
“Apa karena itu Kak syifa menjauhi Kak nabil?”
Akhir kalimat pecah dengan isakan tangis. Syifa segera mendekap intan, menyembunyikan wajahnya dari Nabil.
“Maafin Kakak. Kakak tidak bermaksud berkata seperti itu. kakakmu orang baik, Dia orang baik.”
Intan menggeleng, “Aku tahu, Kak syifa benci kakakku sekarang, kan?" tanyanya, "Aku tidak mau kak nabil pergi seperti cara ayahnya humarah. Aku tidak mau kak nabil pergi disaat orang orang membencinya." ia mendongak menatap wanita yang terus mengusap punggungnya.
"Maafin kak nabil, Kak. maafin Dia."
Syifa memejam mata, kalimat membenci membuatnya terenyuh. bukan pergi meninggalkan dunia, ia hanya ingin nabil mempertanggung jawabkan haknya sebagai WNI yang patuh.
“Jika memang benar, Aku ingin Kak syifa menemani kak nabil di masa sulitnya.”
"Akan Kakak bantu Dia berhenti." hanya itu yang bisa Syifa balas, tidak mungkin mengiayakan harapan intan.
**
Hampir seharian Syifa menjaga Lia, sebab selama itu Aska sedang menghabiskan sisa kontrak pemotretan. barulah setelah isya membuat Syifa bernapas lega ketika melihat Aska dan Wilyam datang. ia lekas berpamitan, namun dicegah Wilyam.
“Itu perempuan, Ka. masa lo tega biarain pulang malam sendiri.”
Kalimat wilyam membuat Aska menawarkan diri pada Syifa, namun wanita itu lekas menolak.
“Aku gak sendiri, kok. Aku sama ojek online.”
“Kamu membiarkan dirimu duduk berboncengan di atas motor,
sama pria lain?”
“Aku pke ojol yang cewek, Kak.” Syifa memeprjelas kalimatnya pada wilyam. ia tahu, pria itu sengaja mendekatkannya dengan Aska.
“Lah! justru itu bahaya. ini sudah malam dan kalian sama sama cewek. klo ada begal gimana? bisa lawan? nggak!" tampik wilyam, "lagian klo kamu udah sampai dirumah, belum tentu ojolnya pulang dengan selamat.”
Syifa terdiam dan membenarkan kalimat wilyam. ia tak mau membahayakan orang lain, tapi ia juga enggan dengan Aska. kedilemaannya membuat ia mendenyus, "Kalian sih, pulangnya lama. Aku juga 'kan yang repot.” kelunya melirik kesal Wilyam.
“Jangan salahin gue," Pria itu justru melirik aska “salahin nih, orang. gara gara ngurus keberangkatannya ke jepang, kita jadi telat.”
Syifa menatap Aska, sedang pria itu sudah lebih dulu menatap.
“Makanya itu, Fa. ijinin Aku antar kamu," kata Aska, "biar Aku bisa nebus kesalahanku,” lanjutnya membuat wilyam bersorak.
"Mantap, Ka."
"Tapi Aku gak mau boncengan sama kamu, Ka. motormu sempit.”
Wilyam berdecak mendengar alasan Syifa, “emang cewek sekarang milih milih.”
“Bukan itu, Kak. Aku hanya tidak mau jarak kita terlalu dekat, apalagi dipertontonkan orang. takutnya ada yang salah paham," tegasnya tak menyukai sindiran wilyam.
Aska lekas menyebik, tadinya ia juga ingin memprotes pikiran wilyam, namun Syifa lebih dulu membela diri.
Wilyam terkekeh,” iya, Fa. iya. santai santai, Gue tahu apa yang Lo kawatirin.” ia menyodorkan kunci pada Aska, "nih, Gue iklasin mobilku buat armada kalian menuju clbk."
“Pa'an sih, Lo.” Aska mengambil kasar kunci itu dan mengajak Syifa pergi.
Perjalanan dari kota ke desa memang lumayan jauh, ditambah lagi tak ada percakapan dari dua insan yang sama sama canggung tersebut. meski tak berkata, tapi pandangan mampu berinteraksi. sesekali Aska melirik kaca yang memantulkan Syifa, wanita itu memilih duduk di belakang.
