawab Lia.


Nabil mendongak, “bentar lagi tamat dong?” ia kembali menunduk usai mendapat anggukan dari lia, “rambutmu keliatan itu..”


Lia membelalak, ia buru buru merapikan rambutnya yang dirasa ada di bagian kening.


“Tau kan, satu helai rambut wanita yang terlihat sama yang bukan mahram itu sama dengan selangka orang tuanya menuju neraka," kata nabil “ada itu pelapis kerudung, kenapa gak pake?”


“Gak sempat pke," jawab Lia seraya merapikan jilbabnya "ini hari senin ada upecara, tadi buru-buru. taunya motor kena musibah."


Nabil berdiri seraya membersihkan telapak tangannya , "ya anggap aja itu teguran dari allah karena lebih mentingin ikut upecara kebanding tutupin aurat,” timpalnya kemudian duduk dan meneguk minuman dingin.


“Ini udah selesai?” tanya Lia menunjuk motornya, ia mengabaikan kalimat pria tetsebut.


Nabil mengaguk, ia menyodorkan minuman dingin pada wanita yang berjarak semeter disebelahnya, “minum aja dulu. mau aku ganti olinya juga, jadi masih lama.”


“Yang aku minta cuman ban nya aja yang perbaikin, olinya gak usah.” cegah Lia kemudian menghampiri motornya.


Nabil menghela, ia ikut mengikuti lia dan menunjukkan rantai motornya yang kering, “ini… udah lama kering. klo gak ditangain cepat bisa bahayain si pengendaranya.”


“Aku udah telat. lagian juga selama ini rantainya gak pernah nyusahin,” lia berusaha mendorong motornya agar standar bagian bawah bisa tertarik namun ia merasakan ada yg aneh, ia berbalik dan mendapati nabil menarik ekor motornya.


“Udah, klo ditanyain kenapa telat jujur aja klo motornya tadi ada masalah.” ujar nabil sebelum gadis itu memprotes.


“Klo gurumu gak percaya, suru aja datang kemari," imbuhnya namun lia masih diam berfikit "ingat, mencegah itu lebih baik dari pada nungguin musibahnya datang baru buat kita sadar klo hal sepele ini, itu penting.”


Lia menghela napas ia membenarkan kalimat pria tersebut, “tapi jangan lama.” pintanya.


Nabil mengagguk kemudian masuk mengambil perlengkapan didalam. tak lama kemudian ia kembali dan mendapati Lia masih berdiri di sekitar motor. ia meminta wanita itu menunggu dikursi agar seragam sekolahnya tidak kotor.


Sambil menunggu, Lia meminum minuman yang diberikan nabil. pembicaraan ringan pun mulai tercipta,


sesekali pria itu tertawa kecil mendengar cara bicara lia yang selalu berkata maaf setelah menyadari berbicara kurang sopan.


“Ngomong cetus aja seperti awal kita ketemu. gak usah dibuat buat klo gak bisa."


"Aku cuman berusaha istiqamah, bukannya kakak yang suruh?” balas lia.


“Istiqomah dalam mengerjakan kewajiban sebagai muslim,” jawab nabil sembari menuangkan oli di rantai motor, “aku gak minta kamu ubah semua sikap, cukup yang menurut kamu sikap yang gak baik.”


Lia menghela napas, “semuanya buruk.” gumanannya membuat nabil tersenyum.


Kembali kesunyian menghampiri mereka hingga motor lia sudah selesai di beri oli. nabil berdiri seraya memberisihkan tangannya. kaos abu yang dikenakan pria tersebut sudah ternoda pekat. lia menahan tawa ketika melihat wajah nabil dihinggapi beberapa oli, membuat pria itu menyernyit heran.


“Kenapa?” tanyanya.


“Liat kaca, kak,” imbuh lia menahan tawa.

__ADS_1


Nabil memangdang kaca spion didepannya, ia tertawa sendiri melihat pelopak matanya yang dipenuhi oli “cemong?”


Nabil meminta lia mengambilkan apapun yang bisa di jadikan lap. karena tak ada, lia menggambil tisyu dalam tasnya.


“ini,” lia menyodorkan benda itu sembari tertawa namun segera ia hentikan karena teringat sesuatu.


"Kenapa berhenti ketawa?” tanya nabil sembari memgambil tisyu itu dan membersihkan wajahnya.


"Kata kak syifa.., kita gak boleh ketawa berlebihan, nanti hati kita keras menerima hidayah.” jawab Lia kemudian mengambil sesuatu disakunya.


“Jadi semua berapa, kak?” tanya Lia.


“Udah, gratis aja.”


“loh, gak bisa gitu. sama minumannya juga berapa?”


“Aku gak jual minuman." balas nabil, "udah, semuanya aku gratisin, itung itung itu bonus karena kamu ngingatin aku mengenai nasihat itu.”


“Aku bukan orang miskin,” lia masih meyodorkan uangnya karena merasa tak enak, namun kembali pria itu menghindarinya.