Masih teringat kalimat Syifa yang kini memebuatnya lebih percaya diri. hati manusia adalah milik Allah, Dia maha membolak balikkan hati yang Dia kehendaki. selain kesembukan Lia Aska juga menyelipkan nama Syifa dalam doanya.
“Ka? jadi surat suratmu udah selesai?” pertanyaan Syifa membuat Aska segera memalingkan pandang.
“Iya, Fa.” jawabnya.
“Jadi tidak lama lagi kamu akan berangkat?”
__ADS_1
“Aku masih tunggu sisa kontrakku,” ia menatap kaca ketika wanita itu tak lagi bertanya, "Kamu masih membutuhkanku untuk rencanamu?” tanyanya usai melihat kemurungan Syifa.
Syifa mengagguk.
“Masih ada waktu, Fa. Aku akan membantu jika Aku bisa.”
“Tapi Aku ragu untuk melakukannya," Syifa menunduk, "ini mungkin terlalu kejam, Ka."
“Memang seperti apa rencana yang membuatmu ragu, Fa?"
Syifa mendongak, “nanti Aku kasih tahu, klo Aku sudah dapat petunjuk dari solat istikharah.”
Jawaban serius Syifa justru membuat Aska tertawa.
"Kenapa, ka?”
“Bukannya solat istikoroh buat nentuin calon pasangan yah, Fa? kok Kamu pke buat yakinin diri, nentuin mana rencana pas buat nyakitin orang lain," kata Aska diikuti tawanya.
Syifa hanya diam memandang, membuat Pria itu menghentikan tawa.
“Aku sok tau, yah?” kata menyadari Syifa lebih berilmu.
Syifa menyebik, “Kamu benar dikit kok, Ka," jawabnya kemudian, "tapi solat istikarah gak harus buat nentuin prihal jodoh. karena solat istikharah artinya solat yang meminta petunjuk, entah itu masalha jodoh, pekerjaan, atau seperti sekarang ini. Aku berniat meminta petunjuk pada Allah, apakah rencana yang kupikirkan adalah jalan terbaik bagi kami.”
Keduanya saling menatap, namun pandangan terdalam Aska membuat Syifa segera memaling.
"Apa Aku boleh solat istikharah buat yakinin diri?" pertanyaan Aska membuat Syifa kembali menatap, namun Aska sudah memalingkan pandang.
"Jika benar Kamu jodohku, Aku ingin Allah yakinin hatiku buat ngejar Kamu. tapi jika bukan, Aku ingin Allah yakinin Aku buat jadi pribadi baik. biar menjadi cerminan dirimu."
Syifa hanya menyebik, ia tahu Pria itu masih ingin melanjutkan kalimatnya.
“Aku percaya, pria yang baik untuk wanita yang baik. dan Aku sudah yakin itu adalah kamu. tapi Aku belum jadi pria yang terbaik.”
"Kamu boleh meminta seperti itu. Aku juga akan berdoa, jika memang kita ditakdirkan, semoga Allah memberiku kesabaran menjadikanmu pria baik. tapi jika tidak, semoga kamu ditakdirkan dengan wanita yang lebih baik dariku.”
Tidak ada respon dari Aska, Pria itu kini fokus menyetir sembari mengaminkan salah satu do'a dari syifa.
**
Hasil solat istikarah yang dikerjakan semalam semakin menguatkan tekadnya. pagi ini ia sudah di rumah sakit menyampaikan rencanaya pada Aska.
“Jadi Kamu ingin melaporkan nabil ke kantor polisi?” Aska dibuat terkejut dengan pernyataan Syifa.
“Kurasa itu yang terbaik, Ka. polisi akan percaya dengan foto yang kita kirim, terlebih lagi, nabil sudah terlibat dengan barang itu sebelumnya.”
Aska masih tercengang, “bukan itu, Fa. tapi dia akan membencimu.” ketakutan itu justru membuat Syifa tersenyum.
“Bukankah itu tujuanku sampai berada dititik ini?" tanya Syifa, "kalau saja dia sudah membenciku lebih awal, aku tidak akan sampai sekejam ini.”
Ambisi pada Syifa membuat Aska mematung. ia masih tak percaya Syifa senekat dan seegois ini.
“Aku minta tolong satu hal lagi, Ka? boleh?"
“Apa?"
“Kamu ada kenalan yang punya banyak obat-obatan itu?
“Untuk apa, Fa?” Aska sampai menegakkan duduk menerka rencana Syifa.
“Aku ingin menjebak nabil sebagai Bandar.”
Aska terbelalak, “kamu yakin?’
Syifa menganguk mantap, “Aku butuh 1,5 kg.”
__ADS_1
“Fa!" Protes Aska, "Dia bisa di hukum mati klo terbukti punya sabu segitu banyaknya.”
“Dia tidak akan di hukum mati, Kaa…”
“Apa jaminannya?” Sela Aska. meski nabil adalah saingan, tapi ia tak tega menghancurkan pria tersebut, ia merasa bersalah pernah menjebak nabil.
“Percaya sama Aku, Ka. Aku sudah memikirkan masalah ini dan jalan penyeselainnya.” ia menatap untuk menyakinkan semua akan baik baik saja, namun Pria itu masih ragu.
“Kamu hanya perlu siapkan barangnya besok. dan lusa, kita ketemu. biar Aku yang selesein selanjutnya.”
“Kurasa Kamu pantas mendapat gelar wanita kejam, Fa.”
Syifa tersenyum masam, “kalau Kamu sudah menyadari Aku kejam, berhenti mengejarku, Ka…”
Aska menggeleng, “Klo Kamu milih jadi wanita kejam, bukankah Aku juga harus menjadi pria kejam agar bisa berjodoh denganmu?"
Syifa menatap malas, “bucin."
Aska terkekeh kecil atas gumanannya, beberapa saat kemudian ia menatap serius, "Aku punya teman namanya Rasyid. dia Bandar yang bisa kita manfaatin barangnya.”
“Kamu yakin dia mau relain barangnya?”
“Aku beli.”
“Itu mahal, Ka.”
“Nah, Kamu tahu itu mahal. gak mungkinlah dia relain barangnya."
“Hem.., klo begitu biar Aku yang beli. Aku masih punya tabungan sejuta lebih, kok.”
Aska menaikkan salah satu alisnya, “Fa.., kamu masih ingat waktu pertama kali liat aku make?”
Pernyataan Aska membuat Syifa mengingat salah satu kenyataan pahit dimasa masa ia berpacarab dengan Aska. perlahan syifa menagguk.
"Satu klip plastik yang kamu lihat waktu itu harganya 500 rb, beratnya 2 gram. dan yang kita mau beli ini adalah kilo, Fa.”
Syifa terkesiap, ia sedang membayangkan barang sekilo itu ia bagi menjadi 2 gram, membayangkan haraganya. ia menatap Aska.
“Kaa..," panggilnya, "jadi selama ini kalian buang-buang uang demi barang itu?” ia mendapat anggukan pelan, “Kenapa gak buat sedekah saja, Ka? kan kalian bisa dapat pahala, bukannya dosa yang merusak diri kalian juga.”
“Kalo bisa di ulang, pasti kami menjauhinya, Fa. tapi itu sudah terjadi," Aska menghela, “bukan waktunya memikirkan masa lalu. kamu hanya punya sedikit waktu. semenit saja kau menyesali? maka kamu akan hilang kesempatan lainnya.”
Syifa masih bergeming membayangkan harga barang itu.
“Apa sekarang kamu mulai meragukan rencanamu?”
Ia mendongak, “Aku tidak punya uang sebanyak itu.”
“Biar Aku yang selesaikan urusan itu.”
Ia tidak bisa menolak, Aska lebih bercuan, "tapi Aku masih bingung, bagaimana agar barang itu bisa sampai padanya."
Aska ikut berfikir "biar Aku saja yang turun tangan.”
Syifa lekas menggeleng, “itu terlalu bahaya, Ka. Aku tidak mau kamu terlibat_“
“Aku bisa hati hati,"
“Biar aku saja!” tegasan Syifa membuat Aska tak membantah.
"Jangan sampai Kamu menuai apa yang kau tuai.”
-Bersambung.
yuk supportnya lagi yah.
__ADS_1