“Udah, doain aja semoga rezekiku lancar.”


“Doaku aja belum allah kabulin gimana doa yang kamu titipin ke aku, kak,” balas lia, ia memilih menaruh uang 20 rebu tersebut di meja kemudian menaiki motornya.


Nabil yang hanya mengela napas melihat wanita itu tak mau mengalah.


"Hati- hati di jalan,” kata nabil ketika lia memakai helm. wanita itu mengagguk dan tersenyum.


“Assalamu alaikum, kak.”


**


Waktu terus berjalan, sedikit demi sedikit Lia mulai paham ajaran ajaran islam berkat syarat yang di ajukan nabil.


Sejak pertemuan beberapa waktu lalu membuat ia mematahkan praduga mengenai pria itu, yang ternyata tidak seberantakan dan semenyebalkan seperti dugaannya.


Dan sore ini ia sengaja datang lebih awal karena ingin bertemu nabil yang memang biasa mengantar intan. anak kecil itu mengabaikan kehadirannya yang duduk diteras TPA dan memilh masuk membaca buku.


“Assalamu alaikum, kak.” sapa lia pada pria yang masih berada di atas motor.


“Waalaikumussalam,” jawab nabil ramah, “gimana motonya, udah enakan 'kan dipake?”


Lia mengaguk, “iya, kak.” jawabnya tak henti mengulas senyum membuat pria itu menatap heran.


“Kayaknya misimu udah selesai deh,” ujar nabil.


“Hem?”


“Besok sore aku balikin sepatumu.” kata nabil lagi kemudian menarik penal gasnya usai memberi salam.


“Waalaikumussalam,”

__ADS_1


Lia masih memandangin pundak pria yang baru saja keluar dari pangar mushollah. ada lega ketika ia bebas dari syarat pria tersebut, tapi dibalik itu ntah mengapa ada rasa kecewa menghampiri benaknya.


Lia kembali duduk diteras, beberapa menit kemudian murid-murid serta syifa sudah hadir, mereka memulai proses belajar mengajarnya hingga suara azan asar berkumandang.


Semua keluar ruangan usai membaca doa pulang dan berpamitan pada syifa. setelah selesai syifa dan lia keluar bersamaan, Terlihat nabil menarik pedal gas usai memastikan intan naik ke motornya.


Dan lagi, kepergian pria itu membuat lia menghela napas, ia menoleh ke syifa yang sedang memakai sendal.


“Aku nginep dirumahnya kak syifa lagi, yah?”


“Dalam rangka apa dulu?” tanya syifa.


“Aku sendirian dirumah, aska ada pemotretan di luar kota,” Li menuruni anak tangga kemudian memakai sandalnya, “tenang, aku makannya diwarung kok,” ia langsung mengahampiri motor tanpa menunggu sanggahan dari syifa.


“Aku gak pernah hitung itu! kamu pikir aku pelit!?” ujar syifa tak mau gadis itu mengaggapnya pelit. namun ia hanya menghela napas sebab lia sudah melajukan motornya.


“Tuh anak kenapa lagi sih, sensitif banget.”


**


Pagi ini lia sudah kembali kerumahnya setelah semalam bermalam di rumah syifa yang ternyata ajakan wanita itu untuk mengajaknya makan dirumah tidak disiakanny.


Sebuah ketukan membuat gadis berseragam putih abu itu membuka kembali pintu ruang tamu, “siapa?”


“Mau aku balikin sepatumu,” terdengar sahutan pria dari luar.


“Kak nabil,” Lia buru buru membuka pintunya.


“ini” Pria itu menyodorkan kantong kresek berwarna hitam.


Lia mengambil sembari menatap heran pria tersebut, “tau rumahku dari mana, kak?”


“Misinya udah selesai, tapi bukan berarti kamu kembali lagi kan seperti kemarin?” tanya nabil mengabaikan pertanyaan gadis itu.


Lia mengagguk, “in sya allah..,” jawabnya dengan senyuman. ada sesuatu yang ingin di katakan tetapi ragu untuk berkata.


“Katakan klo ada mau di omongin, sebelum aku pergi,"


Lia mengulas senyum sebab pria itu mengerti ekspresi wajahnya, “makasih, karena dengan misi itu.. membuatku bergerak untuk belajar lebih dalam mengenai islam.”


Nabil mengangguk, ia kemudian meminta ijin untuk pamit.


"Asslamu alaikum”


“Waalaikumu salam.”


Tepat setelah motor nabil meninggalkan halaman rumah, kembali lia menghela napas. seharusnya ia bahagia mendapatkan sepatu itu tapi rasanya ingin memperpanjang syarat agar bisa berurusan lagi dengan pria itu. ada rasa nyaman ketika dekat dengan Nabil.


Bersambung


Bantu Suppotr Novel ini, yah. caranya Like, komen, dan vote. klo perlu share ke media sosialnya terimahk kasih. @airaannur_

__ADS_1


__ADS_2